Tampilkan postingan dengan label temen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label temen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juni 2017

A Woman with Dreams Needs a Man with Visions

Saya lupa pernah baca ini sekilas di mana, kayaknya di instagram seorang teman. Maaf buat temen saya itu kalau saya sampai lupa siapa yang ngepost quote itu sebenarnya, postingannya kalau nggak salah udah lama banget. Saya baca sekilas, tapi memori fotografi saya mampu merekam kata-kata itu (walau mungkin nggak sama persis) sampai sekarang.

Saya hampir 100% setuju dengan pernyataan itu.

Buat saya, memang, seharusnya dua orang tersebut, si perempuan dengan mimpi-mimpinya butuh laki-laki dengan visi-visinya. They will be a dynamic duo! Okelah, rasanya nggak perlu kita bahas urusan perempuan dan laki-laki, atau siapa lebih butuh siapa.
Tapi...

Pernah bayangin nggak sih, kalau kamu punya mimpi. Apa saja lah, asal bukan mimpi basah. Sebut saja, ketika sudah menikah nanti kamu ingin tinggal terpisah dari orangtua masing-masing. Atau, kamu ingin dapat beasiswa entah itu Erasmus atau LPDP dan menjadi bagian dari manusia-manusia diaspora. Atau, bermimpi menjelajahi dunia. Bukankah seru jika itu semua diraih bersama orang-orang yang ingin berjuang? Menjadi support system untuk masing-masing, mengingatkan, menanyakan progress pencapaian, mendengarkan keluhan, atau berpelukan merayakan kesuksesan.

Sekarang, mari bayangkan jika berbalik kejadiannya. Kamu punya mimpi, untuk sama-sama berhasil dalam suatu hal. Tapi, rekanmu itu tidak punya semangat yang sama besar dengan kamu. Atau mungkin ia punya tapi hanya sebatas di kepalanya. Lecutan semangat hanya berhenti di ujung bibirnya.
Kamu tidak akan merasakan euforia yang sama dengan orang yang sama-sama ingin berjuang.

Bete kan ya kalau ternyata supply tidak sesuai dengan demand layaknya prinsip stabilitas. Itulah mengapa saya sangat setuju dengan quote di atas tadi.

Baru-baru ini saya dan seorang teman punya satu misi. Dan ternyata, semakin hari, saya sadar kalau teman saya ini tidak punya keinginan yang sama besarnya seperti saya. Ketika saya ingin melaju, dia bahkan belum berencana untuk melangkah. Sebagai teman, jujur saya kecewa. Kami merancang semuanya berdua, mengucap harap bersama. Tapi, melihat pergerakannya, ini justru menjadi pertaruhan buat saya. Jelas lebih bahagia kalau pada akhirnya saya dan dia berhasil mewujudkan misi kami secara bersamaan. Tapi menunggu dia untuk bergerak, sama saja dengan membuang waktu dan kesempatan saya untuk mendapatkan yang lebih dari apa yang kami harap sebelumnya, atau malah skenario terburuknya kami sama-sama melewatkan kesempatan itu karena sama-sama tidak bergerak.

Inilah yang pada akhirnya membuat saya yakin bahwa ada bersama dengan orang(-orang) yang juga punya mimpi dan cita-cita, buat saya sangat penting untuk menjaga kita untuk tetap ada di jalur yang betul. Menjaga kita supaya tetap berfokus pada satu titik akhir, menopang ketika melemah, menyemangati ketika meragu, dan bersuka cita saat tiba di titik tujuan. Orang dengan mimpi yang sama besarnya denganmu (atau mungkin lebih hebat), akan tau bagaimana rasanya berjuang. Sementara orang yang mimpinya tidak sebesar milikmu, atau malah mungkin tak ada, kontribusinya hanya akan menambah rasa ragu akan kemampuan diri. Itulah sebab pepatah berbunyi, 'jika engkau berkawan dengan tukang minyak wangi, sudah pasti kau tertular baunya. Hal yang sama jika engkau berkawan dengan pandai besi'. Maka, jika kamu punya mimpi-mimpi dan cita-cita yang luar biasa, jangan buang waktumu dengan orang-orang yang biasa. Cari orang yang bisa menyalurkan energi positifnya dan menjadi simbiosis mutualisme yang baik untuk hidupmu. Duh, jangan sampai deh kamu geregetan kayak saya ngeliat si temen saya itu!

Jumat, 05 Mei 2017

Semoga..

Semoga sampai tiba saatnya nanti, Allah mencatatnya sebagai pahala buat kesabaran lo yang nggak pernah bosen ngingetin untuk segera berhijab setiap kali kita ketemu.

Semoga pertemanan yang udah lebih dari satu dasawarsa ini pada akhirnya bukan hanya buat di dunia, tapi juga di akhirat nanti.

Thank you, Tem. :')

Minggu, 23 April 2017

Sudah Tiba Masanya

Oh ternyata..

Sudah tiba masanya ketika kegiatan di hari libur akhir pekan diisi dengan sowan ke acara pernikahan kawan.

Sudah tiba masanya, ketika bertemu mantan malah ngiranya tetangga dekat rumah biasa, sampai teman-temannya menyadarkan, 'oh iya, gue kan pernah pacaran ama dia!'

Sudah tiba masanya, ketika bertemu orang yang disuka bertahun-tahun dan yang bersangkutan justru mengenalkan istrinya, dan gue harus nitip salam untuk ibu dan adiknya awkwardly karena nggak enak dan berusaha sopan sama istrinya. (ini jauh lebih perih dibanding ketemu mantan ternyata :"))

Tapi yang paling sedih justru ternyata gue baru sadar, sudah tiba masanya ketika gue kumpul bareng temen-temen yang dulu luar biasa deketnya, cuma di acara-acara tertentu kayak nikahan gini. Langsung ketemu di lokasi tanpa janjian. Datang sendiri-sendiri. Dan langsung pulang masing-masing, tanpa nongkrong dulu ngobrol-ngobrol lucu.

Hix.

Minggu, 02 April 2017

Amore.

Jakarta, di kamarku lebih tepatnya. 3.25 am
Aku membujur kaku di kasurku. Bisa kudengar detak jantungku sendiri yang berdetak luar biasa kencang. Dadaku bergemuruh naik turun.
45 menit yang lalu, setan menghampiriku. Membuyarkan sadar dan memerintah otak untuk mencium bibir perempuan itu. Melumatnya hingga ia kesulitan bernafas. Tapi aku tak peduli bahkan jika itu nafas terakhirku.
Terus ku lumat bibirnya, kumainkan lidahnya. Terus turun hingga ke lehernya. Ia wangi dan aku ingin wangi itu untukku.
Ia sudah lepas kontrol dan mulai membalas seranganku.

Kamarnya, 2.34 am
Malam semakin panas.
Aku masih berdiri di balik pintu kamar apartemennya. Menahan ia agar tetap bersandar di pintu itu sementara aku masih menikmati lembut bibirnya. Tanganku mulai aktif bergerak, menyusuri tubuhnya mulai dari perut, pinggang, kemudian menuju dada. Pun mulutku bergerak menuju titik yang sama di antara keduanya. Ia mengerang, dan aku terhentak sadar.

2.35 am
Ku lepas ia sedikit kasar. Nafasku terengah begitu pun dia. Sekilas ku lihat bingung di wajahnya.
Aku tahu ada yang salah. Yang ku lakukan barusan adalah kesalahan.
Ku tinggalkan ia tanpa bicara.
Ke kamar mandi ku basuh muka, memaksa diriku untuk sadar.
Ia masih terdiam berdiri kaku di belakang pintu kamarnya yang kini terbuka.
Ia tidak sedikit pun berbicara. Aku tak berani menatapnya, tapi aku tahu dia menangis tanpa suara.
Tanpa pamit aku pergi. Meninggalkannya menangis sendiri.

