Tampilkan postingan dengan label link bagus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label link bagus. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juli 2017

SEPARUH KITA by Ust. Salim A. Fillah

-menyambut akad Akhinda @ Muzammil Hasballah-
بارك الله لك ، وبارك عليك ، وجمع بينكما في خير
_______________
@salimafillah

tentu saja saat itu kau punya banyak pilihan
dan aku sama sekali tak masuk hitungan
aku bukan lelaki yang jika kaulihat membuatmu serasa menatap malaikat
juga bukan pria yang jika diajak bicara, membuatmu merasa ada dan berharga..

dan, sulit kubayangkan apa yang ada dalam benakmu, terlebih ayah ibumu
ketika di acara khithbah –setelah rombongan keluargaku tersesat
empat jam menyusuri peta buta, ditambah tiga jam berputar sana sini-
kukatakan pada keluarga besarmu, “urusan saya adalah segera menikah
tak jadi soal besar dengan siapa. jika tak kami dapat mertua di sini,
insyaallah akan kami cari di perjalanan pulang nanti.”

aku tahu, aku terlihat tak waras dan tak tahu malu dengan kekata itu
tapi hebatnya kau memahamiku, dan tertakjub aku
karena kau bisa meyakinkan walimu, bahkan wangsamu
hm, ternyata kita memang sejiwa, seakan ketika melirikmu sekilas
hatiku berkirim pesan, “aku bukannya tak sabar. hanya tak ingin menanti.
karena ketegasan macam ini adalah juga kesabaran –juga kesiapan diusir pulang.
karena bagiku, dalam penantian, ada lebih banyak celah syaithan.”

-aku sadar, sejak peristiwa itu kau mulai mengenalku, dan
menyiapkan diri untuk kelaknya banyak-banyak menyabariku-..

aku lalu tahu bahwa kau agak pemarah
tapi aku suka itu; karena marahmu selalu di atas alasan jitu
dan lagi kau tak sekeras bunda ‘aisyah yang membanting piring
ketika suaminya sedang menjamu tamu-tamu yang terbelalak lalu haru
kau juga tak sampai mengatai suami, “kau ini hanya mengaku-aku nabi!”

separah-parahnya yang kurasakan hanya tak kaubukakan pintu
seperti sayyidina ‘ali ketika dimarahi fathimah, lalu tidur berselimut debu
dan ketika itulah dia mendapat panggilan cinta dari mertua: abu turab..

dan lebih dari itu kau memintaku menjadikanmu khadijahku
itu artinya kau akan meneladaninya; misalnya dengan tak bertanya
ketika kau lihat beban menekuk mukaku, menggontaikan tubuhku
lalu kau persilakanku berbaring bukan di kamarmu, menyelimutiku
karena begitulah yang dilakukan khadijah ketika suaminya ditimbuni risalah
tapi menjadikanmu khadijah artinya juga;
takkan ada selain dirimu, sebelum Allah memanggilmu
soal yang ini doakan aku kuat; dan aku tak pernah berdoa agar terjadi cepat-cepat..

kau tak suka terlalu banyak dilihat mata, sejak lama..
tapi sesekali, bukankah Sang Nabi juga terlihat berlomba lari bersama istri..
menonton tarian tombak di masjid dengan saling bersandar dan pipi menempel pipi..
atau berkendara dengan memangku shafiyah dan lutut saling menyangga..

maka inilah kita mengenang masa, menyemangati yang muda-muda
bahwa membangun cinta memang seperti membina istana surga
tak mudah, tapi terus kita berusaha
aku yang selalu tertatih memahamimu
dan kaulah penepis goda, lalai, serta lena

tigabelas tahun bersamamu cinta, ada banyak yang tak dapat diungkap dengan kata
tapi ringkasnya begini: engkaulah separuh agama, penjaga ketaatanku..


Repost dari Facebook Ust. Salim A. Fillah

Rabu, 07 Desember 2016

Do'a

doa

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami jodoh (istri-istri) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”
(Q.S. Al-Furqan:74)
“Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris Yang Paling Baik”

Khusus untuk Perempuan

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat”

DOA KETIKA JATUH CINTA

Ya Allah…
Jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu, agar bertambah kekuatanku
untuk mencintai-Mu

Ya Allah…
Jika aku jatuh hati, izinkan aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut padaMu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbul Izzati…
Jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu

Ya Allah…
Jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu.

Cieeee..cieee.. yang lagi jatuh cinta berjuta rasanyaaaa..
Biarkan Allah yang mengatur semuanya,, Allah mempunyai kejutan yang luar biasa untuk kita..
Semoga orang yang kita cintai melabuhkan cintanya kepada ALLAH.
Amien



- ku copy dari tumblr http://gogogomayukochan.tumblr.com/ -

Rabu, 24 Agustus 2016

Renungan Setelah Lulus.

