🤴: "Lo inget, waktu kemarin kita ketemu di Sushi Tei pas gue jalan sama mantan gue?"
👸: "Iya, kenapa emangnya?"
🤴: "Gue ga ngerti kenapa, tapi waktu itu gue ngerasa kayak kegep lagi selingkuh. Gue ga enak sama lo karena lo ngeliat gue jalan sama mantan gue."
👸: "Nggak enak gimana?"
🤴: "Nggak ngerti, gue nggak mau lo mikir yang aneh-aneh aja waktu itu, dan gue pengen banget ngejelasin ke lo kalo gue cuma jalan biasa aja, nggak ada apa-apa lagi sama mantan gue itu!
👸:"... "
🤴: "Maaf, ya."
👸: "Lho, kenapa minta maaf? Gapapa kali, kita juga nggak ada apa-apa kan?"
🤴: "...."
👸: "..."
🤴: "Atau... Gue ngerasa kayak gini emang karena kita ada apa-apa?"
Kamis, 15 Maret 2018
Ada Apa-Apa
Sabtu, 05 Agustus 2017
7 Hari Menulis - Hari Ke-Empat
Tentang Tujuh Hal yang Membuatku Jatuh Cinta
Tuan, sebenarnya tak banyak yang membuatku jatuh cinta
Pertama, aku jatuh cinta pada punggungmu. Pada saat pertama kali mata ini tak sengaja menjatuhkan pandangannya pada Tuan, yang kulihat bagian punggungnya. Tuan, aku bahkan masih ingat engkau berbaju hitam kala itu, terduduk menunggu di ruang tamu.
Yang kedua, aku jatuh cinta pada saat engkau menjadi imam sholat untukku. Dulu, waktu sholat selalu bertambah jadi menyenangkan jika engkau menjadi imamku. Kelak aku tahu bahwa ini bukan hal yang benar. Kata kawan, tidak dibenarkan dua orang yang bukan muhrim berjamaah berdua sahaja. Kemudian saat aku merenung aku sadar bahwa dalam beberapa hal ia benar. Aku sering tak khusyuk jika berjamaah denganmu.
Yang ketiga, aku jatuh cinta pada Tuan yang berjiwa tenang. Berkebalikan dariku yang reaktif, melihat Tuan seperti melihat air di danau. Kecil riaknya. Tuan mampu menjaga emosi ketika bereaksi, dan aku jatuh cinta akan hal itu.
Yang keempat, ketika Tuan tahu kemana akan melangkah. Membuatku merasa aku berjalan dengan orang yang tepat. Kata orang, jika melakukan perjalanan, bukan dengan apa yang menjadi penting, tapi dengan siapa kita berjalan. Dengan Tuan, aku percaya semua akan jadi baik.
Yang kelima, aku jatuh cinta dengan cara pandang Tuan yang seringkali seirama denganku. Jika aku berkata A, pun dengan Tuan. Jika Tuan berkata B, aku akan mengangguk mengiyakan.
Yang keenam, aku jatuh cinta dengan jiwa petualang Tuan. Yang tidak hanya dengan melakukan perjalanan, Tuan juga bertualang ke jiwa-jiwa sekitar Tuan. Dari mulut Tuan, aku akan menemukan banyak cerita, yang membuatku merasa seakan Tuan mengajakku untuk menjelajah, menyusuri cerita-cerita Tuan, dan aku menikmatinya.
Yang ketujuh, dan ku harap ini bukan yang terakhir. Aku ingin Tuan memberiku dua juta alasan lain untuk membuatku jatuh cinta. Karena pada akhirnya, aku harus menyerah mengaku pada diriku, bagaimanapun Tuan, aku jatuh cinta pada Tuan. Dan aku tak peduli jika rasa jatuh cinta ini tak beralasan.
Jumat, 07 Juli 2017
Punggung
"Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta
namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja..seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai masa..
sebelum tangan ini sanggup mengejar seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan atau hujan."
Itu tadi kutipan ucapan Al dalam cerita Hanya Isyarat dalam film omnibus Rectoverso. Cerita ini, jadi cerita favorit saya dalam film yang disadur dari novel Dewi Lestari dengan judul yang sama.
Pertama, karena ceritanya hampir sama kayak cerita saya. Kedua, karena saya suka sekali sama Hamish Daud. Ketiga saya juga sama suara Al (oke, nggak penting, tapi saya suka perempuan bersuara berat seperti Al).
Saya, selama ini punya kecenderungan untuk suka dengan laki-laki yang sudah jelas (eh, nggak tau juga sih, tapi sejauh ini selalu begitu) nggak mau sama saya. Walaupun mungkin aja mereka nggak suka sama saya karena itu 'saya', tapi yang lebih pasti sih karena mereka nggak mau pacaran. Terhitung dari 2008 sejak saya putus sama pacar pertama saya, sampai sekarang 2017, saya selalu suka sama laki-laki yang memilih untuk nggak pacaran. Nggak tau kenapa. Kalau kata teman saya sih, perempuan biasanya suka sama cowok-cowok kayak gini karena mereka bikin penasaran dan challenging. Saya juga nggak tau kenapa sih, tapi awalnya saya suka sama cowok-cowok kayak gini karena mereka agamanya baik. Yaaa gini-gini juga saya mau banget diimamin sama laki-laki baik.
Btw, kata temen saya, sebenernya beberapa dari orang yang kayak gini tuh sebenernya munafik. Intinya sih emang belum ketemu orang yang dia suka aja.
Nanti juga kalau udah ketemu, yaa dia deketin juga. Nggak bilang pacaran sih, tapi dideketin kayak orang pacaran, tapi kalo dicengin bilangnya enggak.
Saya sih setuju nggak setuju, soalnya dia bilang kan beberapa, nggak menggeneralisir. Beberapa memang gitu, dan saya juga termasuk orang yang suka ngecengin dan kadang-kadang nyinyir orang-orang yang sok bilang nggak pacaran, tapi chattingan nonstop bahkan telfonan. Tapi yang lain emang saya akui hebat sih, commit buat nggak pacaran dan melalui proses taaruf yang HQQ. Misalnya, yang pakai perantara dilamar sama keluarga atau ustadz/guru mereka, yang walaupun belum kenal, mereka percaya akan konsep jodoh, dan lebih percaya akan takdir Tuhan daripada 'usaha' manusia.
Umm.. Sebenernya saya juga nggak tau kalau laki-laki yang selama ini saya suka itu termasuk dari golongan yang pertama atau yang kedua dari yang saya sebut barusan. Tapi intinya saya nganggep mereka 'baik'.
Kata temen saya, saya seharusnya jujur dan bilang ke laki-laki yang saya suka itu kalau saya suka sama dia. Toh, alasannya logis, dan memang suka yang bukan semata jatuh cinta.
Tapi, siapa yang mau menyatakan cinta yang jelas-jelas nggak dibalas, saya bilang. Si temen saya itu justru nanya balik, tau darimana nggak dibalas. Ya kan keliatan yaaa orang tertarik atau enggak. Lagian nih kalau saya liat-liat, kayaknya si laki-laki yang saya suka ini ngeliat saya dari sisi yang lain, yang nggak memungkinkan dia buat naksir balik sama saya.
Selain itu, walaupun saya selalu suka sama laki-laki kayak gini, tapi saya sampai sekarang juga sadar, saya belum bisa ada di level cewek-cewek yang mungkin disuka sama cowok ini. Saya suka minder. Mana mau dia sama perempuan hina, nista macam saya. Oke, lebay sih. Tapi kadang suka kepikiran gitu juga. 😂
Nah selain itu. Karena saya suka sama cowok ini karena mereka cenderung paham dan menjalankan apa-apa yang mereka yakini, saya justru jadi suka sama mereka karena mereka istiqomah ngejalaninnya. Saya justru kecewa dan nggak suka, kalau mereka termasuk jadi bagian orang-orang 'munafik' tadi, bahkan mungkin termasuk jika itu sama saya. Makanya saya lebih milih buat 'lihat dari jauh'.
Jodoh syukur, nggak jodoh yaudah. Nasib.
Cetek banget nggak sih pemikiran saya? Kadang saya suka ngerasa ini absurd dan nggak penting. Tapi gimana dong?
Mengenai punggung, saya jadi ingat, laki-laki yang saya suka saat ini, justru saya suka saat pertama kali melihat dia yang kebetulan saya lihat punggungnya.
Dan kebetulan lagi, si laki-laki ini juga penganut paham anti pacaran karena agama. Sedih nggak sih.
Kamis, 25 Mei 2017
Percakapan Tentang Masa Depan
"Sebenernya rencana kamu ke depan apa sih, mas?" tanyanya dengan nada yang sedikit tinggi.
Topik pembicaraan ini sebetulnya sudah belakangan ini mengisi percakapan kami berdua. Tentang ia yang mempertanyakan rencana masa depanku, kami lebih tepatnya. Sementara aku, sejuta kali ia tanyakan hal serupa, sejuta kali juga aku belum bisa menjawabnya.