3.30 am
Di kasurku aku masih kalut.
Aku mencintai wanita itu dan aku hampir merusaknya.
Aku ingin dia, dan entah mengapa menginginkannya dengan cara seperti itu.

Sabtu, 18 Februari 2017

Kamu Bukan Siapa-siapa

kamu bukan siapa siapa.

kamu hanya orang yang tau segala rahasianya.

tapi kamu bukan siapa siapa.

kamu hanya orang yang memberi suport kepadanya setiap hari saat dia sedih, saat dia merasa jatuh, dan saat dia sakit.

tapi kamu bukan siapa siapa.

kamu hanya orang yg merasa bahagia disaat dia bahagia, merasa sedih disaat dia sedih.

tapi kamu bukan siapa siapa.

kamu hanya orang yang selalu ada saat dia membutuhkanmu.

tapi kamu bukan siapa siapa.

kamu hanya orang yang selalu menyebut namanya dalam doa.

tapi ingat,

kamu bukan siapa siapanya.



Ps: ini puisinya Ayas :D

Senin, 06 Februari 2017

72 days

I was so scared to death. Aku nggak akan ngeliat dia lagi nanti. But nothing better than having her smile after missing it for 72 days.

She was in comma. She got hit by a motorbike, and I hate that bastard for almost loosing my love.

You know what, 72 days, equal to me missing my boyfriend's love. I lost it to another girl. I hate that bastard as well.

Fear

Ay, sebenernya lo pengen cowok yang kayak gimana, sih?

Simply, he loves me. Umm.. And of course my family.

Why?

Karena he knows what to do when he loves me. He understands me. He won't hurt me. Would you hurt the one that you love? No, rite? That's it. I don't want to be hurt anymore.

You haven't even move on from your past, Ay.

I moved. This pain turned into fear. A fear that he/she doesn't love you back when you deeply in love with him/her. And it's haunting me.

Rabu, 01 Februari 2017

Cerita Tentang Sitia

Random kali ini adalah tentang Sitia. Gue barusan ngirim whatsapp message ke dia which I stated that, 'kalo gue cowok kayaknya gue bakal naksir lo deh!'
Yes, it sounds creepy yet awkward. Terus Sitia nanya, 'why?', gue bilang gue juga ga ngerti kenapa, simply just because menurut gue dia cewe indie dan gue suka orang-orang indie karena mereka tuh ga ribet.
Terus dia bilang, 'Ay... regardless my gender Ay, I like you too. And that's probably why we still be friend to each other.'
Bener juga sih, sekarang pun, regardless my gender I like her. We actually have been through thick and thin in our teens. She's one of my best girl friends whom I only have a few.
Kalo diinget-inget dari jaman kelas satu SMA, Sitia itu banyak kontranya sama gue. We often argue. But still, she's my 'transmisi' to my 'switching' (pardon, local talk). We just click in our own way.
I sometimes envy her. She is way better than me in many ways. But as a friend, I also grateful for what she achieved so far. She deserves it.
She's the one who asked me an apology for not being able to made me 'a better person', yet I know, I am the one who actually need to sorry to her since I still cannot be a better friend of her. After all this time.
Teman yang baik, teman dunia akhirat. Semoga segera ya, Sit.
Salam rindu,
Dea Ananda.
*ini ga geuleuh sama sekali*
*ini sincere*

Senin, 30 Januari 2017

Gue Jatuh Cinta

Gue kayaknya jatuh cinta deh, Ay. Kata seorang kawan malam itu.
Dan aku hanya tersenyum, tanpa sedikit pun merasa harus menoleh.
"Gue serius ini. Gue ga cerita ke siapapun kecuali lo." Ujarnya serius. Kali ini aku terpaksa harus melihat wajahnya, untuk meyakinkan bahwa aku juga serius mendengar kata-katanya.
"Sama siapa?" Tanyaku.
"Sama temen kantor gue!" Jawabnya antusias. Dan kali ini dapat kupastikan ia sedang jatuh cinta. Matanya berbicara. Dan aku tersenyum lebih lebar kali ini.
"How do you know?" Tanyaku lagi.
"Well, I don't know. Tapi gue tau gue jatuh cinta sama dia."
"How?" Ulangku sambil mengaduk minuman di depanku, bibirku masih tersenyum.
"I act silly. Lo tau? Gue tadi sholat dzuhur, dan gue sholat sendiri. Nggak lama, dia dateng ke mushola, sendirian juga, pas banget waktu gue salam."
"Terus?"
"Begitu ngeliat dia, gue langsung berdiri lagi terus gue tanya dia, 'Mau jamaahan? Tadi gue baru sholat sunah doang kok.' Terus dia jawab, 'boleh'."
Refleks aku tertawa mendengarnya. Terlalu polos untuk seorang 24 tahun.
"Gue tau itu goblok banget. Tapi pas selesai gue imamin dia, gue berharap itu terjadi terus lima kali setiap harinya."

Selasa, 27 Desember 2016

10 Tahun yang Lalu

Kemarin, pas gue lagi scrolling instagram, gue ngeliat temen gue ngepost foto engagement dia sama seseorang. Sebut aja nama temen gue ini Rosi, dan tunangannya, Ardi.
Kebetulan gue kenal baik sama dua-duanya. Well, nggak kenal=kenal banget sih sama Ardi, tapi dia dulu temen deketnya mantan gue, so yeah, cukup tau lah. :p

Ngeliat foto engagement mereka, ingatan gue balik ke tahun 2007. Waktu itu Jakarta belum dipimpin sama Ahok, masih banjir di sana-sini, dan waktu itu lagi musimnya banjir besar 5 tahun-an. Sekolah gue tercinta, yang lokasinya persis di depan Kali Angke yang hitam menawan nan harum semerbak itu mau nggak mau ikut ambil bagian jadi korban banjir besar itu.
Gue masih inget, waktu itu kalo nggak salah hari Jumat, dan pulang cepet. Gue balik ke kosan sepayung berdua sama Guntur (:"), terus menerjang banjir yang udah se-paha tingginya.

Lusa setelah kejadian banjir besar itu, kita masuk sekolah lagi. Di sekolah, kita ngomongin cerita-cerita pas banjir kemarin, mulai dari gue yang seneng gara-gara sepayung berdua sama Guntur, temen-temen gue yang harus jalan kaki berkilo-kilo meter buat pulang, atau mereka yang pulang dengan numpang truk atau mobil pickup, dan banyak cerita yang lain.

Gue masih inget banget, waktu itu Rosi cerita sama gue, pas pulang sekolah kemarin, dia ngeliat Ardi.
"Aaaaaay, masa kemarin gue ngeliat kak Ardi pulang ngegendong Kak Tariiiiiii... Sweet bangeeeeeeet!!" Katanya semangat, yah ala-ala cewe lagi nonton drama korea gittuuu.
Emang, waktu itu Ardi ini lagi pacaran sama Kak Tari, dan pacaran mereka emang tipe-tipe sweet gitu. Ibarat Awkarin sama Gaga lah.
Waktu itu, hampir 10 tahun yang lalu, pacaran ala Ardi dan Tari ini jadi relationship goals buat Rosi. Rosi selalu semangat cerita tentang kisah Ardi sama Tari. Kebetulan pacarnya Rosi waktu itu satu geng juga, jadi Rosi lumayan sering jalan bareng sama Ardi dan Tari. Waktu itu, gue sempet mikir kalo Rosi suka sama Ardi, atau Rosi suka sama cowok-cowok tipe Ardi yang manis dan romantis, walau pemikiran ini cuma selintas doang sih karena kan Rosi udah punya pacar waktu itu.

