Tampilkan postingan dengan label menarik hari ini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menarik hari ini. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Agustus 2017

7 Hari Menulis - Hari Ke-Lima

Puisi Terbaik Hari Ini

Puisi terbaik hari ini lahir karena kehampaan ide
Aku mencarinya di kamu, tapi tak juga ketemu
Belakangan ini aku melihatmu jauh
Dan sulit untukku meraihmu

Aku rindu saat malam denganmu
Berdua hingga lupa waktu
Seperti kelelawar yang nocturnal
Kata temanku, ide itu seperti kelelawar
Ia aktif di malam hari
Apa kita dulu juga begitu?

Ini sudah malam
Seperti kelelawar,
seharusnya ide untuk membuat puisi terbaik untuk hari ini juga muncul saat ini
Tapi, aku tak menemukannya malam ini
Seperti aku juga tak menemukanmu belakangan ini

Bisakah aku memintamu kembali?
Untuk kembali aktif di malam hari
Dan menemaniku membuat puisi terbaik untuk hari ini

Sabtu, 05 Agustus 2017

7 Hari Menulis - Hari Ke-Empat

Tentang Tujuh Hal yang Membuatku Jatuh Cinta

Tuan, sebenarnya tak banyak yang membuatku jatuh cinta

Pertama, aku jatuh cinta pada punggungmu. Pada saat pertama kali mata ini tak sengaja menjatuhkan pandangannya pada Tuan, yang kulihat bagian punggungnya. Tuan, aku bahkan masih ingat engkau berbaju hitam kala itu, terduduk menunggu di ruang tamu.

Yang kedua, aku jatuh cinta pada saat engkau menjadi imam sholat untukku. Dulu, waktu sholat selalu bertambah jadi menyenangkan jika engkau menjadi imamku. Kelak aku tahu bahwa ini bukan hal yang benar. Kata kawan, tidak dibenarkan dua orang yang bukan muhrim berjamaah berdua sahaja. Kemudian saat aku merenung aku sadar bahwa dalam beberapa hal ia benar. Aku sering tak khusyuk jika berjamaah denganmu.

Yang ketiga, aku jatuh cinta pada Tuan yang berjiwa tenang. Berkebalikan dariku yang reaktif, melihat Tuan seperti melihat air di danau. Kecil riaknya. Tuan mampu menjaga emosi ketika bereaksi, dan aku jatuh cinta akan hal itu.

Yang keempat, ketika Tuan tahu kemana akan melangkah. Membuatku merasa aku berjalan dengan orang yang tepat. Kata orang, jika melakukan perjalanan, bukan dengan apa yang menjadi penting, tapi dengan siapa kita berjalan. Dengan Tuan, aku percaya semua akan jadi baik.

Yang kelima, aku jatuh cinta dengan cara pandang Tuan yang seringkali seirama denganku. Jika aku berkata A, pun dengan Tuan. Jika Tuan berkata B, aku akan mengangguk mengiyakan.

Yang keenam, aku jatuh cinta dengan jiwa petualang Tuan. Yang tidak hanya dengan melakukan perjalanan, Tuan juga bertualang ke jiwa-jiwa sekitar Tuan. Dari mulut Tuan, aku akan menemukan banyak cerita, yang membuatku merasa seakan Tuan mengajakku untuk menjelajah, menyusuri cerita-cerita Tuan, dan aku menikmatinya.

Yang ketujuh, dan ku harap ini bukan yang terakhir. Aku ingin Tuan memberiku dua juta alasan lain untuk membuatku jatuh cinta. Karena pada akhirnya, aku harus menyerah mengaku pada diriku, bagaimanapun Tuan, aku jatuh cinta pada Tuan. Dan aku tak peduli jika rasa jatuh cinta ini tak beralasan.

Jumat, 04 Agustus 2017

7 Hari Menulis - Hari Ke-Tiga

Tentang Hal yang Saya Rindu

Sebenarnya banyak hal yang membuat saya rindu. Saya rindu menonton acara live musik, menganggukan kepala menikmati irama, sambil memandang kagum ke arah si artist.
Saya rindu pergi jalan-jalan untuk berlibur, menjauh sejenak dari rutinitas, saya rindu ketika harus pusing menata barang apa saja yang harus saya bawa, saya juga rindu menyusun segala rencana ketika liburan tiba.
Saya rindu kehidupan kosan, dengan lima orang teman saya yang lain. Pusing tak punya uang dan butuh hiburan, saya tinggal main ke kamar teman yang lain. Saya bisa main hingga malam hari, tanpa khawatir saya membuat khawatir orangtua saya.
Saya juga rindu dengan teman-teman saya yang lain, yang dari mereka sering muncul ide-ide atau apa pun itu namanya yang kemudian mengisi kepala saya, merefresh-nya kembali setelah diisi hal yang itu itu saja.

Lebih dari itu, hari ini saya rindu pada  seseorang. Kawan saya untuk bercerita banyak hal, mulai dari keluh kesah sampah, cerita menarik di hari itu, ghibah tentang teman-teman saya yang lain, tentang angan-angan dan ketakutan saya akan masa depan, sampai pertanyaan random yang sering tiba-tiba muncul di kepala saya seperti misalnya bagaimana jika bendungan jatiluhur meluap. Saya rindu dia akan menatap saya sampai saya merasa ia sedang membaca isi kepala saya, hingga terkadang saya menunduk karena salah tingkah. Saya rindu ia yang hanya akan menanggapi ocehan saya ini dengan senyumannya tanpa perlu banyak bicara. Saya rindu ia yang kemudian merespon ucapan saya dengan nada suaranya yang tenang, kalimatnya yang bijaksana, dan segala hal yang kontradiktif dengan saya. Saya rindu dengan pola pikirnya yang 'thinking' untuk mengimbangi saya yang 'feeling'. Saya rindu menghabiskan waktu dengannya hanya untuk berpindah dari satu topik ke topik bicara yang lain di tempat yang sama. Saya hanya rindu saat-saat itu. Belakangan, saya sudah jarang bercerita dengannya. Ada satu dan lain hal yang jadi sebabnya. Dan saya juga nggak pernah bilang rindu. Klasik sih alasannya, malu.

Ps: Oh iya, ada yang aneh. Entah kenapa saya juga rindu akan rasa ingin menyentuh dia. Selama kenal, saya nggak pernah menyentuh dia. Ini lebih karena saya berusaha menghormatinya. Tapi setiap ketemu, saya juga nggak ngerti kenapa pengen banget rasanya minimal pegangan tangan gituuuu :"

Kamis, 03 Agustus 2017

7 Hari Menulis - Hari Ke-Dua

Tujuh Lagu yang Tidak Bisa Saya Lupakan dan Cerita di Baliknya

1. Jangan Beri Tahu Niah
    Lagu ini yang paling pertama kali pop out dari kepala saya begitu baca tema untuk hari kedua di 7 Hari Menulis. Sedih sih sebenernya buat saya pribadi. Ini adalah kali pertama seumur hidup saya, saya sebegitunya terpengaruh sama satu lagu. Dalam hal ini, saya benci banget sama lagu ini. Ada masa di mana sekitar hampir 2 tahunan saya menolak buat dengerin lagu ini. Kenapa? Jadi ceritanya dulu waktu saya pacaran, saya sempet curiga kalau pacar saya udah pindah ke lain hati. Ada sekitar 2 bulanan saya takut banget buat nanya karena saya nggak mau denger jawabannya. Tapi suatu saat, saya ngeliat postingan dia di salah satu social media nya he was listening to this song. Dan seketika itu juga saya semakin yakin bahwa dia sudah dengan yang lain. Prasangka ini ternyata akhirnya berubah jadi fakta, yang entah kenapa bikin saya benci banget denger lagu ini, sampai hampir dua tahun, karena setiap keingetan lagu ini, saya jadi ingat soal cerita saya yang nggak banget sama pacar saya dulu. Iyuwh. Tapi sekarang udah biasa aja sih.

