Tampilkan postingan dengan label damn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label damn. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Agustus 2016

Kepedulian Yang (Kayaknya sih) Salah Tempat

Gue punya temen, cowok, sebut aja namanya Bayu (iya, gue random banget tiba-tiba inget mantannya Chika). Hubungan Bayu sama gue sebenernya biasa aja, dibilang deket engga, dibilang nggak deket juga rasanya udah terlalu banyak hal yang kita sharing bareng. Well yeah, gitu deh hubungannya.

Baru-baru ini, gue ketemuan dan jalan sama Bayu. It is only me and him, nggak ada temen lain. Lo tau lah ketika dua orang melakukan quality time yang bener-bener berkualitas, akan ada banyak hal yang bisa diomongin, ada banyak rahasia yang diceritain, ada banyak perasaan yang dilibatin. Termasuuk ketika gue jalan sama Bayu ini.

Bayu cerita sama gue tentang dia yang udah tidur sama beberapa cewek. Ummm..mungkin di usia gue, dan di lingkungan pergaulan gue hal kayak gini sebenernya udah ga asing banget (well, go check awkarin). Dia bukan orang pertama yang cerita hal ini ke gue, dia adalah orang ke sekian puluh. Gue inget banget orang pertama yang cerita hal itu ke gue itu temen kecil gue, dan dia cerita itu ke gue waktu kita masih kelas 7 alias 1 SMP. :))
Yah, wateva. Balik lagi ke Bayu. Bayu cerita ke gue dengan cara yang biasa aja, gue ga menemukan excitement atau penyesalan dari gesture, air muka, atau pun tone suaranya dia. Dia cerita gitu aja. Dia bercerita kapan dia pertama kali ngelakuin, dan kapan terakhir dia ngelakuin, sama siapa, dan di mana aja. Asli ini mah sebiasa-biasanya cerita, there's no wow on it, ada banyak cerita wow yang pernah gue denger langsung dari mulut pelaku yang lebih dari ini. Cerita Bayu ini termasuk standard buat gue.

Tapiii...
Entah kenapa, ketika Bayu cerita itu ke gue, gue jadi sedih dengernya. Lebay? Iya sih, gue juga sadar kok itu lebay banget. Apalagi karena si Bayu ini bukan termasuk dari orang-orang lingkaran satu gue, dia bukan bagian dari peer group gue, dia cuma temen biasa. Tapi gue sedih ketika denger Bayu begitu. Ada sesuatu di diri gue yang nggak mau dia kayak gitu lagi. Gue pengen banget dia stop doing those things, entah sama pacarnya, temennya, atau siapapun itu.
Jealous? Enggak. Gue tau kok kapan dan bagaimana gue kalo lagi baper sama seseorang, dan gue bisa state kalo gue ga baper sama Bayu. Mungkin sebatas care. But I really want him to stop like directly from right now setelah gue minta sama dia buat stop.

Di judul postingan ini gue tulis, kepedulian yang (kayaknya sih) salah tempat. Kenapa gue tulis gitu, karena gue tau nggak seharusnya gue se-peduli itu sama Bayu. Karena si Bayu ini ga sepeduli itu juga sama gue. Hahahaha, dan itu sih yang bikin sedih, like why should I care about him. Tapi ya namanya namanya yaaaa...gabisa milih juga kan. Ini feeling yang sama kayak feeling yang gue rasain ketika gue ngeliat mas-mas pulang kantor naik motor dan kecapekan, rasanya pengen gue bikinin teh anget. Gue ga peduli mas-mas itu siapa, tapi gue suka kasian aja. Eh tapi engga ding, Bayu lebih dari itu, gue sayang sama Bayu lebih daripada sama mas-mas itu.
Nah tapi, kan every action has a reaction yah, nah karena gue ngerasa si Bayu ini suka ga nganggap gue dan flat-flat aja sama gue, gue jadi kesel dan bete sendiri kalo gue lagi care banget sama dia. Males aja cuy bertepuk sebelah tangan. Itu dia masalahnya, gue ngerasa si Bayu ini has no/lost interest sebenernya sama gue. Gue kan udah sering cerita ya, gimana teman-teman cowok gue ngetreat gue, atau pacar gue dulu, gue terbiasa dibaikin dan dilayani dengan baik, biasa jadi princess. Nah si Bayu ini flat abis. Baik sih tapi sekedar baik, jadi ketika gue sering tanpa sadar lebih dari baik ke dia, gue suka takut, takut salah action. Oh ya, Bayu ini termasuk orang baru dalam hidup gue, dia bukan bagian dari anak-anak Cha One ataupun Switching ataupun Telkom yang pernah dan masih gue temuin rutin dan udah gue hapal tingkah lakunya, jadi gue masih suka nebak-nebak kira-kira apa yang bisa/boleh gue lakuin ke dia dan mana yang engga.

Balik lagi ke masalah Bayu yang suka bobo manja sama cewek, dan gue yang nggak suka itu. Well, bukan nggak suka. Tapi gue maunya sih dia ga kayak gitu lagi. Menurut gue, nge-sex itu analoginya sama kayak orang ngerokok dan ngobat. Awalnya mungkin cuma penasaran, dan ketika udah ngelakuin itu dan dirasa enak, lo akan mulai ketagihan dan pengen lagi dan pengen lagi. Berdasarkan pengalaman gue melarang beberapa orang buat ga ngerokok dan ga ngobat lagi, hal ini susah buat dilakuin. Kalopun mereka nurut, itu cuma mereka lakuin di depan gue doang, di belakang mereka bakal kayak gitu lagi.
Gue sebenernya pengen banget bilang ke Bayu buat stop tidur sama cewek, siapa pun cewek itu. Bukan karena gue jealous dan pengen jadi bagian dari cewek-cewek itu (lho!), tapi karena gue pengen dia bisa jadi lebih baik. Gue ga mau apa pun yang dia lakuin sekarang nantinya bakal ngerugiin dia dari segi apapun. Sayangnya, gue ga pernah berani buat ngelakuin itu. Gue bukan siapa-siapa buat Bayu, jadi gue ga berhak buat ngelarang ataupun meminta Bayu buat stop doing something gituuu.
Gue pengen banget bisa ngeliat Bayu berubah jadi orang yang lebih baik. Bisa ngeraih apa yang dia mau. Bisa menuhin target-target yang udah dia set. Bisa jadi lebih baik deh intinya dari Bayu yang sekarang. Entah kenapa, gue ngeliat Bayu ini belum settle down sama dirinya sendiri. Dia masih butuh perhatian, yang kayaknya sih dia ngerasa nggak perlu deh. Padahal menurut gue Bayu masih perlu banget buat diingetin akan banyak hal, disupport, dan dikasih perhatian lebih.
Tapi sayangnya, even if I really really want to do that or I want to be that person, I just couldn't be. Makanya itu tadi gue bilang, ini tuh peduli yang salah tempat, and I quite upset sama diri gue sendiri, because I care too much about wrong person.

Rabu, 24 Agustus 2016

Renungan Setelah Lulus.

Aku cuma ngeshare dari akun path seorang temen. Entah siapa yang nulis, tapi ini jadi bahan renungan banget emang, terutama buat aku yang baru aja masuk ke fase lulus kuliah.
---

Pagi ini dapet renungan sedikit dari kawan kuliah,

7 REALITA YANG AKHIRNYA KITA TERIMA — SELEPAS LULUS KULIAH DAN MULAI BEKERJA

Hiruk pikuk sebagai mahasiswa dan perjuangan skripsi akhirnya berakhir juga. Bangga rasanya sudah bisa menuntaskan kewajiban sebagai orang dewasa. Memasuki fase hidup baru dengan tanggung jawab lebih besar di bahu dan dada.

Kehidupan awal sebagai pekerja muda memberimu rasa berdaya dan perasaan mandiri yang tak ada dua. Mulai bisa membantu orangtua, membelanjakan uang untuk sesuatu yang disuka, sampai merencanakan hidup ke depan sesuai impian di kepala.