Hmm.. apapun itu, buat gue pribadi, cerita ini jadi menarik. You would never know what'll going on the next 10 years! Dulu, Rosi mungkin cuma naksir-naksir ala kadarnya sama Ardi. Tapi, 10 tahun dari waktu itu, Ardi dateng ke rumah Rosi buat ngelamar. Ini jauh lebih sweet sih buat gue. :"

Kalo Rosi atau Ardi punya kesempatan buat baca tulisan ini, gue cuma mau bilang sama kalian selamat, semoga dilancarkan apa yang udah direncanain sampai hari H, dan semoga berkah semua niatannya. Chukae!


Kamis, 22 Desember 2016

Suddenly Tiba-tiba

Suddenly tiba-tiba kali ini adalah tentang Ndau, temen SMA yang udah gue kenal dari jaman SMP.
Karena kita sama-sama naik kereta buat ke kantor, gue sering banget nanya Ndau udah balik atau belum biar bisa ketemu kalo pas pulangnya barengan. Tapi chatting sama Ndau nggak pernah beneeeeeeeer :'(

Jumat, 16 Desember 2016

Percakapan Sepanjang Jalan

Kemarin malam gue pulang bareng seorang temen.
Umm
Nebeng sih lebih tepatnya.

Di jalan, gue sempet cerita tentang seorang temen lain yang baru aja pacaran. Sebelumnya, dia berencana buat ga pacaran dan nyoba buat jalanin yang namanya proses ta'aruf. Sayang, rencana emang kadang nggak semulus kulit Song Joong Ki, proses taarufan itu harus gagal karena satu dan lain hal.

Gue terus randomly nanya sama temen gue ini, "nanti lo berencana untuk pacaran nggak?"
"enggak," kata temen gue.
Hmm menarik, karena temen gue ini terhitung laki-laki yang banyak ditaksir sama cewe-cewe walopun dia ga cakep-cakep amat 😅

"Sebenernya kadang ada sih keinginan buat pacaran gitu," lanjutnya.
"Kadang ada kalanya lo ngerasa butuh orang buat support lo, misalnya waktu lo down. Kalo punya pacar kan enak tuh, lo bisa cerita apa aja," katanya.

"Nah itu dia! Gue tuh kadang ngerasa butuh pacar buat hal-hal kayak gitu!" potong gue dengan semangat.

Percakapan kemudian berlanjut, dimana si temen gue ini bilang kalo dia kalo bisa nggak pengen pacaran dan lebih milih buat langsung nikah nantinya. "Prosesnya nggak seekstrim ta'aruf yang gimana-gimana gitu. Tapi kalo bisa, kalo emang dua-duanya udah siap ya langsung nikah aja," katanya.

Buat gue pribadi, gue masih susah ngebayangin kalo seandainya gue ngejalanin proses ta'aruf. Apalagi yang menurut kami berdua ekstrim tadi, kayak misalnya tukeran CV dll. Sampai saat ini gue masih ngerasa perlu proses pacaran dulu untuk menuju ke proses pernikahan. Mencoba saling kenal dan paham satu sama lain. Emang sih proses untuk kenal itu bisa dilakukan dengan berbagai cara nggak cuma pacaran. Well, ta'aruf sendiri juga artinya perkenalan. Tapi mungkin, gue masih belum sesiap ituuuu buat kenal sebentar kemudian bersiap buat hidup bareng seumur hidup. Umm.. Yaaa beda sih buat masing-masing orang. Walaupun menikah itu sama-sama bertujuan untuk ibadah, tapi butuh 'sesuatu' yang nggak bisa gue tulis dengan kata-kata buat bikin seseorang berani untuk ngejalanin proses ta'aruf. Mungkin, iman.

Btw, pas nebeng kemarin, kita lewat jalanan kota dan ngelewatin gedung-gedung dengan lampu-lampunya yang cantik-cantik. Terus gue bilang sama temen gue itu, kalo gue suka banget ngeliatin lampu-lampu gedung kayak gini. Manis, dan romantis.
Huft, how I wish I were with my bf at that time, bukan sama temen. :"
Sabar ya, Ayunnisa :"

Sabtu, 10 Desember 2016

Analogi Sepatu

Sekitar satu bulan yang lalu, gue ngajak nyokap buat nemenin gue beli sepatu. Sepatu ini udah lama banget pengen gue beli, dan kebetulan gue juga butuh sepatu baru (karena gue ke kantor pake sepatu bokap gue yang ukurannya 4x ukuran kaki gue selama ini). Standard sih sepatunya, cuma sepatu sneakers putih ala-ala anak tumblr masa qni~
Nyampe di mall, gue ga langsung ke store merk sepatu yang gue tuju, tapi ke store lain. Di store itu gue milih-milih sepatu, kali aja ada yang kuy. Tapi ternyata harganya mahal-mahal buat keuangan gue waktu itu. Sayangnya, nyokap gue justru seneng banget sama sepatu itu. Gue akhirnya bilang, 'Ma, liat yang lain lagi deh', sambil ngajak nyokap nyari ke store yang sebenernya emang gue mau.
Sambil jalan-jalan nyari store merk sepatu yang gue mau, gue coba masuk ke 3 stores yang beda buat nyari sneakers putih yang harganya bisa di bawah sneakers yang gue mau, tapi at least warnanya putih. Tapi sayang, di 3 stores itu baik gue atau nyokap sama-sama nggak sreg sama pilihan sepatu yang ada.
Akhirnya, gue sama nyokap ke store merk sepatu yang gue mau. Ternyata ada tuh sneakers yang gue mau, walaupun bukan type yang gue mau tapi at least agak mirip. Harganya juga lumayan mahal, tapi nggak semahal sepatu pertama yang nyokap suka. Dan sayangnya, nyokap juga ga seneng sama sepatu ini.
Ending dari sneakers hunting waktu itu adalah gue akhirnya beli sepatu yang nyokap seneng. Dengan harga 3x lipat lebih mahal dari budget dan target awal gue. Tapi setelah gue pikir-pikir yawdalahyaaaa~ gue masih bisa beli sepatu seharga 1/3 harga sepatu ini nantinya. Awalnya, gue beli atas dasar mau nyenengin nyokap gue aja.
Ternyata eh ternyata, sepatu yang gue beli dengan setengah hati itu, sekarang jadi sepatu yang gue sayang luar biasa. Sol-nya enak banget, ada bantalan empuknya gitu yang bikin kita nggak pegel kalo lagi berdiri lama (maklum anker keras hidupnya!). Kalo gue lari ngejar kereta juga sepatu ini enak banget, enteng.
Btw, kemarin gue pulang bareng seorang temen. Dia gue minta buat nyeritain tentang kisah baru yang rencananya mau dia rajut ama seorang cewe (dd dd gmz lebih tepatnya).
Nah, sebelum sama si cewek ini, si temen gue ini sempet berencana buat deket sama seorang cewek. Cewek ini baik, dari agama sampe pribadinya insyaAllah baik dan udah layak diperistri. Sayangnya, niat buat taarufan ini justru terhalang dari orangtua si temen gue, karena satu dan lain hal. Pas gue tanya, "terus lo gimana?", si temen gue itu cuma jawab "Yaa sebenernya kecewa sih, tapi gue yakin nyokap lebih tau mana yang lebih baik buat anaknya".
Gue tiba-tiba jadi keingetan soal sepatu kesayangan gue. Waktu itu gue ga mau sama pilihan nyokap gue, bukan karena pilihan nyokap gue jelek, nggak modis, dsb. Tapi justru lebih karena sepatu itu terlalu bagus dan mahal buat gue, yang menurut gue ga affordable dan ngeliat keuangan gue yang segitu, gue lebih milih buat beli sepatu yang biasa aja. Toh sepatu yang biasa aja, asal nyaman dan warnanya putih (yang gue mau banget), udah cukup buat memenuhi kebutuhan gue 'saat itu'. Tapi setelah gue beli sepatu itu dan gue pake selama sebulan ini, gue baru sadar ini tuh something that worth to buy! Sepatu ini nggak cuma ngasih style dan nyaman, tapi nyaman banget. Plus pride! Seriusan, sepatu ini banyak yang lirik. Gue bahkan nggak nyangka sebegitunya.
Gara-gara cerita si temen gue dan sepatu itu, gue jadi paham, ternyata begitu sebenernya cara kerja ucapan orangtua. Futuristic abis!  Dia bisa maju sekian waktu ke depan. Dari dulu sering banget gue beda pendapat sama nyokap-bokap gue, dan emang gue akui seringkali ada masa di mana gue ngomong dalam hati, 'ah, coba dulu ikut apa kata orangtua'. Entah sistemnya gimana, tapi konspirasi antara feeling dan ridho orangtua seringkali menang mutlak kalo udah diadu sama ego kita buat milih suatu hal.
Ini yang ngebuat gue pada akhirnya memutuskan buat nurunin ego dan ngalah, buat nerima saran dari orangtua gue buat nentuin beberapa pilihan hidup gue terutama yang essential. Alesannya, nggak lebih dari sekedar berharap ridho dari keduanya yang jadi wakil perantara ridho Tuhan di hidup ini. Dengan gue nurut apa kemauan mereka gue cuma berharap nantinya, bukan cuma gue yang bahagia sama keputusan yang gue ambil, tapi juga orangtua gue dan orang banyak.

