Tampilkan postingan dengan label #swc16. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #swc16. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Februari 2014

#30HariMenulisCeritaCinta "Untuk Yang Secara Langsung Minta Dibuatkan Surat Cinta"

Surat cinta keempat di #30HariMenulisCeritaCinta

Untuk Randy Bagisura Pratama Sembiring

Surat cinta untukmu menunjukkan memang aku cinta padamu, Bang.
Bukan cinta seorang wanita pada laki-lakinya.
Bukan juga cinta adik pada abangnya, walaupun di surat ini aku memanggilmu Abang.
Jangan kau artikan lebih arti cinta di surat ini.
Hampir 7 Tahun sejak pertama kali kita berkenalan.
Usia kita ternyata sudah semakin dewasa, Bang.
Kita bahkan hampir menanggalkan usia bioskop kita tahun ini.
Tapi ternyata masih banyak sifat, tingkah, dan laku kita yang tidak sesuai dengan umur kita.
Biarlah, Bang. Biar kita belajar nantinya.
Mungkin orang lain mengenalmu sebagai Randy yang.... err.. apa ya..
Hahaha. Apapun itu, aku mengenalmu sebagai Randy yang lain.
Dewasalah sebagai laki-laki sejati, Bang.
Laki-laki Batak sejati, yang akan meneruskan nama Sembiring di belakang anak-anakmu kelak.
Pesanku, seperti pesanku pada teman-teman laki-laki ku yang lain,
Hormati lah perempuan, jangan sakiti mereka.
Berbaik hati lah pada semua orang, hingga semua orang baik pada kita.

Rabu, 29 Januari 2014

Inspirasi.

Inspirasi itu bagai kelelawar, mereka tidur di siang dan beterbangan di malam. Saya sering melihatnya di malam, bahkan beberapa berhasil saya tangkap. Pasti inspirasi suka keheningan. Dan kegelapan. - @emgalih

Cintanya...

kau mencintai Tuhanmu melebihi apapun.
bahkan untuk dia yang kau cinta.
cinta yang kau berikan padanya selama aku mencintaimu.

ragu untukku melihat sisa.
sedikit sisa untukku yang selalu ku minta pada Tuhanku.
Tuhan, kalau ia mencintaiMu seperti itu, maukah Kau membaginya sedikit untukku?
Tuhan aku yakin Kau pun mencintainya.
dan aku yakin Kau pun mencintaiku.
Tuhan, selama ini ku dengar darinya, Kau beri dia apa yang dia mau.
Kali ini, bolehkah ku minta Kau beri aku dia, dia yang ku mau.


ah, ingin rasanya ku cemburu.
tapi, pantaskah aku.
mungkin untuk sekedar iri pun rasanya tidak.

namun saat ku lihat senyumnya, ku sadar bahkan ia tak memilihku.

namun Tuhan, untuk segala kesempatan yang kau berikan itu,
kuucap terima kasih untukMu.
terima kasih telah mengizinkanku melihatnya.
terima kasih telah mengizinkanku untuk mengenalnya.
dan terima kasih telah mengizinkanku mencintainya tanpa pernah ia tau.

tapi Tuhan, kalaupun aku tak berhak untuk mencintainya,
izinkan aku untuk mencintaiMu.
jauh melebihi cintaku padanya.
karena ku tau ia mencintaiMu melebihi apapun yang ia cinta.

p.s. curhat malam-malam emang fak banget. :D

Jumat, 24 Januari 2014

Reuni

Sore itu langit masih berwarna kuning cerah. Tampaknya, matahari belum juga mau beranjak dari tempatnya. Naya baru saja selesai mandi. Ia masih sibuk mengeringkan rambutnya, saat pintu rumahnya diketuk seseorang.
Tokk..tokk..tokk 
“Sebentaaar..” katanya sambil berjalan kea rah pintu depan. 
Dibukanya pintu rumahnya. Sejenak ia terkaget.
“Andy!!”
“Hai, Nay! Hha.. Kaget gitu.” sapa Andy ramah.
”Hahaha. Iya lah, kaget gue. Apa kabar, Ndy? Masuk yuk!”
”Kabar gue baik kook.” Jawab Andy sambil duduk di kursi ruang tamu sederhana itu.
“Ah, gila. Tumben banget nih lo ke rumah gue. Ada apa deh?” tanya Naya semangat.
”Engga kok. Gue Cuma mau ngasih ini.” katanya sambil menyerahkan secarik kertas.
”Apa nih?” tanya Naya bingung sambil memperhatikan isi kertas itu.
”Ooooh.. Undangan reunian. Gue pikiiiir, elo mau duluan. Hhaha.” godanya.
”Alah, calonnya aja belum ada. Lo kali duluan.”
”yaaah, gue lagi, Ndy. Belum mikir kesitu tuh. Mau nyelesein kuliah dulu.” katanya sambil memainkan kertas undangannnya.
”Bagus lah kalo gitu. Cepetan lo selesaiin. Kasian nyokap lo, pengen nunggu anaknya make toga.”
”Aaaah, lo jangan ngomong gitu doong. Mentang-mentang udah selesai.”
”Hahaha. Biasa aja ah. Eh, Nay, gue balik dulu yaa. Gue mau nganterin ke anak-anak lain nih.” pamitnya.
”Lo rajin banget deh, Ndy, nganter-nganterin. Sekarang kan udah ada facebook.”
”Nggak apa-apa laah, sekalian gue ngecek anak-anak. Tapi di grup juga ada.”
“Hhaha, nggak salah deh lo jadi kordinator alumni.”
”Haha, gitu deeeh. Yaudah gue balik dulu yaa.” kata Andy sambil beranjak dari duduknya.
”Emm, oke deh. Gue anter sampe pager aja yaa.”
“Yaelaaaaah..” Lalu Naya pun mengantar Andy sampai motornya.
“Bye, Nay!” pamit Andy.
“Bye, Ndy. Hati-hati yaa.” Balas Naya sambil melambaikan tangannya.