Setahun setelah resmi Sarjana, ternyata hidupmu berubah dengan begitu cepatnya. Tujuh realita inilah yang membuatnya tak lagi sama…

1. Alih-alih bangga, ijazah di tangan justru membuatmu merasa kerdil dan tak bisa apa-apa. Hidupmu seakan di-restart ulang sebagai manusia

Saat masih berkutat dengan kesibukan praktikum dan membuat paper sebagai mahasiswa tak cuma sekali kamu membayangkan apa rasanya saat kelak gelar sudah terselip di belakang nama. Nampaknya hidup akan lebih ringan. Selembar kertas itu jadi jaminan cerahnya masa depan.

Namun ternyata hidup tak berubah begitu saja selepas Dekan menggeser tali di atas toga. Ijazah dan gelar di belakang nama justru membuatmu banyak bertanya,

“Kemampuan apa yang membuatku berbeda? Apa yang bisa kujual dan diterima oleh calon perusahaan tempat bekerja?”
Momen setelah wisuda justru jadi masa me-reset ulang ekspektasi. Di sinilah kamu kembali menggali apa yang sesungguhnya dirimu mampu lakoni.

2. Seberapapun menterengnya, pekerjaan tetap akan berjenjang seperti tangga. Kamu harus mulai dari undakan terbawahnya

Status sebagai MT (management trainee), Graduate Development Program, hingga keberhasilan masuk dalam pendidikan pegawai muda Bank Sentral memang terlihat mentereng di mata keluarga dan orang luar. Kamu pun merasa senang bisa memberi mereka kebanggaan ; melihat senyum mereka menyunggingkan kepuasan.

Satu yang belum kamu tahu sebelumnya. Ini hanya awal dari perjuangan panjang setelahnya. Masih banyak malam-malam panjang yang membuatmu harus berjaga demi menghapal rumus akuntansi, mempersiapkan presentasi, sampai berpikir apa yang salah dari caramu menyesuaikan diri.

Meski masuk program yang kata orang bergengsi — kerasnya tenaga justru baru akan diuji di titik ini. Alih-alih merasa berhasil, kamu justru akan lebih tahu diri. Tidak mudah meniti karir hingga ke level tertinggi. Mereka yang sudah berhasil memang layak membuatmu mengangkat topi.

3. Kebutuhan tak akan ada ujungnya. Gaji toh tetap terasa kurang jika tak pandai mengaturnya. Kamu pun belajar merasa cukup sebagai manusia

Di masa kuliahmu dulu mendapat transfer 5 juta per bulan ke rekening seakan jadi kemewahan yang membuatmu bebas berfoya-foya, tapi ternyata sekarang tidak lagi bisa seperti itu

Gaji yang didapat dari hasil keringat sendiri itu entah bagaimana bisa menguap begitu saja. Kamu harus memutar otak agar tidak berakhir kekurangan ketika akhir bulan

Perlahan, kamu pun mulai menyesuaikan pola hidup sesuai pendapatanmu. Selepas euforia girang mendapat gaji sendiri berlalu, gaya hidup (anehnya) berubah tak lagi seloyal dulu. Meski kini kebebasan membelanjakan uang ada di tanganmu — mewah dan mentereng bukan lagi jadi prioritasmu. Cukup. Sudah. Hidup kini sesederhana itu.

4. Ada rasa ringan di dada saat sedikit bisa turun tangan membantu orangtua. Meski kamu sadar apapun yang diberi tak bisa membalas kebaikan mereka

Tanpa diminta kamu mulai pasang badan untuk membayar tagihan-tagihan rumah. Membawa roti tawar sepulang kerja, mentransfer tagihan listrik saat awal bulan tiba, menawarkan diri jadi penyokong adik yang masih kuliah dan butuh dana.

Entah kenapa setelah mulai bekerja ada rasa yang mendesak di dada untuk mengembalikan sesuatu pada orangtua. Beratnya kewajiban profesional sebagai orang dewasa membuka matamu bahwa tak mudah jadi mereka dulu. Mengejar karir sembari membesarkanmu. Kamu ingin meringankan beban mereka semampu kekuatan bahumu. Meski toh sampai kapanpun hutang itu tak akan impas menurut perhitunganmu….

5. Melihat perjalananmu dan kawan seperjuangan, kamu pun mengamini satu hal. Ternyata rejeki sungguh datang dari banyak jalan

Selepas mulai bekerja, tak lagi jadi mahasiswa — kamu tak lagi skeptis soal pendapat bahwa rejeki bukan selalu berbentuk uang saja. Kawanmu yang memutuskan menikah lebih dulu dan kini hidup tenang sebagai wanita rumah tangga mendapatkan rejekinya dari kehadiran pria yang sedalam itu mengasihinya.

Kawan lain yang terpaksa harus jauh dari pacar dan keluarga sebab mendapat rejeki di perusahaan tambang di Borneo sana mendapat porsi rejeki dari cukup besarnya uang yang masuk ke rekening tiap bulannya. Meski harus dibayar dengan kekosongan hatinya.

Mengamati perjalanan mereka dan perjalananmu sendiri. akhirnya kamu mengerti. Uang hanya sekian bagian kecil dari rejeki. Masih ada rejeki non materi lain yang juga berarti.

6. Kesibukan kerja membuatmu ogah menanggapi drama tak penting soal hati.

Jika memang tak bisa diajak membangun mimpi, di titik ini lebih baik kamu berhenti. Atau pergi

Saat masih kuliah dulu protes-protes kecil pacar atas kesibukanmu bisa terlihat cute dan lucu. Itu artinya dia benar-benar membutuhkan, pikirmu. Namun hidup kini tidak sesederhana dulu.

Kamu lebih butuh dia yang bisa mengerti bahwa ada kesibukan yang harus didahulukan. Ada kewajiban yang perlu dituntaskan. Dan karenanya pertemuan dan kemanjaan perlu ditangguhkan — tanpa berarti mengurangi perasaan.

Otakmu dan tenagamu sudah terlalu penuh untuk menanggapi hubungan yang konfliknya seperti angin puyuh. Jika memang tak sejalan, lebih baik kalian saling melepas saja agar tak berlama-lama dalam ikatan yang rapuh.

Pergi dari ikatan hati terasa lebih rasional saat ini. Toh tak ada gunanya bertahan di ikatan yang membebat langkah kaki.

7. Pertanyaan “Akan jadi apa?”; “Nanti berakhir di mana?” tak lagi membuatmu cemas lama-lama.

Jalani saja. Pintu kesempatan terbaik nanti akan terbuka
It is okay to be clueless for now. You will get there

Hanya karena sudah diterima bekerja, sudah bukan lagi jadi mahasiswa — ternyata tidak lantas mengakhiri pencarianmu sebagai manusia. Setiap pagi kamu akan terbangun dengan mengulang pertanyaan yang sama:

“Sebenarnya aku sedang dibawa ke mana? Tuhan punya rencana apa?”
Tapi kini berbeda. Pertanyaan tak harus membuatmu berkontemplasi lama demi mencari jawabannya. Satu-satunya pilihan termanjur adalah mendepak selimut untuk segera bangun dan menjalani kewajiban sebagai orang dewasa. Sebab toh di akhir hari Tuhan akan berbaik hati pada mereka yang berusaha. Pintu kesempatan untuk pejuang macam ini akan terbuka dengan sendirinya.

Kamu mau jadi salah satunya.

Apakah 7 realita ini juga yang kamu rasa? Resonansi realita ini pulakah yang membuatmu dewasa? Jika iya, ternyata kamu tak sendirian saja.

Selasa, 22 April 2014

Orang Ketiga

*maaf ya, kalo lagi sering ngepost soal beginian. lagi ngetren soalnya. :p

Aku cinta kepadamu.. Aku rindu di pelukmu..
Namun ku keliru telah membunuh.. cinta dia dan dirimu..


Itu sepenggal lagu yang dinyanyiin (kalo ngga salah sih) sama Ruth Sahanaya, yang di cover Monita deh pokoknya. Intinya sih ini lagu soal orang ketiga yang tau kalo dia salah terus mau udahan gitu.

Well, orang ketiga ini jadi pembahasan menarik belakangan ini buat gue pribadi. Jadi gini, ada satu kasus dimana gue punya temen, cewek, sebut aja namanya Mawar (ah basi!). Btw si Mawar ini kebetulan baru aja putus dari pacarnya, which is betrayed. Nah, si Mawar galau abis dong. Galaunya Mawar lumayan parah deh kalo ukuran cewek mah, secara si Mawar lumayan lama juga pacaran sama cowoknya. Lagian juga wajar lah, karena menurut gue, tiga bulan pertama setelah lo putus sama pacar lo adalah masa-masa tergalau lo (dengan catatan lo bukan tipe-tipe gugur satu tumbuh seribu yaa.. alias cepet nempel).