Rabu, 07 Desember 2016

Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama

Saya ingat ketika kali pertama saya melihat kamu kala itu.
Melihat kamu duduk di sudut ruangan, menunggu.
Saya ingat baju yang kamu pakai saat itu.
Pun dengan sepatu yang kamu pakai saat itu.
Sekilas saya melihat punggungmu berlalu.
Saya tahu saya sudah jatuh cinta pada sosokmu.
Bahkan ketika saya belum melihat bagaimana rupamu.

Jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkin rasanya seperti itu.
Semoga kelak kita bersatu.

Sabtu, 19 November 2016

Menjadi Baik

Kalau lo adalah perempuan, bukan suatu hal yang sulit rasanya buat bisa mengidentifikasikan perempuan (lain) yang lagi jatuh cinta.
Perempuan yang lagi jatuh cinta itu gampang banget diliat sama (sayangnya, bukan sama si laki-laki yang dia suka itu) perempuan lain di sekitarnya.

Gue punya seorang temen perempuan, sebut aja namanya Mia. Belakangan ini, gue bisa dengan sangat jelas ngeliat dan ngejudge kalo Mia ini lagi jatuh cinta. Those blushing cheeks, those excitements, and so on. I just can tell that she is really into someone.
Dan kebetulan, gue tau siapa orang yang dia taksir ini. Gue kenal sama cowok yang Mia suka, nggak kenal baik, tapi cukup tau untuk ngerti tipe orang yang kayak gimana si cowok ini.

Kalo boleh jujur, sebenernya juga gue suka sama si cowok ini. Entah suka yang kayak gimana, yang jelas memang si cowok ini admiring. Cowok ini memang pribadi yang baik dan menyenangkan, yang bisa bikin semua orang baik cowok ataupun cewek falling into him gitu. Tapi dalam kasus ini, Mia jelas lebih dari sekedar admiring si cowok ini. Dia naksir.

Salah satu indikator yang bikin gue yakin kalo Mia naksir sama si cowo ini adalah ketika gue mulai ngeliat perubahan-perubahan di diri Mia. Terutama dalam hal agama. Si cowok ini, emang terkenal punya sisi agamis yang bagus, jadi wajar ketika perubahan pertama yang menurut gue paling keliatan dari diri Mia adalah dari sisi agama.
Mia, yang tadinya jarang beribadah jadi sering beribadah.
Dan gue pribadi justru seneng ngeliat itu.

Gue sendiri pernah ada di posisi nya Mia. Gue rasa emang gue tipe orang yang gampang terpengaruh sama orang lain. Karena gue naksir sama seorang cowo yang baik dan agamis, gue jadi ikut-ikutan jadi baik dan agamis.
Sempet sih, kepikiran kalo apa yang gue lakuin itu salah, dan itu kepikiran lagi ketika gue sadar perubahan Mia. I mean, pasti akan ada suara-suara yang bilang kalo niat lo salah, karena lo menjadi baik (mungkin aja) cuma biar terlihat baik di mata doi, bukan di mata Tuhan.

Tapiii, entah kenapa kemudian gue berpikir. Rasanya nggak salah juga sih kalo Mia berubah menjadi baik demi si cowok itu. Toh, kalo memang pada akhirnya 'baik'-nya itu seterusnya dan nggak cuma sebatas 'di cowok itu', gue rasa cowok itu malah bisa jadi media Tuhan buat 'memperbaiki' Mia.

Buat gue pribadi, memang indah keliatannya ketika cowok yang gue suka dan kemudian jadi pasangan gue adalah cowok yang baik, dengan kualitas pribadi yang baik juga. Terlebih yang bisa ngebimbing gue ke arah yang lebih baik. Yang bisa jadi support system buat satu sama lain, yang sama-sama punya tujuan yang baik juga.
Jadi, buat Mia, kalo emang cowok itu bisa bikin lo jadi lebih baik, cobalah untuk ambil semua yang baik-baik dari cowok itu. Dan buat si cowok, you are really a good guy, semoga apapun yang lo lakukan juga bisa berdampak baik, bukan cuma buat diri lo sendiri tapi juga orang banyak. :)

Rabu, 19 Oktober 2016

Minta Maaf

Atas dasar rasa kemanusiaan dan kasian, gue pengen minta maaf sebenernya sama si Item, gara-gara udah (menurut dia) kelewat sering gue jadiin korban PHP.  Mulai dari php jam karet sampe cancelling janji.

Tapi malem ini beneran ga tega ngeliat dia 😂😂
Mukanya capek dan ngantuk banget, tapi masih harus dan mau (hmm..😞) nungguin gue 20 menit dari janji yang udah ditentuin sebelumnya.

Duh, walau kadang mulutnya nyebelin tapi baik sih emang dia :')
Mianhae, Teeeeeeeeem. Gumawo :')

Senin, 26 September 2016

Pelangi-nya Hivi

Gue termasuk orang yang suka cerita dan memaksa orang lain untuk suka juga sama segala hal yang gue suka, entah itu film, makanan, artis atau lagu. Kayak misalnya, belakangan gue lagi suka sama lagunya Yura Yunita yang Intuisi sama Hivi yang Pelangi. Nah untuk lagu yang terakhir gue bahkan bikin cover-nya walaupun suara gue jelek :p
Tapi kalo mau dengerin bisa didenger di kanal soundcloud gue di sini

Nah, gara-gara gue lagi tergila-gila sama dua lagi itu belakangan ini, gue cerita lah tuh sama temen (cowo) gue kalo gue lagi suka sama lagu ini. Terus dia nanya, "lo baru suka lagu ini, atau baru tau lagu ini?"
"Baru tau. Kenapa gitu?" tanya gue balik.
"Anjir, telat amat lo!" katanya. Gue bingung.
"Oh lagunya udah lama ya? Gue baru denger kemarin di GEN." jelas gue mong-ly. Iya, mong, alias blank kayak Song Ji Hyo.

"Kemarin Ay, gue sempet deket sama cewek. Tapi gue ga bilang sama lo, karena hubungan gue sama dia juga masih terlalu dini banget. Gue bahkan nggak tau gue udah sayang sama dia atau cuma sebatas care. Tapi gue care banget sih sama cewek ini. Dan si cewek ini jauh lebih care lagi ke gue."