Aku paham ia mulai geram. Kami ada di usia yang sudah layak untuk maju ke tahap selanjutnya, apalagi untuk perempuan sepertinya. Entahlah, aku tidak bisa menjawabnya dengan kata ya atau tidak.
Jangan salah, bukan tak ingin, sudah cukup lama aku merasa mantap ia cocok menjadi ibu dari anak-anakku dan teman hidup saat menua nanti. Tapi, ada juga hal-hal yang kurasa cukup memberatkan untuk diriku pribadi.
Dan itu yang menjadi pokok masalahnya. Ia kesal karena ia tak mengerti apa hal yang memberatkan itu. Dan sayangnya, bukan hanya ia, aku pun tak mengerti hal apa itu.
"Aku bosan dan sudah risih sebenarnya nanya hal yang sama ke kamu beribu kali. Tapi aku juga butuh jawaban yang lebih pasti, bukan cuma 'nanti' atau yang lain." Katanya mulai melunak. Ku baca raut air mukanya. Aku tahu ini sudah puncaknya, disentil sedikit menangis dia. Aku hanya terdiam, menunduk, dan menjadi pengecut yang bahkan tak berani untuk sekedar menatap wajahnya yang bertanya-tanya.
Sebetulnya bukan hanya dia, aku pun kesal pada diriku sendiri yang selalu terlalu lemah seperti ini setiap kali ia membahas masa depan kami.
"Aku tahu, Mas, ini bukan tentang kamu sayang atau enggak sama aku. Ini tentang berani atau enggaknya kamu mengambil keputusan yang paling penting dalam hidup kamu," katanya sambil sekilas ku lirik wajahnya.
"Keputusan yang paling penting untuk sisa hidupmu nanti." Tambahnya.
Kami terdiam sejenak, dengan kepala yang mulai panas karena terlalu pusing.
"Atau kamu belum juga yakin sama aku?" Tanyanya memecah keheningan itu, sekaligus pertahananku dalam 20 menit kami berdua di kamar kosku.
Emosiku mulai terpancing, dan sekarang bukan cuma kepala tapi hatiku juga mulai panas. Bagaimana bisa ia bertanya seperti itu.
Ku tatap ia lekat-lekat walau heran. Aku sadar tatapanku menajam, dan itu cukup untuk membuatnya menyesal berucap seperti tadi.
Adinda, percayalah, bukan hanya kamu yang memikirkan hal ini. Bukan hanya kamu yang sedih saat ini. Melihat matamu yang mulai basah membuat hatiku makin tertusuk. Ku akui, kali ini semuanya memang tentang salahku.
Tentang aku yang sekali lagi, terlalu pengecut karena tak berani melangkah maju, dan tentangku yang terlalu egois karena selalu menahanmu.
Aku mengenalmu Adinda, dan segala yang kutahu tentang dirimu sudah cukup membuatku percaya bahwa masa depanku indah denganmu. Kamu, perempuan kuat, mandiri, dan berani. Cerdas, sederhana, dan baik hati. Semuanya melengkapi apa-apa yang tidak padaku, begitu pun aku untukmu. Aku yakin bahwa kamu akan menjadi penyangga dan penyeimbangku. Tapi...
"Apa aku terlalu egois, Mas, hingga hanya aku yang memikirkan sendiri? Atau... " kata-katanya terhenti.
"Bukan itu, Dinda. Bukan salahmu bertanya akan hal itu. Hanya saja.." kataku akhirnya bersuara. Aku berhenti sejenak, memikirkan kata-kata apa yang ingin ku keluarkan.
"Aku belum bisa." Lanjutku sambil memalingkan wajah ke arah lain, tak ingin ku lihat raut mukanya.
"Jadi?" tanyanya, air mata menggantung di pelupuknya.
"Pilihannya hanya menunggu atau.."
"Sampai kapan? Atau apa?" tanyanya memburu. Aku menggeleng.
"Atau memang kalau kamu mau, kamu bisa pergi dari aku." Kataku, yang bahkan aku sendiri tak mengerti mengapa terucap dari mulutku. Ia hanya terdiam, pupil matanya membesar. Jelas, yang barusan bukan apa yang ia bayangkan sebelumnya. Air matanya menetes pelan. Tangisnya tak bersuara, tapi ku lihat punggungnya berguncang. Tak sampai hati ku lihat ini. Aku sayang perempuan ini. Yang justru menyakitkanku adalah fakta bahwa akulah sebab jatuhnya air mata itu.
"Dinda, aku butuh kamu percaya kalau aku sayang kamu. Dan apa yang kamu mau, juga jadi tujuanku. Tapi masih ada beberapa hal yang perlu aku tuju." Saat mengatakan hal itu, dapat ku rasakan dadaku bergemuruh, mungkin marah walau tak tahu apa yang membuatnya marah.
Ku genggam tangannya, ia diam saja masih larut dalam tangisnya yang tak bersuara. "Yang kita butuhkan saat ini hanya waktu, Dinda. Sedikiiiit saja, aku ingin kamu menunggu. Tapi kalau memang ternyata kamu buru-buru, nggak ada alasan buat aku nahan kamu." Tanpa sadar kugigit bibirku keras, menahan emosiku.
Dinda, mengangguk. Ia menghentikan tangisnya, tapi belum juga berani mengangkat wajahnya.
"Iya, mungkin memang butuh waktu." Katanya sambil menghapus air matanya. Ia membereskan barangnya, lalu bangkit meninggalkanku yang masih terdiam. Ia kemudian berlalu tanpa sama sekali menengok ke arahku. Ku kejar ia begitu tepat di depan pintu kamarku. Ku peluk ia, dan ini adalah pelukan pertamaku setelah sekian lama bersamanya.
"Maaf, Dinda." Kataku. Ia masih juga tak acuh, tapi badannya bergetar.
"Aku pergi dulu," katanya yang kali ini tak lagi bisa kutahan. Ia pergi bersama sejuta hal yang memenuhi kepala dan dadaku saat ini. Mulai dari hari pertama bersamanya, dan segala cerita di setiap detiknya, hingga hari ini.
Aku sadar membiarkannya pergi tadi bukan hanya akan menghancurkannya, tapi juga diriku sendiri dan semua impian yang selalu kuselipkan namanya di antaranya.
Adinda, aku mohon jangan pergi, walau tak bisa ku katakan jelas padamu. Temani aku, pria pengecut yang butuh kamu untuk sisa hidupku.
...
Kamar kos pukul 3.50
---
Kubaca sambil mendengar lagu Fiersa Besari berjudul Kau, Sheila On 7 Tentang Hidup, dan Float Sementara.
Senin, 06 Februari 2017
72 days
I was so scared to death. Aku nggak akan ngeliat dia lagi nanti. But nothing better than having her smile after missing it for 72 days.
She was in comma. She got hit by a motorbike, and I hate that bastard for almost loosing my love.
You know what, 72 days, equal to me missing my boyfriend's love. I lost it to another girl. I hate that bastard as well.
Fear
Ay, sebenernya lo pengen cowok yang kayak gimana, sih?
Simply, he loves me. Umm.. And of course my family.
Why?
Karena he knows what to do when he loves me. He understands me. He won't hurt me. Would you hurt the one that you love? No, rite? That's it. I don't want to be hurt anymore.
You haven't even move on from your past, Ay.
I moved. This pain turned into fear. A fear that he/she doesn't love you back when you deeply in love with him/her. And it's haunting me.
Senin, 30 Januari 2017
Gue Jatuh Cinta
Dan aku hanya tersenyum, tanpa sedikit pun merasa harus menoleh.
"Gue serius ini. Gue ga cerita ke siapapun kecuali lo." Ujarnya serius. Kali ini aku terpaksa harus melihat wajahnya, untuk meyakinkan bahwa aku juga serius mendengar kata-katanya.
"Sama siapa?" Tanyaku.
"Sama temen kantor gue!" Jawabnya antusias. Dan kali ini dapat kupastikan ia sedang jatuh cinta. Matanya berbicara. Dan aku tersenyum lebih lebar kali ini.
"How do you know?" Tanyaku lagi.
"Well, I don't know. Tapi gue tau gue jatuh cinta sama dia."
"How?" Ulangku sambil mengaduk minuman di depanku, bibirku masih tersenyum.
"I act silly. Lo tau? Gue tadi sholat dzuhur, dan gue sholat sendiri. Nggak lama, dia dateng ke mushola, sendirian juga, pas banget waktu gue salam."
"Terus?"
"Begitu ngeliat dia, gue langsung berdiri lagi terus gue tanya dia, 'Mau jamaahan? Tadi gue baru sholat sunah doang kok.' Terus dia jawab, 'boleh'."
Refleks aku tertawa mendengarnya. Terlalu polos untuk seorang 24 tahun.