---

Ditimangnya undangan yang baru ia dapat dari Andy. Undangan sederhana, yang mampu memebawanya ke memorinya yang lama. Naya beranjak ke kamarnya. Dari laci di sudut kamar, ia keluarkan sebuah album foto. ”Abu-abu”, begitu judul album itu.
Dibukanya perlahan. Sejenak ingatannya kembali ke masa SMA. Senyumnya tersimpul manakala ia membuka lembar demi lembar halaman album itu. Tangannya berhenti pada satu foto, ia dan seorang lelaki. Di rabanya foto itu pelan. Senyumnya getir kali ini.

---

Kantin sekolah, 2007
”Nay, kalo gue perhatiin, akhir-akhir ini lo sering banget ngeliatin Abbi deh. Naksir lo yaa sama dia??” goda Tita, teman Naya saat jam istirahat siang itu.
”Apaan sih, Ta? Gue emang ngeliatin orang-orang aja.” kilah Naya.
”Yaelah, Nay. Gue juga merhatiin kali lo belakangan ini, kalo ada Abbi jadi aneh gitu. Salting!”
”Apaaaaa sih Taaaa? Lo emang paling rese deh.”
”Cieeeee... Nayaaaaa!!”
”Titaaaaaa!! Rese banget!” kata Naya sambil berusaha menutup mulut Tita.

---

Kriiing.. kriiing... Suara dering telepon rumah membuyarkan lamunan Naya. Ia bingung, hari hampir maghrib, siapa yang menelpon. Ia lalu beranjak mengangkat telepon itu.
”Halo..” sapanya
”Nay!” suara di sebrang sudah akrab dengan suara Naya.
”Tita!! Pas banget! Gue baru mau sms lo.” Jawab Naya nggak kalah semangat.
“Nay, lo udah dapet undangan belum?”
”Udah tadi dianter Andy. Lo udah juga?”
“Udaaaaah. Mau dateng nggak, Nay? Dateng yuuuk!!” ajak Tita memelas.
“Iya dateng. Kangen anak-anak. Tapi yang lain dateng nggak, Ta?”
”Tadi gue liat di facebook sih pada dateng. Udah yuuuuk, dateng. Lo free kan tanggal 28 itu?”
“Kayaknya sih free, Ta. Hari Sabtu kan itu?”
”He’eemh. Cuss yuk, Nay. Dua minggu lagi, Nay. Santai aja.”
”Hahaha, oke-okee. Yaudah, nanti bareng ya, Ta.”
”Oke deh. Bye, Nay, maghrib nih.”
”Iya. Bye, Taa.” 

---

Adzan maghrib itu, menemani kesendirian Naya di rumah. Entah kenapa, selembar undangan yang datang sore itu seketika mampu merubah suasana hatinya. Naya berjalan ke kamar mandi, mengambil air wudhu. Diresapi tetes air yang membasahi wajahnya kali itu. Setelah selesai mengambil air wudhu, Naya pun sholat sendiri maghrib itu. Kedua salam mengakhiri sholat Naya kali itu.
Masih dalam balutan mukenanya, ia termenung. Ingatannya kemabali ke masa lama. Sms dari Abbi yang senantiasa mengingatkannya untuk sholat kembali menguap dari otaknya. Biasanya sms itu hanya terdiri dari beberapa kata, ”jangan lupa sholatnya ya, Nay.” dan terkadang ada beberapa kata tambahan setelah atau sebelumnya. ”Udah makan belum?” atau ”Lagi ngapain, Nay?” Kata-kata yang mampu membuatnya senyum-senyum sendiri memandangi layar handphonenya. Malam itu, Naya berulang kali membuka halaman demi halaman album foto ”Abu-Abu”-nya. Hari itu, dia tau, hanya dengan cara seperti itu, ia bisa memenuhi rasa rindu.

---

Sabtu, 28 Maret 2012

Kriiiing.. kriiing..
“Nayaaaa. Angkat teleponnya.” Seru ibu Naya.
“Iya, buuu. Sebentaaar.” Jawabnya.
Ia bergegas mengangkat telepon yang terus berdering itu.
“Haloo..”
“Haloo, Naya?”
“Iyalah, Ta. Pake nanya lagi lo.” Jawab Naya asal.
“Eh, udah siap belum lo?”
“Bentar lagi nih, Ta. Emang lo udah siap?”
”Udaaah. Kalo lo udah siap gue langsung cuss nih jemput lo.” Naya terdiam. Ia bahkan tak yakin ia siap untuk hari ini.
”Halo? Nay? Woy?” panggil Tita berkali-kali.
”Eh, iya Ta?”
”Kok diem sih lo?” tanya Tita bingung.
”Gue belum siap nih, Ta. Masih lama kayaknya.”
”Yaaaaaah, lo gimana siiih?”
”Aduuuh, sorry deh, Ta. Lo mau duluan atau mau tetep nungguin gue?”
”Yaudah gue tungguin deh. Buruan ya, Naaay.” Seru Tita.
“Oke deh, Ta. Gue siap-siap nih.”
”Yaudah, Bye.”
”Bye..”