Dalam masa tergalaunya, sebagai seorang cewek, wajar kalo si Mawar lagi butuh perhatian banget. Inilah yang menurut gue menyebabkan seringnya muncul korban-korban pelarian di tiga bulan awal pasca putus, karena emang itu masa tergalau dan masa dimana butuh perhatian banget. Menurut gue lepas dari tiga bulan ini baru deh lo mulai bisa berpikir jernih dan belajar dari kegagalan sebelumnya.

Btw balik lagi ke si Mawar yang lagi butuh perhatian, dia sekarang lagi nebar jala nih, kebetulan juga dia sekarang, kalo istilah temen-temen gue tuh lagi PLN, alias Pasaran Lagi Naik, jadi banyak yang suka sama dia. Jadi agak gampang lah buat si Mawar nyari ‘pelarian’. Kenapa gue bilang ‘pelarian’, itu karena pada dasarnya si Mawar emang masih cinta mati sama mantannya. Pelarian ini berguna buat memenuhi kebutuhan dia yang emang lagi cari perhatian aja.

Kebetulan, sebelum si Mawar putus sama pacarnya, ada salah satu temen gue yang naksir sama dia, sebut aja namanya Roby. Si Roby ini emang dari awal masuk kelas udah naksir sama Mawar, walaupun dia main belakang, alias ga cerita-cerita sama temen-temen. Hal ini dia lakuin karena kebetulan juga dia udah punya pacar, dan udah pacaran sekitar tiga tahun-an. Btw, Roby pernah cerita sama gue kalo dia tuh lagi jenuh-jenuhnya sama pacarnya, dan udah mulai terkikis rasa sayangnya. Nah, disini gue bilang sama Roby, “By, lo boleh jenuh. Itu wajar. Dan gue ngerasa boleh-boleh aja kok kalo lo nengok kanan-kiri. Tapi satu yang pasti, By. Yang namanya hati itu harus selalu tau jalan pulang!” Sengaja gue ngode-ngode ke dia, dan dia Cuma diem aja.

Nah, masalah mulai muncul ketika si Roby mulai tau kalo si Mawar udah jomblo lagi. Roby pun mulai ngedeketin si Mawar, walaupun masih main halus. Tapi, lama-lama gue dan temen-temen yang lain mulai agak curiga karena si Roby dan si Mawar kok udah mulai show off. Cewek kan lumayan gampang buat dideketin, dikasih perhatian dikit juga kena. Sebagai temen, kita khawatir sama Mawar yang kok mau aja di deketin ama si Roby yang as well known udah punya cewe dan pacaran udah lama, daaaan ceweknya tuh galaknya minta ampun. Si Mawar tiap ditanyain sih masih ngeles-ngeles aja, begitu juga Roby. Tapi yaaa gue ama temen-temen gue nggak bego-bego amat lah buat sadar kalo mereka udah mulai ‘aneh’. Mulai dari mereka yang sering pulang bareng, terus mulai sering nongkrong bareng (walaupun ngga berdua juga), dan yang paling aneh adalah kita udah jarang, bahkan ngga pernah ngeliat si Roby ngebahas ataupun jalan bareng cewenya, which is itu adalah hal yang aneh banget buat mereka berdua.

Di point ini lah gue sama temen-temen gue akhirnya memutuskan untuk bertindak. Kita nggak mau temen kita jadi orang jahat dengan cara nyakitin orang lain, yang kalo di kasus ini ceweknya si Roby. Waktu itu kita nggak tau sih si Roby udah putus atau belum sama ceweknya, soalnya Roby ngga cerita-cerita sama kita. Tapiii, kita nggak mau aja tiba-tiba ada orang yang disakitin, dan itu disakitinnya sama temen kita. Kita sangat berharap dua orang temen kita, Roby dan Mawar, nggak bego dengan jadi egois mikirin perasaan mereka berdua doang dan tega ngorbanin ceweknya si Roby.

Terus akhirnya kita bilang deh sama si Mawar, kalo sebaiknya dia ngejauhin Roby. Karena menurut kita kadang kita emang harus ngalah dan rela korban perasaan sih kalo emang kita tau kita salah. Dan disini kan emang Mawar salah. Walaupun Mawar belum ngerebut, tapi dia udah ngeganggu hubungan Roby sama ceweknya. Si Roby juga salah, karena dia nggak bisa megang yang namanya komitmen, dan ga bisa setia sama ceweknya.

Kita bilang sama Mawar, “War, kita tau kalo lo suka dan mungkin udah sayang sama Roby. Tapi kan lo tau gimana rasanya di duain. Lo seharusnya bisa dong mosisiin diri lo di posisi ceweknya Roby. Apalagi mereka udah lama juga pacarannya. Jangan sampe lo nyakitin orang lain, War. Percuma aja lo bahagia sementara ada orang yang sakit gara-gara lo berdua. Nggak akan berkah deh.” Gitu lah intinya.

Sementara ke si Roby kita ngomong, “By, kita tau lo mungkin udah ada di titik terjenuh lo sama cewek lo. Tapi coba By, coba lo bayangin kalo lo yang dikhianatin sama cewek lo, lo bakalan sakit hati nggak. Inget lagi By, yang berjuang selama ini sama lo siapa. Yang selama ini ada buat lo siapa. Mungkin Mawar emang ada buat lo dan bisa nyenengin lo sekarang, tapi lo harus tau By, yang ada buat lo dari dulu sampe sekarang, bahkan ketika lo nyakitin dia tuh siapa. Jangan pikir cewek lo nggak sadar lo lagi ngeduain dia sekarang. Cewek tuh feelingnya kuat. Jangan bego ninggalin orang yang baik demi orang yang lebih buruk. Percaya lah By, lo nggak akan bahagia selamanya, nanti lo akan terus dihantui sama rasa bersalah. Dan suatu saat lo pasti akan nyesel udah ninggalin orang yang sayang sama lo. Jangan egois By, jangan lo pikir yang mau bahagia Cuma lo doang. Emang lo pikir, cewek lo nggak mau bahagia juga?! Lo udah milih sama dia, By. Coba deh lo setia. Pasti nantinya lo bakalan bahagia deh.”

Yaa gitu lah kira-kira. Sebenernya kita seneng sih kalo ngeliat Roby sama Mawar barengan. Siapa sih yang nggak seneng ngeliat temennya bahagia? Tapi kita nggak mau bahagia itu didapet dengan cara yang harus nyakitin dan ngorbanin orang lain. Kita nggak mau temen kita jadi jahat. Jadi orang ketiga.

Jadi orang ketiga itu kayaknya secara ga sadar bisa jadi tantangan deh buat seseorang. Dan pada dasarnya, kan orang suka ditantang. Jadi, berusaha buat ngerebut pacar orang itu bisa jadi hal yang menantang. Mungkin sebenernya kita sadar sih kita salah, dan kita mau udahan buat ngerebut dia secara ngga langsung, tapi kadang keluar alasan, ‘tapi gue nggak bisa bohong, gue sayang sama dia’. Atau emang pas aja momennya karena ada kesempatan, karena kebetulan orang yang mau lo rebut juga suka sama lo. Jadi keterusan deh. Tapi itu salaaaah. Udah sih, tungguin aja kalo emang lo mau sayang sama dia. Tapi tungguinnya juga diem-diem lah, ga usah heri alias heboh sendiri. Inget aja, kalo jodoh ga kemana. Tungguin aja. Nah, sambil nunggu, mungkin lo bisa sambil liat sana-sini lah, siapa tau ada yang nyantol. Semua orang udah ada pasangannya masing-masing kok, jadi jangan ambil yang udah jadi hak milik orang lain lah. Jadi, selamat berjuang ya! Don’t hurt anyone kalo bisa, dan harus bisa sebisa mungkin!

Jumat, 18 April 2014

Selingkuh (?)