"Gue tau itu goblok banget. Tapi pas selesai gue imamin dia, gue berharap itu terjadi terus lima kali setiap harinya."
Minggu, 01 Januari 2017
Karena Memang Almost tuh Selalu Never Enough
Sabtu, 10 Desember 2016
Analogi Sepatu
Ending dari sneakers hunting waktu itu adalah gue akhirnya beli sepatu yang nyokap seneng. Dengan harga 3x lipat lebih mahal dari budget dan target awal gue. Tapi setelah gue pikir-pikir yawdalahyaaaa~ gue masih bisa beli sepatu seharga 1/3 harga sepatu ini nantinya. Awalnya, gue beli atas dasar mau nyenengin nyokap gue aja.
Ternyata eh ternyata, sepatu yang gue beli dengan setengah hati itu, sekarang jadi sepatu yang gue sayang luar biasa. Sol-nya enak banget, ada bantalan empuknya gitu yang bikin kita nggak pegel kalo lagi berdiri lama (maklum anker keras hidupnya!). Kalo gue lari ngejar kereta juga sepatu ini enak banget, enteng.
Nah, sebelum sama si cewek ini, si temen gue ini sempet berencana buat deket sama seorang cewek. Cewek ini baik, dari agama sampe pribadinya insyaAllah baik dan udah layak diperistri. Sayangnya, niat buat taarufan ini justru terhalang dari orangtua si temen gue, karena satu dan lain hal. Pas gue tanya, "terus lo gimana?", si temen gue itu cuma jawab "Yaa sebenernya kecewa sih, tapi gue yakin nyokap lebih tau mana yang lebih baik buat anaknya".
Gue tiba-tiba jadi keingetan soal sepatu kesayangan gue. Waktu itu gue ga mau sama pilihan nyokap gue, bukan karena pilihan nyokap gue jelek, nggak modis, dsb. Tapi justru lebih karena sepatu itu terlalu bagus dan mahal buat gue, yang menurut gue ga affordable dan ngeliat keuangan gue yang segitu, gue lebih milih buat beli sepatu yang biasa aja. Toh sepatu yang biasa aja, asal nyaman dan warnanya putih (yang gue mau banget), udah cukup buat memenuhi kebutuhan gue 'saat itu'. Tapi setelah gue beli sepatu itu dan gue pake selama sebulan ini, gue baru sadar ini tuh something that worth to buy! Sepatu ini nggak cuma ngasih style dan nyaman, tapi nyaman banget. Plus pride! Seriusan, sepatu ini banyak yang lirik. Gue bahkan nggak nyangka sebegitunya.
Rabu, 07 Desember 2016
Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama
Saya ingat ketika kali pertama saya melihat kamu kala itu.
Melihat kamu duduk di sudut ruangan, menunggu.
Saya ingat baju yang kamu pakai saat itu.
Pun dengan sepatu yang kamu pakai saat itu.
Sekilas saya melihat punggungmu berlalu.
Saya tahu saya sudah jatuh cinta pada sosokmu.
Bahkan ketika saya belum melihat bagaimana rupamu.
Jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkin rasanya seperti itu.
Semoga kelak kita bersatu.
Sabtu, 19 November 2016
Menjadi Baik
Kalau lo adalah perempuan, bukan suatu hal yang sulit rasanya buat bisa mengidentifikasikan perempuan (lain) yang lagi jatuh cinta.
Perempuan yang lagi jatuh cinta itu gampang banget diliat sama (sayangnya, bukan sama si laki-laki yang dia suka itu) perempuan lain di sekitarnya.
Gue punya seorang temen perempuan, sebut aja namanya Mia. Belakangan ini, gue bisa dengan sangat jelas ngeliat dan ngejudge kalo Mia ini lagi jatuh cinta. Those blushing cheeks, those excitements, and so on. I just can tell that she is really into someone.
Dan kebetulan, gue tau siapa orang yang dia taksir ini. Gue kenal sama cowok yang Mia suka, nggak kenal baik, tapi cukup tau untuk ngerti tipe orang yang kayak gimana si cowok ini.
Kalo boleh jujur, sebenernya juga gue suka sama si cowok ini. Entah suka yang kayak gimana, yang jelas memang si cowok ini admiring. Cowok ini memang pribadi yang baik dan menyenangkan, yang bisa bikin semua orang baik cowok ataupun cewek falling into him gitu. Tapi dalam kasus ini, Mia jelas lebih dari sekedar admiring si cowok ini. Dia naksir.
Salah satu indikator yang bikin gue yakin kalo Mia naksir sama si cowo ini adalah ketika gue mulai ngeliat perubahan-perubahan di diri Mia. Terutama dalam hal agama. Si cowok ini, emang terkenal punya sisi agamis yang bagus, jadi wajar ketika perubahan pertama yang menurut gue paling keliatan dari diri Mia adalah dari sisi agama.
Mia, yang tadinya jarang beribadah jadi sering beribadah.
Dan gue pribadi justru seneng ngeliat itu.
Gue sendiri pernah ada di posisi nya Mia. Gue rasa emang gue tipe orang yang gampang terpengaruh sama orang lain. Karena gue naksir sama seorang cowo yang baik dan agamis, gue jadi ikut-ikutan jadi baik dan agamis.
Sempet sih, kepikiran kalo apa yang gue lakuin itu salah, dan itu kepikiran lagi ketika gue sadar perubahan Mia. I mean, pasti akan ada suara-suara yang bilang kalo niat lo salah, karena lo menjadi baik (mungkin aja) cuma biar terlihat baik di mata doi, bukan di mata Tuhan.
Tapiii, entah kenapa kemudian gue berpikir. Rasanya nggak salah juga sih kalo Mia berubah menjadi baik demi si cowok itu. Toh, kalo memang pada akhirnya 'baik'-nya itu seterusnya dan nggak cuma sebatas 'di cowok itu', gue rasa cowok itu malah bisa jadi media Tuhan buat 'memperbaiki' Mia.
Buat gue pribadi, memang indah keliatannya ketika cowok yang gue suka dan kemudian jadi pasangan gue adalah cowok yang baik, dengan kualitas pribadi yang baik juga. Terlebih yang bisa ngebimbing gue ke arah yang lebih baik. Yang bisa jadi support system buat satu sama lain, yang sama-sama punya tujuan yang baik juga.
Jadi, buat Mia, kalo emang cowok itu bisa bikin lo jadi lebih baik, cobalah untuk ambil semua yang baik-baik dari cowok itu. Dan buat si cowok, you are really a good guy, semoga apapun yang lo lakukan juga bisa berdampak baik, bukan cuma buat diri lo sendiri tapi juga orang banyak. :)
Kamis, 06 Oktober 2016
Be Good
Anw, jadi selama perjalanan pulang tadi, saya berpikir tentang being good sama orang lain. Awalnya saya sedih karena di kereta tadi saya pulang bareng ibu-ibu yang mungkin sebaya ibu saya, badannya bau minyak angin yang mungkin dia gunakan karena dia masuk angin, maklum tadi lagi hujan deras. Saya dan si ibu itu sudah terlalu malas untuk naik kereta tujuan Bekasi yang masuk Manggarai sekitar jam 6.45 dan lebih memilih kereta selanjutnya yang hanya memiliki interval satu stasiun dari kereta yang luar biasa penuh itu. Ketika kami naik, di depan kami ada dua pemuda yang saya amat sangat yakin, satu di antaranya sedang pura-pura pulas tertidur (maaf, saya suudzon). Dalam hati, saya langsung berpikir saya nggak akan ngebiarin ibu saya naik kereta komuter lagi dan insya Allah saya bisa membayar orang untuk jadi supir pribadi buat dua orangtua saya nantinya. Terakhir ibu saya naik kereta komuter itu mungkin satu tahun yang lalu, ketika beliau dan ibunya mantan saya pergi ke Tanah Abang (ya, mereka berkawan baik bahkan ketika saya dan si mantan sudah tidak lagi berhubungan baik). Di situ beliau cerita tentang bagaimana susahnya naik kereta ke Tanah Abang. Sejak saat itu saya berdoa supaya kelak saya atau adik-adik saya bisa mengantar ibu saya, atau minimal membayar orang untuk mengantar kedua orang tua saya kemana pun mereka mau di usia senja mereka, tanpa harus naik angkutan umum kecuali pesawat. Pikiran itu kembali lagi malam ini, karena ibu-ibu yang pulang bareng saya kali ini. Saya sedih karena ibu itu nggak dapet tempat duduk, sedangkan pemuda itu pura-pura tidur. Memang, itulah drama commuter line, tapi tetep aja, they're supposed to be good.