2. Laskar Pelangi
Lupakan tentang segala kontroversi Andrea Hirata, I don't give a shit for that. Saya suka Laskar Pelangi dan semua cabangnya, mulai dari buku, film, dan lagunya. Buat saya pribadi, lagu ini punya daya magis tersendiri. Iya sih, intro-nya buat saya juga agak-agak mirip lagunya Coldplay, tapi tetep aja lagu ini punya aura tersendiri. Susah buat saya ngebayangin ada lagu lain yang cocok buat jadi soundtrack film Laskar Pelangi. Buat saya pribadi, lagu ini entah kenapa menggugah semangat saya setiap kali saya dengerin. Lagu ini ngingetin saya tentang gimana seseorang tryin to pursue their dream, tentang cinta dalam hidup, tentang kita yang harus bersyukur dan banyak hal lainnya yang sebenernya biasa aja sih tapi means a lot buat saya pribadi.

3. Bailando
Seperti yang udah saya bilang sebelumnya, pengalaman exchange saya adalah salah satu dari pengalaman paling membahagiakan buat saya sejauh ini. Dan lagu ini paling mewakili momen-momen itu. Jadi, ceritanya, dulu itu kita sering banget joget-jogetan di mana aja, sebut aja dugem ala-ala. Pernah di rumah temen, di tengah gurun pasir, di pinggir jalan di depan mall tempat kita biasa nongkrong, dan yang paling sering itu kita ke sungai Nil, terus nyewa kapal gitu terus nyusurin sungai sambil nyetel musik dan joget-joget. Eh percaya deh, waktu itu itu bukan hal yang norak. Semua orang senang. Dan lagu Bailando ini yang paling sering kita setel, karena lagunya enak dan lagi ngetren banget waktu itu. Sampai-sampai, waktu itu kita pernah mau rame-rame nonton konsernya Enrique Iglesias yang pas banget kebetulan lagi ngadain konser di Kairo. Tapi ga jadi, soalnya kita juga jalan-jalan ke luar kota. Saking seringnya gue dengerin lagu itu waktu itu, sampai pulang ke rumah pun gue masih sering nyanyiin lagu itu. Dan itu kayaknya lagu berbahasa spanyol pertama yang saya hapal a whole song gituuuu, nggak kayak Despacito jaman sekarang yang saya nyanyiin dengan babbling. Dan gara-gara itu, setiap saya denger lagu ini, saya selalu inget jaman-jaman exchange. :"

4. Seandainya
Singkat untuk cerita lagu ini. Kalau kamu tau liriknya, ini sebenernya bercerita tentang seseorang yang mau ninggalin kekasihnya. Nah, waktu itu saya di ambang LDR sama pacar saya, kebetulan pacar saya mau kerja di luar negeri. Satu waktu sebelum hari H kita LDR-an, dia ngasih saya lagu ini (well, both of us really adoring Sheila On 7. So practically, we could relate our story to their song. Eh atau kebalikannya ya?), eh terus entah kenapa saya menye banget dan sedih setiap denger lagu ini waktu itu. Sampai hari ini, buat saya lagu ini jadi LDR anthem banget. Liriknya nggak menye sih sebenernya, tapi entah kenapa kalo jadi orang yang LDR-an lagu ini jadi sedih banget.

5. Northern Downpour
Lagu ini sebenernya nggak punya cerita yang gimana-gimana sih, dan selain lagu ini sebenernya ada lagu lain yaitu lagunya Boys Like Girls yang Go sama lagu Efek Rumah Kaca yang Melankolia yang kira-kira levelnya sama kayak lagu ini. Tapi cuma boleh milih 7 lagu. Jadi di antara 3 lagu ini saya pilih lagu Northern Downpour ini karena liriknya dalem banget dan entah kenapa nadanya tuh pas banget kalo didengerin pas lagi down. Lagu ini menurut saya liriknya nggak bisa diartiin secara gamblang, tapi ya intinya sih sama aja. Kalo lo dengerin lagu ini pas lagi down, lagu ini (dan dua lagu lain) kayaknya bisa bikin mbrebes mili deh.

6. Hymn for the weekend
Wah, akhirnya saya nemu lagu Coldplay juga di list ini. Lagu ini buat saya pribadi juga punya aura tersendiri. Kayaknya kalau saya bisa nonton live-nya Coldplay suatu hari nanti, saya bakalan trance pas denger lagu ini. Saya inget, pernah suatu hari, saya lagi makan sama temen saya di Wings Stop, di sebelah saya ada anak perempuan kira-kira usianya 8 tahun, sambil asyik makan dia juga asik banget nyanyi lagu ini yang lagi diputar jadi BGM. Saya nggak tau kenapa kayak kehipnotis sama anak itu, saya bener-bener ngerasa kebawa (well, suaranya juga bagus), dan habis itu entah kenapa saya jadi cinta banget sama lagu ini terutama di bagian Beyonce nyanyi.

7. Sebelah mata
Sama kayak lagu Hymn for the Weekend tadi, saya jatuh cinta sama lagu ini karena orang lain. Jadi ceritanya waktu itu saya lagi nonton gigs-nya Efek Rumah Kaca di Taman Melingkar di depan perpustakaan pusat kampus saya, and the gigs was quite perfect buat saya. Mereka main di bawah satu pohon yang besar dengan satu lampu tembak kuning menyinari mereka, posisi taman melingkar itu ada di pinggir danau. Romantis sebenernya. Dan di sebelah saya ada mbak-mbak lagi eargasm sambil merokok. Saya nggak pernah ngeliat orang eargasm sebenernya, tapi kayaknya si mbak memang lagi eargasm. Dan saya kebetulan justru paling suka ngeliat orang lagi menikmati rokok. Jadi visual si mbak waktu itu bener-bener keren buat saya, dan gara-gara itu saya jadi suka banget lagu Sebelah Mata ini. By the way, lagu ini tambah keren waktu Gerald Situmorang mainin solo gitar buat intronya pas Efek Rumah Kaca main bareng Barasuara.