Di path gue, seorang temen baru aja nge-share suatu postingan yang dia dapet dari grup sebelah, katanya. Sebelah mana juga gue nggak paham, yang pasti begini isi postingannya:

Pacaran atau menikah itu bukan sekedar saling mencintai dan mengerti satu sama lain. Hal yang paling terpenting dari menjalin sebuah hubungan adalah komitmen untuk setia. Buat apa pacaran, kalo pada akhirnya selingkuh? Buat apa menikah, bersumpah sehidup semati kalau pada akhirnya mengkhianati.
Buat yang sekarang menjalin hubungan di belakang pasangan kalian, pernah kah kalian membayangkan jika kalian berada di posisi mereka?
Ketika mereka mencintai Anda sepenuh hati mereka, tapi ternyata Anda mengkhianati cintanya. Ingatlah bukan hanya kalian yang punya pilihan untuk selingkuh. Pasangan Anda pun punya pilihan untuk selingkuh. Tapi apakah mereka melakukannya? Tidak. Mereka memilih untuk terus setia. Alasan Anda selingkuh karena ada yang lebih baik dari pada pasangan Anda? Ingat lah bahwa di luar sana juga banyak yang LEBIH BAIK dari Anda. Tapi apakah pasangan Anda memutuskan untuk mencari yang lebih baik dari Anda? TIDAK. Mereka tetap setia mencintai Anda dan menerima semua kekurangan Anda.
Jangan rusak cinta yang sudah kalian bangun hanya karena godaan nafsu belaka. Sadarkah kalian ketika kalian selingkuh, kalian bukan hanya menghancurkan hati pasangan Anda, tapi juga menghancurkan keluarga kalian. Untuk yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak, pernahkah kalian bayangkan bagaimana perasaan anak-anak kalian ketika mengetahui orangtua mereka selingkuh?.
Ingatlah siapa yang selama ini mencintai Anda sepenuh hati. Ingatlah siapa yang sabar menghadapi Anda, siapa yang setia menemani Anda di segala waktu, siapa yang menerima Anda apa adanya, siapa yang akan tetap berada di samping Anda meskipun Anda sedang terpuruk. Bukan si orang ketiga, tetapi pasangan Anda.
Untuk pasangan yang masih setia, teruslah setia. Untuk yang sedang selingkuh, kembalilah ke jalan yang benar. Bahkan dalam agama selingkuh adalah hal yang dilarang. Percuma Anda beribadah dengan rajin, kalau Anda selingkuh. Ingat perasaan pasangan, ingat perasaan keluarga.
SAY NO TO SELINGKUH. SELINGKUH ITU MUDAH, KENAPA TIDAK MENCOBA HAL YANG LEBIH SULIT, SEPERTI SETIA.



Begitulah kira-kira isi postingan temen gue. Well, gue agak sedikit setuju sih sama postingan itu. Tapi agak susah ngomonginnya kalau lo sendiri belum pernah ngalamin hal ini. Susah kalau cuma mengandai-andai soal kasus ini. Tapi bersyukurlah kalau lo nggak pernah ngalamin hal ini. Hhehe.

Begini, buat gue pribadi, selingkuh itu mudah untuk dilakukan. Sangat mudah. Apalagi buat cewek yaaa. Well, no offense sih. Tapi yaaa, gue rasa begitu. Ya mungkin ini cuma pendapat gue pribadi sih, tapi gue sebagai cewek ngerasa lebih mudah aja buat naro hati, even ketika lo punya pasangan. Cewek mana sih yang nggak suka diperhatiin? Apalagi kalo emang lagi stress sama pasangannya yaa.

Tapi buat gue, selingkuh itu jadi masalah kepribadian lo. Sejauh apa lo bisa manage diri lo dan pilihan-pilihan lo sendiri. Keinginan untuk ‘nengok’ orang lain ketika lo punya pasangan pasti pernah ada dalam pikiran kita masing-masing. Minimal menilai bahwa fisik orang lain lebih baik dari pasangan kita lah. Atau bahwa orang lain bisa membahagiakan kita lebih dari pasangan kita. Dan studi formal bahkan mengiyakan hal itu. Malah, pernah, di satu portal online gue baca kalo seorang cowok bisa suka sama tiga orang sekaligus walaupun dia udah punya pasangan.

Berhubungan dengan kuliah gue, gue belajar yang namanya mata kuliah Komunikasi Antar Pribadi, which is my all time favorite, dosennya namanya Mbak Oci. Jadi di matkul itu, gue pernah belajar soal yang namanya Tahapan Perkembangan Hubungan, yaitu yang pertama fase dimana lo saling kenal dan mulai deket. Terus kedua, yaitu fase dimana lo mulai mempertanyakan kelanjutan hubungan lo alias mulai nembak. Terus ketiga, disinilah fase ‘jadian’ lo. Di fase tadi ada kekhawatiran-kekhawatiran dimana lo bakal kehilangan pacar lo, khawatir lo ga punya hubungan yang asyik & mesra, plus khawatir kalo lo bisa kehilangan kebebasan. Terus keempat, lanjut ke fase dimana hubungan lo melemah tapi belum putus. Terus kelima ada Repair stage, usaha buat benerin hubungan lah, tapi ini optional aja sih kalo diperluin. Nah yang terakhir itu ada Dissolution stage {interpersonal separation (berpisah) & social/public separation (berpisah secara resmi)}, alias putus.

Well, setiap hubungan itu ada fase deteriorasi & disolusi, melemah atau putus. Buat gue pribadi, selingkuh itu bisa masuk ke deteriorasi atau malah disolusi. Disini ada tahapnya lagi, pertama lo mulai nggak puas sama hubungan lo, atau bahasa gampangnya jenuh. Kedua, lo mulai nyari pelampiasan nih, minimal curhat lah ke temen deket. Ketiga, lo masih mau ngebahas ini sama pacar lo, biar hubungan ini jadi lebih baik. Keempat, lo udah jenuh banget karena ngerasa hubungan lo ga bisa dibenerin terus minta putus. Kelima, lo nganggep hubungan itu Cuma masa lalu, dan di tahap ini efeknya bisa negatif, dimana lo bisa jadi musuhan, atau jadi positif, ya temenan lagi.

Menurut gue, selingkuh itu sendiri ada di tahap kedua di fase deteriorasi, dimana lo nyari pelampiasan atas ketidakpuasan lo sama pasangan lo. Modelnya bisa macem-macem. Bisa Cuma sekedar curhat sama temen lo, atau nyari orang lain yang bisa cover kekurangan pasangan lo. Di tahap inilah lo mesti hati-hati, lo harus pinter manage diri lo bahwa untuk menyelesaikan masalah lebih baik tidak dengan cara kabur ke orang lain, tapi hadapi! Jangan jadi pengecut. Gue rasa, lo putus karena emang ada masalah di antara lo berdua jauh lebih baik daripada lo harus putus dengan ngajak orang lain buat jadi kambing hitam di hubungan lo. Kan awalnya juga lo jadian berdua, nggak ngajak-ngajak doi kan? Terus pas putus, lo ngajak dia gitu? Nyari temen buat disumpahin bareng? Percayalah sama gue, ketika lo selingkuh, lo pasti bakal disumpahin sama orang yang lo selingkuhin, temen-temennya dan bahkan mungkin keluarganya. Minimal di doain gini, “yaudahlah, entar juga tau sendir, ntar juga dia nyesel sendiri”.

Balik lagi ke postingan di atas. Gue ngerasa kalo dalam suatu hubungan itu wajar jika ada yang namanya jenuh. Capek aja lah gitu. Percaya sama gue, itu bukan karena lo nggak sayang sama pacar lo, tapi itu emang karena lo capek aja sama dia. Itu yang ada di otak lo, sadar nggak sadar. Kecenderungan buat nyari tempat yang lebih nyaman itu juga sayangnya emang harus dianggap wajar sih dalam satu hubungan. Analoginya kayak lo udah pegel tidur di kasur kapuk, terus masa iya pas lo punya uang lo nggak mau beli springbed? Pasti mau kan? Tapi kalo lo pinter, lo akan mikir lagi, mungkin uang buat beli springbed itu bisa lo pake buat beli keperluan lain yang emang urgent, dan bahwa kasur kapuk itu masih bisa buat lo jadiin alas tidur lo.