Aku cuma ngeshare dari akun path seorang temen. Entah siapa yang nulis, tapi ini jadi bahan renungan banget emang, terutama buat aku yang baru aja masuk ke fase lulus kuliah.
---

Pagi ini dapet renungan sedikit dari kawan kuliah,

7 REALITA YANG AKHIRNYA KITA TERIMA — SELEPAS LULUS KULIAH DAN MULAI BEKERJA

Hiruk pikuk sebagai mahasiswa dan perjuangan skripsi akhirnya berakhir juga. Bangga rasanya sudah bisa menuntaskan kewajiban sebagai orang dewasa. Memasuki fase hidup baru dengan tanggung jawab lebih besar di bahu dan dada.

Kehidupan awal sebagai pekerja muda memberimu rasa berdaya dan perasaan mandiri yang tak ada dua. Mulai bisa membantu orangtua, membelanjakan uang untuk sesuatu yang disuka, sampai merencanakan hidup ke depan sesuai impian di kepala.

Setahun setelah resmi Sarjana, ternyata hidupmu berubah dengan begitu cepatnya. Tujuh realita inilah yang membuatnya tak lagi sama…

1. Alih-alih bangga, ijazah di tangan justru membuatmu merasa kerdil dan tak bisa apa-apa. Hidupmu seakan di-restart ulang sebagai manusia

Saat masih berkutat dengan kesibukan praktikum dan membuat paper sebagai mahasiswa tak cuma sekali kamu membayangkan apa rasanya saat kelak gelar sudah terselip di belakang nama. Nampaknya hidup akan lebih ringan. Selembar kertas itu jadi jaminan cerahnya masa depan.

Namun ternyata hidup tak berubah begitu saja selepas Dekan menggeser tali di atas toga. Ijazah dan gelar di belakang nama justru membuatmu banyak bertanya,

“Kemampuan apa yang membuatku berbeda? Apa yang bisa kujual dan diterima oleh calon perusahaan tempat bekerja?”
Momen setelah wisuda justru jadi masa me-reset ulang ekspektasi. Di sinilah kamu kembali menggali apa yang sesungguhnya dirimu mampu lakoni.

2. Seberapapun menterengnya, pekerjaan tetap akan berjenjang seperti tangga. Kamu harus mulai dari undakan terbawahnya

Status sebagai MT (management trainee), Graduate Development Program, hingga keberhasilan masuk dalam pendidikan pegawai muda Bank Sentral memang terlihat mentereng di mata keluarga dan orang luar. Kamu pun merasa senang bisa memberi mereka kebanggaan ; melihat senyum mereka menyunggingkan kepuasan.

Satu yang belum kamu tahu sebelumnya. Ini hanya awal dari perjuangan panjang setelahnya. Masih banyak malam-malam panjang yang membuatmu harus berjaga demi menghapal rumus akuntansi, mempersiapkan presentasi, sampai berpikir apa yang salah dari caramu menyesuaikan diri.

Meski masuk program yang kata orang bergengsi — kerasnya tenaga justru baru akan diuji di titik ini. Alih-alih merasa berhasil, kamu justru akan lebih tahu diri. Tidak mudah meniti karir hingga ke level tertinggi. Mereka yang sudah berhasil memang layak membuatmu mengangkat topi.

3. Kebutuhan tak akan ada ujungnya. Gaji toh tetap terasa kurang jika tak pandai mengaturnya. Kamu pun belajar merasa cukup sebagai manusia

Di masa kuliahmu dulu mendapat transfer 5 juta per bulan ke rekening seakan jadi kemewahan yang membuatmu bebas berfoya-foya, tapi ternyata sekarang tidak lagi bisa seperti itu

Gaji yang didapat dari hasil keringat sendiri itu entah bagaimana bisa menguap begitu saja. Kamu harus memutar otak agar tidak berakhir kekurangan ketika akhir bulan

Perlahan, kamu pun mulai menyesuaikan pola hidup sesuai pendapatanmu. Selepas euforia girang mendapat gaji sendiri berlalu, gaya hidup (anehnya) berubah tak lagi seloyal dulu. Meski kini kebebasan membelanjakan uang ada di tanganmu — mewah dan mentereng bukan lagi jadi prioritasmu. Cukup. Sudah. Hidup kini sesederhana itu.

4. Ada rasa ringan di dada saat sedikit bisa turun tangan membantu orangtua. Meski kamu sadar apapun yang diberi tak bisa membalas kebaikan mereka

Tanpa diminta kamu mulai pasang badan untuk membayar tagihan-tagihan rumah. Membawa roti tawar sepulang kerja, mentransfer tagihan listrik saat awal bulan tiba, menawarkan diri jadi penyokong adik yang masih kuliah dan butuh dana.

