Tampilkan postingan dengan label merah-putih indonesiaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label merah-putih indonesiaku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Maret 2015

Gue dan Sepak Bola

 



Baru aja gue nyelesein baca novel yang judulnya Home & Away karya Mahir Perdana, anak Makassar yang berhasil football travelling di Eropa. Gara-gara baca itu gue jadi tertarik nulis tentang sepak bola. Siapa sih, yang nggak tau sepak bola. Bahkan orang Amerika aja tau walaupun football buat mereka bukan football buat mayoritas masyarakat dunia.

Kalau diliat-liat dan diingat-ingat, pertama kali gue nonton bola, ataupun secuil cuplikan tentang bola itu waktu sekitaran tahun 97 atau 98, dimana gambaran yang paling jelas tergambar di otak gue sampe sekarang adalah selebrasinya David Beckham, yang masih cunlay dengan rambut blateng-nya.

Perlahan tapi pasti, semakin gue tumbuh, gue semakin suka olahraga. Banyak banget olahraga yang gue coba ikutin, dan itu berimbas juga dengan ngefans-nya gue sama atlet-atlet sembarang kalir. Yang jelas gue suka David Beckham tetep.

Di sekitar tahun 2002, waktu itu lagi demam-demamnya Piala Dunia yang pertama kali diadain di Asia. Dan gue untuk pertama kali, masuk dalam pusaran euforia itu. Tim yang gue bela, Inggris sama Korea. Kenapa Inggris? Ada Beckham. Kenapa Korea? Karena Asia dan merah, warna favorit gue. Gue juga suka MU karena ada Beckham dan merah. Kenapa sampe sekarang gue nggak suka sama CR? Karena dia yang ambil nomor 7 dari Beckham. Sesimpel itu dulu gue memaknai sepak bola.

Sepak bola ga pernah jadi agama buat gue. Sepak bola cuma bagian dari pengetahuan umum yang harus gue serap. Sepak bola gue nikmati sebagai hiburan, bukan bagian hidup. Di umur sekarang, malah mungkin bisa dihitung pake jari berapa kali gue nonton bola. Itupun bukan live match, cuma sekedar tayangan di tv.

Seiring dengan pensiunnya atlet-atlet favorit gue, hype senengnya gue sama olahraga juga tinggal kenangan. Ibarat efek film, ini tuh lagi fade out. Gue udah jarang banget nonton F1, selain karena Michael Schumacher udah pension dan regulasi yang banyak berubah yang bikin ga seru buat gue, di Indonesia udah ga ada lagi TV yang mau nyiarin F1. Gue juga udah ga pernah lagi berdiri di ISTORA Senayan dan neriakin chant IN-DO-NE-SIA terus tepuk tangan 5x buat nonton bulu tangkis, setelah terakhir kali tahun 2011 kalo ga salah, waktu Taufik Hidayat, idola gue itu main terakhir buat Indonesian Open.

Tapi biar hype itu berkurang, gue ga pernah bisa lepas sama yang namanya olahraga, dan sepak bola pada khususnya. Bantalan leher di mobil gue masih MU, dan kadang di beberapa kesempatan, terutama pagi hari, gue masih setia nyanyiin Pazza Inter Amala buat nambah semangat. Btw, selain suka MU gue juga suka sama Inter karena gue suka sama Zanetti.

Bisa dibilang level gue dalam dunia fans sepak bola ini sebatas GH, alias Ganteng Hunter, plesetan dari Glory Hunter. Mana gue ga kenal sama pemain-pemain ganteng dari negara mana pun, dari klub mana pun. Siapa pemain favorit gue sekarang. Siapa lagi kalo bukan David Villa, yang sekarang main di Melbourne.

Tapi serendah apapun level gue di dunia sepak bola ini, gue termasuk dari bagian yang masuk dari pusaran besar sepak bola. Buat gue, masyarakat Indonesia sendiri ga bisa lepas dari sepak bola, terutama di tahun-tahun belakangan ini. Gue adalah salah satu yang masuk ke bagian itu di tahun-tahun terakhir ini.