Jumat, 07 Juli 2017

SEPARUH KITA by Ust. Salim A. Fillah

-menyambut akad Akhinda @ Muzammil Hasballah-
بارك الله لك ، وبارك عليك ، وجمع بينكما في خير
_______________
@salimafillah

tentu saja saat itu kau punya banyak pilihan
dan aku sama sekali tak masuk hitungan
aku bukan lelaki yang jika kaulihat membuatmu serasa menatap malaikat
juga bukan pria yang jika diajak bicara, membuatmu merasa ada dan berharga..

dan, sulit kubayangkan apa yang ada dalam benakmu, terlebih ayah ibumu
ketika di acara khithbah –setelah rombongan keluargaku tersesat
empat jam menyusuri peta buta, ditambah tiga jam berputar sana sini-
kukatakan pada keluarga besarmu, “urusan saya adalah segera menikah
tak jadi soal besar dengan siapa. jika tak kami dapat mertua di sini,
insyaallah akan kami cari di perjalanan pulang nanti.”

aku tahu, aku terlihat tak waras dan tak tahu malu dengan kekata itu
tapi hebatnya kau memahamiku, dan tertakjub aku
karena kau bisa meyakinkan walimu, bahkan wangsamu
hm, ternyata kita memang sejiwa, seakan ketika melirikmu sekilas
hatiku berkirim pesan, “aku bukannya tak sabar. hanya tak ingin menanti.
karena ketegasan macam ini adalah juga kesabaran –juga kesiapan diusir pulang.
karena bagiku, dalam penantian, ada lebih banyak celah syaithan.”

-aku sadar, sejak peristiwa itu kau mulai mengenalku, dan
menyiapkan diri untuk kelaknya banyak-banyak menyabariku-..

aku lalu tahu bahwa kau agak pemarah
tapi aku suka itu; karena marahmu selalu di atas alasan jitu
dan lagi kau tak sekeras bunda ‘aisyah yang membanting piring
ketika suaminya sedang menjamu tamu-tamu yang terbelalak lalu haru
kau juga tak sampai mengatai suami, “kau ini hanya mengaku-aku nabi!”

separah-parahnya yang kurasakan hanya tak kaubukakan pintu
seperti sayyidina ‘ali ketika dimarahi fathimah, lalu tidur berselimut debu
dan ketika itulah dia mendapat panggilan cinta dari mertua: abu turab..

dan lebih dari itu kau memintaku menjadikanmu khadijahku
itu artinya kau akan meneladaninya; misalnya dengan tak bertanya
ketika kau lihat beban menekuk mukaku, menggontaikan tubuhku
lalu kau persilakanku berbaring bukan di kamarmu, menyelimutiku
karena begitulah yang dilakukan khadijah ketika suaminya ditimbuni risalah
tapi menjadikanmu khadijah artinya juga;
takkan ada selain dirimu, sebelum Allah memanggilmu
soal yang ini doakan aku kuat; dan aku tak pernah berdoa agar terjadi cepat-cepat..

kau tak suka terlalu banyak dilihat mata, sejak lama..
tapi sesekali, bukankah Sang Nabi juga terlihat berlomba lari bersama istri..
menonton tarian tombak di masjid dengan saling bersandar dan pipi menempel pipi..
atau berkendara dengan memangku shafiyah dan lutut saling menyangga..

maka inilah kita mengenang masa, menyemangati yang muda-muda
bahwa membangun cinta memang seperti membina istana surga
tak mudah, tapi terus kita berusaha
aku yang selalu tertatih memahamimu
dan kaulah penepis goda, lalai, serta lena

tigabelas tahun bersamamu cinta, ada banyak yang tak dapat diungkap dengan kata
tapi ringkasnya begini: engkaulah separuh agama, penjaga ketaatanku..


Repost dari Facebook Ust. Salim A. Fillah

Senin, 26 Juni 2017

Perusak Moment Lebaran

Hari raya, khususnya lebaran, harusnya jadi momen yang membahagiakan buat semua orang. Gimana enggak, setelah satu bulan puasa, sebagian orang jadi bahagia karena jam makan dan tidurnya akan kembali lagi menjadi 'normal'. Setelah sekian bulan berjauhan, anak-anak yang merantau, bahagia bisa pulang ke rumah dan bertemu orangtua. Keluarga yang terpisah, bahagia karena bisa bertemu lagi dengan kerabatnya. Lebaran memang menyenangkan dan membawa kebahagiaan buat banyak orang, bahkan nggak cuma buat yang merayakan, tapi juga yang nggak merayakan bisa ngerasain bahagianya hari lebaran.

Tapi, momen lebaran yang penuh bahagia dan suka cita ini juga kadang suka bikin waswas. Seringkali kita justru ketemu sama perusak-perusak momen bahagia ini di saat lebaran. Apalagi kalau bukan ketemu sama geng kepo yang suka ceriwis nanyain ini itu? Saya yakin kamu pasti pernah ngerasain ini, at least sekali seumur hidup! Ditanyain ini itu yang bikin kamu awkward buat ngejawabnya. Nggak dijawab kesel, tapi kalo dijawab bikin sakit hati.
'Kok gendutan sih?', 'Siapa pacarnya sekarang?', 'Gimana, kok sampai sekarang belum keliatan jodohnya?', 'Udah lama kan lulusnya? Kok belum dapet kerja?', dan banyak pertanyaan lain yang ngeselin.

Semakin ke sini, entah kenapa saya ngerasa kalau kita (masyarakat Indonesia), sepertinya memang perlu edukasi soal bagaimana berbasa-basi yang baik, terutama dengan orang yang baru kita temui lagi setelah beberapa lama. Kita harus bisa ngebedain, bagaimana caranya 'menanyakan kabar' tanpa perlu mengulik privasi orang lain secara berlebihan.  Buat saya, tidak bertanya tentang hal-hal pribadi berbeda dengan tidak peduli.
Saya baru saja sekilas melihat video di Facebook BBC Indonesia tentang bagaimana etika berbasa-basi ketika lebaran (bertemu keluarga setelah lama nggak ketemu) menurut psikolog Roslina Verauli. Saya baru tau, ternyata basa-basi ini tergantung sama siapa lawan bicara kita (hmm iya sih). Contoh di video itu adalah misalnya ketika kita ngomong sama anak usia SD, kita lebih baik bertanya apa hobinya dibanding bertanya kemarin ia peringkat berapa, karena ternyata untuk anak seusia itu, achievement adalah masalah sensitif. Sedangkan bagi orang seusia saya (20-30 tahun), urusan jodoh dan karir yang menjadi masalah. Menurut Mbak Rosliana ini, sebenernya ketika berbasa-basi ini, seharusnya kita lebih mementingkan nilai-nilai keakrabannya (yang emang jadi niat awal kita) daripada nilai kompetisinya, toh kita nggak lagi menilai orang. Makanya, lebih baik kita mulai memilah-milih lagi pertanyaan yang akan kita ajukan, sebelum malah bikin kesel orang lain.

Kadang memang kita (duh, apalagi saya) suka nggak mikir panjang sih ketika bertanya sama orang lain. Kita nggak tau proses dibalik jawaban dari pertanyaan yang kita ajuin. Bisa jadi memang berat buat orang yang kita tanya, walaupun sepele banget menurut kita. Kayak misalnya ditanya, 'kok belum dapet kerja?', kita nggak tau kalo ternyata orang yang kita tanya itu sudah ikhtiar sekian lama demi dapet pekerjaan. Tentu memalukan dan menyedihkan buat orang-orang yang ditanya kayak gitu, karena harus memberi jawaban negatif walau dia sudah berusaha jujur.