"Oh ya?"

"we kissed, Ay. Tapi gue ga nganggep gimana-gimana."

"Terus?"

"Kayaknya dia baper gitu sama gue. Emang gue kalo jalan sama dia suka mosisiin diri gue as 'cowok'nya dia, gue jagain, gue sayang, I treated her well lah, nggak kayak waktu gue sama lo gini."

"Ih, kampret. Envy gue!"

"Nanti sama lo kan beda lagi"

"Terus, terus?"

"Dia mulai sering nelfon gue. Mulai sering ngasih perhatian yang lebih dari sebelumnya. Ngasih gue kado ulangtahun, yang bahkan nggak gue share ke mana pun atau ke siapa pun, termasuk lo,"

"DEMI APAAAA? LO DAPET APAAA?"

"Kayak kartu pop up gitu, sama sweater. Dia bahkan ngirim gue personal pizza. Ga ngerti lagi gue waktu itu."

"Anzir, mau pizza!"

"Yeee, taik! Gue masih mau cerita nih!"

"Iya, tapi nanti beli pizza."

"Nggak lama setelah gue ultah, dia ultah juga. Tapi gue ga ngasih apa-apa. Gue cuma jalan sama dia, pas gue anterin depan rumahnya, dia gue cium terus gue bilang selamat ulangtahun. Udah beneran gitu doang."

"Aish, rugi amat jadi dia." :'D

"Iya. Gue sempet ngerasa gue jahat sih sama dia. Tapi gue nggak yakin gue udah baper sama dia, soalnya biasa aja. Nggak ada degdegannya."

"Uhumm.. terus?"

"Beberapa hari setelah ulangtahunnya dia itu, dia jadi berubah. Intensitas dia ngehubungin gue jadi berkurang. Dia nggak pernah nelfon gue, dia udah jarang ngechat gue. Gitu deh, intinya gue ngerasa dia udah nggak tertarik sama gue."

"Atau mungkin udah kecewa." potong gue.

"Mmm..mungkin."

"Gobloknya, gue mulai ngerasa kangen sama dia. Walaupun dia nggak bawel kayak lo, tapi gue suka kalo dia lagi ngomong. Dari situ gue mulai bingung lagi sama perasaan gue."

"Terus terus?" gue makin penasaran.

"Dia tiba-tiba ngupload video di instagram-nya, video dia nyanyi lagu Hivi itu."

"Mau liaaat~"

"Entar elah!"

"Kok galak sih lo?"

"Kesel gue lagi cerita dipotong-potong!"

"Iya, iya. Terus?"

"Habis itu gue baru ngerasa ada titik yang 'deg', gue takut dan ga mau dia cabut dari gue. Gue telfonin terus dia, udah gitu ga diangkat-angkat. Ada kali gue miskol dia 20x. Gue chat. Mulai dari manggil nama, nanya lagi ngapain, sampe balik manggil nama lagi, masih ga dibales-bales juga. Gue pengen banget ketemu dia hari itu."

"Lo kenapa nggak ke rumah dia?"

"Gatau, gue ga gerak aja. Kesel sendiri gue."

"Uhmm.."

"Terus tiba-tiba ada chat dari dia, 'sorry yaaaa R, gue baru bales. Tadi lagi ribet gue. Gitu lah. Habis itu langsung gue ajak ketemuan tuh, kalo perlu gue jemput dari kantornya saat itu juga."

"Terus lo langsung gas?"

"Kagak. Dia nggak bisa bilangnya, ribet"

"Nggak mau kali, bukan nggak bisa. Namanya juga cewe."

"Iya kali ya. Tapi habis dari situ gue tau gue udah salah langkah banget. Kalo waktu itu gue at least nyoba ngebales apa yang udah dia lakuin ke gue, hari ini gue ga bakal sama lo, pasti gue lagi sama dia."

"Yeuh..."

"Kesel gue sama diri gue sendiri."

"Hahahaha. Mampus!"

"Iya, nyet. Kayaknya gue sebenernya udah baper sama dia, tapi masih ragu-ragu. Eh sekarang malah dia lepas dari gue."

----

Gue cuma bisa ngetawain kebodohan si temen gue ini, sambil ngebatin di dalam hati, dasar laki-laki.

Kamis, 25 Agustus 2016

Penelepon Terakhir

Musim hujan ini memang membuat sebagian orang repot. Termasuk aku, yang malam ini harus mengisi jadwal siaran rutinku dari jam sembilan sampai jam 12 malam di salah satu radio swasta di kota ku. Sepulang kuliah malam sekitar jam 8, aku langsung meluncur menembus hujan ke radio tempatku bekerja.

Hari ini hari Jumat, jadwal terakhir ku siaran di minggu ini. Seperti biasa, setiap hari Jumat di akhir sesi siaran ada segmen Tanya Naya, sebuah segmen tanya jawab dari listeners yang nantinya akan ku jawab.

"Delapan enam koma tujuh Lite FM we spread the light, we spread the love. Di jam-jam terakhir Naya nemenin kamu nih di hari Jumat ini, liteners. Tapi Naya masih ngasih satu kesempatan buat penelepon terakhir malam ini buat ikutan Tanya Naya kali ini. Silahkan siapa aja boleh nanya Naya apa aja. Halloo.."

Operator siaran kali itu memberi tanda belum ada telepon yang masuk.

"Oooh ternyata belum ada liteners yang mau nanya-nanya lagi nih sama Naya. Kita coba sekali lagi, hallo.."

Operator memberi tanda jempol yang artinya sudah ada penelepon yang masuk kali ini.

"Hallo..." sapaku sekali lagi.

"H..ha..haloo" balas suara di seberang sana terputus.

"Hallo?" ulangku.

"Hallo." jawabnya pelan. Aku masih kurang bisa mendengar suara itu dengan jelas.

"Iya, hallo.. Tanya Naya, ada yang mau ditanya sama Naya. Dengan siapa dimana?" tanyaku langsung sesuai prosedur.

"B..ba..." sayangnya suara itu terlalu kecil dan kurang jelas, bahkan masih kalah dengan suara backsound.

"Maaf sebentar, Mas Ari bisa minta tolong dikecilin backsoundnya, aku agak kurang jelas dengernya. Iya, Tanya Naya, ada yang mau ditanya sama Naya. Siapa iniii?" jawabku.

"Bani." jawabnya singkat dan padat. Deg. Aku hapal suara ini.

hhh.. aku menghela napas pelan.

"Kamu apa kabar?" tanyaku pelan. Lupa kalau ini masih on air.

"Baik.." jawabnya.

Saat itu kepalaku langsung pusing. Aku sangat hapal suara siapa ini. Hampir sekitar 6 tahun suara ini terlalu akrab di kepalaku. Aku butuh oksigen sebanyak-banyaknya saat itu juga.

"Hai, Bani! Bani mau nanya apa nih sama Naya?" Untung aku bisa menguasai keadaan.

"Emm.. Cuma mau nanya, apa sih hal yang paling kamu sesali di hidup ini?" tanyanya. Masih dengan suaranya yang pelan dan dalam.

"Hal yang paling Naya sesali di hidup ini tuuuuh... emmm.. menyia-nyiakan kesempatan." jawabku. Aku tau kemana arah pertanyaan ini.

"Oh.. Oke kalau gitu. Thank you."

"Sama-sama, Bani. Terima kasih juga.. Oh iya, Bani mau request lagu apa nih buat malam ini?"

"Sheila On 7, Yang Terlewatkan."

Deg.

"Oke nanti kita puterin yaa Sheila On 7 nyaa. Terima kasih udah ikutan Tanya Naya malam ini. Byee."