---

Naya kembali ke kamarnya. Dibukanya pintu lemarinya. Dipilihnya baju-baju yang ada disana. Satu dicobanya, nggak cocok. Begitu juga yang kedua. Entah mengapa, rasanya ia ingin berdandan manis hari ini. Ia ingin tampil berbeda hari itu. Diambilnya simple dress dari lemarinya. Ia coba mengenakannya. Ingatannya kembali lagi. Kali itu, ia sedang menunggu bis di depan gerbang sekolahnya. Abbi setia menemaninya siang itu. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. Seorang perempuan muda keluar dari mobil itu. Penampilannya sederhana, hanya dengan simple dress dan sepatu flat. Ia bertanya arah jalan pada mereka berdua. Setelah perempuan itu pergi, Abbi berkata pada Naya,
”Aku paling suka deh kalo perempuan pake dress gitu. Simple. Enak banget ngeliatnya.”
”Ohhh, jadi kamu nggak suka ngeliat aku?” tanya Naya bete.
”Enggaaaaak. Bukan gituuu. Cuma lebih suka aja. Coba kamu kaya gitu.”
”Nggak mau, ah. Ribet.” jawabnya ketus.
”Cieee, sensitif deh.” goda Abbi jail.

---

Sekali lagi Naya mencatut dirinya di depan kaca. Sekali lagi ia ragu. Apa ia pantas mengenakan semua itu. Ini bukan Naya yang seperti biasa. Bisa saja teman-temannya menertawainya. Lagipula, kalaupun kali ini ia cantik untuk Abbi, belum tentu juga ia datang untuk reuni hari ini.
Ia ragu. Kemudian ia ganti bajunya. Kali ini ia lebih memilih mengenakan celana jeans kesayangannya. Ia kemudian memilih satu blouse cantik berwarna pastel. Sekali lagi ia melihat cermin di depannya. Manis. Ia kemudian menguncir rambutnya. Lalu menyapukan bedak di wajahnya. Tak lupa ia tambahkan blush on merah muda agar merona. Sesuatu yang jarang sekali ia lakukan. Terakhir dioleskannya lipstick di bibirnya. Dandanan yang sangat simpel, namun untuk perempuan cuek seperti Naya, penampilan kali itu bisa jadi spesial. Ia memantapkan dirinya, tahun ini Abbi pasti nggak datang, sama seperti tahun kemarin.

---

Lepas dzuhur, Naya dan Tita tiba di SMA mereka, tempat dimana reuni tahunan biasa diadakan. Naya memegang tangannya sendiri yang lebih dingin dari biasanya. Perasaannya kali ini bercampur aduk menjadi satu. Senang, takut, dan lain sebagainya. Bagaimanapun, di tempat inilah ia memulai rangkaian ceritanya. Cerita yang mungkin takkan pernah ia lupa. Bagaimana tempat ini mempertemukannya dengan cintanya. Bagaimana tempat ini memberinya hari-hari yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dan bagaimana juga, tempat itu sendiri yang menguapkan semua ceritanya.
---

Gerbang sekolah, 2007.
”Eeeeh, ini ya. Masih pagi udah berduaan aja.” tegur Pak Umang, satpam sekolah yang paling disayang anak-anak.
”Yaaaah, bapak. Kan biar semangat, Pak.” jawab Abbi sekenanya.

Gerbang sekolah, 2012.

”Siang, Pak Umang!” sapa Tita dengan ceria. Memang kali ini Tita tampak sangat bersemangat. Berbeda dengan Naya yang terlihat sedikit gelisah.
”Eeeeeh, Neng Tita. Gimana nih kabarnya? Baik?” balas Pak Umang dengan ramahnya.
”Baik dong, Paaak. Oh iya, Pak, masih inget sama temen saya yang ini, nggak?” serunya sambil menunjuk Naya yang duduk di bangku penumpang.
”Iiiiih, Neng Naya! Inget atuh, kan dulu waktu sama si aden suka bapak godain.” jawab Pak Umang, sekali lagi membuka memori Naya.
”Ah, bapak bisa aja.” ujar Naya berusaha tenang.
”Cuma berdua aja?” tanya Pak Umang.
”Iya, Pak. Makanya, kita mau masuk nih, Pak. Mau nyari yang lain.” jawab Tita.
“Ooh iya, sok mangga atuh.”
”Makasih, Paak.” jawab mereka berdua kompak.

---

Parkiran sekolah, 2007.
”Nanti kamu pulangnya bareng aku aja, yaa.” ujar Abbi.
”Lah, kan arahnya beda.”
”Yaelaaah, kan sekarang aku naik motor. Santai ajaa.” jawabnya santai.
”Somboooong!!” seru Naya sambil mendorong Abbi.
”Aduh. Kok dorong-dorong sih? Nggak diantern nih.” Ujar Abbi mengancam.
Sekali lagi, gambar itu buyar.

Parkiran sekolah, 2012.

”Naya! Apa banget deh baju lo? Hahaha..” suara di ujung parkiran sana berteriak menyapanya.
”Egiiiii!!! Aaaahh. Kangen! Kangen!” ujar Naya sambil memukul-mukul lengan temannya.
”Aduh, aduh. Sakiit!” kata Egi mengaduh.
”yaaah, lo, Nay. Udah manis bajunya kaya gitu, tasnya pake tas cewek, masih aja mainannya tonjok-tonjokkan.” tegur Alvin.
”hahaha, gue lucu ya? Aduuuh, padahal tadi gue mau pake dress lhoo biar lebih lucuuu.” jawab Naya sok imut.
”yeeee, sarap!” balas Tita ketus sambil meninggalkannya.

---

Kantin sekolah, 2007.

Naya tertunduk lemas dalam duduknya. Di depannya, Abbi duduk kebingungan. Tangan Abbi, meraba kening Naya.
”Badan kamu panas banget. Makan dulu yaa. Nanti aku anter ke UKS.” ujar Abbi pelan. Sementara Naya hanya menggeleng lemah.
”Ayo dong, Nay. Makaaan. Aku suapin. Yaa.” ujarnya lagi.
”eeeemhh..” Naya menolak suapan Abbi. Namun Abbi masih berusaha membujuknya untuk makan. 