Point yang menarik buat saya dari masalah ini adalah penting buat kita untuk mengubah pertanyaan-pertanyaan atau ucapan-ucapan yang kita lontarkan ketika berbasa-basi. Seperti misalnya tadi, daripada bertanya tentang achievement yang diraih oleh anak usia SD, kita lebih baik bertanya tentang hobinya sekarang atau hal yang paling dia suka sekarang. Daripada harus mengeluarkan komentar-komentar negatif akan kekurangan orang lain, lebih baik kita fokus untuk melihat sedikit saja sisi positifnya, kayak misalnya jika ada orang yang masih betah 'sendiri', daripada bertanya kenapa belum juga ia bertemu jodohnya, lebih baik jika kita memujinya yang mungkin saja sedang meningkatkan kualitas diri. Ini, saya sharing foto yang saya ambil dari postingan teman yang menyadur dari orang lain dan tercantum di situ. Mungkin bisa membantu kita untuk meminimalisir kemungkinan melukai orang lain.

Sedikit sharing pengalaman saya, walau nggak penting dan terlihat pathetic, tapi terlalu gatel buat saya pendam sendiri.

Jadi gini. Kebetulan saya pernah pacaran sama tetangga saya, dan hampir semua tetangga saya yang lain tau cerita kami. Sayangnya, hubungan saya dengan si pacar harus berakhir sekitar 3 tahun yang lalu. Lebih sayangnya lagi buat saya, si mantan pacar saya itu kebetulan lebih dahulu menikah daripada saya. Bisa kamu bayangin betapa senewennya saya menghadapi komentar-komentar tetangga sekitar saya soal ini? Saya berusaha mengerti, kalau mereka sebenarnya berniat untuk bercanda, walau nggak jarang saya juga sedih, karena kadang komentarnya nyebelin, kayak misalnya, 'kok kalah sih, si itu aja udah nemu yang baru', atau apa lah. Mereka nggak tau apa yang udah saya alami, karena saya berusaha untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi daripada muncul fitnah yang nggak jelas dan merugikan dua belah pihak.
Walaupun udah tiga tahun berlalu, dan bahkan dalam beberapa kesempatan saya juga udah lupa kalau saya pernah pacaran sama mantan pacar saya itu (yang saya yakin juga sebaliknya), ternyata tidak dengan tetangga-tetangga saya. Bedanya, beberapa dari mereka sekarang sudah lebih mengerti. Walau masih memasang wajah seolah-olah nasib saya menyedihkan, tapi mereka nggak lagi berkomentar yang sifatnya negatif. Sebaliknya, mereka justru mendoakan saya supaya segera bertemu jodoh dunia akhirat saya, supaya saya mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya, bahkan berdoa supaya saya bernasib lebih baik daripada yang bersangkutan (ok, well ini berlebihan). Saya sendiri bingung kenapa orang-orang ini nggak move on juga dari cerita lama saya. Tapi bagaimana pun, walau saya masih ngerasa saya sedang 'dikasihani', saya mencoba berusaha untuk berpikir positif, bahwa orang-orang ini peduli dengan saya dan menginginkan sesuatu yang baik untuk saya. Dan tentu saja, saya juga berharap bahwa setidaknya ada satu dari doa-doa tersebut yang dikabulkan dengan segera sama Allah, supaya membahagiakan saya dan orang-orang di sekitar saya, termasuk mereka yang tadi mendoakan.
Di sini titik sadar saya, bahwa hanya perlu sedikit usaha untuk mengubah suatu hal menjadi lebih positif. Dalam kasus ini, kita harus bisa mengubah pertanyaan atau ucapan yang sekiranya mampu melukai perasaan orang lain, menjadi pujian atau doa untuk kebahagiaan orang tersebut.
Jadi, tidak perlu kita merusak momen bahagia orang lain di saat lebaran, saat kita sebenarnya sedang berlomba-lomba mengumpulkan maaf dari orang lain akan dosa setahun sebelumnya. Belum tentu juga kita berjiwa ksatria untuk memohonkan maaf dari orang yang kita sakiti. Atau, apa kita siap harus menunggu satu tahun lagi untuk tulus meminta maaf?

"Barang siapa beriman pada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau lebih baik diam." (H.R. Bukhari & Muslim)

Senin, 06 Februari 2017

Fear

Ay, sebenernya lo pengen cowok yang kayak gimana, sih?

Simply, he loves me. Umm.. And of course my family.

Why?

Karena he knows what to do when he loves me. He understands me. He won't hurt me. Would you hurt the one that you love? No, rite? That's it. I don't want to be hurt anymore.

You haven't even move on from your past, Ay.

I moved. This pain turned into fear. A fear that he/she doesn't love you back when you deeply in love with him/her. And it's haunting me.

Senin, 23 Januari 2017

Baper

Sebenernya kemarin baca buku ini tanpa sengaja, pas liat Anna balikin buku ini yang dia pinjem dari Ditta, gue jadi tertarik buat baca.
Sekilas gue baca, gue jadi suka dan akhirnya minjem buku ini. Isinya tentang kehidupan pernikahan Mas Fahd sendiri dengan istrinya Mbak Rizqa.

Sambil seharian ini dengerin lagunya Coldplay yang Everglow, gue jadi baper dan pengen cepet-cepet nikah.
Semoga nanti, ketika saatnya gue menikah, gue bisa bersanding sama seorang suami yang saling mengerti dan mensupport satu sama lain dalam semua hal kayak di buku ini. Aamiin Allahumma aamiin.

Minggu, 01 Januari 2017

Karena Memang Almost tuh Selalu Never Enough

Sekitar tiga hari belakangan ini, gue lagi suka banget dengerin lagunya Ariana Grande yang 'Almost is Never Enough'. Terus sambil nyanyi, gue suka kepikiran liriknya gitu. Gila ya, kalo aja kejadian beneran agak nyesek sih, terutama di bagian yang ini.

Almost, almost is never enough
So close to being in love
If I would have known that you wanted me the way I wanted you
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms

Tadi, pas lagi di mobil nyanyi-nyanyi lagu ini, tiba-tiba gue randomly keingetan gosipan gue sama temen gue di akhir tahun kemarin. Jadi ceritanya, temen gue itu suka banget ngegodain dan 'nyie-nyie-in' seorang cewek dan cowok yang menurut dia lagi deket. Alesannya sih simple, menurut dia mereka suka secretly doing something to each other, kayak misalnya, si cewek suka bawain makanan buat si cowok, terus si cowok juga suka nyamperin si cewek dan sholat bareng.

Lucunya, si temen gue ini keukeuh banget nih ada sesuatu di antara dua orang ini. Tapiiii...sayangnya, dua orang ini juga keukeuh bnaget kalo di antara mereka nggak ada apa-apa. Point penjelasannya sama kalo kata temen gue ini, mereka kompak bilangnya, "enggak, nggak ada apa-apa. Gue nggak suka sama dia, dan dia juga nggak suka sama dia." Dan setelah dijelasin ke mereka alesan kenapa si temen gue ini nganggep ada apa-apa di antara mereka, dua-duanya nganggepnya itu biasa aja, karena itu hal-hal yang lumrah dan biasa mereka lakuin ke orang lain, ga cuma ke 'dia'.

