Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Juni 2017

Perusak Moment Lebaran

Hari raya, khususnya lebaran, harusnya jadi momen yang membahagiakan buat semua orang. Gimana enggak, setelah satu bulan puasa, sebagian orang jadi bahagia karena jam makan dan tidurnya akan kembali lagi menjadi 'normal'. Setelah sekian bulan berjauhan, anak-anak yang merantau, bahagia bisa pulang ke rumah dan bertemu orangtua. Keluarga yang terpisah, bahagia karena bisa bertemu lagi dengan kerabatnya. Lebaran memang menyenangkan dan membawa kebahagiaan buat banyak orang, bahkan nggak cuma buat yang merayakan, tapi juga yang nggak merayakan bisa ngerasain bahagianya hari lebaran.

Tapi, momen lebaran yang penuh bahagia dan suka cita ini juga kadang suka bikin waswas. Seringkali kita justru ketemu sama perusak-perusak momen bahagia ini di saat lebaran. Apalagi kalau bukan ketemu sama geng kepo yang suka ceriwis nanyain ini itu? Saya yakin kamu pasti pernah ngerasain ini, at least sekali seumur hidup! Ditanyain ini itu yang bikin kamu awkward buat ngejawabnya. Nggak dijawab kesel, tapi kalo dijawab bikin sakit hati.
'Kok gendutan sih?', 'Siapa pacarnya sekarang?', 'Gimana, kok sampai sekarang belum keliatan jodohnya?', 'Udah lama kan lulusnya? Kok belum dapet kerja?', dan banyak pertanyaan lain yang ngeselin.

Semakin ke sini, entah kenapa saya ngerasa kalau kita (masyarakat Indonesia), sepertinya memang perlu edukasi soal bagaimana berbasa-basi yang baik, terutama dengan orang yang baru kita temui lagi setelah beberapa lama. Kita harus bisa ngebedain, bagaimana caranya 'menanyakan kabar' tanpa perlu mengulik privasi orang lain secara berlebihan.  Buat saya, tidak bertanya tentang hal-hal pribadi berbeda dengan tidak peduli.
Saya baru saja sekilas melihat video di Facebook BBC Indonesia tentang bagaimana etika berbasa-basi ketika lebaran (bertemu keluarga setelah lama nggak ketemu) menurut psikolog Roslina Verauli. Saya baru tau, ternyata basa-basi ini tergantung sama siapa lawan bicara kita (hmm iya sih). Contoh di video itu adalah misalnya ketika kita ngomong sama anak usia SD, kita lebih baik bertanya apa hobinya dibanding bertanya kemarin ia peringkat berapa, karena ternyata untuk anak seusia itu, achievement adalah masalah sensitif. Sedangkan bagi orang seusia saya (20-30 tahun), urusan jodoh dan karir yang menjadi masalah. Menurut Mbak Rosliana ini, sebenernya ketika berbasa-basi ini, seharusnya kita lebih mementingkan nilai-nilai keakrabannya (yang emang jadi niat awal kita) daripada nilai kompetisinya, toh kita nggak lagi menilai orang. Makanya, lebih baik kita mulai memilah-milih lagi pertanyaan yang akan kita ajukan, sebelum malah bikin kesel orang lain.

Kadang memang kita (duh, apalagi saya) suka nggak mikir panjang sih ketika bertanya sama orang lain. Kita nggak tau proses dibalik jawaban dari pertanyaan yang kita ajuin. Bisa jadi memang berat buat orang yang kita tanya, walaupun sepele banget menurut kita. Kayak misalnya ditanya, 'kok belum dapet kerja?', kita nggak tau kalo ternyata orang yang kita tanya itu sudah ikhtiar sekian lama demi dapet pekerjaan. Tentu memalukan dan menyedihkan buat orang-orang yang ditanya kayak gitu, karena harus memberi jawaban negatif walau dia sudah berusaha jujur.

Point yang menarik buat saya dari masalah ini adalah penting buat kita untuk mengubah pertanyaan-pertanyaan atau ucapan-ucapan yang kita lontarkan ketika berbasa-basi. Seperti misalnya tadi, daripada bertanya tentang achievement yang diraih oleh anak usia SD, kita lebih baik bertanya tentang hobinya sekarang atau hal yang paling dia suka sekarang. Daripada harus mengeluarkan komentar-komentar negatif akan kekurangan orang lain, lebih baik kita fokus untuk melihat sedikit saja sisi positifnya, kayak misalnya jika ada orang yang masih betah 'sendiri', daripada bertanya kenapa belum juga ia bertemu jodohnya, lebih baik jika kita memujinya yang mungkin saja sedang meningkatkan kualitas diri. Ini, saya sharing foto yang saya ambil dari postingan teman yang menyadur dari orang lain dan tercantum di situ. Mungkin bisa membantu kita untuk meminimalisir kemungkinan melukai orang lain.

Sedikit sharing pengalaman saya, walau nggak penting dan terlihat pathetic, tapi terlalu gatel buat saya pendam sendiri.

Jadi gini. Kebetulan saya pernah pacaran sama tetangga saya, dan hampir semua tetangga saya yang lain tau cerita kami. Sayangnya, hubungan saya dengan si pacar harus berakhir sekitar 3 tahun yang lalu. Lebih sayangnya lagi buat saya, si mantan pacar saya itu kebetulan lebih dahulu menikah daripada saya. Bisa kamu bayangin betapa senewennya saya menghadapi komentar-komentar tetangga sekitar saya soal ini? Saya berusaha mengerti, kalau mereka sebenarnya berniat untuk bercanda, walau nggak jarang saya juga sedih, karena kadang komentarnya nyebelin, kayak misalnya, 'kok kalah sih, si itu aja udah nemu yang baru', atau apa lah. Mereka nggak tau apa yang udah saya alami, karena saya berusaha untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi daripada muncul fitnah yang nggak jelas dan merugikan dua belah pihak.
Walaupun udah tiga tahun berlalu, dan bahkan dalam beberapa kesempatan saya juga udah lupa kalau saya pernah pacaran sama mantan pacar saya itu (yang saya yakin juga sebaliknya), ternyata tidak dengan tetangga-tetangga saya. Bedanya, beberapa dari mereka sekarang sudah lebih mengerti. Walau masih memasang wajah seolah-olah nasib saya menyedihkan, tapi mereka nggak lagi berkomentar yang sifatnya negatif. Sebaliknya, mereka justru mendoakan saya supaya segera bertemu jodoh dunia akhirat saya, supaya saya mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya, bahkan berdoa supaya saya bernasib lebih baik daripada yang bersangkutan (ok, well ini berlebihan). Saya sendiri bingung kenapa orang-orang ini nggak move on juga dari cerita lama saya. Tapi bagaimana pun, walau saya masih ngerasa saya sedang 'dikasihani', saya mencoba berusaha untuk berpikir positif, bahwa orang-orang ini peduli dengan saya dan menginginkan sesuatu yang baik untuk saya. Dan tentu saja, saya juga berharap bahwa setidaknya ada satu dari doa-doa tersebut yang dikabulkan dengan segera sama Allah, supaya membahagiakan saya dan orang-orang di sekitar saya, termasuk mereka yang tadi mendoakan.
Di sini titik sadar saya, bahwa hanya perlu sedikit usaha untuk mengubah suatu hal menjadi lebih positif. Dalam kasus ini, kita harus bisa mengubah pertanyaan atau ucapan yang sekiranya mampu melukai perasaan orang lain, menjadi pujian atau doa untuk kebahagiaan orang tersebut.
Jadi, tidak perlu kita merusak momen bahagia orang lain di saat lebaran, saat kita sebenarnya sedang berlomba-lomba mengumpulkan maaf dari orang lain akan dosa setahun sebelumnya. Belum tentu juga kita berjiwa ksatria untuk memohonkan maaf dari orang yang kita sakiti. Atau, apa kita siap harus menunggu satu tahun lagi untuk tulus meminta maaf?

"Barang siapa beriman pada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau lebih baik diam." (H.R. Bukhari & Muslim)

Selasa, 27 Desember 2016

10 Tahun yang Lalu

Kemarin, pas gue lagi scrolling instagram, gue ngeliat temen gue ngepost foto engagement dia sama seseorang. Sebut aja nama temen gue ini Rosi, dan tunangannya, Ardi.
Kebetulan gue kenal baik sama dua-duanya. Well, nggak kenal=kenal banget sih sama Ardi, tapi dia dulu temen deketnya mantan gue, so yeah, cukup tau lah. :p

Ngeliat foto engagement mereka, ingatan gue balik ke tahun 2007. Waktu itu Jakarta belum dipimpin sama Ahok, masih banjir di sana-sini, dan waktu itu lagi musimnya banjir besar 5 tahun-an. Sekolah gue tercinta, yang lokasinya persis di depan Kali Angke yang hitam menawan nan harum semerbak itu mau nggak mau ikut ambil bagian jadi korban banjir besar itu.
Gue masih inget, waktu itu kalo nggak salah hari Jumat, dan pulang cepet. Gue balik ke kosan sepayung berdua sama Guntur (:"), terus menerjang banjir yang udah se-paha tingginya.