Kantin sekolah, 2012.

”Apa kabar, meeen?” seru Egi semangat. Ia lalu menyalami teman-temannya.
”kangen! Kangen! Kangen!” satu persatu pipi teman-temannya Naya cubit. Lalu begitu juga yang dilakukan Tita.
”Awh, dasar duo ratu! Sakit tau!” seru Adit.
”Cemen, ah!” jawab Tita. Naya, mengambil kursi diantara teman-temannya.
Ia kemudian memesan teh botol. Naya, Tita, Egi, dan teman-teman mereka yang lain tampak asyik melepas rindu siang itu. Kemudian pesanan Naya datang. Ia langsung meminum teh botol itu sambil meliat sekeliling. Wrap! Pandangannya berhenti di satu sosok. Jauh darinya. Tapi ia jelas bisa menebak siapa itu. Hampir saja ia tersedak minumannya. Ditaruhnya teh botol itu. Ia lalu bangkit dan menjauh dari teman-temannya. Sekali lagi, hampir saja ia terjatuh. Belum lagi satu menit, sudah dua kali ia hampir mempermalukan dirinya sendiri. Tita yang melihat ada sesuatu yang aneh lalu bergegas mengejar Naya.
”Apa sih, Nay? Lo kenapa?” tanyanya panik.
”Gue nggak bisa disini, Ta. Ayo, Ta. Ayoo!” jawabnya nggak karuan.
”Ayo? Kemana, Nay?”
”Pulang, Ta. Ayooo!” ujarnya memelas.
”Hah? Gila kali lo. Kenapa sih?” tanya Tita heran.
”Abbiiiii..” jawab Naya tanpa bersuara.
”Ooooh. Yah, Nay. Nggak apa-apa kaliii. Ayo ah.” ujar Tita sambil menarik Naya ke tempat mereka sebelumnya.
”Ahhh, Taaaa.” Naya berusaha bersembunyi diantara teman-temannya. Namun, sesekali ia tetap mengintip ke arah tempat Abbi berdiri tadi. Berharap ia bisa melihatnya sekali lagi. Dan ya, itu dia! Bukannya menyapa, Naya malah kembali bersembunyi. Kali ini ia menarik satu teman untuk menemaninya menjauh dari kantin.
”Dan, pokoknya lo temenin gue yaa!” Ujarnya ketus.
“Yaaaah, emang kenapa sih? Kok tiba-tiba kabur?” tanya Dani bingung.
”Gue liat Abbi, Daaaaaan.” jawabnya dengan gaya yang dibuat-buat seakan-akan ingin pingsan.
”yaelaaaaah, Abbi doang. Biasa aja kali.” jawab Dani malas.
”Aaaaah, nggak bisa biasa, Dan. Udah dua tahun gue ga liat dia, gimana caranya gue biasa aja?” Naya lalu menarik Dani duduk di salah satu bangku di lapangan sekolahnya. Ia berusaha menikmati acara internal sekolah, yang memang diadakan setiap tahunnya untuk memeriahkan ulangtahun yayasan.
”Nay, Abbi, Nay!” seru Dani menunjuk serombongan cowok yang lewat tidak jauh dari tempat mereka duduk.
”Mampus gue!” seru Naya panik. Dengan bodohnya, Naya menarik Dani berjalan menyamping. Ia berharap Abbi tidak melihatnya kali ini. Setelah dirasanya aman, Naya menarik Dani berlari menjauhi lapangan olahraga sekolah.

---

Koridor belakang sekolah lantai 2, 2007. 

Sore ini langit sudah berubah menjadi jingga. Padahal, jam masih menunjukkan pukul lima sore. Abbi sudah berdiri memandang ke arah luar sekolah. Angin hari itu sejuk sekali. Naya berjalan ragu menghampiri Abbi. Abbi mengajaknya berbicara di koridor sore itu. Hanya berdua. Entah berapa kali diulangnya pesan itu. Semalam di telepon, pagi tadi saat baru datang di sekolah, bahkan sore tadi saat pulang sekolah, Abbi mengirim sms untuknya. ”Nay, nanti di koridor yaa.” begitu pesannya.
”Bi..” Sapa Naya pelan. Abbi tidak menoleh. Ia masih asyik memandangi sore itu.
”Kamu tau nggak? Kalo lagi disini sore-sore tuh aku ngerasa kaya lagi di Bandung. Langitnya biru tanpa gedung, anginnya enak, bunga yang disitu juga cantik. Makanya, tempat ini aku kasih nama Bandung” ujarnya tiba-tiba sambil menunjuk bunga berwarna merah muda di halaman di bawah sana.
Naya masih diam. Ia bingung hendak membalas apa dari kata-kata Abbi tadi. Begitu juga dengan Abbi. Ia masih asyik dengan sore itu, dan ’Bandung-nya’.
”Jadi, Bi...” ujar Naya terbata.
”Nay...” Abbi menyela Naya. Ia memegang tangan Naya lembut. Namun tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya sesudah itu.
”Nay...” sekali lagi Abbi menyebut nama itu. Lalu sejurus kemudian keluarlah semua yang ia pendam selama ini. Tentang ia saat melihat Naya untuk kali pertama, tentang caranya berkenalan dengan Naya, tentangnya yang menyukai Naya, dan juga tentang dia yang sayang pada Naya.
”Jadi, Nay. Kamu mau nggak jadi cewek aku....” tanyanya pelan.
”Emm cewek apa dulu nih?” Naya balas bertanya. Sedikit menggodanya.
”Jadi cewek yang aku sayang.” jawab Abbi mantap. Dan anggukan Naya setelah pertanyaan itu mampu menjawab semuanya.
”4 Oktober 2007, I got my first love.” Ujar Naya dalam hati.