Sampe sekarang, si temen gue ini masih semangat banget buat nyie-nyie-in dua orang ini, walaupun oknum yang bersangkutan udah sama-sama deny kalo ada sesuatu di antara mereka. Gue jadi inget lagi kata temen gue, biasanya kalo ada dua orang dijodoh-jodohin atau di-cie-cie-in dan dua-duanya sama-sama ngotot bilang enggak, ujung-ujungnya malah jadi, karena mereka kemakan tulah dan kena karma! Hhaha, apa banget emang -_-'

Nah, terus gara-gara lagu Ariana tadi, gue tiba-tiba kepikiran. Gimana ya, kalo ternyata dua orang ini sama-sama suka or at least admire each other? Selama ini mereka bilang enggak tuh kedok doang, cuma karena malu dan gengsi aja buat bilang iya ke si temen gue itu! :D
Kalo gue pribadi sih ngerasanya sayang banget aja sih kalo emang ternyata dua orang ini sebenernya sama-sama suka. Yaaaa, mungkin bukan suka yang 'suka', tapi suka as a friend, as a person. Kalo aja dua-duanya lebih bisa maintain rasa gengsinya, mungkin kalaupun nggak jadi pacar, mereka bisa jadi temen baik, bisa jadi support system buat masing-masing (oke, please, kayaknya ini kebanyakan di-coaching sama anak startup self developing deh jadi omongannya tentang support system). Tapi, well yeah, balik lagi sih, but maybe we wouldn't be two worlds apart, but right here in each other's arm. Harusnya sih begitu.




ps: don't think too much nor expect too much
pss: ayunnisa si pecinta drama
psss: no skoy no drama, no drama no skoy

Selasa, 27 Desember 2016

10 Tahun yang Lalu

Kemarin, pas gue lagi scrolling instagram, gue ngeliat temen gue ngepost foto engagement dia sama seseorang. Sebut aja nama temen gue ini Rosi, dan tunangannya, Ardi.
Kebetulan gue kenal baik sama dua-duanya. Well, nggak kenal=kenal banget sih sama Ardi, tapi dia dulu temen deketnya mantan gue, so yeah, cukup tau lah. :p

Ngeliat foto engagement mereka, ingatan gue balik ke tahun 2007. Waktu itu Jakarta belum dipimpin sama Ahok, masih banjir di sana-sini, dan waktu itu lagi musimnya banjir besar 5 tahun-an. Sekolah gue tercinta, yang lokasinya persis di depan Kali Angke yang hitam menawan nan harum semerbak itu mau nggak mau ikut ambil bagian jadi korban banjir besar itu.
Gue masih inget, waktu itu kalo nggak salah hari Jumat, dan pulang cepet. Gue balik ke kosan sepayung berdua sama Guntur (:"), terus menerjang banjir yang udah se-paha tingginya.

Lusa setelah kejadian banjir besar itu, kita masuk sekolah lagi. Di sekolah, kita ngomongin cerita-cerita pas banjir kemarin, mulai dari gue yang seneng gara-gara sepayung berdua sama Guntur, temen-temen gue yang harus jalan kaki berkilo-kilo meter buat pulang, atau mereka yang pulang dengan numpang truk atau mobil pickup, dan banyak cerita yang lain.

Gue masih inget banget, waktu itu Rosi cerita sama gue, pas pulang sekolah kemarin, dia ngeliat Ardi.
"Aaaaaay, masa kemarin gue ngeliat kak Ardi pulang ngegendong Kak Tariiiiiii... Sweet bangeeeeeeet!!" Katanya semangat, yah ala-ala cewe lagi nonton drama korea gittuuu.
Emang, waktu itu Ardi ini lagi pacaran sama Kak Tari, dan pacaran mereka emang tipe-tipe sweet gitu. Ibarat Awkarin sama Gaga lah.
Waktu itu, hampir 10 tahun yang lalu, pacaran ala Ardi dan Tari ini jadi relationship goals buat Rosi. Rosi selalu semangat cerita tentang kisah Ardi sama Tari. Kebetulan pacarnya Rosi waktu itu satu geng juga, jadi Rosi lumayan sering jalan bareng sama Ardi dan Tari. Waktu itu, gue sempet mikir kalo Rosi suka sama Ardi, atau Rosi suka sama cowok-cowok tipe Ardi yang manis dan romantis, walau pemikiran ini cuma selintas doang sih karena kan Rosi udah punya pacar waktu itu.

Hmm.. apapun itu, buat gue pribadi, cerita ini jadi menarik. You would never know what'll going on the next 10 years! Dulu, Rosi mungkin cuma naksir-naksir ala kadarnya sama Ardi. Tapi, 10 tahun dari waktu itu, Ardi dateng ke rumah Rosi buat ngelamar. Ini jauh lebih sweet sih buat gue. :"

Kalo Rosi atau Ardi punya kesempatan buat baca tulisan ini, gue cuma mau bilang sama kalian selamat, semoga dilancarkan apa yang udah direncanain sampai hari H, dan semoga berkah semua niatannya. Chukae!


Kamis, 22 Desember 2016

Suddenly Tiba-tiba

Suddenly tiba-tiba kali ini adalah tentang Ndau, temen SMA yang udah gue kenal dari jaman SMP.
Karena kita sama-sama naik kereta buat ke kantor, gue sering banget nanya Ndau udah balik atau belum biar bisa ketemu kalo pas pulangnya barengan. Tapi chatting sama Ndau nggak pernah beneeeeeeeer :'(