Lusa setelah kejadian banjir besar itu, kita masuk sekolah lagi. Di sekolah, kita ngomongin cerita-cerita pas banjir kemarin, mulai dari gue yang seneng gara-gara sepayung berdua sama Guntur, temen-temen gue yang harus jalan kaki berkilo-kilo meter buat pulang, atau mereka yang pulang dengan numpang truk atau mobil pickup, dan banyak cerita yang lain.

Gue masih inget banget, waktu itu Rosi cerita sama gue, pas pulang sekolah kemarin, dia ngeliat Ardi.
"Aaaaaay, masa kemarin gue ngeliat kak Ardi pulang ngegendong Kak Tariiiiiii... Sweet bangeeeeeeet!!" Katanya semangat, yah ala-ala cewe lagi nonton drama korea gittuuu.
Emang, waktu itu Ardi ini lagi pacaran sama Kak Tari, dan pacaran mereka emang tipe-tipe sweet gitu. Ibarat Awkarin sama Gaga lah.
Waktu itu, hampir 10 tahun yang lalu, pacaran ala Ardi dan Tari ini jadi relationship goals buat Rosi. Rosi selalu semangat cerita tentang kisah Ardi sama Tari. Kebetulan pacarnya Rosi waktu itu satu geng juga, jadi Rosi lumayan sering jalan bareng sama Ardi dan Tari. Waktu itu, gue sempet mikir kalo Rosi suka sama Ardi, atau Rosi suka sama cowok-cowok tipe Ardi yang manis dan romantis, walau pemikiran ini cuma selintas doang sih karena kan Rosi udah punya pacar waktu itu.

Hmm.. apapun itu, buat gue pribadi, cerita ini jadi menarik. You would never know what'll going on the next 10 years! Dulu, Rosi mungkin cuma naksir-naksir ala kadarnya sama Ardi. Tapi, 10 tahun dari waktu itu, Ardi dateng ke rumah Rosi buat ngelamar. Ini jauh lebih sweet sih buat gue. :"

Kalo Rosi atau Ardi punya kesempatan buat baca tulisan ini, gue cuma mau bilang sama kalian selamat, semoga dilancarkan apa yang udah direncanain sampai hari H, dan semoga berkah semua niatannya. Chukae!


Senin, 26 September 2016

Pelangi-nya Hivi

Gue termasuk orang yang suka cerita dan memaksa orang lain untuk suka juga sama segala hal yang gue suka, entah itu film, makanan, artis atau lagu. Kayak misalnya, belakangan gue lagi suka sama lagunya Yura Yunita yang Intuisi sama Hivi yang Pelangi. Nah untuk lagu yang terakhir gue bahkan bikin cover-nya walaupun suara gue jelek :p
Tapi kalo mau dengerin bisa didenger di kanal soundcloud gue di sini

Nah, gara-gara gue lagi tergila-gila sama dua lagi itu belakangan ini, gue cerita lah tuh sama temen (cowo) gue kalo gue lagi suka sama lagu ini. Terus dia nanya, "lo baru suka lagu ini, atau baru tau lagu ini?"
"Baru tau. Kenapa gitu?" tanya gue balik.
"Anjir, telat amat lo!" katanya. Gue bingung.
"Oh lagunya udah lama ya? Gue baru denger kemarin di GEN." jelas gue mong-ly. Iya, mong, alias blank kayak Song Ji Hyo.

"Kemarin Ay, gue sempet deket sama cewek. Tapi gue ga bilang sama lo, karena hubungan gue sama dia juga masih terlalu dini banget. Gue bahkan nggak tau gue udah sayang sama dia atau cuma sebatas care. Tapi gue care banget sih sama cewek ini. Dan si cewek ini jauh lebih care lagi ke gue."

"Oh ya?"

"we kissed, Ay. Tapi gue ga nganggep gimana-gimana."

"Terus?"

"Kayaknya dia baper gitu sama gue. Emang gue kalo jalan sama dia suka mosisiin diri gue as 'cowok'nya dia, gue jagain, gue sayang, I treated her well lah, nggak kayak waktu gue sama lo gini."

"Ih, kampret. Envy gue!"

"Nanti sama lo kan beda lagi"

"Terus, terus?"

"Dia mulai sering nelfon gue. Mulai sering ngasih perhatian yang lebih dari sebelumnya. Ngasih gue kado ulangtahun, yang bahkan nggak gue share ke mana pun atau ke siapa pun, termasuk lo,"

"DEMI APAAAA? LO DAPET APAAA?"

"Kayak kartu pop up gitu, sama sweater. Dia bahkan ngirim gue personal pizza. Ga ngerti lagi gue waktu itu."

"Anzir, mau pizza!"

"Yeee, taik! Gue masih mau cerita nih!"

"Iya, tapi nanti beli pizza."

"Nggak lama setelah gue ultah, dia ultah juga. Tapi gue ga ngasih apa-apa. Gue cuma jalan sama dia, pas gue anterin depan rumahnya, dia gue cium terus gue bilang selamat ulangtahun. Udah beneran gitu doang."

"Aish, rugi amat jadi dia." :'D

"Iya. Gue sempet ngerasa gue jahat sih sama dia. Tapi gue nggak yakin gue udah baper sama dia, soalnya biasa aja. Nggak ada degdegannya."

"Uhumm.. terus?"

"Beberapa hari setelah ulangtahunnya dia itu, dia jadi berubah. Intensitas dia ngehubungin gue jadi berkurang. Dia nggak pernah nelfon gue, dia udah jarang ngechat gue. Gitu deh, intinya gue ngerasa dia udah nggak tertarik sama gue."

"Atau mungkin udah kecewa." potong gue.

"Mmm..mungkin."

"Gobloknya, gue mulai ngerasa kangen sama dia. Walaupun dia nggak bawel kayak lo, tapi gue suka kalo dia lagi ngomong. Dari situ gue mulai bingung lagi sama perasaan gue."

"Terus terus?" gue makin penasaran.

"Dia tiba-tiba ngupload video di instagram-nya, video dia nyanyi lagu Hivi itu."

"Mau liaaat~"

"Entar elah!"

"Kok galak sih lo?"

"Kesel gue lagi cerita dipotong-potong!"

"Iya, iya. Terus?"

"Habis itu gue baru ngerasa ada titik yang 'deg', gue takut dan ga mau dia cabut dari gue. Gue telfonin terus dia, udah gitu ga diangkat-angkat. Ada kali gue miskol dia 20x. Gue chat. Mulai dari manggil nama, nanya lagi ngapain, sampe balik manggil nama lagi, masih ga dibales-bales juga. Gue pengen banget ketemu dia hari itu."

"Lo kenapa nggak ke rumah dia?"

"Gatau, gue ga gerak aja. Kesel sendiri gue."

"Uhmm.."

"Terus tiba-tiba ada chat dari dia, 'sorry yaaaa R, gue baru bales. Tadi lagi ribet gue. Gitu lah. Habis itu langsung gue ajak ketemuan tuh, kalo perlu gue jemput dari kantornya saat itu juga."

"Terus lo langsung gas?"

"Kagak. Dia nggak bisa bilangnya, ribet"

"Nggak mau kali, bukan nggak bisa. Namanya juga cewe."

"Iya kali ya. Tapi habis dari situ gue tau gue udah salah langkah banget. Kalo waktu itu gue at least nyoba ngebales apa yang udah dia lakuin ke gue, hari ini gue ga bakal sama lo, pasti gue lagi sama dia."

"Yeuh..."

"Kesel gue sama diri gue sendiri."

"Hahahaha. Mampus!"

"Iya, nyet. Kayaknya gue sebenernya udah baper sama dia, tapi masih ragu-ragu. Eh sekarang malah dia lepas dari gue."

----

Gue cuma bisa ngetawain kebodohan si temen gue ini, sambil ngebatin di dalam hati, dasar laki-laki.

Kamis, 25 Agustus 2016

Kepedulian Yang (Kayaknya sih) Salah Tempat

Gue punya temen, cowok, sebut aja namanya Bayu (iya, gue random banget tiba-tiba inget mantannya Chika). Hubungan Bayu sama gue sebenernya biasa aja, dibilang deket engga, dibilang nggak deket juga rasanya udah terlalu banyak hal yang kita sharing bareng. Well yeah, gitu deh hubungannya.

Baru-baru ini, gue ketemuan dan jalan sama Bayu. It is only me and him, nggak ada temen lain. Lo tau lah ketika dua orang melakukan quality time yang bener-bener berkualitas, akan ada banyak hal yang bisa diomongin, ada banyak rahasia yang diceritain, ada banyak perasaan yang dilibatin. Termasuuk ketika gue jalan sama Bayu ini.

Bayu cerita sama gue tentang dia yang udah tidur sama beberapa cewek. Ummm..mungkin di usia gue, dan di lingkungan pergaulan gue hal kayak gini sebenernya udah ga asing banget (well, go check awkarin). Dia bukan orang pertama yang cerita hal ini ke gue, dia adalah orang ke sekian puluh. Gue inget banget orang pertama yang cerita hal itu ke gue itu temen kecil gue, dan dia cerita itu ke gue waktu kita masih kelas 7 alias 1 SMP. :))
Yah, wateva. Balik lagi ke Bayu. Bayu cerita ke gue dengan cara yang biasa aja, gue ga menemukan excitement atau penyesalan dari gesture, air muka, atau pun tone suaranya dia. Dia cerita gitu aja. Dia bercerita kapan dia pertama kali ngelakuin, dan kapan terakhir dia ngelakuin, sama siapa, dan di mana aja. Asli ini mah sebiasa-biasanya cerita, there's no wow on it, ada banyak cerita wow yang pernah gue denger langsung dari mulut pelaku yang lebih dari ini. Cerita Bayu ini termasuk standard buat gue.