Entah kenapa setelah mulai bekerja ada rasa yang mendesak di dada untuk mengembalikan sesuatu pada orangtua. Beratnya kewajiban profesional sebagai orang dewasa membuka matamu bahwa tak mudah jadi mereka dulu. Mengejar karir sembari membesarkanmu. Kamu ingin meringankan beban mereka semampu kekuatan bahumu. Meski toh sampai kapanpun hutang itu tak akan impas menurut perhitunganmu….

5. Melihat perjalananmu dan kawan seperjuangan, kamu pun mengamini satu hal. Ternyata rejeki sungguh datang dari banyak jalan

Selepas mulai bekerja, tak lagi jadi mahasiswa — kamu tak lagi skeptis soal pendapat bahwa rejeki bukan selalu berbentuk uang saja. Kawanmu yang memutuskan menikah lebih dulu dan kini hidup tenang sebagai wanita rumah tangga mendapatkan rejekinya dari kehadiran pria yang sedalam itu mengasihinya.

Kawan lain yang terpaksa harus jauh dari pacar dan keluarga sebab mendapat rejeki di perusahaan tambang di Borneo sana mendapat porsi rejeki dari cukup besarnya uang yang masuk ke rekening tiap bulannya. Meski harus dibayar dengan kekosongan hatinya.

Mengamati perjalanan mereka dan perjalananmu sendiri. akhirnya kamu mengerti. Uang hanya sekian bagian kecil dari rejeki. Masih ada rejeki non materi lain yang juga berarti.

6. Kesibukan kerja membuatmu ogah menanggapi drama tak penting soal hati.

Jika memang tak bisa diajak membangun mimpi, di titik ini lebih baik kamu berhenti. Atau pergi

Saat masih kuliah dulu protes-protes kecil pacar atas kesibukanmu bisa terlihat cute dan lucu. Itu artinya dia benar-benar membutuhkan, pikirmu. Namun hidup kini tidak sesederhana dulu.

Kamu lebih butuh dia yang bisa mengerti bahwa ada kesibukan yang harus didahulukan. Ada kewajiban yang perlu dituntaskan. Dan karenanya pertemuan dan kemanjaan perlu ditangguhkan — tanpa berarti mengurangi perasaan.

Otakmu dan tenagamu sudah terlalu penuh untuk menanggapi hubungan yang konfliknya seperti angin puyuh. Jika memang tak sejalan, lebih baik kalian saling melepas saja agar tak berlama-lama dalam ikatan yang rapuh.

Pergi dari ikatan hati terasa lebih rasional saat ini. Toh tak ada gunanya bertahan di ikatan yang membebat langkah kaki.

7. Pertanyaan “Akan jadi apa?”; “Nanti berakhir di mana?” tak lagi membuatmu cemas lama-lama.

Jalani saja. Pintu kesempatan terbaik nanti akan terbuka
It is okay to be clueless for now. You will get there

Hanya karena sudah diterima bekerja, sudah bukan lagi jadi mahasiswa — ternyata tidak lantas mengakhiri pencarianmu sebagai manusia. Setiap pagi kamu akan terbangun dengan mengulang pertanyaan yang sama:

“Sebenarnya aku sedang dibawa ke mana? Tuhan punya rencana apa?”
Tapi kini berbeda. Pertanyaan tak harus membuatmu berkontemplasi lama demi mencari jawabannya. Satu-satunya pilihan termanjur adalah mendepak selimut untuk segera bangun dan menjalani kewajiban sebagai orang dewasa. Sebab toh di akhir hari Tuhan akan berbaik hati pada mereka yang berusaha. Pintu kesempatan untuk pejuang macam ini akan terbuka dengan sendirinya.

Kamu mau jadi salah satunya.

Apakah 7 realita ini juga yang kamu rasa? Resonansi realita ini pulakah yang membuatmu dewasa? Jika iya, ternyata kamu tak sendirian saja.

Minggu, 19 Januari 2014

Sepuluh Tahun Aku Membenci Suamiku



KISAH di bawah ini beredar di berbagai forum, fanpage facebook, dan blog. Entah siapa yang menuliskannya, namun satu hal yang pasti, kita bisa memetik pelajaran sangat banyak darinya. Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senan g dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya .

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas.

Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.

Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi.
Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.

Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.

Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.
Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.

Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai.

Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu.

Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.

Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikanny a, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah
karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas.

Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya.

Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya , tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikanny a atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.




Sumber : http://www.islampos.com/sepuluh-tahun-aku-membenci-suamiku-46829/

Rabu, 09 Maret 2011

Link Bagus

Ini ada satu link yang isinya bagus, menurut gue. Bagus buat dibaca orang tua yang punya anak remaja, terutama cewek!

5 Hal yang Dikhawatirkan Remaja!