Sabtu, 10 Desember 2016

Analogi Sepatu

Sekitar satu bulan yang lalu, gue ngajak nyokap buat nemenin gue beli sepatu. Sepatu ini udah lama banget pengen gue beli, dan kebetulan gue juga butuh sepatu baru (karena gue ke kantor pake sepatu bokap gue yang ukurannya 4x ukuran kaki gue selama ini). Standard sih sepatunya, cuma sepatu sneakers putih ala-ala anak tumblr masa qni~
Nyampe di mall, gue ga langsung ke store merk sepatu yang gue tuju, tapi ke store lain. Di store itu gue milih-milih sepatu, kali aja ada yang kuy. Tapi ternyata harganya mahal-mahal buat keuangan gue waktu itu. Sayangnya, nyokap gue justru seneng banget sama sepatu itu. Gue akhirnya bilang, 'Ma, liat yang lain lagi deh', sambil ngajak nyokap nyari ke store yang sebenernya emang gue mau.
Sambil jalan-jalan nyari store merk sepatu yang gue mau, gue coba masuk ke 3 stores yang beda buat nyari sneakers putih yang harganya bisa di bawah sneakers yang gue mau, tapi at least warnanya putih. Tapi sayang, di 3 stores itu baik gue atau nyokap sama-sama nggak sreg sama pilihan sepatu yang ada.
Akhirnya, gue sama nyokap ke store merk sepatu yang gue mau. Ternyata ada tuh sneakers yang gue mau, walaupun bukan type yang gue mau tapi at least agak mirip. Harganya juga lumayan mahal, tapi nggak semahal sepatu pertama yang nyokap suka. Dan sayangnya, nyokap juga ga seneng sama sepatu ini.
Ending dari sneakers hunting waktu itu adalah gue akhirnya beli sepatu yang nyokap seneng. Dengan harga 3x lipat lebih mahal dari budget dan target awal gue. Tapi setelah gue pikir-pikir yawdalahyaaaa~ gue masih bisa beli sepatu seharga 1/3 harga sepatu ini nantinya. Awalnya, gue beli atas dasar mau nyenengin nyokap gue aja.
Ternyata eh ternyata, sepatu yang gue beli dengan setengah hati itu, sekarang jadi sepatu yang gue sayang luar biasa. Sol-nya enak banget, ada bantalan empuknya gitu yang bikin kita nggak pegel kalo lagi berdiri lama (maklum anker keras hidupnya!). Kalo gue lari ngejar kereta juga sepatu ini enak banget, enteng.
Btw, kemarin gue pulang bareng seorang temen. Dia gue minta buat nyeritain tentang kisah baru yang rencananya mau dia rajut ama seorang cewe (dd dd gmz lebih tepatnya).
Nah, sebelum sama si cewek ini, si temen gue ini sempet berencana buat deket sama seorang cewek. Cewek ini baik, dari agama sampe pribadinya insyaAllah baik dan udah layak diperistri. Sayangnya, niat buat taarufan ini justru terhalang dari orangtua si temen gue, karena satu dan lain hal. Pas gue tanya, "terus lo gimana?", si temen gue itu cuma jawab "Yaa sebenernya kecewa sih, tapi gue yakin nyokap lebih tau mana yang lebih baik buat anaknya".
Gue tiba-tiba jadi keingetan soal sepatu kesayangan gue. Waktu itu gue ga mau sama pilihan nyokap gue, bukan karena pilihan nyokap gue jelek, nggak modis, dsb. Tapi justru lebih karena sepatu itu terlalu bagus dan mahal buat gue, yang menurut gue ga affordable dan ngeliat keuangan gue yang segitu, gue lebih milih buat beli sepatu yang biasa aja. Toh sepatu yang biasa aja, asal nyaman dan warnanya putih (yang gue mau banget), udah cukup buat memenuhi kebutuhan gue 'saat itu'. Tapi setelah gue beli sepatu itu dan gue pake selama sebulan ini, gue baru sadar ini tuh something that worth to buy! Sepatu ini nggak cuma ngasih style dan nyaman, tapi nyaman banget. Plus pride! Seriusan, sepatu ini banyak yang lirik. Gue bahkan nggak nyangka sebegitunya.
Gara-gara cerita si temen gue dan sepatu itu, gue jadi paham, ternyata begitu sebenernya cara kerja ucapan orangtua. Futuristic abis!  Dia bisa maju sekian waktu ke depan. Dari dulu sering banget gue beda pendapat sama nyokap-bokap gue, dan emang gue akui seringkali ada masa di mana gue ngomong dalam hati, 'ah, coba dulu ikut apa kata orangtua'. Entah sistemnya gimana, tapi konspirasi antara feeling dan ridho orangtua seringkali menang mutlak kalo udah diadu sama ego kita buat milih suatu hal.
Ini yang ngebuat gue pada akhirnya memutuskan buat nurunin ego dan ngalah, buat nerima saran dari orangtua gue buat nentuin beberapa pilihan hidup gue terutama yang essential. Alesannya, nggak lebih dari sekedar berharap ridho dari keduanya yang jadi wakil perantara ridho Tuhan di hidup ini. Dengan gue nurut apa kemauan mereka gue cuma berharap nantinya, bukan cuma gue yang bahagia sama keputusan yang gue ambil, tapi juga orangtua gue dan orang banyak.

Rabu, 07 Desember 2016

Do'a

doa

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami jodoh (istri-istri) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”
(Q.S. Al-Furqan:74)
“Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris Yang Paling Baik”

Khusus untuk Perempuan

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat”

DOA KETIKA JATUH CINTA

Ya Allah…
Jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu, agar bertambah kekuatanku
untuk mencintai-Mu

Ya Allah…
Jika aku jatuh hati, izinkan aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut padaMu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbul Izzati…
Jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu

Ya Allah…
Jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu.

Cieeee..cieee.. yang lagi jatuh cinta berjuta rasanyaaaa..
Biarkan Allah yang mengatur semuanya,, Allah mempunyai kejutan yang luar biasa untuk kita..
Semoga orang yang kita cintai melabuhkan cintanya kepada ALLAH.
Amien



- ku copy dari tumblr http://gogogomayukochan.tumblr.com/ -

Minggu, 04 Desember 2016

Priceless.

Having a deep conversation with the right person is priceless. Totally. Whoever the person is.

Rabu, 23 November 2016

A Head Full of Dreams



Belakangan, isi timeline social media gue penuh sama orang-orang yang riweuh sama konser Asia-nya Coldplay. Gue sendiri juga termasuk salah satu dari fans band asal Inggris ini, dan termasuk dari bagian orang-orang yang riweuh juga pengen nonton konser-nya di Singapur. :p

Persis kayak judul lagu, album, dan tema konser Coldplay tahun ini, A Head Full of Dreams. DDi kepala gue juga penuh sama mimpi-mimpi, dan bisa nonton Coldplay secara langsung adalah satu dari dreams gue itu tadi. Gue emang bukan yang freak abis atau gimana, tapi ada di tengah-tengah konser Coldplay adalah sesuatu yang jadi goals di hidup gue :")

Sayangnya, nonton Coldplay adalah satu dari sekian banyak dreams yang justru bertentangan sama bokap gue. Sedih rasanya ketika banyak mimpi-mimpi gue yang justru nggak align sama keinginan bokap gue, karena gue sendiri tau, akan ada satu pihak yang nggak happy dengan apa pun keputusan yang gue ambil, either gue atau bokap gue.
Semakin dewasa, gue sendiri mulai melunak dan nggak se-batu dulu lagi. Gue mulai mengerti sifat bokap gue, dan mulai memikirkan apa yang dia mau, kemungkinan bahwa pilihan gue juga beresiko dan kemungkinan bahwa pilihan dia mungkin ada benarnya. Selain itu, gue udah mulai nggak tega karena bokap gue udah semakin tua, gue nggak mau dia mikirin gue berlebihan, atau kemungkinan gue ngecewain dia.

Berkompromi sendiri pada akhirnya adalah sesuatu yang akan kita lakukan seiring semakin dewasanya diri ini. Semua pilihan dan kemungkinan pasti akan diputuskan dengan lebih bijak. Hal-hal yang mungkin bisa merugikan atau mengecewakan orang lain mungkin bakal dikurangi. Bukan cuma ngerugiin dan ngecewain orang lain sih, tapi juga ngerugiin dan ngecewain diri sendiri. Sayangnya, justru itu yang berat.

Pada akhirnya memang, kita sendiri harus lebih ksatria dalam hidup. Bisa menerima hal-hal yang kita mau atau nggak mau, bisa menerima kita bener atau salah, dan lain-lain, termasuk mengejar mimpi. Yang namanya mimpi nggak ada yang kecil, semua mimpi dan harapan itu pasti besar dan bahkan untuk beberapa hal yang keliatannya nggak mungkin. Dan semua orang, pasti mau menggapai mimpinya masing-masing. Sayang nggak semua mimpi memang harus berujung ke kenyataan, ada sebagian yang harus dikubur. Tapi selama mimpi itu gratis, nggak ada salahnya buat kita bermimpi.