Tapiii...
Entah kenapa, ketika Bayu cerita itu ke gue, gue jadi sedih dengernya. Lebay? Iya sih, gue juga sadar kok itu lebay banget. Apalagi karena si Bayu ini bukan termasuk dari orang-orang lingkaran satu gue, dia bukan bagian dari peer group gue, dia cuma temen biasa. Tapi gue sedih ketika denger Bayu begitu. Ada sesuatu di diri gue yang nggak mau dia kayak gitu lagi. Gue pengen banget dia stop doing those things, entah sama pacarnya, temennya, atau siapapun itu.
Jealous? Enggak. Gue tau kok kapan dan bagaimana gue kalo lagi baper sama seseorang, dan gue bisa state kalo gue ga baper sama Bayu. Mungkin sebatas care. But I really want him to stop like directly from right now setelah gue minta sama dia buat stop.

Di judul postingan ini gue tulis, kepedulian yang (kayaknya sih) salah tempat. Kenapa gue tulis gitu, karena gue tau nggak seharusnya gue se-peduli itu sama Bayu. Karena si Bayu ini ga sepeduli itu juga sama gue. Hahahaha, dan itu sih yang bikin sedih, like why should I care about him. Tapi ya namanya namanya yaaaa...gabisa milih juga kan. Ini feeling yang sama kayak feeling yang gue rasain ketika gue ngeliat mas-mas pulang kantor naik motor dan kecapekan, rasanya pengen gue bikinin teh anget. Gue ga peduli mas-mas itu siapa, tapi gue suka kasian aja. Eh tapi engga ding, Bayu lebih dari itu, gue sayang sama Bayu lebih daripada sama mas-mas itu.
Nah tapi, kan every action has a reaction yah, nah karena gue ngerasa si Bayu ini suka ga nganggap gue dan flat-flat aja sama gue, gue jadi kesel dan bete sendiri kalo gue lagi care banget sama dia. Males aja cuy bertepuk sebelah tangan. Itu dia masalahnya, gue ngerasa si Bayu ini has no/lost interest sebenernya sama gue. Gue kan udah sering cerita ya, gimana teman-teman cowok gue ngetreat gue, atau pacar gue dulu, gue terbiasa dibaikin dan dilayani dengan baik, biasa jadi princess. Nah si Bayu ini flat abis. Baik sih tapi sekedar baik, jadi ketika gue sering tanpa sadar lebih dari baik ke dia, gue suka takut, takut salah action. Oh ya, Bayu ini termasuk orang baru dalam hidup gue, dia bukan bagian dari anak-anak Cha One ataupun Switching ataupun Telkom yang pernah dan masih gue temuin rutin dan udah gue hapal tingkah lakunya, jadi gue masih suka nebak-nebak kira-kira apa yang bisa/boleh gue lakuin ke dia dan mana yang engga.

Balik lagi ke masalah Bayu yang suka bobo manja sama cewek, dan gue yang nggak suka itu. Well, bukan nggak suka. Tapi gue maunya sih dia ga kayak gitu lagi. Menurut gue, nge-sex itu analoginya sama kayak orang ngerokok dan ngobat. Awalnya mungkin cuma penasaran, dan ketika udah ngelakuin itu dan dirasa enak, lo akan mulai ketagihan dan pengen lagi dan pengen lagi. Berdasarkan pengalaman gue melarang beberapa orang buat ga ngerokok dan ga ngobat lagi, hal ini susah buat dilakuin. Kalopun mereka nurut, itu cuma mereka lakuin di depan gue doang, di belakang mereka bakal kayak gitu lagi.
Gue sebenernya pengen banget bilang ke Bayu buat stop tidur sama cewek, siapa pun cewek itu. Bukan karena gue jealous dan pengen jadi bagian dari cewek-cewek itu (lho!), tapi karena gue pengen dia bisa jadi lebih baik. Gue ga mau apa pun yang dia lakuin sekarang nantinya bakal ngerugiin dia dari segi apapun. Sayangnya, gue ga pernah berani buat ngelakuin itu. Gue bukan siapa-siapa buat Bayu, jadi gue ga berhak buat ngelarang ataupun meminta Bayu buat stop doing something gituuu.
Gue pengen banget bisa ngeliat Bayu berubah jadi orang yang lebih baik. Bisa ngeraih apa yang dia mau. Bisa menuhin target-target yang udah dia set. Bisa jadi lebih baik deh intinya dari Bayu yang sekarang. Entah kenapa, gue ngeliat Bayu ini belum settle down sama dirinya sendiri. Dia masih butuh perhatian, yang kayaknya sih dia ngerasa nggak perlu deh. Padahal menurut gue Bayu masih perlu banget buat diingetin akan banyak hal, disupport, dan dikasih perhatian lebih.
Tapi sayangnya, even if I really really want to do that or I want to be that person, I just couldn't be. Makanya itu tadi gue bilang, ini tuh peduli yang salah tempat, and I quite upset sama diri gue sendiri, because I care too much about wrong person.

Rabu, 24 Agustus 2016

Things You Should Prepare for the Post Graduate Term

Beban skripsian selama berbulan-bulan emang cukup bikin stress buat beberapa orang. Bahkan bisa berpengaruh ke pola dan nafsu makan, imunitas, sampe aura muka. Gue sendiri mengalami itu, sampe setelah sidang, beberapa orang teasing gue, "ciyee, beda yaa kalo yang habis sidang tuh mukanya seger, auranya beda". Emang sih, gue ngerasa setelah sidang gue tersenyum lebih banyak, dan gue pake blusher jadinya lebih merona 😄

Well. Stress ketika skripsian itu menurut gue boleh, dan lumrah dilalui sama banyak orang. Ada beberapa hal yang bisa jadi faktor penunjang stress selama skripsian, mulai dari dosen pembimbing, narasumber, orangtua, atau bahkan pacar. Dan yang kadang malah tambah bikin stress, kita harus berjuang sendirian. Emang bisa sih curhat atau cerita sama orang lain. Tapi sepanjang pengalaman gue, lo cuma bakal dapet kalimat-kalimat motivasi standar kayak, "semangat yaa, kerjain aja dulu" atau "gue doain deh cepet selesai skripsi nyaa". Well, tanpa bermaksud mengecilkan hal ini dan orang-orang yang melakukannya, gue cuma mau cerita terkadang kalimat-kalimat ini tuh bikin muak. Malah tambah bikin bete buat ngerjain skripsi bagi beberapa orang.

Tapi nih yaaaaaa..
Percayalah apa yang tertulis di Q.S Al Insyirah (5-6) itu bener ternyata. Sesungguhnya setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan itu diulang dua kali di surat itu.
Akan ada joy yang lo dapet setelah melewati itu semua. Akan ada nafsu makan yang balik, akan ada muka-muka yang merona, akan ada mood yang balance lagi.

Tapiiii.... Ternyata kita ga boleh lengah nih sama joy yang baru aja kita dapet. Jauh sebelum ini toh kita tau akan ada fase berikutnya dalam hidup yang bakal kita lewatin lagi.
Setelah lo berhasil melalui proses skripsi tadi, lo akan sampe di tahap di mana lo pengen lebih mandiri lagi secara finansial. Caranya gimana, ya nyari kerja. Masalahnya nyari kerja ama nyari jodoh itu sebelas dua belas, tergantung rejekinya kapan.

Di bulan ke-dua setelah gue lulus dan menyelesaikan proses skripsian, gue belum dapet kerja juga nih. Dan rasa stressnya, malah menurut gue lebih dari waktu skripsian. Waktu stress skripsian, gue cenderung menyalahkan diri gue dan keadaan, efeknya adalah gue sering sedih. Tapi, setelah lulus dan dalam proses nyari kerja ini, efeknya gue malah sering marah-marah ke random people, termasuk ke orangtua gue 😢. Gue marah karena seakan-akan, gue belum dapet kerja itu salah gue, dan gue ga sabar nungguin kapan giliran gue.

Belakangan ini gue mulai introspeksi diri lagi. Apa yang salah dari gue, dan mulai mencoba buat memperbaikinya satu per satu. Dan ini yang mau gue sharing di postingan ini.