Di tahap ketika lo jenuh sama pacar lo, lo punya kesempatan untuk memperbaiki hubungan lo. Kalo di teori yang gue dapet, ada strategi untuk REPAIR. Dan bahkan, ketika hubungan itu udah berakhir, masih ada kesempatan untuk rekonsiliasi which is itu berfokus sama hubungan yang udah kelar. Tapiiiii.. sekali lagi, buat gue pribadi, terutama di umur segini, lo udah harus bisa berkomitmen. Komitmen untuk apapun, termasuk pacaran.

Selingkuh itu kadang gue pikir sama kayak orang gendut pengen kurus secara cepet. Kita pasti paham yang namanya no pain no gain, kalo lo ga sakit ya lo ga akan berhasil. Misalnya lo gendut, terus pengen kurus cepet, lo beli pil pelangsing instan atau yang agak oke-an dikit, sedot lemak. Dua-duanya resikonya gede. Dan kalopun berhasil, hasilnya beda sama kalo lo cutting dan diet secara bener. Sayangnya, kalo lo gagal, gagalnya bakalan parah bahkan bisa bikin lo mati.

Dan satu hal yang gue pikir, ketika lo mulai berani untuk selingkuh, lo menjadi orang yang tidak akan pernah puas. Lo bosan, terus nengok lagi, gitu aja terus. Ya mungkin lo bakalan tetep sama pasangan lo, tapi itu bisa Cuma de facto doang. De jure-nya mah lo belok kanan kiri. Selingkuh itu sama aja sih kayak pacaran. Kita tau kalo itu salah, tapi kita tetep aja nyobain, dan ketika udah nyobain kita malah bisa jadi ketagihan. Dan bahkan, ketika lo gagal, lo ga kapok buat nyoba lagi.

Kita harus ingat lagi kalo selingkuh itu nggak cuma bakalan nyakitin satu orang. Bodoh kalo lo ngerasa bahwa si orang ketiga lebih ‘butuh’ lo, dan bakalan lebih ngerasa tersakiti. Kalo lo selingkuh, berapa banyak sih yang tau hubungan lo sama dia? Nggak lebih banyak dari yang tau hubungan lo sama pacar lo, gue rasa. Jadi seandainya yaaa.. seandainya (jangan sampe) lo selingkuh, dan kemudian lo lebih memilih pacar lo, lo mungkin hanya akan (maaf) menyakiti si orang ketiga, karena yang tau hubungan itu Cuma lo berdua. Tapi ketika lo selingkuh, dan lebih memilih sama selingkuhan lo, lo mungkin aja bakalan nyakitin pasangan lo, keluarga pasangan lo, keluarga lo (karena mungkin aja keluarga lo malu sama keluarganya pasangan lo), temen deketnyanya pasangan lo (pasti sih, kebawa-bawa), dan bahkan mungkin nyakitin perasaan temen lo yang ngedukung pasangan lo. Nah, kalkulasiin sendiri lah.

Mari kita baca lagi. SAY NO TO SELINGKUH. SELINGKUH ITU MUDAH, KENAPA TIDAK MENCOBA HAL YANG LEBIH SULIT, SEPERTI SETIA.

Ya, setia itu sulit, terlebih ketika godaan banyak di depan mata. Tapi suatu hal yang lebih sulit untuk didapat, pasti bakalan lebih worth buat dimilikin. Dan menjadi setia dan bertanggungjawab itu cool abis. Ketika lo memilih seseorang, dan memilih untuk tetap sama orang itu no matter what happen (di luar kasus selingkuh yaa), akan ada harga yang dibayar dari kesetiaan lo itu. Setialah, bukan hanya untuk pasangan lo, tapi juga untuk diri lo sendiri.

So, keep love!
xoxo

Kamis, 10 April 2014

Dibebankan/diberikan Tanggung Jawab (?)

Gue pernah mengalami yang namanya dikecewakan alias dikhianati sama orang yang gue anggap bisa gue kasih amanah/tanggung jawab. Dan di sisi yang lain, gue juga pernah mengecewakan orang yang ngasih gue tanggungjawab. Rasanya nggak enak, baik lo dikhianati atau mengkhianati.

Hari ini, baru aja sekitar satu jam yang lalu, gue sadar gue udah menghilangkan helm temen gue. Bete sih, kayak sampah gitu lo nyuri helm mahasiswa. Tapi yang sebenernya bikin gue bete tuh bukan perkara gue harus mengganti helmnya. Tapi perkara gue menghilangkan barang orang lain itu yang jadi masalah. Gue khawatir gue bakalan ngehilangin kepercayaan si temen gue yang minjemin helm-nya itu.

Helm itu sebenernya bukan gue yang make. Gue punya helm sendiri, itu helm bakalan dipake sama temen gue. Helm itu emang udah dipercayain sama temen gue untuk ditaro di kosan gue, buat dipake sama temen-temen gue. Gue dari awal masuk semester baru udah menyarankan temen-temen gue untuk beli helm baru dan balikin helm-nya temen gue ini, sebelum terjadi hal-hal yang nggak diinginkan. Dan ternyata apesnya kita, sebelum kita sempet beli helm baru, kita udah harus gantiin helm temen gue itu.

Jadi besok, kita bakal patungan buat beli helm INK temen gue yang ilang itu, dan gue juga berharap temen-temen kosan gue bisa sadar kalo beli helm sendiri itu lebih penting dibandingkan terlalu sering minjem dari temen-temen lain, which is lo bertanggungjawab akan barang orang lain. :(

Kamis, 06 Maret 2014

Berdamai Dengan Masa Lalu

Belakangan ini kayaknya lagi ada fenomena putus berjamaah deh di sekitar gue. Yah, so sorry to hear that. But we all know that you have to face the life, wheter it bitter or sweet. Percaya aja, bahwa setelah ini akan ada yang sesuai sama lo, baik dan buruknya lo.

Yang bikin gue agak bete sebenernya adalah ada beberapa orang di masa lalu, yang sayangnya tidak bisa berdamai dan menghormati masa lalunya. Jadi, ada beberapa cerita yang gue denger dimana ada orang-orang yang ngejelek-jelekin mantannya setelah putus.

I mean, come on. Rata-rata cerita yang gue denger adalah cerita dari orang seusia gue. Jadi menurut gue culun aja gitu kalo lo masih kayak gitu. Dan sampahnya adalah, mostly orang yang ribet ngejelekin mantannya ini adalah orang yang JUSTRU nyakitin pasangannya. Pak abis.

Gue ngerti kalo mungkin lo bahagia lepas dari pasangan lo. Gue mengerti bahwa mungkin dia pernah nyakitin lo secara sengaja atau enggak dulu. Gue juga ngerti bahwa mungkin lo emang lagi curcol aja, lewat sosmed lagi. Biar seru gitu ada yang komen, or at least he/she will know it when they do kepo-ing.

But, hey, mereka kan juga dulu orang-orang yang kita sayaaang. Dan, kayak tadi yang gue bilang, yang sampah justru adalah malah orang yang nyakitin pihak yang lain. Kan goblok, namanya. Lo udah nyakitin, terus lo tambahin gitu jelek-jelekin mantan lo. Kayaknya gimanaaaaa gitu. Ngeselin. Iya, mungkin lo curhat. Tapi apa yang lo curhatin itu kira-kira bakal nyakitin dia ga? Cobalah sebelum ngelakuin sesuatu, put yourself on their posisition. Gimana kalo lo yang jadi dia? Sanggup lo nanggungnya?

Huft. Umur gue udah 21. Gue dulu pernah pacaran dan putus di umur 15 tahun. Entah apa yang ada di pikiran gue dan pasangan gue waktu itu. Kami mungkin sedikit dibekali kedewasaan yang cukup baik pada saat itu. Yes, we fight, we argue, secara lisan, tulisan, dan mungkin pikiran. Tapi pada akhirnya kita ambil waktu sejenak untuk saling diam. Kami berdua tanpa sadar justru sadar bahwa kami harus bertemu lagi besok, kurang lebih untuk 1 tahun ke depan karena kami masih bersekolah di sekolah yang sama. Masing-masing dari kami, sejauh yang gue tau, sampai saling menghormati satu sama lain dengan tidak membicarakan keburukan yang lainnya di depan orang lain, kecuali mungkin teman terdekat kami. Pada akhirnya kami berdua sekarang (mungkin) sudah berdamai dengan masa lalu kami. Kami sempat bertemu di beberapa kesempatan, saling berjabat tangan dan menanyakan kabar. Begitu saja sudah cukup.