Koridor belakang sekolah lantai 2, 2012.

Naya, hanya terdiam memandangi semuanya. Dani yang menemaninya juga hanya bisa diam. Tak sedikitpun ia ingin mengusik Naya. Ia tau, kali ini yang Naya butuhkan hanya diam. Ia lalu duduk di balik tembok besar dekat koridor itu. Naya masih memandangi pemandangan indah sore itu. Ia membiarkan angina-angin menyapu wajahnya. Membiarkan rambutnya terbang, sambil memejamkan matanya. Ia hanya ingin mengingat tempat itu. Dan ia hanya ingin mengenang ceritanya. Tak lebih.
Namun kemudian, suara rebut segerombolan laki-laki mengusiknya. Naya membuka matanya, ia lalu menoleh ke ujung koridor itu. Gerombolan laki-laki itu ternyata Abbi dan teman-temannya. Sesaat mereka berhenti. Lalu semuanya seakan ikut berhenti. Untuk Naya, Abbi, dan untuk yang lainnya.
Naya bergeser dari tempatnya berdiri. Ia memandang ke arah Abbi dan kawan-kawannya. Abbi masih mematung disitu. Kawan-kawannya tampaknya mengerti. Mereka lalu meninggalkan Abbi sendiri.
Sejurus kemudian, Abbi menghampiri Naya.
”Nay, kamu sendirian?” tanyanya lembut. Masih sama seperti dulu ia menyapa Naya. Tangannya mengulurkan jabat.
”Emm, enggak kok. Tadi sama anak-anak juga.” jawab Naya terbata sambil membalas uluran tangan Abbi. Sekilas ia melirik tempat persembunyian Dani.
”Oooh.. Emm, kamu apa kabar, Nay?” tanyanya lagi.
”Baik, Bi. Kamu?”
”Baik juga kok. Hhaha.” jelas mereka berdua salah tingkah. Kemudian mereka terdiam tanpa pembicaraan.
”Emm, yaudah deh, Nay. Aku duluan yaa.”
”Oh iya.. Daah, Bi.” ujar Naya tersipu. Lalu kemudian Abbi pergi. Entah kapan Naya akan bertemu dengannya lagi.

---

Mobil Tita

”Nay, lo tadi ketemu Abbi?” tanya Tita penasaran.
“Lo tau darimana, Ta?” Naya balas bertanya heran.
“Ih bete deh. Kok lo ngga cerita sama gue?”
“Hahaha, sorry deh, Ta. Gue juga masih shock. Nggak nyangka gue.”
“Aaaah asyik bangeeeet. Gimana, Nay? Gimana, gimana?” tanyanya bersemangat.
“Yaaa nggak gimana-gimana, Ta. Gitu doang.” Jawab Naya pelan.
“Gitu doang gimana? Aiiih, bisa balikan dong nih? Hahaha. Gila, Nay. Empat tahun lo nungguin dia, ini kesempatan lo.” seru Tita.
”Emmm, kayaknya dia udah nggak suka lagi deh, Ta sama gue.”
”Hah? Yaaaah, kok gitu, Nay?” Naya hanya mengangkat bahunya. Lalu perjalanan kali itu pun berlangsung sepi.

---

Salah satu warung roti bakar di sudut Jakarta

Abbi sedang asyik merokok, sementara teman-temannya sibuk makan.
”Cieee ada yang galau.” goda Rafli sambil melempar tissue ke arah Abbi.
”Ah, sialan lo.” ujar Abbi kesal.
“Jadi lo gimana, men, sama Naya?” ujar Robby sambil merangkul pundak
“Ck!” ujar Abbi sambil menjauhkan tangan Robby.
”yeee, serius, Bi.” seru Rafli.
”Tau deh. Kayaknya dia udah nggak suka lagi sama gue.” jawab Abbi getir. Abbi lalu mengeluarkan handphonenya dari sakunya. Ia lalu membuka kuncinya dan memandangi wallpaper hapenya. Fotonya bersama Naya sewaktu SMA.

---

Cinta.
Sebuah rasa yang harusnya dapat diterima oleh semua insan. Bagaimanapun bentuknya, cinta harusnya mampu diterima oleh semua. Sebuah lagu mengalun, tepat di liriknya. "When you love someone, just be brave to say that you want him to be with you." Kita seharusnya bercerita tentang cinta. Tentang rasa yang selama ini ada. Karena, ketika kita memilih untuk diam dan menyimpannya, bisa jadi kita baru saja melewatkan satu kesempatan bersamanya. Ketika kita memilih untuk diam dan menyimpannya, ia takkan pernah tau rasa itu. Bisa jadi, ternyata ia punya rasa yang sama untuk kita. Maka, cobalah untuk satu kesempatan dalam hidupmu. Beri tau ia tentang rasa itu. Karena kamu tidak akan pernah tau, kalau ternyata bisa saja kalian bersatu.

Tamat.


P.S: Found this old story and i was like bhuahahahaha, ngakak men! Emang paling enak ya kalo bisa ngetawain masa lalu. Karena itu mungkin sama aja kita udah berdamai dengannya. :')

Kamis, 16 Januari 2014

Puisi Kami

sebelum lo ngerasa kecewa sama judul note ini, ada baiknya kalo gue ngingetin lo semua bahwa ini adalah joke dapur yang mungkin bakal jadi garing kalo lo ga tau-tau banget akar masalahnya.

well, if you dare to continue, I hope you like it. just like how I love this one. :p

*nahan ketawa dulu sambil inget kejadian benerannya*

Ini adalah sebuah puisi, yang gue bikin bareng salah satu temen gue, namanya gembel. waktu puisi ini dibikin, kita emang dalam keadaan galau luar biasa. jadi waktu itu ceritanya gue lagi curhat sama gembel dan minta dihibur. untung kita berdua orangnya kreatif dan baik hati. so, here it goes...