Menjadi baik. Saya juga jadi ingat, ketika saya berbuat baik pada orang lain, kebaikan yang berlipat akan kembali pada saya. Begitu hukumnya, walau di beberapa kasus, kejadiannya malah sebaliknya. Dan ketika sekali orang berbuat baik sama kita, kita akan membalas kebaikan itu lagi dan lagi dan terus berlipat. Tanpa bermaksud sombong, saya ingin bercerita tentang hubungan saya dengan mas-mas OB di kantor, yang suka saya ajak ngobrol setiap pagi ketika ambil minum atau mau buat teh manis. Pernah sekali waktu, saya membelikan mereka piscok yang dijual kawan saya. Itu cuma piscok. Tapi yang saya dapat setelah itu, mereka jadi tambah luar biasa baik sama saya. Kalo saya laper pagi-pagi, saya tinggal ke dapur dan nanya ada sisa makanan kemarin nggak di kulkas? Kalo makanan itu masih layak makan menurut saya dan mereka, mereka akan sigap ngangetin makanan itu lagi. Kalau saya nyari es batu siang-siang, mereka akan sibuk mecahin es batu, dan mulai dari ketika saya bikin es batu itu, mereka selalu bikin es batu di plastik setiap harinya (mungkin buat saya atau buat karyawan lain). Kemarin yang asik buat saya, ketika mereka 'ngamanin' semangkuk penuh jeruk baby segar khusu buat saya di dapur, karena tau saya suka banget jeruk itu. Di lain waktu pernah juga mereka nyisain semangkuk sop jatah makan siang yang menurut saya enak banget, buat saya makan lagi sorenya dalam keadaan udah di reheat sama Mas Udin. Saya nggak tau siapa yang memulai kebaikan ini. Yang pasti saya sangat suka dan menikmati hubungan saya dengan mas-mas OB di kantor.
---
Bicara tentang 'be good', saya jadi ingat dulu saya punya orang-orang yang baik menurut saya. Well, pada dasarnya, saya menilai semua orang yang saya kenal sebagai orang baik dengan plus dan minusnya mereka, tapi mostly mereka adalah orang-orang baik. Tapi ada dua orang yang menurut saya berkesan akan kebaikan mereka. Sebuat saja mereka adalah si oknum A dan oknum B.
Oknum A dan oknum B ini termasuk orang-orang yang punya cerita dalam hidup saya. Dan sekarang saya bisa bilang, saya seringkali menyesal tidak berbuat baik pada mereka seperti yang seharusnya, dan sekarang saya harus rela 'kehilangan' mereka.
Oknum A, adalah orang yang super baik buat saya. Yang sering mengingatkan saya akan kebaikan, yang paling jahat dan paling bawel melarang saya kalau saya (dulu) udah mulai tertarik buat nyoba-nyoba hal-hal nggak guna, yang mau minjemin sweaternya buat saya dan gendong saya waktu kami kebanjiran (dulu saya masih kurus kebetulan), yang rela nungguin saya setiap hari rapa berjam-jam dan dia akan nunggu di masjid sampai lampu masjidnya dimatiin karena saya suka rapat sampai larut, dan dia masih ada di sana karena nggak mau saya pulang malam sendirian, yang rela naik motor Bintaro- lokasi saya waktu itu yang kurang lebih sekitar 35KM cuma buat nganter makanan karena saya lagi sakit, yang masih banyak hal lain yang terlalu panjang untuk ditulis di sini.
Oknum B, adalah orang yang luar biasa sabar menghadapi saya sepanjang saya kenal dan berhubungan baik sama dia. Orang yang seringkali mengejutkan saya dan bikin saya senyam-senyum blushing karena hal-hal kecil yang dia lakuin. Dia dulu selalu ngerjain tugas saya di salah satu mata pelajaran yang saya males buat ngerjainnya, tanpa mengeluh atau protes kenapa saya nggak mau ngerjain tugas itu. Dia yang tau-tau datang ke tempat saya dan bawa baju, cokelat, bunga atau burger kesukaan saya dan menaruhnya di kotak-kotak kado papyrus. Dia yang suka tanpa sepengetahuan saya menunggu saya di tempat saya biasa menunggu bus cuma untuk pulang bareng. Dia yang suka candid foto saya di setiap aktifitas yang saya lakukan. Dia yang rela telat masuk kantor demi nganter saya ke tempat tujuan karena saya udah telat deadline. Dia yang rela beliin saya apa pun yang saya sebutkan. Dia yang rela mendengarkan semua keluh kesah saya berjam-jam lamanya, bertahun-tahun, walaupun dia bilang dia nggak suka kalo saya ngeluh apalagi hal-hal yang nggak penting. Dia yang bakal meluk saya kalo saya lagi bete atau sedih. Dan masih banyak hal yang little things mean a lot sih menurut saya.
Dua oknum ini, entah bagaimana ceritanya pada akhirnya harus saya relakan untuk 'menghilang' dari hidup saya. Hubungan saya dengan mereka sekarang sebatas sapa menyapa dan kehilangan core yang justru dulu memperkuat hubungan kami. Dan sekali lagi saya bilang, saya menyesal. Kenapa? Karena mungkin salah satu alasannya adalah karena saya tidak membalas kebaikan mereka seperti yang seharusnya saya lakukan.
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis di blog ini tentang cerita saya dan cerita teman saya. Tentang saya yang baik ke orang (yang saya rasa) yang salah, dan teman saya yang kehilangan perempuan yang baik sama dia.Saya ngerasa saya berbuat baik ke seseorang, yang sayangnya entah dia nggak peduli atau dia nggak tertarik untuk berbuat baik lagi ke saya. Pada akhirnya, karena saya merasa feedback yang negatif dari dia, saya (secara tidak sadar, dan sekarang saya sadari) mundur dan sudah kehilangan semangat untuk berbuat baik sama dia atau menjadikan dia lebih baik lagi. Sementara teman saya, dia harus merelakan orang yang sudah sangat baik ke dia, karena dia tidak memberikan respon postif ke perempuan itu. Jadi saya ada di posisi perempuan itu, dan temen saya ada di posisi orang yang lagi saya baikkin (baikkin tuh apa sih, Ay?!?!?!?), Kami jadi mengerti cerita masing-masing. Menjadi baik harus dilakukan oleh dua orang (atau lebih ) sehingga akan menimbulkan efek yang positif dan berlipat bagi orang-orang yang melakukannya.
Menjadi baik memang datangnya dari hati dan berbeda-beda bagi setiap individu. Tapi saya yakin, kebaikan itu sesuatu yang bisa ditanam. Kebaikan berasal dari hati yang bersih, sementara hati yang bersih dihasilkan dari kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. So, be good, fellas!
Senin, 03 Oktober 2016
ë³´ê³ ì‹¶ì–´ìš”
보고싶어요
Dalam bahasa korea kata ini berarti saya rindu kamu.
Ya, saya rindu kamu.
Rindu akan annoying-mu.
Rindu akan ke-nggak jelasan-mu.
Rindu akan menganalisa banyak hal yang belum saya tau tentang kamu.
Saya tiba-tiba rindu kamu, tanpa alasan tertentu.
Sama seperti kamu ketika sekitar pukul 12 malam itu, mengatakan kalau kamu rindu.
Walaupun bahkan sampai detik ini saya masih ragu, apa benar seperti itu?
Walau saya rindu kamu, saya nggak mau bilang langsung ke kamu.
Kenapa? Karena menurut saya itu nggak perlu.
Kamu hanya akan bilang 'iya' atau apapun itu yang saya yakin tidak akan mendukung atau pun mengobati rasa rindu saya akan kamu.
Saya nggak butuh itu.
Saya butuh kamu juga rindu.
Setidaknya setelah kamu baca tulisan ini, kamu langsung menghubungi saya dan bilang, 'ya, saya juga rindu'.
Kamis, 25 Agustus 2016
Ketika Gue Membeli Barang
Hari itu juga gue putusin buat pergi ke sebuah toko. Toko itu udah terkenal ngejual barang-barang bagus, pemiliknya juga terkenal baik banget sama customer. Sebelumnya, di rumah gue udah pikirin baik-baik nih barang apa yang mau gue beli, yang kira-kira paling essensial buat hajat hidup gue dan orang-orang yang akan mengisi rumah ini nantinya. Maka, pergilah gue ke toko itu.
Sambil jalan kesana, gue tentunya liat display barang lain. Disana-sini ada tulisan warning, “PECAH/RUSAK = MEMBELI” dan “BARANG YANG SUDAH DIBELI TIDAK DAPAT DIKEMBALIKAN LAGI”. Gue jadi parno buat megang-megang barang. Tapi gue masih cuek-cuek aja, sampai akhirnya gue nyampe di lorong display barang yang gue cari.
Di display itu masih ada tulisan-tulisan warning kayak tadi. Entah kenapa gue jadi pusing bacanya, kok malah bikin gue takut ya. Gue cuekin lagi tulisan itu, karena kesel juga bacanya. Gue fokus buat milih-milih barang yang gue cari.
Di display ini, ada banyak barang yang gue cari. Sebenernya fungsinya sama, cuma tampilannya aja yang beda. Gue milih deh yang sesuai sama apa yang gue mau. Nah, dari sekian banyak barang ini gue udah nemu dua barang yang bikin gue tertarik.