Yang gue pelajari dari ini adalah, kalau emang gue belum bisa berdamai dengan, jangankan masa lalu, sama diri gue sendiri deh. Kalau gue belum bisa berdamai dengan apapun, gue mungkin bakalan, atau malah harus take time dan istirahat. Nggak perlu mikirin mau apa-mau apa. All I need to do is just take a break. Jaga mulut, tangan, pikiran dan hati dari hal yang jahat. Baru setelah itu lo bangun dan siapin diri buat hari baru. Ga usah maksa move on kalo emang belum bisa. Nanti ada waktunya.

Jumat, 07 Februari 2014

#30HarIMenulisCeritaCinta "Untuk Yang Mengaitkan Jarinya di Bawah Meja"

Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena sudah tak sengaja membuka hati untuk kau singgahi.
Maaf juga jika kemudian setelah itu aku lari.
Ini bukan perkara memiliki.
Tapi kamu datang pada saat-saat dimana aku tak pernah siap.
Dulu kamu datang ketika aku dilanda keraguan apakah aku siap untuk memberikan hati ini pada seseorang.
Sekarang, kamu datang ketika aku dilanda keraguan apakah aku akan mampu menyembuhkan hati ini dari kekecewaan.
Ya, aku baru saja dikecewakan. Dan kekecewaan itu mahal harganya untuk dibayar, hingga aku tak yakin apakah aku siap untuk membuka hati lagi.
Terima kasih kamu sangat mengerti konsep manusia berpasangan yang hanya terdiri dari dua orang.
Terima kasih kamu sudah menerima dan menghargai waktuku ketika bersamanya.
Terima kasih kamu sudah menunggu.
Tapi sekali lagi, maaf.
Sekali lagi ketika kamu datang, aku belum siap.

Kamis, 06 Februari 2014

Dua Tahun.

Sudah dua tahun rasanya sejak cerita itu berakhir. Cerita? Apakah itu bisa disebut cerita? Ah, maaf, aku tak pernah berani memulai cerita itu. Alasannya kenapa, tak perlu lah dia tau. Terlalu banyak alasan yang menyertainya. Aku mengakhiri cerita itu sebelum kami sempat memulainya.

Rasa bersalah selalu menghinggapiku setiap berdekatan fisik dengannya. Dan rasa bersalah ini semakin menjadi ketika setelah dua tahun ini dia masih juga terlalu baik bagiku. Ingin rasanya meminta maaf. Tapi aku tau, dia akan memaafkanku, dan itu tentu saja akan semakin menyakitiku. Hina sekali rasanya diri ini pernah menyakitinya dan masih saja mengaharap maafnya. Lebih baik aku tak perlu meminta maaf, karena aku tak pernah pantas akan maaf itu.

Ah, kamu. Jangan terlalu baik pada orang lain, apalagi padaku yang sudah menyakitimu sedemikian rupa. Tak perlu lah sakit-sakit itu ku tulis lagi disini. Yang jelas, menyakitimu adalah dosa yang sulit ku cari taubatnya di dunia ini.
Menyesal? Jangan tanya. Aku sudah mendapat balasannya.

Terima kasih. Bahwa ternyata kamu sudah sangat mengerti aku, untuk semua hal dan setiap detail kecil dalam diriku.
Terima kasih. Bahwa ternyata perhatianmu tak pernah lepas untukku.
Terima kasih. Bahwa ternyata kamu sudah memaafkanku, untuk kebodohan yang luar biasa yang sudah ku lakukan padamu.
Semuanya mungkin tak pernah kau ucapkan secara langsung padaku. Tapi aku tau, dari dulu kau tak bisa berbohong padaku.

Jumat, 24 Januari 2014

Pertanyaan Buat Kamu.

Hari Jumat entah tanggal berapa di awal-awal masuk SMA sekitar tahun 2007, gue pernah ditanya sama seorang senior.

"Kalau kamu sekarang ada di antara seorang ibu yang sedang hamil dan saudaramu, yang dua-duanya sedang sekarat, siapa yang lebih dahulu kamu selamatkan? Kamu nggak bisa milih dua-duanya, cuma satu yang bisa selamat, sementara yang lainnya akan mati."

Pertanyaan itu sebenernya tes psikologis. Nggak ada jawaban salah. Jawabannya bener semua. Pertanyaan ini cuma akan menjelaskan diri lo. Waktu itu gue jawab gue akan menyelamatkan ibu yang lagi hamil. Seorang teman lalu ngebentak gue, "Lo gatau gimana rasanya kehilangan saudara lo sendiri!" Gue waktu itu kaget dibentak gitu, dan gue cuma ngejawab, "Tapi lo bisa nyelametin dua nyawa sekarang. Anak itu berhak hidup."

Gue inget se-inget-ingetnya gimana kejadian hari itu. Gue bahkan masih inget muka temen gue yang marah karena gue ngejawab itu (dia baru aja kehilangan saudaranya). Tujuh tahun. Butuh tujuh tahun setelah itu, dan gue baru sadar sama arti dari pertanyaan itu dan jawaban gue hari ini.

Gue terlalu sibuk mikirin orang lain, sampai ga mikirin diri gue sendiri.

Rabu, 15 Januari 2014

Hadapi Dengan (Jantan) Senyuman!

Barusan, gue nemu pertanyaan yang dilematis banget di status seseorang. "Apabila orang yang kamu cintai tidak mencintaimu dan orang yang mencintaimu tidak kamu cintai, maka siapa diantara mereka yang kamu pilih?"

Menarik. Gue sendiri bingung sih mau jawab apa. Tapi kemungkinan gue akan main aman. Gue akan memilih orang yang kedua. Kenapa gue bilang main aman? Keliatannya mungkin sedikit egois. Tapi gue belajar dari pengalaman gue ke orang yang pertama. Mencintai orang itu berat, dan jauh lebih sulit dibanding dicintai.

Baru-baru ini pernah ada seorang teman cowok curhat sama gue. Dia lagi pusing luar biasa, katanya. Kenapa, gue tanya. Jadi gini ceritanya. Si temen gue ini punya pacar, dan udah satu tahun lebih pacaran sama pacarnya. Temen gue ini cerita, kalo dia lagi nakal. Dia lagi deket sama cewek lain. Dan masalahnya adalah dia lebih seneng deket sama cewek itu dibanding sama pacarnya. Okeeeeee...
Tapi masalah terbesar sebenernya adalah temen gue ini sudah terlalu jauh sama pacarnya. Ngerti kan?
Gue diam. Okeeee, terus? gue tanya dia. Dia bilang dia nggak mau milih siapa-siapa diantara kedua cewek ini.
Emm.. Ini sebenernya harusnya bisa lebih mudah dibanding dua pilihan di atas. Ada orang yang cinta sama lo, tapi lo tidak cinta balik, dan ada orang yang cinta sama lo dan lo juga cinta sama orang itu. Di situasi normal hal ini akan jauh lebih mudah. Jelas lo akan pilih orang yang lo juga cintai. Fine. Tapi yang jadi masalah disini adalah hubungan teman gue ini yang udah terlalu jauh sama pacarnya.
Gue sangat mengenal kedua orang ini, baik temen gue maupun pacarnya. Sebelum gue tau bahwa temen gue ini sejahat ini, gue pikir mereka berdua adalah orang-orang yang baik, dari keluarga baik-baik.
Gue tanya sama temen gue, kapan lo mulai sadar lo udah ga sayang sama pacar lo, dan kapan lo mulai deket sama cewek itu? Sesudah atau sebelum lo terlalu jauh sama pacar lo? Katanya dia, sebelum. I was like, fvck! How couuuld?!!
Saat itu rasanya gue pengen ngamuk sama temen gue ini. Kok bisa siiiiih? Kok bisa lo jahat banget sama pacar lo??? Gue berusaha inget tentang pacarnya temen gue ini dan bagaimana mereka pacaran. Pacarnya tuh baiiiiiiik.. Pun dia nggak baik banget juga tetep aja dia baik, dan mereka pacaran baik-baik aja. Gue kalo ngeliat pacarnya dia ini tuh sayang banget sama temen gue ini, like a 100% to him. Terus tiba-tiba aja temen gue dateng dan cerita kayak gitu ke gue. Gue, sebagai cewek, rasanya pengen gampar orang ini. Pake kampak kalo perlu. Ih, bete.
Gue berusaha tenang. Gue tanya sama dia, terus lo gimana sama pacar lo? Udahan, jawabnya. Okeee..
Eh, btw, sorry ya kalo daritadi kebanyakan oke. Itu gue dalam adegan riil adalah gue yang sedang menghela nafas.
Gini yaa.. gue mulai menanggapi curhatannya. "Salah cewek itu di mata gue, dalam kasus ini karena gue ga tau gimana-gimananya di dalem, adalah dia terlalu percaya sama lo. Yaa mungkin ada satu atau dua hal yang lo pikir nggak sesuai sama lo. Tapi gue ga peduli. Bukan karena dia cewe dan lo temen gue, gue akan membela salah satu diantara kalian. Tapi di kasus ini, lo yang salah, luar biasa salah, dan salah lo tuh goblok banget menurut gue. Hei, dia tuh ceweeeeeek. Lo pikir ibu lo tuh apa? Tega lo sampe kayak gitu ke dia?" Saat itu gue udah muntab. "Kalo emang dari awal lo tau lo ga sayang sama cewek itu, kenapa lo bisa-bisanya ngerusak cewek itu? Kenapa lo nggak pergi dari awal? Gue rasa cewek itu bakalan lebih bisa nerima deh."