Tugas kita hanya untuk bisa berkompromi dan bernegosiasi. Dengan Tuhan, takdir, orang tua, lingkungan, dan bahkan dengan diri sendiri. Untuk merealisasikan mimpi-mimpi itu tadi.

Sampai detik ini, masih banyak mimpi gue yang belum bisa direalisasiin, dan kalo untuk gue pribadi, faktor orangtua adalah ganjalan terbesar. Dan ini adalah hal yang paling susah buat gue kompromiin. Ngebahagiain orangtua adalah juga satu dari sekian dreams gue, dan mungkin yang paling utama saat ini. Mungkin masih banyak yang harus gue pelajari untuk bisa berkompromi dan bernegosiasi sama orangtua terutama bokap, biar apapun keputusan yang gue ambil dalam hidup ini bisa ngebahagiain dua belah pihak, baik gue sendiri ataupun orangtua gue.

Jadi, karena untuk saat ini gue yakin bokap nggak akan ngizinin gue nonton Coldplay April ini di Singapur, gue masih bisa ngalah walaupun gue mampu dan berani buat ke Singapur nonton itu. Tapi suatu saat nanti gue yakin, gue bisa nonton Coldplay, di mana pun. Dan gue yakin Allah pasti menjawab mimpi ini dengan keadaan yang lebih baik dari sekarang.
Nonton bareng pasangan, misalnya.
:))))))))))))))))

Minggu, 20 November 2016

Danilla Riyadi - Senja Di Ambang Pilu

https://www.youtube.com/watch?v=NkJ4LshKdhw

Lagu & syair oleh Lafa Pratomo

Bertegur sapa di kala senja
Memerah meredam nyala surya
Dengan dia yang mencuat di batas kalbu
Memeluk hatiku yang dibelai rindu

Tak berdaya kuberada
Di ambang pilu
Ku tenggelam ke alam sepi
Ku ditelan sunyi memikirkanmu
(merindukanmu)

Mendamba masa untuk bersua
Dengan dia yang melintas di malam syahdu
Melepas semua curah rasa
Menghempas beban dan nestapa
Terikat dalam kedamaian
Kala dua insan yang sedang terlena

Mengenal firasat tersimpan pada manusia
Tersirat buaian keresahan takkan melayang

Sabtu, 19 November 2016

Menjadi Baik

Kalau lo adalah perempuan, bukan suatu hal yang sulit rasanya buat bisa mengidentifikasikan perempuan (lain) yang lagi jatuh cinta.
Perempuan yang lagi jatuh cinta itu gampang banget diliat sama (sayangnya, bukan sama si laki-laki yang dia suka itu) perempuan lain di sekitarnya.

Gue punya seorang temen perempuan, sebut aja namanya Mia. Belakangan ini, gue bisa dengan sangat jelas ngeliat dan ngejudge kalo Mia ini lagi jatuh cinta. Those blushing cheeks, those excitements, and so on. I just can tell that she is really into someone.
Dan kebetulan, gue tau siapa orang yang dia taksir ini. Gue kenal sama cowok yang Mia suka, nggak kenal baik, tapi cukup tau untuk ngerti tipe orang yang kayak gimana si cowok ini.

Kalo boleh jujur, sebenernya juga gue suka sama si cowok ini. Entah suka yang kayak gimana, yang jelas memang si cowok ini admiring. Cowok ini memang pribadi yang baik dan menyenangkan, yang bisa bikin semua orang baik cowok ataupun cewek falling into him gitu. Tapi dalam kasus ini, Mia jelas lebih dari sekedar admiring si cowok ini. Dia naksir.

Salah satu indikator yang bikin gue yakin kalo Mia naksir sama si cowo ini adalah ketika gue mulai ngeliat perubahan-perubahan di diri Mia. Terutama dalam hal agama. Si cowok ini, emang terkenal punya sisi agamis yang bagus, jadi wajar ketika perubahan pertama yang menurut gue paling keliatan dari diri Mia adalah dari sisi agama.
Mia, yang tadinya jarang beribadah jadi sering beribadah.
Dan gue pribadi justru seneng ngeliat itu.

Gue sendiri pernah ada di posisi nya Mia. Gue rasa emang gue tipe orang yang gampang terpengaruh sama orang lain. Karena gue naksir sama seorang cowo yang baik dan agamis, gue jadi ikut-ikutan jadi baik dan agamis.
Sempet sih, kepikiran kalo apa yang gue lakuin itu salah, dan itu kepikiran lagi ketika gue sadar perubahan Mia. I mean, pasti akan ada suara-suara yang bilang kalo niat lo salah, karena lo menjadi baik (mungkin aja) cuma biar terlihat baik di mata doi, bukan di mata Tuhan.

Tapiii, entah kenapa kemudian gue berpikir. Rasanya nggak salah juga sih kalo Mia berubah menjadi baik demi si cowok itu. Toh, kalo memang pada akhirnya 'baik'-nya itu seterusnya dan nggak cuma sebatas 'di cowok itu', gue rasa cowok itu malah bisa jadi media Tuhan buat 'memperbaiki' Mia.

Buat gue pribadi, memang indah keliatannya ketika cowok yang gue suka dan kemudian jadi pasangan gue adalah cowok yang baik, dengan kualitas pribadi yang baik juga. Terlebih yang bisa ngebimbing gue ke arah yang lebih baik. Yang bisa jadi support system buat satu sama lain, yang sama-sama punya tujuan yang baik juga.
Jadi, buat Mia, kalo emang cowok itu bisa bikin lo jadi lebih baik, cobalah untuk ambil semua yang baik-baik dari cowok itu. Dan buat si cowok, you are really a good guy, semoga apapun yang lo lakukan juga bisa berdampak baik, bukan cuma buat diri lo sendiri tapi juga orang banyak. :)

Rabu, 16 November 2016

RAN - Salamku Untuk Kekasihmu Yang Baru feat. Kahitna (Official Lyric Vi...






Candu baru yang terus-terusan diputer di kantor. Nadanya gampang diinget, liriknya ngaco kalo kata temen gue karena 'true story' jadinya bikin pengen denger lagi dan lagi. Alhamdulillah sukses buat ngeracunin beberapa orang buat denger lagu ini :D

Senin, 31 Oktober 2016

Tentang Belajar di Kantor

Jadi, postingan kali ini sebenernya buat nerusin tentang postingan di instagram gue yang ini.
Beberapa orang penasaran sama apa yang bakal gue sharing kayak yang udah gue janjiin sebelumnya di postingan itu. Nah, sebenernya, gue agak takut kalo postingan ini bakal diluar ekspektasi orang-orang yang nanya tentang hal itu. But I write it anyway.