Barang pertama harganya agak mahal, tapi cukup sama duit gue. Dan ternyata, setelah gue liat-liat, barang ini emang paling mahal diantara barang-barang yang ada. Gue cek duit gue, cukup. Barang ini sih tampilannya biasa aja, ga kayak yang lain warna-warni, menarik. Tapi, kalo gue teliti, barang ini emang kualitasnya bagus banget. Iyalah, buat gue harga ga pernah bohong. Dan yang pasti, kalo gue beli barang ini jaminannya bakalan awet asal gue makenya bener, jadi gue ga perlu beli-beli lagi nantinya.
Barang yang kedua harganya lebih murah dibanding barang yang pertama. Gue sebenernya lebih suka barang yang ini. Kalo pun barang ini cuma gue pajang di rumah, gue juga tetep seneng, soalnya matching banget sama warna rumah gue. Lagipula, kalo gue beli barang ini, gue akan punya sisa uang, dan bisa gue beliin barang lain buat ngelengkapin rumah gue.
Duh kan, gue jadi bingung. Mending gue beli barang yang gue mau, atau barang yang awet ya. Gue mikir-mikir lagi nih mana yang kira-kira bakal gue beli. Akhirnya gue pilih barang yang pertama, karena menurut gue bakalan berguna buat gue. Udah jelas kualitasnya bagus, dan awet pula. Tapi gue masih suka sama barang yang kedua sih. Lucu banget. Yaudahlah, daripada gue pusing-pusing ngurusinnya nanti, gue pilih aja barang yang pertama.
Sayangnya, pas gue mau jalan ke kasir buat bayar, gue jatoh. Otomatis barang itu ikutan jatoh dan rusak. Duh, apes banget pake rusak lagi. Saat itu, timbul pikiran jahat gue, gue balikin aja ni barang ke tempatnya, gue umpetin rusaknya, gue ambil barang yang lain.
Tapi gue tau, gue ga mau dan ga boleh se picik itu. Barang ini gue yang ngerusakin, masa gue mau lepas tangan gitu aja. Jahat banget gue, udah ngerusakin barang, terus pura-pura ga tau dan bodo amat, menganggap ini sebagai sebuah ketidak sengajaan.
Ah, gue kan bukan anak kecil. Jadilah gue memberanikan diri menghadap ke yang punya toko. Gue mau jujur, kalo gue udah ngerusakin barang itu sambil minta maaf dan gue janji bakalan bertanggung jawab atas barang itu.
Ketika gue ketemu sama penjaga toko itu, gue akhirnya jujur sama dia. Dia ternyata bisa ngertiin gue. Dia ngajak gue buat ngecek barang itu. Dia bilang, barang itu sebenernya ga rusak-rusak amat. Barang itu masih bisa berfungsi dengan baik kok. Kualitas sama keawetannya juga masih bisa dia jamin. Tapi barang ini sekarang cacat. Orang lain belum tentu mau beli barang ini.
Njir. Gue nyesel banget. Coba tadi gue lebih hati-hati.
"Gini deh, saya kok kasian sama situ ya. Karena situ udah minta maaf sama saya, saya kasih kesempatan deh buat milih lagi. Mau pilih barang ini atau mau yang baru. Dipikir dulu, soalnya stok-nya cuma tinggal yang di display aja," kata yang punya toko.
Wah, gila. Dia baik banget. Gue mikir lagi, ngapain juga ya gue ambil barang rusak. Yaudah, tanpa mikir lama-lama lagi, akhirnya gue langsung ke display yang tadi, ambil barang yang kedua. Sekarang gue harus jaga barang ini baik-baik nih. Gue ga mau barang ini jatuh lagi. Gue juga ga yakin si yang punya toko mau baik lagi sama gue. Dia juga pasti ga mau rugi barangnya gue rusakin semua.
Berbeda sama waktu beli barang pertama tadi. Kali ini gue tau, uang gue masih cukup buat beli yang lain. Gue jadi liat-liat barang yang lain. Lumayan buat ngelengkapin rumah gue. Tapi gue bingung mau beli yang mana. Yang punya toko masih ngeliatin gue ternyata. Dia cuma senyam-senyum aja ngeliat gue. “Kenapa lagi?” katanya. Gue jelasin lah dari awal ceritanya. Dan ngeselinnya, dia cuma ketawa nanggepin cerita gue. Padahal buat gue ini penting banget.
"Yaa kan tadi saya udah jelasin, kalo barang yang pertama udah cacat, tapi situ masih bisa pake karena masih berfungsi dan kualitasnya bagus. Lagipula kan sebenarnya situ harusnya bertanggungjawab. Tapi kalo situ kurang sreg, situ boleh ambil barang lainnya. Tapi saya ga janji kualitasnya sebagus barang yang pertama." kata yang punya toko.
Duh, gue udah ga sreg sama barang pertama. Udah rusak gitu. Lagian fungsinya juga sama aja kan. Urusan kualitas mah, mungkin asal gue pake dengan baik juga bakalan baik-baik aja. Lagipula gue bisa beli barang lain buat ngelengkapin rumah gue. Dan kalo dipikir-pikir, kalo gue ambil barang yang kedua, itu udah cocok banget sama rumah gue, gue udah ga perlu ngerubah apapun. Kalo barang yang pertama, warnanya agak ga cocok sama rumah gue, kalopun gue beli, gue harus sedikit ngerubah rumah gue. Ngapain juga, ngerepotin, gue ambil aja yang udah ada.
Yaudah, gue bilang sama yang punya toko, gue ambil barang yang kedua aja sekalian gue minta maaf karena udah ngerusakin barang yang pertama. Gue masih ga enak banget karena udah ngerusakin barang yang pertama. Gue akhirnya nanya ke yang punya toko, “terus barang yang pertama gimana?”
Yang punya toko cuma senyum ke gue. Tapi buat gue senyumannya itu malah bikin gue tambah ga enak. “Biar barang itu saya yang simpan. Mungkin nanti ada orang yang betul-betul butuh sama barang itu.”
Ah, gue lega. Gue akhirnya fix milih barang yang kedua. Tapi duit gue masih ada sisanya. Gue gamau ngelirik barang yang pertama lagi. Selain karena duit gue udah habis, gue juga udah ngerusakin barang itu tapi gue ga mau benerin. Gue jadi malu. Akhirnya, gue asal ambil barang bagus buat hiasan di rumah gue. Kebetulan harganya jauh lebih murah dibanding dua barang tadi. Dan akan sangat bagus buat dijadiin pajangan di rumah gue. Dua barang itu deal gue bayar di kasir. Gue pulang ke rumah dengan hati yang sangat bahagia. Gue dapet barang yang gue butuhin dan gue juga bisa ngehias rumah gue dengan lebih cantik lagi.
Barang itu emang cocok banget gue taro di rumah gue. Dan itu sesuai sama apa yang gue cari. Tiap hari gue pake barang itu. Barang yang kedua ternyata emang bener-bener cuma jadi hiasan di rumah gue. Gue ga nemu fungsinya sama sekali.
Selang beberapa waktu, gue mulai ngerti arti dari sebuah harga. Harga emang ga pernah bohong. Barang yang gue beli sekarang rusak karena waktu. Cukup awet sih itungannya, karena gue makenya juga bener-bener hati-hati. Tapi ya kualitas ga bisa bohong. Barang itu rusak.
Gue perlu beli barang baru. Kali ini gue ga mau salah pilih. Gue bakal pilih barang yang terbaik dan kebetulan uang gue cukup buat beli barang itu. Gue akhirnya pergi lagi ke toko itu. Sampai sana, gue ketemu lagi sama yang punya toko itu. Gue ceritain apa yang gue alamin. Sekarang, dia malah ketawa terbahak-bahak. Gue cuma bisa senyum kecut.
"Kalo barang yang rusak itu sekarang gimana? Masih Anda simpan? Saya kok rasanya mau beli barang itu aja ya" gue nanya ke yang punya toko.
"Oh, masih. Situ mau ambil lagi?" tanyanya. Gue langsung ngangguk.
Pas gue lagi jalan buat ambil barang itu, si yang punya toko dipanggil sama seseorang. Gue tunggu dia.
"Wah, sayang situ telat. Baru aja ada yang ambil barang itu. Sama kayak situ, dia juga nyari yang paling baik. Saya kasih liat barang itu, tapi saya juga kasih tau dia, barang itu ada cacatnya. Dia bilang, gapapa, karena dia memang butuh banget sama barang yang seperti itu, yang kualitasnya paling baik. Dia ga peduli sama cacatnya barang itu, dia bahkan ngajak saya buat sama-sama betulin barang itu biar jadi lebih bagus. Saya juga bilang, orang yang ngerusakin barang itu mau ambil lagi barangnya. Dia bilang, saya ga akan biarin barang itu jatuh ke tangan yang salah dua kali dan malah jadi lebih rusak. Tuh, barangnya lagi di bayar di kasir." Kata yang punya toko.