Ketika matahari mulai tenggelam..
Dan telettubies berpamitan..
Tapi semua berubah..
Ketika negara api menyerang

dan tomcat mulai menyerang..
dan menggerogoti hati ini 
dan menimbulkan luka, 
yang hanya mampu disembuhkan di taman mini.

biarkan, biar luka ini merekah,
biar sedih menyepi
seperti kaos itu katakan, true love waits

ya, true love waits.
seperti aku yang menunggu kamu 
lama, sampai aku lupa segalanya
hingga akhirnya aku tersadar oleh koor kawan-kawan
yang menyanyikan lagu
"Tapi Bukan Aku"

bukan aku, memang bukan
ketika kau memanggilku,
terasa kau hadir di sisiku
Ah, aku salah terka, aku salah mengira 
Itu semua hanya fatamorgana
Ya, fatamorgana, seperti oasis di padang pasir

"ku harus pergi meninggalkan kamu, yang telah hancurkan aku"
Lirik lagu itu jauh masuk ke otakku
Berhenti darah pada alirannya,
juga jantung pada detaknya
Aku tau, aku bukan untukmu.

Aku tuli.
Orang berkata tak ku indahi. 
Aku buta.
Orang melihat tak ku peduli.
Mengharap mimpi menjadi nyata.
Mengharap rasa kan bertemu dengan temannya.
Aku bodoh.
Aku tau aku yang ceroboh.
Ternyata kau masa bodoh.
Ah, sudahlah broh.

tenang.
Semua pernah tuli.
Semua mungkin akan buta.
Dan wajar kalau kelak semua akan menjadi bodoh.


Yang warna aqua itu tulisannya Gembel, kalo yang warna pink itu tulisan gue, soalnya gue kan power ranger pink banget. :3

Senin, 13 Januari 2014

Mimpi Yang Disadari.

Box chat whatsapp, akhir 2011.

Gue : "Bels, kapan-kapan ke luar negeri yuk!"
Gembel : "Yuk, Jems! Gue pengen overseas nih."
Gue : "Overseas apaan sih, Bels?"
Gembel : "Kerja di luar negeri."
Gue : "Oooh... Yaudah, nggak usah jauh-jauh deh, Bels. Singapur aja dulu, biar kayak orang-orang."
Gembel : "Aamiin..."

---

Stadion Utama Gelora Bung Karno, April 2012
Live friendly match Indonesia vs Inter Milan

Gue : "Aduh, gue makasih yang luar biasa deh buat lo berdua mau nemenin gue kesini. Gue bisa liat Zanetti langsung setelah sekian tahuuuun.."
Galih : "Yoi, kan? Ya walau terpaksa siiih. Apa sih yang engga, Jem, buat lo."
Gembel nggak ngomong apa-apa, cuma mulutnya aja yang dari tadi ngomong merda merda tanpa berbunyi sedikit pun. Maklum, Gembel ini fans Juventus garis keras.

Gue : "Eh eeeeh, foto yuuuuk!"
Akhirnya kita foto bertiga lah disitu. Tapi sayang, hasil fotonya jelek :(
Galih : "Eh, foto kakinya aja deh. Gue pernah nonton di NatGeo Adventure ada orang yang jalan-jalan kemana-mana, tapi dia fotonya cuma kakinya doang di semua tempat. Keren deh."
Kami bertiga pun merapatkan kaki kami dan gue foto dengan latar lapangan hijau GBK.
Gue : "Kalo nanti Arsenal atau Juve ke Indonesia, gue mau kok nemenin kalian nonton kalo kalian minta. Gue seneng banget soalnyaa. Atau malah semoga aja bisa nonton langsung di London atau Turin. Overseas ya nggak, Bels?"
Gembel : "Yoi. Gue mau nonton langsung ke Turin."
Gue : "Yaudah, nanti ke Emirates dulu, terus ke Old Trafford, terus ke Giuseppe Meazza baru deh ke Turin."
Galih dan Gembel : "Aamiiiiiin.."

---

Kostan Desio, Solo, awal 2014

Randy : "Gila! Kurang princess apalagi coba lo, Ay, ampe dianter ke Solo."
Gue : "Yaudah lah yaaa.. Itung-itung jenguk Desio. Empat tahun kuliah nggak pernah disambangin

Awal 2014 ini gue kembali lagi ke Solo buat lanjutin kuliah setelah kemarin libur sekitar satu bulan. Dan yang spesial dari kuliah kali ini adalah gue ke Solo dianter sama temen-temen yang kebetulan ngidam banget mau liburan. Kebetulan, karena Desio sekarang udah jadi penguasa kostan Bu Ida, jadi untuk sementara teman-teman ditampung di sini. Dari lima kamar yang tersedia, terdapat empat kamar kosong untuk dipinjam anak-anak selama dua malam. Maka, inilah kami. Gue, Desio, Randy, Gembel, Pandu, dan Galih yang akhirnya mau ikut setelah kita jemput paksa dari kostan-nya.

Malam ini entah kenapa pembahasan kita lagi menarik dan agak berkualitas. Kita lagi ngebahas free trade regions yang gosipnya bakal diadain tahun 2015, which is itu tahun depan. Terus kita jadi memotivasi diri kita supaya harus lebih baik lagi, soalnya nanti saingan kita bukan cuma orang Indonesia, tapi juga orang-orang ASEAN, India sama China. Pokoknya kita nggak boleh kalah dari mereka! Dan pada akhirnya, obrolan soal perdagangan bebas tadi diakhiri dengan omongan kita yang mulai jenuh, kok hidup gini-gini aja dan disini-sini aja. Dari situ kita cuma asal ngomong kali aja nanti kita bisa keluar negeri, nemu hidup baru.