Deg. Entah sudah berapa kali rasanya jantung ini berhenti sepersekian detik. Suara ini. Suara yang kurang lebih 6 tahun kemarin sering berputar di kepalaku. Suara yang dulunya rajin bertanya aku sedang apa. Suara yang dulu dengan lembutnya menyebut, aku sayang kamu. Suara yang kemarin baru saja berhasil aku lupakan.

Entah kenapa ruang siaran kali itu rasanya menyempit dengan cepat dan menjepitku hingga aku sulit untuk bernafas. Aku bahkan lupa menutup segmen itu, kalau saja aku tak melihat Mas Ari memberi isyarat padaku untuk closing.

"Waw. Huft."

"Terima kasih buat Bani yang udah ikutan Tanya Naya kali ini. Habis ini Naya bakal muterin Sheila On 7 nya yang juga lagu terakhir buat malam ini. Terima kasih buat Liteners yang udah nemenin Naya dari jam 9 malam tadi. Jangan lupa buat dengerin Naya terus setiap hari mulai dari jam 9 sampai jam 12, cuma di Lite FM, We Spread The Light, We Spread The Love. Naya pamit. Bye." tutupku singkat. Aku menghela nafas seketika itu juga. Ku buka headphone ku dan berusaha berjalan keluar. Ketika ku buka pintu ruang siaran, dia berdiri persis di depanku. Berjaket biru, kesukaanku. Membawa sebuket bunga. Saat itu entah kaki ku ada dimana. Aku lupa.

Malam, hujan, pertanyaan tentang masa lalu, dan kamu di depanku.

----

sayang, ini gue bikin pas gue lagi ngantuk luar biasa. Tapi gue udah terlanjur janji, nulis ulang cerita yang diceritain temen gue. semoga aja nanti bisa diperbaiki lagi.













ps: ini gue copy ulang setelah sebelumnya gue tulis di notes facebook. Cerita ini sebenernya cerita beneran, nyata, dari seorang penyiar radio terkenal di ibu kota. tsailah~ gue diceritain sama temen gue, dan karena ini sweet jadi gue gatahan buat ceritain ulang.

Selasa, 03 Februari 2015

Kalo Pacaran Lagi, Siap Nggak...

Itu jadi sebuah pemikiran yang tiba-tiba aja muncul di benak gue. Aneh sih. Gue selama ini nggak pernah ngaitin pacaran sama dosa, walaupun gue tau, pacaran itu udah dosa. Tapi, tiba-tiba aja beberapa waktu belakangan ini gue menjadi tidak tertarik sama pacaran. Awalnya sih mungkin karena trauma, atau masih menyimpan luka. Terus ganti, jadi karena gue ngerasa it is not proper kalo baru putus pacaran terus udah nemplok sana-sini. Kemudian alesannya jadi berubah karena gue ngerasa perlu waktu buat belajar, karena gue rasa gue sendiri juga perlu banyak belajar dari banyaknya kesalahan gue. Terus alesannya berubah lagi, anjir ternyata gue emang butuh waktu sendiri, dan perlu ketemu lebih banyak orang lagi sebab dunia-itu-nggak-segede-rasa-cinta-lo-ke-pacar-lo-atau-mantan-lo. Tapi lama-lama alasan itu berubah lagi. Belakangan, gue ngerasa pacaran itu agak ngebuang-buang waktu gue. Oke, tadi awalnya gue ngomongin soal dosa. Tapi gue tetep aja bukan anak Rohis, yang ikutan kajian gitu-gitu sih. Ini cuma berdasarkan pengalaman dan pengamatan.

FYI, gue bukan tipe orang yang doyan pacaran sebenernya. Kalo boleh jujur, dulu gue lebih suka hubungan tanpa status, dimana lo bisa bebas dan ga terikat, tapi lo punya orang buat sharing hidup gitu. Gue pacaran sendiri kalo ga salah baru dua kali. Dan jelas gagal dua-duanya. Hehe.

Nah, setelah gue udah ga pacaran lagi kan gue mulai ditanya-tanya nih, siapa pacar barunya sekarang. Waktu itu sih, gue masih santai bilang, tahun depan lah, kelarin masa iddah dulu. Jadi, gue emang berniat buat buka hati gue setelah setahun pasca putus gituuu.. tapiiiii, realitanya sih belum ada satu tahun, hati gue udah gue buka lebar-lebar walaupun di mulut masih bilang entar-entar. :p

Pertanyaan tentang pacar baru ataupun siapa cowok lo sekarang tuh kayak udah bikin gue begah bin jengah gitu, kayak jaman dulu. Dan karena kegagalan masa lalu dan euforia kebebasan ngeliat dunia luar bikin gue tiba-tiba jadi mikir buat pacaran. Kayak yang waktu itu dibilang Mido, “Why shoul I?”. Ngapain gue harus pacaran?

Lama kelamaan gue jadi inget lagi, gue waktu pacaran ngapain aja, dan gue juga jadi observ kalo orang pacaran tuh kayak gimana dan ngapain aja. Gue tiba-tiba secara random menyimpulkan kalo pacaran itu sebenernya nggak lebih dari buang-buang waktu dan ngumpulin dosa.

Kemarin di mobil, gue sama si item Faraz ngomongin soal hal ini. Gue nanya sama si kecap, “Cap, pernah mikir nggak sih lo, kalo lo jadi cewek. Lo pacaran, terus lo lalalili sama pacar lo. Eh, nggak usah lalalili deh. Lo ciuman aja. Lo ciuman sama pacar lo. Terus lo putus aja gitu. Dan terus besok lo pacaran sama yang lain, dan lo gitu lagi. Lo ngerasa nggak sih lo jijik sama diri lo sendiri?”

Terus si item bilang, kalo yang namanya pacaran itu emang mengarah ke dosa, Yu. Susah buat pacaran dan lo nggak dosa, karena pacaran itu sendiri aja udah dosa. Minimal-minimalnya lo pacaran, lo pasti pegangan tangan. Terus kalo ada kesempatan ya bakalan lanjut lah. Pada dasarnya, laki-laki itu emang nafsuan, nah si cewek buka jalan. Ya ketemu. Salut lah kita kalo ampe ga ketemu. Mau apapun itu, ujung-ujungnya yang rugi ya cewek.

Bener juga kata gue. Apapun itu, yang rugi tetep cewek. Dan ujung-ujungnya, yang bakalan nyesel ya si cewek. Kalo cowok ya mau apa lagi coba? Tapi kalo cewek? Ya, pikir lah sendiri. Agak sebel sih emang, kadang mungkin pemikiran cowok nggak bakal sampe, dan mereka nggak akan pernah ngerasain apa yang cewek rasain. Tapi emang mau gimana lagi. L

Makanya, ketika gue mau pacaran lagi (dan pemikiran itu sering banget muncul! Sebel!), gue balik nanya ke diri gue lagi. Siap nggak, buat nampung dosa lagi. Gausah perkara mesum. Perkara lo kotor hati aja nambah pas lo pacaran. Suudzon, iri, dengki, dan sebagainya, udah nambahin dosa lo. Ya kalo balik ke pemikiran awal gue soal hal ini, pertanyaannya ya balik lagi, “lo mau, tambah ngerasa bersalah sama diri lo?”

Pacaran itu kalo dipikir-pikir ga segampang yang sebelumnya dipikirin. Apalagi mungkin udah tambah dewasa ya. Pacaran jadi susah, karena yang di relate tuh ga cuma lo-sama-doi, tapi lo, pacar lo, keluarga lo, keluarganya dia, temen lo, dan juga temennya. Jadi ribet gitu, walaupun bisa aja dibawa ga ribet. Tapi balik lagi, ini masalah kesiapan. Lo siap apa engga. Cause every action has a reaction. Lo siap baik-buruknya nggak?