Gue cuma diam disitu. Ga bergerak, ga ngapa-ngapain. Gue baru sadar gue bodoh luar biasa. Rasa menyesal emang jauh lebih sakit daripada apapun. Kenapa waktu itu gue ga bertanggungjawab sama barang itu. Padahal gue sendiri yang ngerusakin barang itu. Sekarang barang itu udah diambil sama orang lain. Gue cuma bisa berdoa supaya gue bisa dapet barang kayak gitu lagi.
Gue akhirnya nanya sama yang punya toko, “Kapan barang itu ada lagi?”
Dia jawab, “mungkin masih lama datangnya. Lagipula harganya tentu lebih mahal daripada yang sebelumnya. Sebaiknya kamu berusaha lagi, kalau uangmu sudah terkumpul nanti, kamu bisa kembali lagi kesini.”
Dari barang itu gue sekarang tau arti sebuah harga. Harga yang gue bayar sekarang jauh-jauh-jauh lebih besar.
Untungnya itu cuma barang, bukan orang.
Penelepon Terakhir
Hari ini hari Jumat, jadwal terakhir ku siaran di minggu ini. Seperti biasa, setiap hari Jumat di akhir sesi siaran ada segmen Tanya Naya, sebuah segmen tanya jawab dari listeners yang nantinya akan ku jawab.
"Delapan enam koma tujuh Lite FM we spread the light, we spread the love. Di jam-jam terakhir Naya nemenin kamu nih di hari Jumat ini, liteners. Tapi Naya masih ngasih satu kesempatan buat penelepon terakhir malam ini buat ikutan Tanya Naya kali ini. Silahkan siapa aja boleh nanya Naya apa aja. Halloo.."
Operator siaran kali itu memberi tanda belum ada telepon yang masuk.
"Oooh ternyata belum ada liteners yang mau nanya-nanya lagi nih sama Naya. Kita coba sekali lagi, hallo.."
Operator memberi tanda jempol yang artinya sudah ada penelepon yang masuk kali ini.
"Hallo..." sapaku sekali lagi.
"H..ha..haloo" balas suara di seberang sana terputus.
"Hallo?" ulangku.
"Hallo." jawabnya pelan. Aku masih kurang bisa mendengar suara itu dengan jelas.
"Iya, hallo.. Tanya Naya, ada yang mau ditanya sama Naya. Dengan siapa dimana?" tanyaku langsung sesuai prosedur.
"B..ba..." sayangnya suara itu terlalu kecil dan kurang jelas, bahkan masih kalah dengan suara backsound.
"Maaf sebentar, Mas Ari bisa minta tolong dikecilin backsoundnya, aku agak kurang jelas dengernya. Iya, Tanya Naya, ada yang mau ditanya sama Naya. Siapa iniii?" jawabku.
"Bani." jawabnya singkat dan padat. Deg. Aku hapal suara ini.
hhh.. aku menghela napas pelan.
"Kamu apa kabar?" tanyaku pelan. Lupa kalau ini masih on air.
"Baik.." jawabnya.
Saat itu kepalaku langsung pusing. Aku sangat hapal suara siapa ini. Hampir sekitar 6 tahun suara ini terlalu akrab di kepalaku. Aku butuh oksigen sebanyak-banyaknya saat itu juga.
"Hai, Bani! Bani mau nanya apa nih sama Naya?" Untung aku bisa menguasai keadaan.
"Emm.. Cuma mau nanya, apa sih hal yang paling kamu sesali di hidup ini?" tanyanya. Masih dengan suaranya yang pelan dan dalam.
"Hal yang paling Naya sesali di hidup ini tuuuuh... emmm.. menyia-nyiakan kesempatan." jawabku. Aku tau kemana arah pertanyaan ini.
"Oh.. Oke kalau gitu. Thank you."
"Sama-sama, Bani. Terima kasih juga.. Oh iya, Bani mau request lagu apa nih buat malam ini?"
"Sheila On 7, Yang Terlewatkan."
Deg.
"Oke nanti kita puterin yaa Sheila On 7 nyaa. Terima kasih udah ikutan Tanya Naya malam ini. Byee."
Deg. Entah sudah berapa kali rasanya jantung ini berhenti sepersekian detik. Suara ini. Suara yang kurang lebih 6 tahun kemarin sering berputar di kepalaku. Suara yang dulunya rajin bertanya aku sedang apa. Suara yang dulu dengan lembutnya menyebut, aku sayang kamu. Suara yang kemarin baru saja berhasil aku lupakan.
Entah kenapa ruang siaran kali itu rasanya menyempit dengan cepat dan menjepitku hingga aku sulit untuk bernafas. Aku bahkan lupa menutup segmen itu, kalau saja aku tak melihat Mas Ari memberi isyarat padaku untuk closing.
"Waw. Huft."
"Terima kasih buat Bani yang udah ikutan Tanya Naya kali ini. Habis ini Naya bakal muterin Sheila On 7 nya yang juga lagu terakhir buat malam ini. Terima kasih buat Liteners yang udah nemenin Naya dari jam 9 malam tadi. Jangan lupa buat dengerin Naya terus setiap hari mulai dari jam 9 sampai jam 12, cuma di Lite FM, We Spread The Light, We Spread The Love. Naya pamit. Bye." tutupku singkat. Aku menghela nafas seketika itu juga. Ku buka headphone ku dan berusaha berjalan keluar. Ketika ku buka pintu ruang siaran, dia berdiri persis di depanku. Berjaket biru, kesukaanku. Membawa sebuket bunga. Saat itu entah kaki ku ada dimana. Aku lupa.
Malam, hujan, pertanyaan tentang masa lalu, dan kamu di depanku.
----
sayang, ini gue bikin pas gue lagi ngantuk luar biasa. Tapi gue udah terlanjur janji, nulis ulang cerita yang diceritain temen gue. semoga aja nanti bisa diperbaiki lagi.
ps: ini gue copy ulang setelah sebelumnya gue tulis di notes facebook. Cerita ini sebenernya cerita beneran, nyata, dari seorang penyiar radio terkenal di ibu kota. tsailah~ gue diceritain sama temen gue, dan karena ini sweet jadi gue gatahan buat ceritain ulang.
Rabu, 04 Maret 2015
Gue dan Sepak Bola
Kalau diliat-liat dan diingat-ingat, pertama kali gue nonton bola, ataupun secuil cuplikan tentang bola itu waktu sekitaran tahun 97 atau 98, dimana gambaran yang paling jelas tergambar di otak gue sampe sekarang adalah selebrasinya David Beckham, yang masih cunlay dengan rambut blateng-nya.
Perlahan tapi pasti, semakin gue tumbuh, gue semakin suka olahraga. Banyak banget olahraga yang gue coba ikutin, dan itu berimbas juga dengan ngefans-nya gue sama atlet-atlet sembarang kalir. Yang jelas gue suka David Beckham tetep.
Di sekitar tahun 2002, waktu itu lagi demam-demamnya Piala Dunia yang pertama kali diadain di Asia. Dan gue untuk pertama kali, masuk dalam pusaran euforia itu. Tim yang gue bela, Inggris sama Korea. Kenapa Inggris? Ada Beckham. Kenapa Korea? Karena Asia dan merah, warna favorit gue. Gue juga suka MU karena ada Beckham dan merah. Kenapa sampe sekarang gue nggak suka sama CR? Karena dia yang ambil nomor 7 dari Beckham. Sesimpel itu dulu gue memaknai sepak bola.
Sepak bola ga pernah jadi agama buat gue. Sepak bola cuma bagian dari pengetahuan umum yang harus gue serap. Sepak bola gue nikmati sebagai hiburan, bukan bagian hidup. Di umur sekarang, malah mungkin bisa dihitung pake jari berapa kali gue nonton bola. Itupun bukan live match, cuma sekedar tayangan di tv.
Seiring dengan pensiunnya atlet-atlet favorit gue, hype senengnya gue sama olahraga juga tinggal kenangan. Ibarat efek film, ini tuh lagi fade out. Gue udah jarang banget nonton F1, selain karena Michael Schumacher udah pension dan regulasi yang banyak berubah yang bikin ga seru buat gue, di Indonesia udah ga ada lagi TV yang mau nyiarin F1. Gue juga udah ga pernah lagi berdiri di ISTORA Senayan dan neriakin chant IN-DO-NE-SIA terus tepuk tangan 5x buat nonton bulu tangkis, setelah terakhir kali tahun 2011 kalo ga salah, waktu Taufik Hidayat, idola gue itu main terakhir buat Indonesian Open.
Tapi biar hype itu berkurang, gue ga pernah bisa lepas sama yang namanya olahraga, dan sepak bola pada khususnya. Bantalan leher di mobil gue masih MU, dan kadang di beberapa kesempatan, terutama pagi hari, gue masih setia nyanyiin Pazza Inter Amala buat nambah semangat. Btw, selain suka MU gue juga suka sama Inter karena gue suka sama Zanetti.