Buat yang lagi atau akan menghadapi proses-proses yang gue sebutkan sebelumnya, gue sangat menyarankan lo untuk nyiapin segala sesuatunya dengan cepet dan sesegera mungkin. Efektif dan efisien.
Pertama, siapin mental! Yes, it's another cliché thing. Tapi emang harus disiapin bener-bener sih sadar ga sadar. Di titik ini, menurut gue kita harus tau kemungkinan-kemungkinan apa yang bakal kita hadapi nanti, fase apa yang bakal kita lewati. At least, kalo udah tau, kita bisa nyiapin apa yang bakal kita lakuin kalo udah sampe di titik itu. Gimana kita nge-manage diri kita dan emosi kita, dll. Pokoknya intinya nyiapin diri buat facing everything gitu deh. Q susah zelasinnya~

Semua ini, menurut gue lebih baik kalo udah dimulai dari waktu jaman skripsian, atau pas revisian deeh. Lo udah harus menentukan apa yang akan lo lakukan setelah lulus nanti. Mau lanjut studi atau mau nyari kerja.
Kalo mau lanjut studi, diriset deh tuh kampus mana yang jadi target lo buat ngelanjutin studi. Mau pake beasiswa atau biaya mandiri. Mau di dalem atau di luar negeri. Karena, waktu masuk S2 juga waktunya hampir sama kayak masuk S1, yang mana kalo lo lulus di bulan-bulan pertengahan tahun, lo harus ngebut buat ngurus semua hal yang berkaitan sama magister lo nanti. Hal ini malah harusnya udah lo siapin dari sebelum memulai skripsi. Karena seringkali skripsi sebagai karya tulis kita ngebantu kita dalam proses lanjut studi ini, kayak misalnya bisa digunain buat pemenuhan syarat (ada beberapa beasiswa yang minta karya ilmiah/tulis yang pernah dibuat), atau malah bisa jadi standar studi lo yang tinggal ngelanjutin apa yang udah lo ambil/buat dari karya tulis ini.

Kalo mau kerjaaaaa..
Bosque, jaman sekarang nyari kerja itu susah. Lo liat kan gimana Si Doel stress pas abis lulus. Masih untung dia punya Sarah sama Zaenab yang baik hati. Kalo jomblo-jomblo kayak lo (dan gue juga c 😧), sabar-sabarin aja deh~
Well, prosesnya sama kayak tadi sih. Lo udah harus tau apa yang mau lo lakukan. Lo mau kerja apa, di bagian apa, atau mungkin lo udah punya target mau kerja di mana. Itu semua lebih bakal bikin lebih gampang dan lebih efektif, akan lebih sedikit waktu yang lo buang-buang in vain gitu lho.

Kalo lo udah nentuin mau kerja di mana, segeralah bikin CV. Sama kayak sebelumnya, riset lagi CV yang kayak gimana yang harus lo buat biar bisa masuk ke kantor yang lo tuju. Apa perlu CV kreatif? Kalo iya, coba liat-liat contoh CV kreatif. Dulu gue pernah ngelamar ke radio kampus dan disuruh bikin CV kreatif, terus gue bikin kayak mainan ular tangga gitu. Cobalah bikin CV yang menarik dan rapih, karena kalo kata seorang HR yang gue konsulin, dia menyuruh gue buat memposisikan diri gue as an HR, terus kira-kira CV yang kayak gimana yang bakal gue lirik. Baru-baru ini, gue memperbaiki CV gue, dan hasilnya emang langsung jauh banget sihh. Tiba-tiba banyak panggilan interview kerja yang masuk.

Setelah lo selesai bikin CV, mulai deh lo sebar CV lo. Kalo emang lo bukan tipe yang rajin buat googling jobvacan atau #lowker, coba mulai bikin akun di LinkedIn, JobsDB atau JobsID gitu gue lupa. Oh iya, StudentJobsID tuh is a must sih menurut gue buat seorang freshgrad. Mereka banyak ngasih link vacant entah itu sebagai karyawan atau intern. Harus lebih rajin juga buat iseng nengok ke tab recruitment yang ada di web company yang mau lo masukin. Siapa tau aja ada yang cocok. Oh iya, jangan pernah malu juga buat 'minta' kerjaan ke temen atau kerabat. Bukan bermaksud KKN, tapi siapa tau mereka punya info, dan emang rejekinya melalui mereka.

Satu tips dari seorang temen yang juga orang HRD, biasanya freshgrad itu ngotot mau kerja dulu dan ga peduli banyak hal, pokoknya ngelamar aja dulu. Tapi ternyata hal itu ga disarankan. Bukannya ga boleh sihhhh, tapi mendingan jangan. Fokus sama apa yang kita mau. Ada yang bilang, kalo kerjaan yang didapet pertama itu jangan ditolak kan. Nah mungkin itu salah satu cara supaya kita ga nolak kerjaan yang pertama kita dapet. Misalnya, lo tertarik di dunia iklan, atau malah pengen jadi guru/dosen. Tapi karena lo ngerasa butuh duit, dan yang ada waktu itu lowongan di Bank, terus lo main ngelamar aja. Pas keterima dan ketika lo kerja di sana pun, hasilnya ga akan bagus. Gue punya temen, dia pinter matematika. Dia, gue, dan banyak orang lainnya tau kalo dia suka ngajar, dan kayaknya cocok buat ngajar apalagi anak-anak karena the way he thinking tuh unik. Tapi entah kenapa kemudian dia kerja di salah satu agency as a media planner. Yang bikin orang bingung, kok bisa ke sanaaaaaa?! Daaan, bener aja, 2 bulan setelah dia kerja dia curhat sama gue pengen resign, it isn't his passion. Hal-hal kayak gitu yang bakal terjadi kalo lo ga fokus sama apa yang mau lo kerjain.

Next, habis lo sebarin CV lo, yang lo lakuin adalah nunggu. Iya nunggu itu emang ga enak, tapi mau gimana lagi?
Daaaaaaaan... Sayangnya proses nunggu ini emang paling ga enak buat dijalanin. Perusahaan bukan pacar lo yang bisa lo kodein ketika lo pengen nanya kapan bisa lanjut ke pernikahan. Yang bisa lo lakuin cuma nunggu, kalo lo nanya soal kepastian kapan lo bisa join, bisa dipastiin hari itu juga you're not gonna join them.
Terus, apa yang bisa lo lakuin di periode ini? Banyak! Coba deh mulai liat apa yang lack di lo, atau hal apa yang harus lo urus, mungkin bisa dimulai dari situ.
Misalnya, coba cek segala kelengkapan administrasi yang mungkin dibutuhkan buat nyari kerja. Skck, kartu kuning, legalisir akta lahir, kk, dan ktp, sisa waktu passport (kalo berniat overseas), dll. Atau mungkin lo bisa memperpanjang SIM dan passport. Apalagi yaa... Oh iya, lo bisa mulai ke dokter, buat ngerawat gigi, kulit atau yg lain. Lo juga bisa diet, kayak diet mayo atau diet apalah itu. Lo bisa ikut member di gym atau sports club gitu. Dan lo bisa ikut kursus bahasa, yes it's an obligation nowadays, jadi ini kayaknya penting banget buat dilakuin. Lo bisa ikutan tes-tes bahasa inggris juga, yang hasilnya bisa lo gunakan selama satu tahun terhitung dari hasil tes keluar. Itu penting banget.

Oh iya, di periode nunggu ini lo bakalan sering banget ngerasa bosen tinggal di rumah. Bawaannya pengen main terus, pengen keluar terus, pengen liburan terus malah.
Gue sangat menyarankan lo buat hidup hemat dari mulai jaman kuliah or at least dari jaman skripsian. Emang sih skripsi juga membutuhkan uang, tapi believe me, di periode waiting ini lo membutuhkan uang yang jauh lebih banyaaaaak. Ditambah perasaan ga enak buat minta uang ke orangtua lo. Lebih apes lagi, kalo kayak gue, minta duit malah diceramahin 😢. Ga enak deh, ga enak banget. Jadi mending lo siapin dari jauh-jauh hari.

Hmm itu aja sih kayaknya sharing dari gue. Ini tulisan mentah. Gue nulis ini tadi pas nunggu dokter buat medical check up dan sekarang di Burger King buat nungguin si Galih yang lama dari Pasaraya ke Plaza Blok M. Dan gue nyesel kenapa ga makan di Gultik aja. Mungkin nanti bakal diedit lagi. See ya 😚

Senin, 22 Agustus 2016

Bandung, dan adiksi yang muncul setelahnya.

quote tentang Bandung by Surayah Pidi Baiq

Waktu dulu, gue sempet bikin semacam list places-that-I-should-go-with-my-boyfriend, alias tempat-tempat yang bakal gue datengin buat naracap. Dan dari sekian tempat itu, Bandung jadi salah satu tempat (kota, sih) yang menurut gue wajib banget gue datengin buat pacaran.

Kenapa Bandung? Buat gue, Bandung itu manis dan romantis. Hawanya (well, at least) lebih sejuk daripada di Jabodetabek, banyak pepohonan yang bikin teduh, banyak bukit-bukit yang (masih) hijau buat dipandang, banyak lokasi wisata apalagi semenjak Ridwan Kamil mulai nata kota ini jadi lebih menarik. Bahkan buat gue, cara orang Bandung berinteraksi dari mulai tone suara, logat, dan aksen mereka bikin Bandung jadi manis. Enak aja gituh denger orang Bandung ngomong bahasa sunda.