"Gue udah nyoba buat sayang sama dia, tapi nggak bisa." kilahnya. Engga, bodoh, lo belum nyoba, lo nggak sabar. Gue semakin nggak ngerti kenapa dia bisa setega ini. Temen gue sendiri gitu.

"Lo bisa nebak nggak kenapa dia minta udahan?" tanyanya. Gue jawab, "ya jelas aja dia minta udahan! Lo tuh udah parah banget jahatin dia."
"Engga, dia minta udahan karena dia kasian sama gue." HAAAAAAAAH??? Gue shock.
"Iya. Dia sedih, nggak tega ngeliat gue kayak gini. Dia bahkan meluk gue buat nguatin gue."
Di titik ini gue udah nggak ngerti harus ngomong apa sama temen gue ini.

Cukup lama kita diam. Gue yakin temen gue ini ngerti keadaan gue, karena kebetulan gue juga baru aja ngalamin hal yang kurang lebih sama. Dan mungkin karena itu juga dia memilih buat cerita sama gue.

Gue tanya sama dia, lo pernah tau nggak rasanya ditinggalin orang yang lo sayang itu kayak gimana? Apalagi lo ditinggalin dengan keadaan lo disakitin yaa..

Dia diem aja.

"Dia bilang dia sayang sama gue. Dia bilang dia maafin gue karena dia sayang sama gue. Dia bahkan bilang kita masih bisa temenan kayak dulu lagi." katanya.
Gue inget suatu waktu, gue pernah jalan sama ceweknya ini. Terus gue bilang, kok lo bisa sayang banget sih sama temen gue? Si cewek itu cuma jawab, "nggak tau, dia nanya gue, mau ga jadi yang terakhir buat dia, disitulah gue berusaha jadi yang terakhir buat dia. Dia juga bilang, gue cuma perlu percaya sama dia, sisanya dia yang bakal bertanggungjawab."

Gue geleng-geleng kepala karena ikutan pusing sama masalah mereka.

Suasana kembali hening.

Gue kemudian inget lagi cerita temen cowok gue yang lain. Gue kenal sama dia dari awal masuk SMA. Nah, pas masuk SMA itu dia memang udah punya pacar, temen SMP-nya. Mereka udah pacaran sekitar 2 tahunan lah. Tapi entah kenapa, sekitar akhir kelas 2 atau kelas 3, dia jadian sama temen gue dari kelas lain. Waktu itu gue pikir dia memang udah putus sama pacarnya terus jadian sama temen gue ini. Gue biasa aja, karena emang setelah naik kelas 2, gue udah nggak pernah sekelas sama temen gue ini, jadi gue ga begitu care. Tapi baru setelah lulus gue tau kalo dia selingkuh. Jadi kita dalam perjalanan pulang dari Bandung. Malem-malem, di bis primajasa, dia cerita sama gue kejadian yang sebenarnya. Kok lo bodoh sih? tanya gue waktu itu. Dia diem aja. Btw, cerita dia sama temen gue juga ga lama, karena si cewek udah ga mau pacaran. Selang beberapa waktu, dia ngajak gue ke Bandung lagi buat nemuin mantannya, ngasih kado ulangtahun. Gila, gue bilang. Tapi tetep aja gue temenin dia sekalian kita liburan. Sekitar setahun kemudian dia dateng bawa cerita baru nih. Dia jadian sama temen SMP-nya. Ini cewek keliatannya anak baik-baik. Ukhti gitu. Gue juga dikenalin sama dia dan dia baik sama gue. Tapi entah gimana kayak dibalikin lah kejadiannya. Mereka putus karena si cewek selingkuh sama mantannya. Di Jco, temen gue nahan nangis karena ngerasa sakit. Kita berdua sadar, dia lagi dibales.

---
"Jo, lo percaya karma ngga sih?" tanya gue.
"Gue nggak mau ngedoain lo yang jelek-jelek yaaa. Tapi, lo percaya karma ngga sih?"
Dia cuma menaikkan bahunya.

"Kalo lo jadi gue, lo bakal gimana?" tanyanya ke gue.
Gue diem..

"Berat sih..." jawab gue.
"Tapi kalo gue jadi lo, gue mau ga mau akan bersikap jantan. Lo boleh bilang gue lebay atau apa. Tapi terserah lo deh. Lo tau lah didikan bokap gue gimana. Yang pertama gue lakuin adalah gue akan ngehapus orang ketiga."
"Kenapa?" dia langsung motong.
"Ih," gue kesel "lo tuh kalo mau selingkuh ya jangan bego-bego banget lah! Mau aja sama cewek yang mau sama pacar orang!" gue bentak dia. Dia diem lagi. Gue berusaha tenang. Gue inget orang ini dateng ke gue bukan untuk dihakimi, dan gue ga berniat untuk menghakimi orang ini.
"Jo, lo sadar nggak sih, lo berdua tuh berpotensi jahat. Lo sama cewek itu. It's not gonna worked. Coba lo pikir baik-baik. Entah siapapun dari lo suatu waktu pasti akan nyakitin yang lainnya."
Dia diem lagi..
"Kalo gue jadi lo, gue akan bersikap layaknya laki-laki. Sayang atau nggak sayang gue sama pacar gue sekarang, gue akan tetap milih dia, gue akan bertanggungjawab. Sayang itu urusan waktu sebenernya, Jo. Mungkin nggak sekarang, tapi gue bakal balik ke dia, atau minimal gue bakal jagain dia sampe bener-bener ada yang sayang sama dia dan nerima dia apa adanya."
...
"Lo nggak bisa nyamain semua cowok kayak lo, yang bisa nerima cewek apa adanya. Lo juga ga bisa nyamain semua cewek, yang bakal nerima diri mereka yang udah rusak."
...
"Jo, lo bayangin sekarang. Mungkin aja cewek itu bisa punya masa depan yang lebih baik kalo lo ga ngerusakin dia. Sebaik-baiknya apapun yang dia dapat nanti, lo sadar ngga sih, kalo cewek itu berhak dapat yang lebih baik?"
...
"Jo, gue tau lo mungkin menyalahkan cewek itu juga. Tapi biar gimana pun dia cewek, Jo. Lo pikir lo tuh keluar darimana? Surga lo tuh ada dimanaaa?"
...
"Jo, lo bilang lo udah nyoba buat sayang sama dia. Ini tuh keadaannya udah bukan keadaan dimana lo bisa nyoba-nyoba. Ini adalah keadaan dimana lo udah tinggal jalanin aja. Karena lo berdua udah salah. Dan buat gue kalian, kalo emang orang bener yaa, emang harus bertanggungjawab."
...
"Pernah nggak sih lo mikir, kenapa lo bisa setega ini sama dia? Pernah nggak sih, lo mikir betapa luar biasanya dia mau maafin lo? Coba lo bayangin, Jo, kalo dia juga jahat sama lo. Dia yang mungkin udah di luar kontrolnya sendiri saking frustasi-nya sama keadaan. Gimana kalo dia dateng ke orangtua lo dan meminta pertanggungjawaban lo? Mau berapa orang lagi yang bakal lo sakitin? Gimana reaksi orangtua lo, orangtuanya? Atau kalo emang nggak gitu, pernah nggak sih lo mikir kalo dia sampe bunuh diri atau nyakitin dirinya sendiri. Pernah nggak sih lo mikir sampai situ? Gimana nanti lo bisa hidup di bawah rasa bersalah kalo sampai kayak gitu?"
...
"Gue tau gimana rasanya.. Gue tau sesakit apa rasanya.. Gue tau.. Gue tau banget.."
...
"Lo tau, sekitar tiga malam pertama gue bermasalah, gue butuh antimo buat ngebantu gue tidur. Gue cuma bisa nangis, dan semakin nangis itu malah bikin semakin sakit. Ada sesuatu yang mencekik di tenggorokan gue. Lo tau gue banget kan? Salah satu katup jantung atau apalah bagian jantung gue bermasalah karena turunan bokap gue itu, lo tau gimana sakitnya? Gue cuma bisa neken dada gue buat nahan sakitnya, karena kalo gue nangis gue makin nggak bisa nafas. Gue bahkan bersyukur gue nggak pingsan, cuma gue udah kayak orang linglung, yang gue ga kuat buat berdiri. Dan itu semua harus gue sembunyiin di depan keluarga gue. Gue sampe sakit lho, jo. Ah, kenapa gue harus alergi pereda nyeri. Lo tau nggak sih, kalo lo nyakitin seseorang, orang itu bisa mati karena ada pembuluh di hatinya yang putus. Aduh, lo kalo mau nyakitin orang baca-baca dulu kek!" kata gue kesel sendiri. Gue akhirnya nangis saking keselnya.