---
Kamar flat Ayunnisa, medio 2016

"Gue ke London dua minggu lagi, bokap nyokapnya cowok gue mau kesana. Sekalian ketemuan yaaa." ketik gue di box Line dan langsung gue send.
Gue terus lanjut skype-an sama pacar yang kuliah di Birmingham sekalian ngurusin itinerary buat minggu dua minggu lagi. Habis itu gue ketiduran.

---
Besoknya, malam minggu, di dapur flat.

Notification hape gue bunyi. Isinya grup switching.
Anggi : "Jems, lo mau ke London?"
Gue : "Iya, Jek, ibu dua dateng." Ibu dua adalah nama panggilan gue buat mamanya pacar gue.
Anggi : "Ikut dong!"
Gue : "Udah urus visa belum?"
Anggi : "Selow."

---
London, summer 2016.

Rencana perjalanan gue yang awalnya direct Amsterdam-London-Amsterdam sekarang jadi berubah.
Setelah puas dua hari temu kangen sama pacar dan keluarganya, plus anak-anak switching, (ya, sama anak switching) gue pun memutuskan untuk liburan.
Liburan kita kali ini agak ribet, karena ini summer dan bertepatan sama Euro. Dan karena kita nge-plan buat ke Prancis, jadilah kita ikut tumplek di antara manusia-manusia sepakbola itu. Untungnya kita juga suka sepakbola, jadi kita tentunya tetap menikmati euforia itu. Tapi walaupun ribet banget, ternyata emang udah rejeki kita buat liburan kali ini. Simple sih tujuan utama kita kali ini. Kita cuma mau foto di depan stadion-stadion tim kesayangan kita. :')

Tunggu dulu..
Gue harus ngejelasin liburan kali ini. Jadi, dari awalnya tujuan gue adalah menemui orangtua pacar gue yang lagi nengokin pacar gue di London berubah jadi gue ketemu orangtua pacar gue sekalian pacaran terus ketemuan sama Gembel dan Galih ditemenin Anggi yang emang udah mimpi banget ke Emirates plus Pandu yang emang mau ikut plus Sangga yang kangen juga sama temen deketnya, pacar gue.
Pusing kan? Yasudahlah.
Akhirnya, Sangga yang kuliah di Munich nyamperin gue, Anggi, dan Pandu ke Belanda. Dari Amsterdam, kita naik Eurolines ke London. Di London, gue sempet tinggal di flat pacar gue satu malam sebelum akhirnya gue sama pacar gabung di flat Gembel-Galih yang emang share, bareng anak-anak. Awalnya kita cuma mau jalan-jalan di Inggris aja. Cuma di London bahkan. Tapi entah kenapa, kita jadi ke Manchester, foto di depan Old Trafford, stadion tim favorit gue sama Ndau. Terus kita ke Edensor napak tilas Andrea Hirata. Tapi mostly kita habisin sekitar 3 hari di Inggris di London. Cuma foto-foto doang sih kebanyakan, tapi udah bersyukur banget.
Tapi mungkin emang udah rejekinya, besoknya kita lanjut ke Paris yang crowded banget sama orang-orang yang sibuk sama euforia Euro. Kita disitu cuma satu hari, cuma foto-foto doang. Dari Paris kita niatnya mau langsung ke Jerman demi efisiensi. Tapi entah kenapa, waktu itu kita terpacu buat ke Barcelona. Anggi jelas jadi orang yang paling semangat buat kesana. Nah, dari Barcelona kita nekat jebol dompet buat terbang ke Roma, demi mewujudkan cita-cita Gembel buat ke Turin. Di Italia kita juga mampir ke Milan tentunya. Terus kita ke Berlin buat mulangin Sangga sebelum ke Amsterdam buat mulangin gue, Anggi, dan Pandu. Dan terakhir, Gembel, Galih dan pacar gue pulang lagi ke London.
Sebenernya trip kita kali ini nggak mendadak banget sih. Kita emang udah nyiapin visa dan itinerary lain yang dibuttuhin dan tentunya juga uang buat liburan. Yang nggak kita duga adalah kita bisa liburan ke beberapa negara dengan modal nekat dan ngejebol dompet. Tapi namanya hidup, belum tentu kita dikasih kesempatan dua kali, bukan?

Oh ya. Tentang kami yang tiba-tiba bisa ada di Eropa, mungkin inilah jawaban Tuhan akan kata-kata kami. Gue selalu ingat quote-nya Leo Tolstoy, "Tuhan tahu, tapi menunggu." Dan kalo ada yang bilang doa yang tulus justru keluar pada kata-kata main-main, ya mungkin inilah jawabannya.
Gue yang emang pengen banget ke Belanda akhirnya bisa ambil S2 jurusan media disana. Dan ternyata Anggi sama Pandu juga ambil master disana. Sangga, yang awalnya mau ke Berkeley, entah kenapa nyasar ke Berlin. Galih, berhasil dapetin beasiswa ke Inggris sebagai syarat kalau mau macarin pujaan hatinya semasa kuliah di UI. Gembel sendiri bisa ke London karena iseng nge-apply job disini yang seliweran di forum alumni sekolah kita. Jadilah kita kumpul di barat Eropa.