Bisa dibilang level gue dalam dunia fans sepak bola ini sebatas GH, alias Ganteng Hunter, plesetan dari Glory Hunter. Mana gue ga kenal sama pemain-pemain ganteng dari negara mana pun, dari klub mana pun. Siapa pemain favorit gue sekarang. Siapa lagi kalo bukan David Villa, yang sekarang main di Melbourne.
Tapi serendah apapun level gue di dunia sepak bola ini, gue termasuk dari bagian yang masuk dari pusaran besar sepak bola. Buat gue, masyarakat Indonesia sendiri ga bisa lepas dari sepak bola, terutama di tahun-tahun belakangan ini. Gue adalah salah satu yang masuk ke bagian itu di tahun-tahun terakhir ini.
Walaupun udah terbiasa dengan nama Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan, atau Firman Utina (karena abang sepupu gue Viking, jadi gue tau sepak bola local), gue tetap tersihir sama pesona-pesona Christian Gonzales dan Irfan Bachdim. Gue jadi bagian dari 80.000 lebih manusia yang loncat di GBK waktu semifinal piala AFF waktu Indonesia menang lawan Filipina. Itu pertama kalinya gue nonton timnas langsung, dan seakan ada magic, gue jadi tersihir sejak saat itu. Walaupun gue dulu juga nonton Piala Tiger (format lama Piala AFF), tapi gue belum pernah secinta ini sama timnas.
Sejak saat itu, kalo timnas main, gue selalu nyempetin buat nonton. Entah langsung, nobar, ataupun nonton sendirian di TV. Gue nonton timnas mulai dari senior, U-23, sampe U-19. Gue nonton timnas, mulai dari lawan Belanda, Inter Milan, sampe lawan Running Man! Gara-gara timnas, gue bisa liat Zanetti, Sneijder, Persie, secara langsung! Sedih sih ga bisa liat Beckham karena kuliah waktu itu. Tapi intinya, gue sekarang jadi bagian dari penikmat sepak bola. Walaupun gue gatau pertandingannya, gue tau gosipnya. Hhaha.
Dan sekarang gue janji, nanti, ketika gue udah cabut keluar negeri, kemana pun gue pergi, gue bakal bawa jersey timnas. Biar orang tau, ada timnas Indonesia di sini, yang walaupun ga punya prestasi apa-apa, dan berantakan macam kamar kos gue, tetap dicintai masyarakatnya.
Nefilla 307, Surakarta
3 Maret 2015
Minggu, 11 Mei 2014
Life is The Best Movie I've Ever Had
Tapi seringkali dalam hidup gue, gue menangkap adegan yang kalo di film-in itu bakal cool abis.
Kayak misalnya kemarin. Gue lagi mainan laptop di public spaace, di bawah gitu lesehan. Di sebelah gue ada Dita. Terus pas gue lagi asik-asiknya main laptop, si Dita bisikin gue, "Yu, lo liat deh lurus. Si 'Ketua Majelis Taklim' lagi ngeliat ke arah sini". FYI, Ketua Majelis Taklim adalah gelar yang gue sematkan buat cowok yang jadi hiburan anak-anak kalo di kampus. Ganteng gitu lah. Hahaha.
Nah, si KMT (Ketua Majelis Taklim) itu lagi duduk di atas sisi-sisi jembatan asmara. Jadi posisi doi di atas pandangan mata gue. Gue yang dengan polosnya, langsung nengok ke arah doi. Pas, gue nengok ke doi, pas banget mata kita ketemu. Gue langsung salting, si Dita juga. Terus kita bego. Gue akhirnya ngedadahin culun si KMT, sambil senyum bloon gitu. "Hai", kata gue. Si KMT, terus winking his eye charmingly. Gue sama Dita langsung senyum-senyum, sambil nunduk, menghindar dari kegoblokan yang lebih lanjut. Bhahaha :D
Adegan itu kalo di film-in bakalan cool abis menurut gue apalagi pake slowmo. :"D
ANJIIIIIR... KANGEN SYUTIIIIIING :')
Senin, 14 April 2014
Malam Terakhir
Dibalik kelebihan yang dia punya ternyata tersimpan kesederhanaan yang sayangnya, entah mengapa, baru ku sadari. Kesederhanaan yang selama ini ku ragukan ada padanya. Tapi sosok yang ku lihat berjalan di sebelahku kali ini seakan menyatakan kemerdekaannya, bahwa ternyata bahagianya cukup sebatas melihat pijar kuning cahaya lampu Jakarta. Bau hujan, sebotol Nu Green Tea, dan mungkin aku di sebelahnya, baginya hanyalah bonus dari rekah senyum manisnya malam ini.
Sekarang pukul 09.00 malam. Hampir 12 jam setelah kami mulai keluar jam 09.00 pagi tadi. Seharian ini kami berkeliling Jakarta dengan berbagai macam moda transportasi yang ada. 12 jam, yang kalau ku pikir-pikir mewakili setiap tahunku bersamanya. Dari mulai ragu-ragu melangkah ke luar rumah tadi pagi, hingga mantap berjalan melewati genangan malam ini. Dari mulai saling diam dan terlalu takut untuk memulai percakapan, hingga bahkan tak bisa mengerem untuk sekedar beristirahat untuk berbicara.
12 tahun aku mengenalnya, dan belum pernah sedetik pun aku sadar bahwa ternyata ia sekaya ini. Bahwa terlalu banyak hal dalam hidupnya yang terlalu aku sepelekan. Bahwa terlalu banyak hal yang terjadi selama ini, yang mungkin dengan bodohnya tak pernah ku hargai barang sedikitpun. Astaga, kemana saja aku selama ini. Kenapa baru sekarang?
Dia mungkin bukan yang terbaik di antara mereka yang pernah menemaniku. Dia juga mungkin bukan yang paling lama di antara mereka. Tapi kenapa baru kali ini aku sadar bahwa dia lah yang selama ini paling mengerti apa yang aku butuhkan, bukan apa yang aku inginkan.
Seandainya Tuhan ada di depanku sekarang, mungkin aku akan bertanya kepada-Nya, Tuhan kenapa baru Kau datangkan pemikiran ini sekarang? Kenapa Kau lambatkan kedewasaanku? Kenapa tak Kau cegah aku melepasnya waktu itu. Kenapa Kau biarkan aku lebih memilih orang lain saat itu?
“Kenapa sih dulu lo selingkuh?” tanyanya tiba-tiba, mengagetkanku seakan baru saja disiram air laut utara.
Damn! Pertanyaan yang membuatku bingung harus menjawab apa selain hanya menatapnya dalam diam. Bodoh, 12 tahun mengenalnya, harusnya aku tahu bahwa pertanyaan ini pada akhirnya akan keluar juga dari mulut pintar tapi nakalnya itu.
“Harus banget gue jawab ya pertanyaan itu?” tanyaku enggan.
“Yaa.. enggak juga sih kalo emang nggak mau dijawab.” Jawabnya santai.
“Kalau gitu, sorry ya gue ga akan jawab pertanyaan itu.” Kataku, mencoba sesantai mungkin seperti dia.
“Umm.. oke fine.” Balasnya singkat.
Kami lanjut berjalan dalam diam. Mataku sibuk memandang macetnya Jakarta di jam-jam sibuk seperti ini. Ah, Jakarta. Kapan sih dia tidak pernah sibuk, bahkan di jam-jam dimana anak sekolah diharuskan tidur menurut buku pelajaran mereka.
“Pulang, yuk!” ajakku. Dia hanya mengangguk. Tak pernah ada kata tidak darinya. Selalu seperti itu dari dulu.
Dan aku memilih untuk mengajaknya pulang naik kereta. Hal lain selain kuning lampu Jakarta yang dia suka. Dan sekali lagi, aku tak pernah tahu alasan sebenarnya mengapa dia suka naik kereta, baik kereta jarak jauh atau jarak dekat, baik ber-AC atau tidak ber-AC. Ah, kenapa begitu banyak hal yang tidak ku tahu tentang dia, sementara ada banyak hal yang ia tahu tentangku.
Gerbong kereta komuter malam ini tidak seramai seperti biasanya, dan beruntung bagi kami karena masih bisa dapat tempat duduk, bersebelahan bahkan. Beberapa orang sudah lelap tertidur dalam lelahnya. Beberapa lainnya terlalu sibuk dengan gadget-nya. Di sebelahku, ia sibuk memasang headset di telinganya, dan kemudian sibuk memilih lagu yang akan didengarkannya. Ku perhatikan, ia cuek. Begitu ia asik mendengarkan lagunya, ku rebut ssalah satu headsetnya, dan ku pasang di telingaku. Ku rebut juga handphone-nya dan ku cari lagu yang ku suka di antara playlist-nya. Sheila On 7 >> Pilihlah Aku.