Walaupun udah terbiasa dengan nama Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan, atau Firman Utina (karena abang sepupu gue Viking, jadi gue tau sepak bola local), gue tetap tersihir sama pesona-pesona Christian Gonzales dan Irfan Bachdim. Gue jadi bagian dari 80.000 lebih manusia yang loncat di GBK waktu semifinal piala AFF waktu Indonesia menang lawan Filipina. Itu pertama kalinya gue nonton timnas langsung, dan seakan ada magic, gue jadi tersihir sejak saat itu. Walaupun gue dulu juga nonton Piala Tiger (format lama Piala AFF), tapi gue belum pernah secinta ini sama timnas.

Sejak saat itu, kalo timnas main, gue selalu nyempetin buat nonton. Entah langsung, nobar, ataupun nonton sendirian di TV. Gue nonton timnas mulai dari senior, U-23, sampe U-19. Gue nonton timnas, mulai dari lawan Belanda, Inter Milan, sampe lawan Running Man! Gara-gara timnas, gue bisa liat Zanetti, Sneijder, Persie, secara langsung! Sedih sih ga bisa liat Beckham karena kuliah waktu itu. Tapi intinya, gue sekarang jadi bagian dari penikmat sepak bola. Walaupun gue gatau pertandingannya, gue tau gosipnya. Hhaha.

Dan sekarang gue janji, nanti, ketika gue udah cabut keluar negeri, kemana pun gue pergi, gue bakal bawa jersey timnas. Biar orang tau, ada timnas Indonesia di sini, yang walaupun ga punya prestasi apa-apa, dan berantakan macam kamar kos gue, tetap dicintai masyarakatnya.

Nefilla 307, Surakarta

3 Maret 2015

Rabu, 29 Januari 2014

Timnas Kami, Timnas Indonesia.

Piala AFF 2010 rasanya yang paling pas untuk dibilang sebagai titik bangkit geliat sepakbola Indonesia. Saya juga bukan orang yang fanatik terhadap sepakbola, hanya sekedar suka dan menikmatinya. Tapi juga bukan orang yang apatis. Saya tau sebelumnya kompetisi itu bernama Piala Tiger, dan Thailand adalah jagoannya. Tapi, pada saat Piala AFF 2010, rasanya semua mata Indonesia fokus pada timnas.

Itu adalah pertama kalinya Indonesia memanfaatkan tenaga para pemain naturalisasi, mengikuti jejak timnasional Singapura. Disitulah kita melihat pertama kali wajah bule Irfan Bachdim dan wajah latin Christian Gonzales. Support dan bantuan dari dua pemain asing tersebut jelas tidak bisa dielakkan mampu mendukung performa permainan tim saat itu. Mereka berdua bahkan bisa menggeser posisi legenda hidup, Sang Kapten, Bambang Pamungkas sebagai striker utama timnas.

Sebelumnya, fokus berita belum pada keseluruhan timnas. Seingat saya hanya pada pemain-pemain naturalisasi yang pada saat itu masih tersandung beberapa proses yang harus mereka selesaikan untuk menjadi warga Negara Indonesia. Namun, pada akhirnya, euphoria kompetisi sepakbola semakin terasa. Lihat bagaimana kita bangga pada timnas yang pada pertandingan pertama mampu menaklukkan Malaysia 5-1. Pertandingan melawan Malaysia jelas mempunyai tendensi yang tinggi bagi masyarakat Indonesia. Pertandingan tersebut tidak berhenti hanya sebatas sepakbola, tapi juga gengsi. Jangankan 5-1, menang 1-0 pun masyarakat Indonesia pasti sangat senang kala itu.