Beberapa kali ke Bandung, tapi gue ngerasa gitu-gitu aja. Kalo gue recap yaa beberapa trip ke Bandung, menurut gue itu trip yang biasa aja. Pertama, sekitar tahun 2010, berangkat jam 8 pagi dari Bekasi, terus ke ITB sama nganterin Sangga nyari kosan, jam  5 udah balik lagi ke Bekasi. Terus tahun 2011, berdua Azis ke Bandung nyamperin mantannya cuma buat ngasih kado. Iya, bosque, dari Bekasi ke Nangor! Terus malemnya ke Bukit Bintang, besoknya pulang. Tahun 2012, ke Bandung lagi, cuma buat makan di Bancakan sama keluarga besar, terus sama Sangga ke Ciwalk, terus kita berdua nyusul orang rumah ke Rumah Mode. Terus pernah ke Lembang juga kayaknya ke rumah Tante Ida, bareng sama keluarga Bandung plus Sangga (iya, Sangga tuh rajin gue ajak ikut jalan sama keluarga gue). Terus terakhir, sebelum trip kali ini, gue sempet ke Bandung di awal tahun 2014. Rutenya cuma ke Kopo, habis itu ke rumah sepupu di Cibiru sekalian jemput Arin yang lagi di rumah mantannya yang masih satu komplek di Cibiru juga, habis itu bertiga gue, Arin, sama Sangga pergi ke Maja House cuma buat melihat pemandangan, minum teh dan makan quesadillas terus habis itu balik.

Nah, kemarin gue ke Bandung lagi tuh. Niat utamanya sih main, tapi dibalut alasan mau ikutan jobfair di Polban. :)
Walaupun trip kali ini juga ga full jalan-jalan, tapi at least trip kali ini agak lebih lumayan daripada trip-trip sebelumnya.
Gue akhirnya merasakan rumput sintetis di alun-alun Bandung, foto di depan quote-nya si Surayah, terus ke Dusun Bambu, dan ke Warkop Modjok yang sekarang lagi kekinian. Oh, dan makan Baso Akung!

Walau lebih lengkap daripada trip-trip sebelumnya, tetep aja trip kali ini masih kurang. Banyak hal yang belum gue liat dari Bandung. Banyak makanan juga yang belum gue cobain. Dan itu bikin gue makin pengen ke Bandung lagi dan lagi.
Oh ya! Satu lagi! Ga ngerti kenapa couple di Bandung itu menurut gue sweet-sweet banget, dan makin bikin gue pengen pacaran di Bandung :"
Pengen ke Bandung sama pacar. Kalo naik motor pengen meluk dari belakang, kalo naik mobil pengen nyender di lengannya (tapi ini bahaya sih), kalo naik angkot ya gandengan aja cukup.

Pengen ke Bandung lagi rasanya. Mau ke Farm House, mau ke Rancaupas! Mau ke Tebing Keraton! Mau ke Grafika Cikole! Mau ke Armor! Mau keeeee... kemana lagi yaa. Bingung saking banyaknya. Dan kalo bisa kesananya sama pacar, sekalian pacaran. Biar jalannya bisa sambil gandengan, biar palanya bisa dielus-elus, biar bisa dirangkul, biar bisa ndusel-ndusel manja. Aelah, cepet Mz qt pacaran!
#sebelumhalu #kebanyakannontondramadanbacanovel

Rabu, 04 Maret 2015

Gue dan Sepak Bola

 



Baru aja gue nyelesein baca novel yang judulnya Home & Away karya Mahir Perdana, anak Makassar yang berhasil football travelling di Eropa. Gara-gara baca itu gue jadi tertarik nulis tentang sepak bola. Siapa sih, yang nggak tau sepak bola. Bahkan orang Amerika aja tau walaupun football buat mereka bukan football buat mayoritas masyarakat dunia.

Kalau diliat-liat dan diingat-ingat, pertama kali gue nonton bola, ataupun secuil cuplikan tentang bola itu waktu sekitaran tahun 97 atau 98, dimana gambaran yang paling jelas tergambar di otak gue sampe sekarang adalah selebrasinya David Beckham, yang masih cunlay dengan rambut blateng-nya.

Perlahan tapi pasti, semakin gue tumbuh, gue semakin suka olahraga. Banyak banget olahraga yang gue coba ikutin, dan itu berimbas juga dengan ngefans-nya gue sama atlet-atlet sembarang kalir. Yang jelas gue suka David Beckham tetep.

Di sekitar tahun 2002, waktu itu lagi demam-demamnya Piala Dunia yang pertama kali diadain di Asia. Dan gue untuk pertama kali, masuk dalam pusaran euforia itu. Tim yang gue bela, Inggris sama Korea. Kenapa Inggris? Ada Beckham. Kenapa Korea? Karena Asia dan merah, warna favorit gue. Gue juga suka MU karena ada Beckham dan merah. Kenapa sampe sekarang gue nggak suka sama CR? Karena dia yang ambil nomor 7 dari Beckham. Sesimpel itu dulu gue memaknai sepak bola.

Sepak bola ga pernah jadi agama buat gue. Sepak bola cuma bagian dari pengetahuan umum yang harus gue serap. Sepak bola gue nikmati sebagai hiburan, bukan bagian hidup. Di umur sekarang, malah mungkin bisa dihitung pake jari berapa kali gue nonton bola. Itupun bukan live match, cuma sekedar tayangan di tv.

Seiring dengan pensiunnya atlet-atlet favorit gue, hype senengnya gue sama olahraga juga tinggal kenangan. Ibarat efek film, ini tuh lagi fade out. Gue udah jarang banget nonton F1, selain karena Michael Schumacher udah pension dan regulasi yang banyak berubah yang bikin ga seru buat gue, di Indonesia udah ga ada lagi TV yang mau nyiarin F1. Gue juga udah ga pernah lagi berdiri di ISTORA Senayan dan neriakin chant IN-DO-NE-SIA terus tepuk tangan 5x buat nonton bulu tangkis, setelah terakhir kali tahun 2011 kalo ga salah, waktu Taufik Hidayat, idola gue itu main terakhir buat Indonesian Open.

Tapi biar hype itu berkurang, gue ga pernah bisa lepas sama yang namanya olahraga, dan sepak bola pada khususnya. Bantalan leher di mobil gue masih MU, dan kadang di beberapa kesempatan, terutama pagi hari, gue masih setia nyanyiin Pazza Inter Amala buat nambah semangat. Btw, selain suka MU gue juga suka sama Inter karena gue suka sama Zanetti.

Bisa dibilang level gue dalam dunia fans sepak bola ini sebatas GH, alias Ganteng Hunter, plesetan dari Glory Hunter. Mana gue ga kenal sama pemain-pemain ganteng dari negara mana pun, dari klub mana pun. Siapa pemain favorit gue sekarang. Siapa lagi kalo bukan David Villa, yang sekarang main di Melbourne.

Tapi serendah apapun level gue di dunia sepak bola ini, gue termasuk dari bagian yang masuk dari pusaran besar sepak bola. Buat gue, masyarakat Indonesia sendiri ga bisa lepas dari sepak bola, terutama di tahun-tahun belakangan ini. Gue adalah salah satu yang masuk ke bagian itu di tahun-tahun terakhir ini.

Walaupun udah terbiasa dengan nama Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan, atau Firman Utina (karena abang sepupu gue Viking, jadi gue tau sepak bola local), gue tetap tersihir sama pesona-pesona Christian Gonzales dan Irfan Bachdim. Gue jadi bagian dari 80.000 lebih manusia yang loncat di GBK waktu semifinal piala AFF waktu Indonesia menang lawan Filipina. Itu pertama kalinya gue nonton timnas langsung, dan seakan ada magic, gue jadi tersihir sejak saat itu. Walaupun gue dulu juga nonton Piala Tiger (format lama Piala AFF), tapi gue belum pernah secinta ini sama timnas.

Sejak saat itu, kalo timnas main, gue selalu nyempetin buat nonton. Entah langsung, nobar, ataupun nonton sendirian di TV. Gue nonton timnas mulai dari senior, U-23, sampe U-19. Gue nonton timnas, mulai dari lawan Belanda, Inter Milan, sampe lawan Running Man! Gara-gara timnas, gue bisa liat Zanetti, Sneijder, Persie, secara langsung! Sedih sih ga bisa liat Beckham karena kuliah waktu itu. Tapi intinya, gue sekarang jadi bagian dari penikmat sepak bola. Walaupun gue gatau pertandingannya, gue tau gosipnya. Hhaha.

Dan sekarang gue janji, nanti, ketika gue udah cabut keluar negeri, kemana pun gue pergi, gue bakal bawa jersey timnas. Biar orang tau, ada timnas Indonesia di sini, yang walaupun ga punya prestasi apa-apa, dan berantakan macam kamar kos gue, tetap dicintai masyarakatnya.

Nefilla 307, Surakarta

3 Maret 2015

Senin, 16 Februari 2015

Perjalanan Umroh

Pas liburan semester kemarin kan gue pulang ke rumah, dan seperti biasa gue main sama dua laki-laki yang kurang lebih setahun belakangan ini jadi pelabuhan terakhir gue kalo ke Bekasi (karena yang lain udah sibuk T.T), Agung sama Faraz.
Nah, pas ke rumah Faraz, dia ngasih brosur gitu ke gue, brosur umroh gitu. Berangkatnya nanti pas tahun baru 2016, pake main ke Turki juga.
Wah, boljugs nih. Kebetulan gue emang pengen ke Turki, dan sekalian ibadah ya apa salahnya. Dan keinginan buat tahun baruan di tanah haram emang belakangan lagi menggelayuti gue,gara-gara banyak artis (Andi Arsyil sih lebih tepatnya --") yang tahun baruan sambil umroh.
Jadi karena udah dikasih dan gue emang tertarik, gue ambil lah brosur itu. Terus gue pajang di tempat dimana bokap gue selalu naro barang-barangnya. Maksudnya sih biar bokap gue terbuka mata hatinya buat ngumrohin gue.
Eh sayang beribu sayang. Karena satu dan lain hal, bokap gue ga setuju. :( Tapi selain dari itu, gue juga tiba-tiba mikir, gue belum mau-mau banget umroh, jadi gausah deh. Terus bokap gue marah, dia bilang gue ga boleh ngomong gitu, nanti malah ga bisa umroh. Gue sedih deh, takut ga bisa umroh beneran gara-gara bokap ngomong gitu.