Tuhan tahu, tapi menunggu - Leo Tolstoy


{Ini sebenernya cerita tentang gue gatau mimpi atau gue ngebayangin randomly sekitar habis subuh-an tadi. Di mimpi gue itu sih sebenernya ceritanya lebih nggak jelas. Kayak cuma ngomong-ngomong aja. Tapi disini gue tambahin dikit deh, walaupun masih ngga jelas juga. Yasudahlah yaa, aminin aja. Siapa tau beneran kejadian. :') }

Minggu, 20 Februari 2011

Makaroni Panggang

Makaroni Panggang!
Sebenernya makaroni panggang itu adalah nama makanan, entah asal Italia atau Bogor, gue ngga ngerti. Jadi itu tuh kaya makaroni schotel gitu, makaroni dicampur susu dikasih daging, jamur sama keju terus di panggang, dan rasanya alamakjang ENAK ABIS!
Ya, makaroni panggang itu salah satu makanan favorit gue. Pertama kali gue liat makanan itu dari Wisata Kuliner di Trans TV. Gue liat Pak Bondan Mak Nyuss asik banget makannya. Gue pengen banget nyobain makanan itu, tapi sayang tempatnya jauh banget di Bogor.
Sampe akhirnya, someday, gue ke Bogor sama keluarga gue dan gue minta makan disana. Setelah lukit-lukit di internet, dapetlah lokasinya. Langsung deh berangcut kesono. Dan pas gue cobain, emang rasanya enak banget.
Sekitar beberapa bulan yang lalu, gue berencana pergi ke Bogor bareng temen-temen SMA gue. Dan gue ajak mereka makan disana, dengan catatan kita mau ditraktir si Gembel. Maka jadilah kita berempat makan disitu.
Sekarang, makaroni panggang lagi diwacanain bakal jadi nama buat geng yang gue bikin di Facebook. Awalnya, karena gue ga punya ide kreatif buat namain geng itu, jadi gue tulis aja namanya Geng Gahoel on Cyber. Atas saran Galih, dengan mempertimbangkan unsur-unsur terkait di dalamnya, dia mewacanakan nama makaroni panggang buat jadi nama geng cyber itu.
Nama makaroni panggang sendiri emang punya sejarah buat kita. Gue juga bingung ngejelasinnya gimana, soalnya gue rada lupa, tapi intinya emang yaa makaroni panggang itu emang special lah buat kita (apalagi buat gue).
Gue, gembel sama galih juga pernah buat ID kaskus dengan nama makronipanggang, tapi karena ga cukup jadi namanya diganti jadi makaronipangang. Gue pernah bikin satu thread yang males buat gue terusin disitu. Jadinya, palingan ID itu dipake mereka berdua buat klonengan ID-nya.
Gue, sebenernya pengen sih nama geng cyber itu diganti jadi makaroni panggang, tapi kan Azis waktu itu ngga ikut ke Bogor, jadi menurut gue agak kurang aja.
Tapiii, sejauh ini juga gue ga tau nama yang asik buat nama geng cyber kita.
Sebenernya, gue mau ngusulin nama geng itu diganti jadi Gaza. Singkatan dari nama kita semua : Gembel, Galih, Azis, Ayu. Yo'i ga sih? Keren kan? Selain karena dari singkatan nama-nama kita, menurut gue keren aja gitu nama Gaza. Kan kesannya kita kaya aktivis Palestina gitu :p
Yah, ga tau deh nasib geng ini nantinya akan bernama apa, tapi yang pasti I'm craving macaroni panggang so much now!

Masa-masa SMA :')

malam itu di sekolah, mereka ngobrol lagi, ketawa-tawa lagi, berfilosofi lagi, di bawah kuningnya cahaya seadanya di tempat yang pernah mempertemukan mereka melewati usia tujuh belas. Kala semuanya belum ada yang hitam, bagi mereka semuanya hanya putih-seputih tingkah polos mereka yang baru bisa melihat apa saja yang baru. Dunia seabu-abu seragam mereka yang tidak bisa dibilang hitam karena mereka baru saja melihat dan mengenal sesuatu yang menentukan akan ke mana mereka di bawa. Bukan oleh orang lain tapi oleh diri mereka sendiri.
-donny dhirgantoro, 5cm-

quote yang bagus menurut gw..
yahh,, sekolah tempat kita ketemu,, kenalan,, temenan,, belajar,, becanda,, berantem dan banyak lagi yang lain..

untuk semua hal yang pernah kita lakuin disitu..

ga ada yang salah,, karena disitu kita semua belajar,, belajar hal-hal baru.. belajar sesuatu yang belum pernah kita tau..

untuk bekal nanti?? tentu aja!! bekal yang kita siapin sendiri,, bukan disiapin nyokap atopun pembantu (kalo masih ada yg kaya gtu!)

untuk penunjuk arah?? tentu juga!! arah mana yang bakal kita tuju..

kalo begitu sma (ato smk kaya gw) adalah pijakan?? ya,, pijakan awal saat kita mau lompat jauh (yang prakteknya gw ikut susulan karna ga bawa baju)..

jadi kalo ada yang nganggep masa sma lo sia2 (kaya gw!)..
kita semua salah guys..
ga ada yang sia2 dari masa2 kita ini..
kalopun ada yang sia2,, itu adalah penyesalan atas pilihan tindakan kita..
kenapa sia2?? karna dengan menyesal kita seolah ingin kembali ke masa lalu dan tidak memilih apa yang telah kita pilih saat itu,, sementara waktu ga akan pernah kembali..

so enjoy ur high school guys!!

tulisan ini gw buat karna udah sebulan gw libur dan akan libur dua minggu lagi,, and im schoolsick.. kangen capenya sekolah,, kangen berisiknya sekolah,, kangen seru-serunya sekolah,, kangen semuanya deh..
gw aja udah schoolsick apalagi anak2 kelas tiga yang baru lulus yah..

yah untuk apapun itu,, gw berterima kasih sekali buat telkom spj karna udah ngasih gw temen-temen ajaib gw!!