Terlepas dari Malaysia, jelas kemenangan timnas sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Kemudian setelah itu, berbondong-bondong masyarakat mulai menaruh perhatian besar pada timnas. GBK seketika penuh. Orang-orang rela kesana setelah lelah pulang beraktifitas di kantor, kampus, bahkan sekolah. Itulah saat pertama kalinya saya masuk ke dalam stadion utama tim nasional Indonesia. Dan disitulah untuk pertama kalinya saya melihat rombongan teman, supporter, keluarga datang ke satu titik, GBK, untuk mendukung timnas.



Kemenangan demi kemenangan yang diraih timnas semakin meningkatkan perhatian masyarakat. Antrean penjualan tiket mengular di Senayan. Acara nonton bareng menjamur dimana-mana. Rating TV melonjak hanya untuk siaran final AFF. Semua itu terjadi karena kami, masyarakat Indonesia rindu akan tim nasional, yang member kebanggan pada kami.

p.s. Ini tulisan gue?

Selasa, 01 Maret 2011

Sudah saatnya kamu turun dong!

Sepak bola di negeri ini bisa ditemuin dimana aja, mulai dari Stadion Utama kebanggaan negeri ini, sampai di lapangan-lapangan bekas babatan sawah atau malah di pinggir pantai. Ini adalah olah raga rakyat yang menurut gue seharusnya merakyat. Tapi kenapa, sepak bola sekarang rasanya udah bukan untuk rakyat. (Petinggi) Sepak bola sekarang mungkin udah lupa sama rakyat.
Padahal seharusnya mereka liat, siapa aja yang main sepak bola di negara ini! Yang main sepak bola di negara ini tuh banyak banget, mulai dari politisi (lihat Alm. Adjie Massaid) sampai anak-anak kecil yang masuk TK aja, belum. Liat mereka bisa main bola dimana aja, mulai dari stadion sampe di pinggir rel kereta, yang emang bahaya banget. Bolanya juga macem-macem, ngga cuma bola dari kulit tebel yang asli keras abis menurut gue, tapi juga bola plastik. Masih mending sih bola plastik, dulu waktu jaman gue SD, temen-temen gue yang cowo main bola yang bolanya dibikin dari kertas yang diuwel-uwel sampe segede bola sepak. Ada lagi yang main pake buah kelapa, ampe biru-biru kakinya. Tapi itulah sepak bola, begitu dicintai dan disayangi sama seluruh warga Indonesia.
Gue sendiri seorang penggemar sepak bola. Gue juga penggemar timnas, terutama Bambang Pamungkas. Siapa sih yang ga kenal kapten kita itu? Dan gue, sama seperti pendukung timnas yang lain, sangat kecewa sama sikap Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid.
Dia udah jelas-jelas gagal dalam memimpin organisasi ini selama dua periode. Ngga main-main, DUA PERIODE! Dan Indonesia masih belum bisa lebih baik lagi dibawah pimpinan dia. Tapi kenapa, dia masih ngga mau gentleman ngaku kalau dia gagal? Seberapa besar sih egonya? Gue penasaran deh, apa yang ada di pikirannya sampe dia ngga mau ngelepasin jabatannya?
Kalo emang alesannya menjunjung tinggi demokrasi, apa dia ngga ngeliat (atau pura-pura ngga ngeliat) sama apa yang terjadi di luar sana? Ada banyak orang yang meminta dia buat turun dari jabatannya, mulai dengan cara baik-baik sampe cara yang, sorry to say, ngga etis lah seharusnya, dengan berbagai aksi demonstrasi kayak begitu. Dan ada orang lain di luar sana yang sudah di akui, at least diperkirakan, orang banyak, kalo mereka mampu membawa sepak bola Indonesia lebih baik lagi dari sebelumnya.
Selama ini dia ngaku kalo dia dicalonkan, bukan mencalonkan diri buat jadi ketua PSSI lagi. Tapi plis deh paaaak, yang ngga mau bapak jadi ketum lagi mungkin lebih banyak daripada yang ngedukung. Gue heran, kenapa unsur suporter ngga bisa masuk jadi tim verifikasi pemilihan ketua umum PSSI. Padahal, menurut gue, suporter juga pasti tau banyak tentang sepak bola, dan mereka pasti ngewakilin suara jutaan rakyat Indonesia di luar sana yang juga peduli sama sepak bola Indonesia.
Gue setuju sama aksi revolusi di tubuh PSSI. Emang begitu seharusnya kalo emang mau cari jalan yang terbaik buat negeri ini. Terus berubah, tentunya berubah jadi lebih baik. Gue yakin, kita semua mau sepak bola Indonesia ini jadi lebih baik, dan jauh lebih maju dari sekarang. Dan gue percaya, Pak Nurdin juga mau begitu. Mungkin bedanya sama kita, Pak Nurdin, mau sepak bola Indonesia ini maju, tapi dia tetep megang jabatannya. :p