Padahal, yang gue maksud yaaa. Gue emang beneran belum mau-mau banget umroh, karena yang gue rasa, kok lebih banyak keinginan buat jalan-jalannya ya daripada buat ibadahnya.
Apalagi, alasan gue mau ke Turki tuh bukan buat mendalami islam gitu. Tapi lebih karena, Istanbul tuh jadi meeting point buat gue sama temen deket gue waktu di Mesir buat reunian lagi (semoga tercapai 2016. Aamiin).
Dan entah kenapa, gue ngerasa, dari apa yang gue lihat. Buat beberapa orang yang seumuran gue yang umroh, it was nothing but only a vacation gitu.
Nah di titik ini lah gue sadar, gue sebenernya belum mau-mau banget umroh. Gue mungkin akan sama kayak mereka. Umroh nantinya bukan jadi perjalanan yang religius, dan ga lebih dari tempat baru buat check in plus nambah foto instagram.
Dalam hati gue, gue mau segala bentuk ibadah gue, termasuk umroh, beneran jadi proses religius yang bikin gue jadi lebih baik.
Gue mau umroh ataupun haji nanti jadi tempat gue di titik sedekat mungkin sama Tuhan, Allah SWT. Di situ jadi titik gue jadi manusia yang lebih baik dan jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan gue ga mau, dengan umroh yang asal umroh, gue jadi mengecilkan makna umroh itu sendiri.
Buat gue, sayang kalo misalnya udah bayar sekian juta, dan berkorban waktu ini-itu, terus pulang dengan ga bawa apa-apa. Sama analoginya dengan ketika kita puasa yang kita dapet cuma lapar dan haus. Ga ada value yang di dapet.
Mungkin beberapa dari kalian juga punya pengalaman yang sama kayak gue. Ngeliat temennya umroh, tapi ga dapet apa-apa dari perjalanan umrohnya. Dan gue harap ada yang ngerti sih perasaan gue ini gimana.
Gue rasa bokap gue ga ngerti maksud gue apa. Dan dia terlalu sembarangan ngomong. Atau mungkin sebenernya dia cuma bermaksud ngewarning gue. Tapi jadinya... Yah gitu deh.

Balik lagi sih, dari semua yang gue ceritain di atas. Ujung-ujungnya, muara dari semuanya ya cuma niat yang cuma ada di dalam hati masing-masing manusia, yang manusia lain ga bisa atau susah buat ngertiin.
Niat gue belum mau umroh sekarang kenapa. Niat temen-temen gue umroh sekarang kenapa. Niat bokap gue ngomong kayak gitu apa. Masing-masing pasti ada maksud dan hikmahnya sendiri.

Bokap gue mungkin ga ngerti maksud gue. Tapi gue yakin Allah pasti ngerti. Jadi sampai ketemu Mekkah, Madinah, Ka'bah, suatu hari nanti! Semoga bisa jadi saksi dimana Ayunnisa dan banyak orang lain menjadi insan yang lebih baik dan lebih baik lagi setiap menginjak kaki disana. Aamiin aamiin

Selasa, 03 Februari 2015

Kalo Pacaran Lagi, Siap Nggak...

Itu jadi sebuah pemikiran yang tiba-tiba aja muncul di benak gue. Aneh sih. Gue selama ini nggak pernah ngaitin pacaran sama dosa, walaupun gue tau, pacaran itu udah dosa. Tapi, tiba-tiba aja beberapa waktu belakangan ini gue menjadi tidak tertarik sama pacaran. Awalnya sih mungkin karena trauma, atau masih menyimpan luka. Terus ganti, jadi karena gue ngerasa it is not proper kalo baru putus pacaran terus udah nemplok sana-sini. Kemudian alesannya jadi berubah karena gue ngerasa perlu waktu buat belajar, karena gue rasa gue sendiri juga perlu banyak belajar dari banyaknya kesalahan gue. Terus alesannya berubah lagi, anjir ternyata gue emang butuh waktu sendiri, dan perlu ketemu lebih banyak orang lagi sebab dunia-itu-nggak-segede-rasa-cinta-lo-ke-pacar-lo-atau-mantan-lo. Tapi lama-lama alasan itu berubah lagi. Belakangan, gue ngerasa pacaran itu agak ngebuang-buang waktu gue. Oke, tadi awalnya gue ngomongin soal dosa. Tapi gue tetep aja bukan anak Rohis, yang ikutan kajian gitu-gitu sih. Ini cuma berdasarkan pengalaman dan pengamatan.

FYI, gue bukan tipe orang yang doyan pacaran sebenernya. Kalo boleh jujur, dulu gue lebih suka hubungan tanpa status, dimana lo bisa bebas dan ga terikat, tapi lo punya orang buat sharing hidup gitu. Gue pacaran sendiri kalo ga salah baru dua kali. Dan jelas gagal dua-duanya. Hehe.

Nah, setelah gue udah ga pacaran lagi kan gue mulai ditanya-tanya nih, siapa pacar barunya sekarang. Waktu itu sih, gue masih santai bilang, tahun depan lah, kelarin masa iddah dulu. Jadi, gue emang berniat buat buka hati gue setelah setahun pasca putus gituuu.. tapiiiii, realitanya sih belum ada satu tahun, hati gue udah gue buka lebar-lebar walaupun di mulut masih bilang entar-entar. :p

Pertanyaan tentang pacar baru ataupun siapa cowok lo sekarang tuh kayak udah bikin gue begah bin jengah gitu, kayak jaman dulu. Dan karena kegagalan masa lalu dan euforia kebebasan ngeliat dunia luar bikin gue tiba-tiba jadi mikir buat pacaran. Kayak yang waktu itu dibilang Mido, “Why shoul I?”. Ngapain gue harus pacaran?

Lama kelamaan gue jadi inget lagi, gue waktu pacaran ngapain aja, dan gue juga jadi observ kalo orang pacaran tuh kayak gimana dan ngapain aja. Gue tiba-tiba secara random menyimpulkan kalo pacaran itu sebenernya nggak lebih dari buang-buang waktu dan ngumpulin dosa.

Kemarin di mobil, gue sama si item Faraz ngomongin soal hal ini. Gue nanya sama si kecap, “Cap, pernah mikir nggak sih lo, kalo lo jadi cewek. Lo pacaran, terus lo lalalili sama pacar lo. Eh, nggak usah lalalili deh. Lo ciuman aja. Lo ciuman sama pacar lo. Terus lo putus aja gitu. Dan terus besok lo pacaran sama yang lain, dan lo gitu lagi. Lo ngerasa nggak sih lo jijik sama diri lo sendiri?”

Terus si item bilang, kalo yang namanya pacaran itu emang mengarah ke dosa, Yu. Susah buat pacaran dan lo nggak dosa, karena pacaran itu sendiri aja udah dosa. Minimal-minimalnya lo pacaran, lo pasti pegangan tangan. Terus kalo ada kesempatan ya bakalan lanjut lah. Pada dasarnya, laki-laki itu emang nafsuan, nah si cewek buka jalan. Ya ketemu. Salut lah kita kalo ampe ga ketemu. Mau apapun itu, ujung-ujungnya yang rugi ya cewek.

Bener juga kata gue. Apapun itu, yang rugi tetep cewek. Dan ujung-ujungnya, yang bakalan nyesel ya si cewek. Kalo cowok ya mau apa lagi coba? Tapi kalo cewek? Ya, pikir lah sendiri. Agak sebel sih emang, kadang mungkin pemikiran cowok nggak bakal sampe, dan mereka nggak akan pernah ngerasain apa yang cewek rasain. Tapi emang mau gimana lagi. L

Makanya, ketika gue mau pacaran lagi (dan pemikiran itu sering banget muncul! Sebel!), gue balik nanya ke diri gue lagi. Siap nggak, buat nampung dosa lagi. Gausah perkara mesum. Perkara lo kotor hati aja nambah pas lo pacaran. Suudzon, iri, dengki, dan sebagainya, udah nambahin dosa lo. Ya kalo balik ke pemikiran awal gue soal hal ini, pertanyaannya ya balik lagi, “lo mau, tambah ngerasa bersalah sama diri lo?”

Pacaran itu kalo dipikir-pikir ga segampang yang sebelumnya dipikirin. Apalagi mungkin udah tambah dewasa ya. Pacaran jadi susah, karena yang di relate tuh ga cuma lo-sama-doi, tapi lo, pacar lo, keluarga lo, keluarganya dia, temen lo, dan juga temennya. Jadi ribet gitu, walaupun bisa aja dibawa ga ribet. Tapi balik lagi, ini masalah kesiapan. Lo siap apa engga. Cause every action has a reaction. Lo siap baik-buruknya nggak?