Aku yang kan mencintaimu.. aku yang kan selalu mendampingimu.. Bila bahagia yang akan ku tuju.. Bila butuh cahaya tuk menemanimu.. Pilihlah aku...
Dia diam saja. Matanya menatap lurus ke depan. Kami saling diam sepanjang perjalanan pulang itu. Aku lebih memilih untuk memejamkan mataku. Tidak untuk tidur. Sekedar memejamkan mataku untuk melepas lelah. Bukan lelah fisik, tetapi lebih ke lelah secara emosi, yang mungkin juga dia rasakan saat ini.
“Lo pernah nyesel nggak sih, ninggalin gue?” tanyanya ketika kami berjalan kaki dari depan komplek menuju rumahnya.
Ku palingkan wajah cepat agar ia tidak melihat perubahan air wajahku. Ia memandangku lekat, menunggu jawaban dengan agak sedikit menuntut. Ia selalu mampu menyudutkanku, dan aku tak pernah suka akan hal itu. Aku terlalu pengecut untuk menjawab pertanyaannya.
Aku memilih untuk berhenti berjalan dan mengajaknya untuk menepi. Kami duduk di trotoar jalanana yang sepi, tak peduli jika mungkin saja saat itu ada mata yang melihat.
“Kalau aku nggak nyesel, ngapain aku ajak kamu keluar hari ini?” tanyaku pelan. Dia langsung menunduk. Ku genggam tangannya erat, ku tatap ia lekat-lekat.
“Kenapa baru sekarang?” tanyanya lagi. Wajahnya sedih. Aku benci wajah itu. Dan aku benci pertanyaan itu. Kali ini aku yang menunduk.
“Aku nunggu kamu. Berbulan-bulan aku tunggu kamu untuk sadar bahwa kamu milih sesuatu hal yang keliru. Berbulan-bulan aku nunggu kamu sadar bahwa ada hal yang harus kamu benerin. Berbulan-bulan aku nunggu. Tapi kamu nggak pernah ada.” Lanjutnya.
“Kamu nggak pernah bilang. Kamu nggak pernah ngelarang aku untuk pergi. Kamu nggak pernah...”
“Apa? Nggak pernah apa? Nggak pernah bilang kalau kamu salah waktu itu? Nggak pernah bilang untuk tetap tinggal sama aku? Nggak pernah apa? Kasih tau aku! Bukannya waktu itu aku udah bilang semuanya? Bukannya waktu itu udah aku kasih tau kamu? Bukannya waktu itu aku udah ngasih kamu kesempatan untuk mikir ulang semua pilihan kamu?” katanya dalam marah yang lembut. Ia tak pernah bisa marah kepadaku selama ini.
“Tapi apa yang kamu pilih waktu itu? Kamu lebih milih buat sama dia daripada bertahan sama aku kan? Kamu lebih milih buat ninggalin semua yang nggak enak demi kebahagiaan yang ternyata Cuma sesaat itu. Kamu nggak sadar kalau orang sakit harus minum obat yang rasanya pahit buat sembuh lagi. Kamu lebih milih buat buang obat itu, dan bikin sakit kamu makin lama makin kronis.” Katanya lagi, dan aku semakin diam.
“Waktu itu juga kamu nggak peduli sama aku yang harus nahan sakit ini sendiri kan? Waktu itu kamu nggak mau tau soal aku sama sekali kan? Kamu lebih milih buat pergi..” ucapnya lagi, dan rasanya seperti ada pisau tajam yang ditusukkan pelan-pelan ke hatiku saat itu, dan si penusuk pisau rupanya menikmati bagaimana pisau itu pelan-pelan menembus dadaku. Badanku bergetar, dan tak terasa mataku panas, air mataku menunggu untuk jatuh.
“Yasudah, yang dulu biarlah. Toh kamu tahu, aku nggak akan pernah bisa marah sama kamu, apapun salahmu. Kamu tahu, aku akan selalu maafin kamu. Dan aku juga sadar aku salah waktu itu. Aku salah, usahaku ternyata kurang kuat buat bikin kamu tetep sama aku. Aku juga salah, udah bikin kamu berpikir buat milih yang lain daripada terus sama aku. Aku salah, nggak pernah sadar bahwa aku nggak pernah cukup buat kamu.” Katanya pelan.
“Aku minta maaf. Waktu itu aku kayak anak kecil. Aku marah sama kamu. Aku diemin kamu. Aku blok semua koneksi aku ke kamu. Maaf. Tapi aku rasa sekarang kamu bisa ngerti kenapa dulu aku kayak gitu.” Katanya semakin menusuk.
“Aku tau dan aku selalu percaya suatu saat kamu akan balik lagi ke aku. Bukannya GR. Tapi itu lebih karena aku sudah hapal kamu. Dan bener kan, sekarang kamu datang lagi ke aku.” Lanjutnya.
“Maaf...” Ujarku lirih.
“Enggak.” Katanya, dan wajahku semakin pias.
“Kamu nggak perlu minta maaf. Sekecewa apapun aku sama kamu, kamu tahu dari dulu aku nggak pernah bisa marah sama kamu, dan kamu juga tahu aku selalu bisa maafin kamu.” Katanya lagi. Ia lalu berdiri, dan tangannya menarikku untuk ikut berdiri. Kami lalu lanjut berjalan pulang ke rumahnya.
“Makasih ya buat hari ini. Entah apa maksud Tuhan untuk pertemuan kita hari ini, tapi aku sangat berterimakasih hari ini aku bisa ketemu dan jalan seharian sama kamu.” Ujarnya sambil tersenyum lirih ketika kami tiba di rumahnya.
“Aku sayang kamu...” ujarku lirih, pelan sekali. Rahangku terasa kaku. Dadaku bergemuruh, badanku gemetar hebat. Ada emosi yang ku tahan dengan sangat agar tidak keluar kali ini.
Ia mendekatiku, sebelah tangannya menggenggam tanganku, sementara tangan yang lainnya menjalar di leherku. Lembut sekali.
“Dari dulu, sampai sekarang. Apapun kita dulu, sekarang, atau nanti. Aku selalu sayang kamu.” Katanya tenang. Aku mengangguk dan tersenyum kecil mendengarnya.
“Maaf agak telat, tapi aku berharap banget bisa datang minggu depan.” Ujarnya sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Aku menerimanya, dan ada respon aneh yang keluar dari tubuhku. Undangan pernikahan yang simple nan elegan berwarna emas dan ungu pastel.
“Aku duluan ya.” Pamitnya. Ia lalu memelukku. Sekilas saja. Dan rasanya aku ingin mengikatnya agar tak melepaskan pelukan itu. Ia kemudian masuk ke rumah.
Aku duluan ya. Ulangku lagi. Tiga kata ambigu bagiku. Duluan masuk rumah, atau duluan masuk ke kehidupan lain. Aku tersenyum kecil. Berusaha mengobati sendiri luka yang bodohnya ku buat sendiri, dan karena sudah ditanam begitu lama, luka ini justru semakin perih. Mungkin dulu begini rasanya ada di posisinya. Ku putar ulang gambaran dua tahun lalu, ketika aku memilih dengan orang lain, ia menangis dan berkata.
“Coba kamu posisiin diri kamu di posisi orang yang mau kamu sakitin. Kalau kamu udah bisa ngepoisisiin diri kamu di posisi itu, percaya sama aku, kamu nggak akan pernah lagi nyakitin siapapun.”
Kamis, 06 Februari 2014
Dua Tahun.
Rasa bersalah selalu menghinggapiku setiap berdekatan fisik dengannya. Dan rasa bersalah ini semakin menjadi ketika setelah dua tahun ini dia masih juga terlalu baik bagiku. Ingin rasanya meminta maaf. Tapi aku tau, dia akan memaafkanku, dan itu tentu saja akan semakin menyakitiku. Hina sekali rasanya diri ini pernah menyakitinya dan masih saja mengaharap maafnya. Lebih baik aku tak perlu meminta maaf, karena aku tak pernah pantas akan maaf itu.
Ah, kamu. Jangan terlalu baik pada orang lain, apalagi padaku yang sudah menyakitimu sedemikian rupa. Tak perlu lah sakit-sakit itu ku tulis lagi disini. Yang jelas, menyakitimu adalah dosa yang sulit ku cari taubatnya di dunia ini.
Menyesal? Jangan tanya. Aku sudah mendapat balasannya.
Terima kasih. Bahwa ternyata kamu sudah sangat mengerti aku, untuk semua hal dan setiap detail kecil dalam diriku.
Terima kasih. Bahwa ternyata perhatianmu tak pernah lepas untukku.
Terima kasih. Bahwa ternyata kamu sudah memaafkanku, untuk kebodohan yang luar biasa yang sudah ku lakukan padamu.
Semuanya mungkin tak pernah kau ucapkan secara langsung padaku. Tapi aku tau, dari dulu kau tak bisa berbohong padaku.