Note ini beneran no offense deh. Ini pure dari gue sendiri dan buat gue sendiri. Karena gue emang suka random orangnya, dan suka ga peduli apapun waktu mau nyatain pendapat. Tapi ini emang buah kerandoman itu sih. Gue sendiri ga muna, I’m not a good one, dengan gue ngeluarin pendapat gue yang ini. Mungkin ada beberapa orang yang bakal berpikiran “cih!” lah ke pemikiran gue ini. Tapi ya terserah, semua pasti punya pandangannya masing-masing.

Jumat, 05 Desember 2014

Trip to Siwa! My best trip ever!!

Salah satu pengalaman yang paling menarik selama hidup di Mesir kemarin adalah jalan-jalan ke tempat-tempat wisata bareng sama temen-temen disana. Dari beberapa trip liburan itu, trip ke Siwa mungkin jadi trip paling keren buat gue.
Siwa itu salah satu daerah wisatanya Mesir. Letaknya di bagian barat Mesir di perbatasan antara Mesir dan Libya. Karena situasi dan kondisi Libya yang lagi rusuh, dan emang militer Mesir suka riweuh, trip ke Siwa ini jadi agak ribet, kayak kita harus ngumpulin paspor, terus kalo mau kemana-mana harus izin militer, dan ada cek in dari pihak militer.
Trip ke Siwa sendiri kita lakukan H-3 lebaran, kalo nggak salah sih tanggal 25 Juli 2014. Total peserta yang ikut trip ini tuh sebanyak 76 orang, dan kayaknya jadi trip dengan peserta paling banyak deh selama gue internship disana. And here the story goes....

Day 1

Hari pertama seperti biasa kita kumpul di meeting point kita di Starbucks, City Center, Nasr City, Kairo. Sekitar jam 6 pagi, dengan muka ngantuk-ngantuk kita semua udah ngumpul, buat nungguin bis yang bakal bawa kita ke Siwa. Di perjalanan, gue duduk di samping Marwan (Rumania), dan ngehabisin 12 jam perjalanan mostly dengan tidur. Kadang-kadang nyanyi-nyanyi, ngobrol sama temen-temen, tapi paling banyak sih tidur. Bosen juga ngeliat kanan-kiri yang isinya cuma gurun lagi, gurun lagi. Kanan kiri tuh warnanya monoton, cokelat, kering, jadi ngebosenin.
Sekitar hampir jam 7 malam, kita akhirnya nyampe Siwa. Yeaay!! Capeeeek duduk mulu di bis. Pas pertama kali gue ngeliat Siwa, kotanya tuh kecil, jalan-jalannya juga kecil. Warung dimana-mana. Kotor, kayak kota-kota lain di Mesir. Pokoknya belum nemu bagusnya deh.

Pas nyampe hotel, kita dibagi-bagi kamar, dan gue milih buat sekamar sama Amal (London).. Hotelnya sih lumayan bagus namanya Siwa Paradise, model hotel jaman dulu deh. Tapi unik, jadi gue suka. Pas malem itu di hotel kita cuma numpang mandi dan bersih-bersih, habis itu kita pergi ke restoran deket situ buat makan. Makan malem yang disediain ada spaghetti, terus salad, sama roti ish khas Mesir. Sayang nggak gue foto makan malem itu.

Kamar di Siwa Paradise

Habis makan kita berombongan pergi ke Old Siwa, dengan jalan kaki, karena deket banget sama hotel. Jadi Old Siwa itu sebenernya gunung mati gitu. Di jaman dulu, orang-orang Siwa tinggal di gunung ini. Mereka bikin rumah dari tanah dan lumpur. Setelah masuk ke jaman modern, mereka mulai tinggal di rumah-rumah. Rumah mereka di gunung mati ini juga akhirnya habis karena tergerus hujan. Akhirnya gunung mati ini jadi salah satu objek wisata di Siwa.
Balik dari Old Siwa, gue dan beberapa anak ngumpul di kolam renang hotel yang penampakannya disaster abis. Kolam renang itu ga pernah dibersihin, dan pastinya ga pernah dipake. Tapi suasana sekitarnya masih enak, jadi kita ngumpul-ngumpul deh disana.

nongkrong di kolam renang yang mungkin udah jadi kolam racun

Gue, Amal, Adil (Oman), Xristi (Yunani), sama Matheus (Brazil) sepakat buat liat sunrise di Old Siwa besok paginya. Dan kita bakal janjian di kamarnya Adil jam setengah 4 pagi. Setelah sepakat, kita balik ke kamar masing-masing buat tidur cepet dan ga ikutan nongkrong di warung shisha sama temen-temen lain.

Day 2

Hari ini kita mulai pagi banget, bahkan sebelum pagi dateng. Kayak yang kemarin udah disepakatin, gue sama Amal ngumpul di kamarnya Adil sama Matheus, Xristi udah ada disana juga. Jam setengah 4 kita udah jalan ke Old Siwa. Suasana kota waktu itu sepiiiiii banget. Cuma ada anjing-anjing liar yang lewat, dan satu dua orang yang kayaknya dari/mau ke pasar. Dan pas kita naik gunung, ternyata segunung itu emang cuma kita berlima doang.
Udara dan angin pagi itu dingin banget. Untungnya gue pake cardigan, jadi lumayan lah ga kedinginan. Sambil nunggu matahari terbit, kita cuma ngobrol-ngobrol dan nikmatin suasana itu. Sampe akhirnya sekitar jam 4, matahari akhirnya terbit juga. Terbitnya pelan-pelan, sampe akhirnya bulat sempurna, yang sayangnya nggak nyampe 5 menit bisa kita nikmatin.
Old Siwa di pagi hari yang sepi macam hati ini 

Sunrise dari Old Siwa



Sekitar jam 5 kita balik lagi ke hotel, dan kita punya ide iseng banget buat ngerjain Nikol (Yunani) sama Galia (Rusia). Siapa lagi yang punya ide gila ini kalo bukan Xristi yang sekamar sama dia. Jadi si Xristi kan punya pisau gitu, nah terus dia bangunin Nikol sama Galia sambil pura-pura mau negbunuh gitu. Pas dibangunin kayak gitu Nikol sama Galia langsung ngambek berat. Nikol malah langsung keluar cuma pake cd sama tanktop doang buat ngejar Xristi.
Gue sama Amal terus balik ke kamar menghindari perang saudara gara-gara Galia mukanya udah ngambek parah. Terus kita mandi dan beres-beres. Sekitar jam 6 kita ke restoran hotel buat sarapan. Sarapan pagi itu yaaa sarapan ala-ala lah. Croissant, roti, terus ada juga sup kacang khas Mesir yang gue ga suka.
Habis sarapan, kita semua siap-siap buat mulai trip hari ini dan buat cabut dari hotel karena nanti malam kita bakal nge-camp di gurun.
Trip yang sebenarnya baru dimulai hari ini. Dari pagi sekitar jam 8, kita mulai jalan ke Dead Mountain. Sebenernya Dead Mountain agak sama sih kayak Old Siwa. Kita daki gunung mati gitu buat ngeliat pemandangan sekeliling Siwa. Dari situ kita bisa liat oasis di Siwa yang gede banget, terus kebun-kebun kurma di sekitar oasis. Dari oasis ini nih air-air mineral di Mesir diproduksi.

ogut di Dead Mountain dan Oasis di belakangnya

Habis dari Dead Mountain kita naik bemo/bajaj nya Siwa gitu ke satu tempat yang kayak kuil Mesir jaman dulu, yang gue lupa namanya apa. Sama aja kayak bangunan jadul di Mesir, warnanya monoton. Cokelat emas gitu.