Note ini beneran no offense deh. Ini pure dari gue sendiri dan buat gue sendiri. Karena gue emang suka random orangnya, dan suka ga peduli apapun waktu mau nyatain pendapat. Tapi ini emang buah kerandoman itu sih. Gue sendiri ga muna, I’m not a good one, dengan gue ngeluarin pendapat gue yang ini. Mungkin ada beberapa orang yang bakal berpikiran “cih!” lah ke pemikiran gue ini. Tapi ya terserah, semua pasti punya pandangannya masing-masing.

Selasa, 22 April 2014

Orang Ketiga

*maaf ya, kalo lagi sering ngepost soal beginian. lagi ngetren soalnya. :p

Aku cinta kepadamu.. Aku rindu di pelukmu..
Namun ku keliru telah membunuh.. cinta dia dan dirimu..


Itu sepenggal lagu yang dinyanyiin (kalo ngga salah sih) sama Ruth Sahanaya, yang di cover Monita deh pokoknya. Intinya sih ini lagu soal orang ketiga yang tau kalo dia salah terus mau udahan gitu.

Well, orang ketiga ini jadi pembahasan menarik belakangan ini buat gue pribadi. Jadi gini, ada satu kasus dimana gue punya temen, cewek, sebut aja namanya Mawar (ah basi!). Btw si Mawar ini kebetulan baru aja putus dari pacarnya, which is betrayed. Nah, si Mawar galau abis dong. Galaunya Mawar lumayan parah deh kalo ukuran cewek mah, secara si Mawar lumayan lama juga pacaran sama cowoknya. Lagian juga wajar lah, karena menurut gue, tiga bulan pertama setelah lo putus sama pacar lo adalah masa-masa tergalau lo (dengan catatan lo bukan tipe-tipe gugur satu tumbuh seribu yaa.. alias cepet nempel).

Dalam masa tergalaunya, sebagai seorang cewek, wajar kalo si Mawar lagi butuh perhatian banget. Inilah yang menurut gue menyebabkan seringnya muncul korban-korban pelarian di tiga bulan awal pasca putus, karena emang itu masa tergalau dan masa dimana butuh perhatian banget. Menurut gue lepas dari tiga bulan ini baru deh lo mulai bisa berpikir jernih dan belajar dari kegagalan sebelumnya.

Btw balik lagi ke si Mawar yang lagi butuh perhatian, dia sekarang lagi nebar jala nih, kebetulan juga dia sekarang, kalo istilah temen-temen gue tuh lagi PLN, alias Pasaran Lagi Naik, jadi banyak yang suka sama dia. Jadi agak gampang lah buat si Mawar nyari ‘pelarian’. Kenapa gue bilang ‘pelarian’, itu karena pada dasarnya si Mawar emang masih cinta mati sama mantannya. Pelarian ini berguna buat memenuhi kebutuhan dia yang emang lagi cari perhatian aja.

Kebetulan, sebelum si Mawar putus sama pacarnya, ada salah satu temen gue yang naksir sama dia, sebut aja namanya Roby. Si Roby ini emang dari awal masuk kelas udah naksir sama Mawar, walaupun dia main belakang, alias ga cerita-cerita sama temen-temen. Hal ini dia lakuin karena kebetulan juga dia udah punya pacar, dan udah pacaran sekitar tiga tahun-an. Btw, Roby pernah cerita sama gue kalo dia tuh lagi jenuh-jenuhnya sama pacarnya, dan udah mulai terkikis rasa sayangnya. Nah, disini gue bilang sama Roby, “By, lo boleh jenuh. Itu wajar. Dan gue ngerasa boleh-boleh aja kok kalo lo nengok kanan-kiri. Tapi satu yang pasti, By. Yang namanya hati itu harus selalu tau jalan pulang!” Sengaja gue ngode-ngode ke dia, dan dia Cuma diem aja.

Nah, masalah mulai muncul ketika si Roby mulai tau kalo si Mawar udah jomblo lagi. Roby pun mulai ngedeketin si Mawar, walaupun masih main halus. Tapi, lama-lama gue dan temen-temen yang lain mulai agak curiga karena si Roby dan si Mawar kok udah mulai show off. Cewek kan lumayan gampang buat dideketin, dikasih perhatian dikit juga kena. Sebagai temen, kita khawatir sama Mawar yang kok mau aja di deketin ama si Roby yang as well known udah punya cewe dan pacaran udah lama, daaaan ceweknya tuh galaknya minta ampun. Si Mawar tiap ditanyain sih masih ngeles-ngeles aja, begitu juga Roby. Tapi yaaa gue ama temen-temen gue nggak bego-bego amat lah buat sadar kalo mereka udah mulai ‘aneh’. Mulai dari mereka yang sering pulang bareng, terus mulai sering nongkrong bareng (walaupun ngga berdua juga), dan yang paling aneh adalah kita udah jarang, bahkan ngga pernah ngeliat si Roby ngebahas ataupun jalan bareng cewenya, which is itu adalah hal yang aneh banget buat mereka berdua.

Di point ini lah gue sama temen-temen gue akhirnya memutuskan untuk bertindak. Kita nggak mau temen kita jadi orang jahat dengan cara nyakitin orang lain, yang kalo di kasus ini ceweknya si Roby. Waktu itu kita nggak tau sih si Roby udah putus atau belum sama ceweknya, soalnya Roby ngga cerita-cerita sama kita. Tapiii, kita nggak mau aja tiba-tiba ada orang yang disakitin, dan itu disakitinnya sama temen kita. Kita sangat berharap dua orang temen kita, Roby dan Mawar, nggak bego dengan jadi egois mikirin perasaan mereka berdua doang dan tega ngorbanin ceweknya si Roby.

Terus akhirnya kita bilang deh sama si Mawar, kalo sebaiknya dia ngejauhin Roby. Karena menurut kita kadang kita emang harus ngalah dan rela korban perasaan sih kalo emang kita tau kita salah. Dan disini kan emang Mawar salah. Walaupun Mawar belum ngerebut, tapi dia udah ngeganggu hubungan Roby sama ceweknya. Si Roby juga salah, karena dia nggak bisa megang yang namanya komitmen, dan ga bisa setia sama ceweknya.

Kita bilang sama Mawar, “War, kita tau kalo lo suka dan mungkin udah sayang sama Roby. Tapi kan lo tau gimana rasanya di duain. Lo seharusnya bisa dong mosisiin diri lo di posisi ceweknya Roby. Apalagi mereka udah lama juga pacarannya. Jangan sampe lo nyakitin orang lain, War. Percuma aja lo bahagia sementara ada orang yang sakit gara-gara lo berdua. Nggak akan berkah deh.” Gitu lah intinya.

Sementara ke si Roby kita ngomong, “By, kita tau lo mungkin udah ada di titik terjenuh lo sama cewek lo. Tapi coba By, coba lo bayangin kalo lo yang dikhianatin sama cewek lo, lo bakalan sakit hati nggak. Inget lagi By, yang berjuang selama ini sama lo siapa. Yang selama ini ada buat lo siapa. Mungkin Mawar emang ada buat lo dan bisa nyenengin lo sekarang, tapi lo harus tau By, yang ada buat lo dari dulu sampe sekarang, bahkan ketika lo nyakitin dia tuh siapa. Jangan pikir cewek lo nggak sadar lo lagi ngeduain dia sekarang. Cewek tuh feelingnya kuat. Jangan bego ninggalin orang yang baik demi orang yang lebih buruk. Percaya lah By, lo nggak akan bahagia selamanya, nanti lo akan terus dihantui sama rasa bersalah. Dan suatu saat lo pasti akan nyesel udah ninggalin orang yang sayang sama lo. Jangan egois By, jangan lo pikir yang mau bahagia Cuma lo doang. Emang lo pikir, cewek lo nggak mau bahagia juga?! Lo udah milih sama dia, By. Coba deh lo setia. Pasti nantinya lo bakalan bahagia deh.”

Yaa gitu lah kira-kira. Sebenernya kita seneng sih kalo ngeliat Roby sama Mawar barengan. Siapa sih yang nggak seneng ngeliat temennya bahagia? Tapi kita nggak mau bahagia itu didapet dengan cara yang harus nyakitin dan ngorbanin orang lain. Kita nggak mau temen kita jadi jahat. Jadi orang ketiga.

Jadi orang ketiga itu kayaknya secara ga sadar bisa jadi tantangan deh buat seseorang. Dan pada dasarnya, kan orang suka ditantang. Jadi, berusaha buat ngerebut pacar orang itu bisa jadi hal yang menantang. Mungkin sebenernya kita sadar sih kita salah, dan kita mau udahan buat ngerebut dia secara ngga langsung, tapi kadang keluar alasan, ‘tapi gue nggak bisa bohong, gue sayang sama dia’. Atau emang pas aja momennya karena ada kesempatan, karena kebetulan orang yang mau lo rebut juga suka sama lo. Jadi keterusan deh. Tapi itu salaaaah. Udah sih, tungguin aja kalo emang lo mau sayang sama dia. Tapi tungguinnya juga diem-diem lah, ga usah heri alias heboh sendiri. Inget aja, kalo jodoh ga kemana. Tungguin aja. Nah, sambil nunggu, mungkin lo bisa sambil liat sana-sini lah, siapa tau ada yang nyantol. Semua orang udah ada pasangannya masing-masing kok, jadi jangan ambil yang udah jadi hak milik orang lain lah. Jadi, selamat berjuang ya! Don’t hurt anyone kalo bisa, dan harus bisa sebisa mungkin!