(gue inget temen SMA gue yang punya masalah kelainan jantung yang sama kayak gue bahkan lebih parah dari gue. Dia ngegelepar di toilet sekolah, nahan sakit. Gue bersyukur gue nggak sampe kayak gitu)

...
"Jo, lo tau nggak sih, sekarang Tuhan masih ngasih lo kesempatan buat bertanggungjawab lho."
...
"Cewek itu mungkin maafin lo, tapi kalo Tuhan nggak mau maafin lo, gimana?"
...
"Cewe itu mungkin nggak akan ngebales lo, tapi kalo Tuhan yang bales, gimana?"
...
"Lo nggak takut?"
...

Temen gue itu akhirnya nangis.
Romantis kan kita nangis berdua?
Tapi kasusnya beda, gue nangis karena inget yang dulu gue disakitin, dan dia nangis karena nyakitin orang.
Gue ga tau sih dia bakal gimana setelah curhatan ini. Gue sangat paham dan hapal temen gue yang satu ini. Yang keras kepalanya bahkan nggak bisa gue kalahin. Entah mungkin dia bakal ngelupain semua kata-kata ggue atau engga. Makanya gue nulis ini biar dia nggak lupa. Gue cuma berharap dia nggak lari dari masalah kayak gini. Kata bokap gue, kalo orang lari dari masalah, dia bakal ngehadapin masalah yang jauh lebih banyak lagi dan lebih berat lagi. Gue ga mau dia jadi jahat. Orang-orang yang gue sayang nggak boleh jadi orang jahat. Setelah gue pikir-pikir belakangan ini gue bilang bahwa temen gue ini tamak dan serakah. Dia ngga bisa mensyukuri apa yang dia punya sekarang, yang mencintai dia.

huft.
menguak luka yang belum kering.

Selasa, 14 Januari 2014

Sejuta Kali

Kamu bilang aku ini keras..
Mungkin kamu lupa selama ini..

Sejuta kali aku bilang tidak, pada akhirnya toh aku tetap akan bilang ya..
Sejuta kali aku menolak, pada akhirnya toh aku akan menerima..
Sejuta kali aku bilang jangan pergi, pada akhirnya toh aku akan membiarkanmu pergi...

Jumat, 10 Januari 2014

Hilang..


I thought that you were my friend. But I tottaly wrong. You're not. 

Gimana rasanya ketika orang yang selama ini lo pikir sahabat lo ternyata menganggap lo 'cuma' temen biasa? 
Gimana rasanya ketika lo pikir dia adalah orang nomor satu dalam hidup lo, tapi dia bahkan nggak pernah meperhitungkan lo? 
Gimana rasanya ketika lo ngerasa dia yang terbaik buat lo, tapi ternyata dia mikirnya lo bukan siapa-siapa? 
Gimana rasanya ketika lo selalu bersedia ada buat dia, tapi dia cuma ada waktu dia butuh lo? 
Gimana rasanya ketika lo peduli sama dia, tapi dia bahkan nggak inget satu hal penting dalam hidup lo? 

Rasanya semua tangis yang dibagi bersama itu kering. 
Rasanya semua panggilan sayang itu lebur. 
Rasanya semua tawa itu membias. 
Dan rasanya, semua rasa itu, hilang.

Gue Iri Sama Lo..



November 12, 2010 at 9:48pm









lo tau, lo tuh punya segalanya! Kenapa lo masih mengeluh soal hidup lo? Hah? Apa yang kurang? Apa lagi yang belum Tuhan kasih ke lo?

Lo cantik, lo cerdas, lo menarik, lo kaya, lo bebas, dan banyak cowo yang naksir sama lo!

Lo bodoh ketika lo nanya sama gw, 'gw jelek ya?' atau ketika lo bilang 'ah, ga ada cowo yang mau sama gw'

lo bodoh, bener-bener bodoh!

Lo punya semuanya dibanding gw.

Lo liat sendiri gw.

Lo pikir gw cantik? Engga, gw jelek.

Lo pikir gw kaya? Engga, lo tau isi dompet gw yang sering kosong.

Lo pikir gw cerdas? Engga, gw bodoh.

Lo pikir gw menarik? Mungkin, tapi cuma segelintir orang yang sadar.




Gw iri sama hidup lo. Tapi kenapa lo masih mau hidup yang lain?! Gw mau jadi cewe cantik, yang populer, yang punya banyak temen, yang banyak ditaksir cowo.

Gw mau jadi orang kaya, yang dengan gampangnya beli ini itu, pergi kesana-kesini tanpa harus mikirin besok gw dpt duit darimana.

Gw mau jadi orang pinter, yang disegani banyak orang.

Gw mau punya hidup kaya lo!




Lo pikir gw seneng dengan hidup gw seperti ini?

Engga! Sama sekali engga!

Tapi percuma kalo gw mengeluh tentang itu semua karna hasilnya sama dengan nol besar.




Lo tau, sekarang gw sadar.

Gw tidak pintar karna gw tidak belajar dan berusaha untuk pintar.

Gw tidak kaya karna tidak ada suatu hal produktif yg gw kerjain.

Gw tidak punya pacar, karna gw yang membuat orang tidak mencintai gw.




Tolong berhenti mengeluh tentang hidup lo. Miris gw dengernya.

Kamis, 14 April 2011

Untuk Perempuan - Sheila On 7

Jangan mengejarnya jangan mencarinya
Dia yang kan menemukanmu
Kau mekar di hatinya
Di hari yang tepat..

Jangan mengejarku dan jangan mencariku
Aku yang kan menemukanmu
Kau mekar di hatiku
Di hari yang tepat..

Tidaklah mawar hampiri kumbang
Bukanlah cinta bila kau kejar
Tenanglah tenang dia kan datang
Dan memungutmu ke hatinya yang terdalam
Bahkan dia takkan bertahan tanpamu

Sebukan harimu jangan fikirkanku
Takdir yang kan menuntunku
Pulang kepada mu
Di hari yang tepat

Tidaklah mawar hampiri kumbang
Bukanlah cinta bila kau kejar
Tenanglah tenang aku kan datang
Dan memungutmu ke hatiku yang terdalam
Bahkan ku takkan bertahan tanpamu

Aku yang kan datang..
Aku yang kan datang..
Aku yang kan datang..
Aku yang kan datang..
(menghampirimu)