Habis dari kuil itu, kita lanjut jalan ke Cleopatra’s Bath. Jadi ada kolam kecil gitu, yang katanya sih dulu dipake Cleopatra buat mandi. Beberapa temen pada berenang disitu, sementara gue cuma moto-motoin mereka. Yang lain cuma istirahat di pondok gitu sambil nunggu makan siang. Dan pas makan, ternyata gue baru tau kalo yang gue makan itu daging unta, dan entah kenapa gue langsung ga nafsu makan.

ini baru seger!! @ Cleopatra's Bath

10606346_10203477828204277_810322137277756651_n.jpg (625×417)
Kendaraan kita yang kayak bemo. Atau kayak triseda gitu deh, yang buat bawa galon.
Selesai makan sekitar jam 3 gitu, kita disuruh masuk ke mobil-mobil kayak panther gitu lah yang udah berjejer rapi di deket kolam. Gue satu mobil sama Nurin (UNS juga), Amal, Flor sama Miriam (Meksiko), sama Ryszhan (Kazakhstan).
Kita yang nggak tau mau ngapain pas naik mobil itu langsung kaget karena ternyata kita mau offroad di sanddunes. Gue yang dari lahir hidup di negeri tropis, ga pernah ngebayangin bakalan ke gurun pasir apalagi offroad disana. And it was amaziiiing!!!

Selama offroad kita disuguhin pemandangan-pemandangan yang breathtaking. Pertama kita diajak buat ngeliat danau air asin, yang sayangnya, karena itu summer airnya jadi surut. Tapi beberapa temen tetep berenang di beberapa danau kecil. Gue ga ikut berenang karena males banget gitu kena air garam pasti lengket. Dan ternyata bener aja, temen-temen gue yang berenang disana langsung keset badannya walaupun udah disiram pake air tawar yang disediain sekita 2 jerigen minyak gede di setiap mobil.

gue di danau air asin yang kalo musim panas berubah jadi ladang garam

Habis berenang di danau air garam, (yang sebagian pantainnya udah jadi garam yang beneran luar biasa asin) kita lanjut lagi jalan ke satu mata air gitu yang rasanya segeeeeeer banget! Kita berenang disitu, nyebur dari atas mobil, girang banget deh panas-panas gitu. Sayang, pas lagi asik-asiknya berenang, kita disuruh cabut sama militer. Hih, syebel!

renang di mata air di tengah gurun. seger banget!!


Setelah dari spring, offroad yang sebenarnya di gurun pasir dimulai! Ban-ban mobil udah dikempesin demi alasan keamanan. Habis itu kita langsung dibawa ngebut sama ammu-ammu supir. “You like Dakkar?” tanyanya ke gue. Gue bilang, “Of course, I do!” Terus tanpa nunggu lama, ammu langsung tancap gas ngedaki dunes. Dan habis itu, kita turun dengan kemiringan hampir 80 derajat. Terang aja, kita semua teriak-teriak karena takut, seneng, dan geli.

waktu mobil turun di dunes kayak gini nih yang bikin teriak-teriakan kayak di Dufan :D
akibat kebanyakan ngedrift
meeting point di tengah Sahara.

Setelah puas teriak-teriakan selama offroad, sekitar jam 6 sore kita sampe di tempat kita ngecamp. Karena itu bertepatan dengan sunset, kita ga sia-siain waktu yang cuma sedikit buat foto-foto dengan latar sunset di gurun pasir.

The best sunset ever in my life :')

Malemnya kita dinner di tenda. Menunya sih biasa, macem nasi kebuli gitu atau nasi bumbu lah sama ayam panggang, sama salad timun sama tomat. Terus habis itu kita party-party gitu sambil disuguhin teh yang rasanya pait karena pekat banget. Terus habis itu kita istirahat. Karena udah lewat tengah malam juga, sebagian dari kita tidur. Sebagian dari kita yang lain, geng-geng party ngumpul di satu tenda, gatau gue mabok atau ngobrol doang. Tapi gue sama geng gue lebih milih buat tiduran di sleeping bag di luar tenda dan ngeliatin bintang jatuh. Sumpah, it was my best night ever, karena gue yang penasaran sama bintang jatuh akhirnya bisa ngeliat bintang jatuh juga. Awalnya gue nungguin kok ga ada ada. Eh lewat jam 2 malem, gue ngeliat kayak ada dua juta bintang jatuh yang gue liat. Mulut gue ga bisa berhenti ngucapin subhanallah saking senengnya gue malem itu. Tiduran beralaskan pasir gurun sahara, dan beratapkan sejuta bintang jatuh. :’)

ini suasana malam itu. the best night ever!


Day 3

Awalnya kita berniat buat ngeliat sunrise lagi. Njir, cool pasti tuh liat sunrise di Gurun Sahara. Tapi karena malemnya kita sibuk bilang “Wooow!!” setiap bintang jatuh lewat, akhirnya kita malah kelewatan liat sunrise. Kita bangun sekitar jam 8, terus dengan air seadanya kita cuci muka dan sikat gigi, terus kita sarapan. Sarapan pagi itu yaa biasa aja sih, sarapan ala mesir. Roti ish, keju, selai, foul, melon, susu, sama teh anget.

sarapaaan~

Habis sarapan, kita cabut lagi. Kita mau sandboarding!! Yeay!! Gue pikir sandboarding tuh cuma bakalan nurunin bukit pasir kecil doang. Taunya men, 30 meter sajah!! Gue masuk ke grup kecil, terus diajarin sama Gebaly (egypt) gimana caranya main sandboarding. Sama lah kayak main skate. Terus satu per satu dari kita turun pake board tuh, lumayan serem juga siiih. Sambil nunggu yang lain, gue coba main-main di dunes yang lebih kecil. Seru bangeeet!! Dan gue akhirnya beraniin diri buat main di dunes 30 meter.
masih bisa bercanda sama Gebaly


Sandboardiiiiiing!!!

tadaaaaa!!! beginilah hasilnya!! :'D

 Entah karena gue emang bego, atau board gue kebanyakan gue gosok pake lilin, atau badan gue yang keberatan, atau gue kebanyakan bercanda, gue jatuh pas nyobain. Muka gue memar setengah, terus ada luka gitu. Euwh, kenapa mesti gueeee. Dan besok lebaran pula.
Setelah diobatin pake first aid, gue naik lagi keatas. Dan itu parah bangeeeet! Naik gunung pasir 30 meter, dengan suhu 51® celcius  tengah hari bolong. Gue rasanya mau mati, dan mengutuk diri gue sendiri sekaligus mereka yang kenapa sih, ga naro mobilnya di bawah aja, jadi ga perlu naik-naik lagi. However, gue seneng banget!
Setelah puas sandboarding, kita semua langsung cabut balik ke hotel buat siap-siap balik. Sebelum balik, kita mampir dulu di spring yang lain di deket hotel, dan berenang disana. Seger bangeeeet!!! Sekitar jam 12 teng kita cabut dari Siwa, dan menempuh 14 jam buat nyampe Kairo yang lagi hips abis karena malem takbiran. Walaupun malem itu malem takbiran, tapi suasananya ga seasyik di Indo. Biasa aja, cuma lebih macet, walaupun tetep ga semacet Jakarta di hari Jumat.

Sama ammu supirnyaaaa, lupa namanya siapa. Shokran for the great adventure, ya Ammu!

That’s all cerita gue soal Siwa!! Gue bersyukur luar biasaaaaa sama Allah SWT karena udah ngasih gue kesempatan buat nikmatin trip yang luar biasa ini. Terima kasih Siwa, terima Kasih Sahara, terima kasih Mesir, terima kasih Afrika!!

Me and all the lovely people in Siwa Trip :D

ps: bonus
cewek siwa yang nggak boleh keluar rumah, kalo keluar rumah harus pake burqa