Di ulang lagi ceritanya ketika di sore itu ada seorang temen yang randomly nanya, "Lo kenapa sih mau/milih kerja di kantor ini?" Di jawaban kedua, gue jawab, "mau belajar". Buat yang nanya, 'terus jawaban pertamanya apa?', gue jawab 'kalo gue jawab iseng itu salah, nggak?' Dan ini pure emang jawaban iseng gue. *antiklimaks*

Nah, habis gue ga ketemu sama temen gue itu, tiba-tiba pertanyaan dia muncul lagi di kepala gue, gue kenapa ya mau kerja di situ?
FYI, gue saat ini bekerja di salah satu well known startup di Indonesia. Should I proud about it? Yes (perhaps).
Sebenernya, kalau boleh jujur, saat ini gue bekerja untuk pekerjaan yang menurut beberapa orang tingkat responsibility-nya nggak tinggi-tinggi amat, dan sering dianggap 'hanya' sebagai supporting departement (aish aiesecer abis) dari core kantor itu sendiri. Gue sangat mengerti kalo ada temen-temen atau orang lain yang tau, dan menyindir gue dengan kalimat apapun yang seakan-akan merendahkan pekerjaan gue. Tapi, pernah gue pengen nullis di social medias status gue, "You may mock my job, but I get paid anyway!" gara-gara gue bete ada seseorang yang merendahkan dan kayak yang, 'ih kok lo mau sih?'
to be honest, jujur gue pernah ngerasa down dengan omongan orang yang kayak gitu, apalagi ketika gue tau hal-hal itu justru dateng dari orang-orang terdekat gue. Gue sempet mikir, 'salah nggak sih gue di sini?' atau 'apa gue harus cabut aja ya?' Dan, pada akhirnya pikiran tentang cabut justru jadi kayak fokus utama gue.

I don't know if I should thank si temen gue itu ketika dia nanya sama gue alasan kenapa gue kerja di kantor itu.
Tapiiii..well, gara-gara dia, gue jadi berpikir banyak hari itu, bukan tentang kenapa gue kerja di situ. Tapi karena jawaban gue yang 'mau belajar' dan kenapa gue 'masih' stay di situ. Hari itu, gue jadi berpikir, ketika gue ngasih jawaban mau belajar, sebenernya apa sih yang mau gue pelajarin? Dan setelah dua bulan kerja di situ, apa sih yang udah gue pelajarin?

 Kantor gue yang sekarang, which is a startup business, sebenernya sangat memberi kesempatan buat para karyawannya untuk belajar. Sayangnya, pelajaran itu bukannya berbentuk materi kayak waktu kuliah dan dikasih secara cuma-cuma nih sama kantor. Justru gimana si karyawan ini bisa menyerap hal apapun yang bisa dia pelajari dari dinamika kehidupan kantor, supaya value si karyawan ini nambah dan nggak cuma 'kerja sekedar kerja'. Ini poin penting yang saat ini lagi gue jalanin nih. Karena ini pengalaman pertama gue bekerja secara profesional, gue nggak mau kerja hanya sekedar kerja. Balik lagi, gue harus bisa belajar dan menyerap sebanyak-banyaknya hal apapun yang bisa gue serap selama gue join di kantor ini, entah dalam jangka waktu yang lama atau sebentar.

Waktu di bulan pertama, gue masih bingung nih tentang apa yang sebenernya gue lakuin. Tapi begitu masuk akhir bulan kedua, gue mulai tau beberapa hal yang harus gue tau. Gue awalnya nggak ngerti sama sekali tentang dunia startup dan e-commerce. Tapi, masa gue kerja di dunia itu, gue gatau apa-apa sih? So, gue mulai nyari tahu tentang beberapa hal, mulai dari apa itu startup, sejarah startup tempat kerja gue, dari mana dana di dapat dan gimana dana itu dikelola, dari mana keuntungan, dll gue pelajarin tuh sendiri. Lama-lama gue makin tertarik dengan dunia-dunia ini. Gue mulai belajar untuk menempatkan diri gue di posisi sebagai konsumen dari 'produk' yang dikasih sama perusahaan gue. Gue belajar apa sih yang sebenernya mereka mau dan mereka nggak mau. Gue juga belajar alur proses transaksi yang terjadi di perusahaan ini (karena ini e-commerce), gue mulai analisa problem yang sering terjadi and how to deal with 'em, dll.
Tapi sebenernya hal-hal itu masih terlalu absurd dan tinggi sih buat seorang ayunnisa yang apalah baru juga lulus kemarin. Gue kemudian belajar, bahwa yang sebenernya harus gue pelajari sekarang bukan soal sistem perusahaan tempat gue bekerja sekarang, tapi yang sebenernya harus gue pelajari adalah tentang bagaimana membentuk etos kerja di diri gue. Gue harus belajar gimana cara orang lain kerja, mulai dari temen-temen sesama freshgrad, temen-temen lain yang sudah punya pengalaman kerja sebelumnya, sampai ke orang-orang dengan level di atas gue. Untuk yang terakhir, gue mulai menganalisa cara mereka bekerja belakangan ini, karena gue punya kesempatan untuk kerja/duduk di deket mereka. Dan ketika gue ngeliat gimana cara mereka kerja, gue langsung ngerasa mereka daebak banget, karena mereka kerja dengan tempo dan pace kerja yang cepat. You really have to be quick in almost everything, mulai dari learning, action, thinking, deciding dan respon lo tuh harus cepet ga boleh lemot, Ayunnisa :)
Balik lagi ke gue sebagai karyawan, gue pada akhirnya belajar bahwa gue udah ga boleh lagi ngerasa down ketika orang-orang mocking kerjaan gue sekarang, entah apapun yang gue lakukan atau gue dapatkan. Di dunia ini, akan selalu ada orang-orang yang kayak gitu, tukang nyinyir. Dan kalo gue sampe down karena mereka, that's my problem. That's why you really have to surround yourself with good fellas, karena kalo kita berteman sama penjual minyak wangi kita bakal kebagian wanginya. Untungnya ada temen-temen lain yang mendukung path gue sekarang, dan bikin gue bersyukur dengan apa yang gue lakuin sekarang.

Well, itu sebenernya cuma sebagian kecil dari banyak hal yang gue pelajari dan masih bisa untuk gue pelajari lagi ke depannya. Entah kenapa, working feels so exciting nowadays, walau gue juga gatau sih bakal berapa lama si fase excitement ini :p Tapi apapun itu, gue sebenernya pengen ngeshare excitement yang sama ke temen-temen gue. Gue punya banyak temen yang 'berkualitas' di kantor dan tentunya dengan excitement yang sama, working environment di kantor jadi lebih menarik. Gue yakin akan ada banyak ideas yang muncul yang bisa jadi menguntungkan dua belah pihak baik kantor ataupun karyawannya. Karena yang terpenting adalah how to balance the happiness between both party.
Gue sih berharap, pada akhirnya gue dan temen-temen di kantor bisa memberikan dan juga mendapatkan all the possitive things dari kantor dan untuk kantor. Gue berharap dari gue dan juga temen-temen termasuk dari orang-orang di level atas gue bisa saling appreciate dengan semua hal yang baik-baik yang terjadi bekerja di kantor itu.
Gue sendiri sadar, bahwa nggak ada yang tahu either lama atau sebentarnya gue dan temen-temen join di kantor itu. Akan selalu ada kesempatan yang lebih baik lagi di luar sana. Tapi yaaaaaaaaaa, selama masih di sini-sini aja mah coba ambil yang terbaik dan lakuin yang terbaik. Semoga memang apa yang ditapaki sekarang, bener-bener jadi a great stepping stone buat gue dan buat temen-temen yang lain.

xoxo