Selasa, 22 Februari 2011

yongki aribowo

Namanya udah ngga asing lagi buat fans sepak bola Indonesia. Dia ini pemain timnas bernomor punggung 21 (yo'i ga sih, gue juga punya baju nomor 21!), dan bermain sebagai seorang striker.
Gue pertama kali ngeliat yongki waktu AFF cup 2010, dan gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Emm, emang agak lebay, tapi beneran deh gue naksir ama doi. *.*
Yongki menurut gue bakal jadi idola sepak bola timnas di tahun-tahun yang akan datang. Gue yakin dia bakal gantiin peran Bambang Pamungkas, seniornya di timnas. Terbukti sekarang doi jadi kapten di timnas U-23 (kalo ga salah).
Gue pernah sekali ngeliat doi main, dan buat gue dia mainnya bagus kok walaupun waktu itu banyak banget yang mencemooh dia. Dia larinya cepet, berani ngadu sama lawan, tapi sayang aja ngga punya kesempatan nembak #ngeles
Pokoknya, dia itu jago! Mungkin lo emang ga ngeliatnya sekarang, tapi gue yakin someday dia bakal jadi ikon Indonesia. Dan dikutip dari blog-nya BP, dia juga bilang di majalah Rolling Stones, kalo Yongki ini rising star!
Buat gue pribadi, diluar dia adalah pemain bola favorit gue, dia juga cowo idaman gue. Abiss!! Physicly yaa..
Dia cukup tinggi, badannya proporsional. Garis muka, postur sama pembawaannya juga bagus. Ga tau deh, gingsulnya itu yang kayanya bikin dia tambah manis :p
Kayaknya dia juga soleh deh. Emm, cuma liat dari tweetnya dia sihh. Tapi ya Insya Allah lah. Lagipula rata-rata pemain sepak bola Indonesia juga masih di bawah naungan Allah lah kalo menurut gue.
Apa ya? Menurut teori gue, rata-rata pemain sepak bola Indonesia itu berasal dari golongan menengah hampir ke bawah. Kalo ga yakin silahkan cari aja di google, soal kisah-kisah hidup pemain bola Indonesia. Pasti rata-rata begitu. Dan jujur aja, kalo buat gue, gue suka sama cowo yang dari kecil udah biasa berusaha buat hidup lebih baik. Gue sendiri emang ngga gitu, gue masih cukup dimanjakan lah, walau kadang yaaa hidup gue suka dibuat susah sama bokap gue yang mau anaknya serba bisa. Tapi buat gue, cowo yang kaya gitu tuh, Insya Allah lah bakal jadi cowo yang bertanggung jawab.
Terus gue juga suka cowo yang family man. And Yongki is! :) Keliatannya dia sayang banget sama keluarganya deh. Lagian dia orangnya sabar, terus kalem. Hmm, makin unyu.
Ah, apapun dia, tapi sumpah, Yongki tuh keren banget!! Yongki tuh tipe-tipe cowo idaman gue banget!!! :D