Jumat, 18 April 2014

Selingkuh (?)

Di path gue, seorang temen baru aja nge-share suatu postingan yang dia dapet dari grup sebelah, katanya. Sebelah mana juga gue nggak paham, yang pasti begini isi postingannya:

Pacaran atau menikah itu bukan sekedar saling mencintai dan mengerti satu sama lain. Hal yang paling terpenting dari menjalin sebuah hubungan adalah komitmen untuk setia. Buat apa pacaran, kalo pada akhirnya selingkuh? Buat apa menikah, bersumpah sehidup semati kalau pada akhirnya mengkhianati.
Buat yang sekarang menjalin hubungan di belakang pasangan kalian, pernah kah kalian membayangkan jika kalian berada di posisi mereka?
Ketika mereka mencintai Anda sepenuh hati mereka, tapi ternyata Anda mengkhianati cintanya. Ingatlah bukan hanya kalian yang punya pilihan untuk selingkuh. Pasangan Anda pun punya pilihan untuk selingkuh. Tapi apakah mereka melakukannya? Tidak. Mereka memilih untuk terus setia. Alasan Anda selingkuh karena ada yang lebih baik dari pada pasangan Anda? Ingat lah bahwa di luar sana juga banyak yang LEBIH BAIK dari Anda. Tapi apakah pasangan Anda memutuskan untuk mencari yang lebih baik dari Anda? TIDAK. Mereka tetap setia mencintai Anda dan menerima semua kekurangan Anda.
Jangan rusak cinta yang sudah kalian bangun hanya karena godaan nafsu belaka. Sadarkah kalian ketika kalian selingkuh, kalian bukan hanya menghancurkan hati pasangan Anda, tapi juga menghancurkan keluarga kalian. Untuk yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak, pernahkah kalian bayangkan bagaimana perasaan anak-anak kalian ketika mengetahui orangtua mereka selingkuh?.
Ingatlah siapa yang selama ini mencintai Anda sepenuh hati. Ingatlah siapa yang sabar menghadapi Anda, siapa yang setia menemani Anda di segala waktu, siapa yang menerima Anda apa adanya, siapa yang akan tetap berada di samping Anda meskipun Anda sedang terpuruk. Bukan si orang ketiga, tetapi pasangan Anda.
Untuk pasangan yang masih setia, teruslah setia. Untuk yang sedang selingkuh, kembalilah ke jalan yang benar. Bahkan dalam agama selingkuh adalah hal yang dilarang. Percuma Anda beribadah dengan rajin, kalau Anda selingkuh. Ingat perasaan pasangan, ingat perasaan keluarga.
SAY NO TO SELINGKUH. SELINGKUH ITU MUDAH, KENAPA TIDAK MENCOBA HAL YANG LEBIH SULIT, SEPERTI SETIA.



Begitulah kira-kira isi postingan temen gue. Well, gue agak sedikit setuju sih sama postingan itu. Tapi agak susah ngomonginnya kalau lo sendiri belum pernah ngalamin hal ini. Susah kalau cuma mengandai-andai soal kasus ini. Tapi bersyukurlah kalau lo nggak pernah ngalamin hal ini. Hhehe.

Begini, buat gue pribadi, selingkuh itu mudah untuk dilakukan. Sangat mudah. Apalagi buat cewek yaaa. Well, no offense sih. Tapi yaaa, gue rasa begitu. Ya mungkin ini cuma pendapat gue pribadi sih, tapi gue sebagai cewek ngerasa lebih mudah aja buat naro hati, even ketika lo punya pasangan. Cewek mana sih yang nggak suka diperhatiin? Apalagi kalo emang lagi stress sama pasangannya yaa.

Tapi buat gue, selingkuh itu jadi masalah kepribadian lo. Sejauh apa lo bisa manage diri lo dan pilihan-pilihan lo sendiri. Keinginan untuk ‘nengok’ orang lain ketika lo punya pasangan pasti pernah ada dalam pikiran kita masing-masing. Minimal menilai bahwa fisik orang lain lebih baik dari pasangan kita lah. Atau bahwa orang lain bisa membahagiakan kita lebih dari pasangan kita. Dan studi formal bahkan mengiyakan hal itu. Malah, pernah, di satu portal online gue baca kalo seorang cowok bisa suka sama tiga orang sekaligus walaupun dia udah punya pasangan.

Berhubungan dengan kuliah gue, gue belajar yang namanya mata kuliah Komunikasi Antar Pribadi, which is my all time favorite, dosennya namanya Mbak Oci. Jadi di matkul itu, gue pernah belajar soal yang namanya Tahapan Perkembangan Hubungan, yaitu yang pertama fase dimana lo saling kenal dan mulai deket. Terus kedua, yaitu fase dimana lo mulai mempertanyakan kelanjutan hubungan lo alias mulai nembak. Terus ketiga, disinilah fase ‘jadian’ lo. Di fase tadi ada kekhawatiran-kekhawatiran dimana lo bakal kehilangan pacar lo, khawatir lo ga punya hubungan yang asyik & mesra, plus khawatir kalo lo bisa kehilangan kebebasan. Terus keempat, lanjut ke fase dimana hubungan lo melemah tapi belum putus. Terus kelima ada Repair stage, usaha buat benerin hubungan lah, tapi ini optional aja sih kalo diperluin. Nah yang terakhir itu ada Dissolution stage {interpersonal separation (berpisah) & social/public separation (berpisah secara resmi)}, alias putus.

Well, setiap hubungan itu ada fase deteriorasi & disolusi, melemah atau putus. Buat gue pribadi, selingkuh itu bisa masuk ke deteriorasi atau malah disolusi. Disini ada tahapnya lagi, pertama lo mulai nggak puas sama hubungan lo, atau bahasa gampangnya jenuh. Kedua, lo mulai nyari pelampiasan nih, minimal curhat lah ke temen deket. Ketiga, lo masih mau ngebahas ini sama pacar lo, biar hubungan ini jadi lebih baik. Keempat, lo udah jenuh banget karena ngerasa hubungan lo ga bisa dibenerin terus minta putus. Kelima, lo nganggep hubungan itu Cuma masa lalu, dan di tahap ini efeknya bisa negatif, dimana lo bisa jadi musuhan, atau jadi positif, ya temenan lagi.

Menurut gue, selingkuh itu sendiri ada di tahap kedua di fase deteriorasi, dimana lo nyari pelampiasan atas ketidakpuasan lo sama pasangan lo. Modelnya bisa macem-macem. Bisa Cuma sekedar curhat sama temen lo, atau nyari orang lain yang bisa cover kekurangan pasangan lo. Di tahap inilah lo mesti hati-hati, lo harus pinter manage diri lo bahwa untuk menyelesaikan masalah lebih baik tidak dengan cara kabur ke orang lain, tapi hadapi! Jangan jadi pengecut. Gue rasa, lo putus karena emang ada masalah di antara lo berdua jauh lebih baik daripada lo harus putus dengan ngajak orang lain buat jadi kambing hitam di hubungan lo. Kan awalnya juga lo jadian berdua, nggak ngajak-ngajak doi kan? Terus pas putus, lo ngajak dia gitu? Nyari temen buat disumpahin bareng? Percayalah sama gue, ketika lo selingkuh, lo pasti bakal disumpahin sama orang yang lo selingkuhin, temen-temennya dan bahkan mungkin keluarganya. Minimal di doain gini, “yaudahlah, entar juga tau sendir, ntar juga dia nyesel sendiri”.

Balik lagi ke postingan di atas. Gue ngerasa kalo dalam suatu hubungan itu wajar jika ada yang namanya jenuh. Capek aja lah gitu. Percaya sama gue, itu bukan karena lo nggak sayang sama pacar lo, tapi itu emang karena lo capek aja sama dia. Itu yang ada di otak lo, sadar nggak sadar. Kecenderungan buat nyari tempat yang lebih nyaman itu juga sayangnya emang harus dianggap wajar sih dalam satu hubungan. Analoginya kayak lo udah pegel tidur di kasur kapuk, terus masa iya pas lo punya uang lo nggak mau beli springbed? Pasti mau kan? Tapi kalo lo pinter, lo akan mikir lagi, mungkin uang buat beli springbed itu bisa lo pake buat beli keperluan lain yang emang urgent, dan bahwa kasur kapuk itu masih bisa buat lo jadiin alas tidur lo.

Di tahap ketika lo jenuh sama pacar lo, lo punya kesempatan untuk memperbaiki hubungan lo. Kalo di teori yang gue dapet, ada strategi untuk REPAIR. Dan bahkan, ketika hubungan itu udah berakhir, masih ada kesempatan untuk rekonsiliasi which is itu berfokus sama hubungan yang udah kelar. Tapiiiii.. sekali lagi, buat gue pribadi, terutama di umur segini, lo udah harus bisa berkomitmen. Komitmen untuk apapun, termasuk pacaran.

Selingkuh itu kadang gue pikir sama kayak orang gendut pengen kurus secara cepet. Kita pasti paham yang namanya no pain no gain, kalo lo ga sakit ya lo ga akan berhasil. Misalnya lo gendut, terus pengen kurus cepet, lo beli pil pelangsing instan atau yang agak oke-an dikit, sedot lemak. Dua-duanya resikonya gede. Dan kalopun berhasil, hasilnya beda sama kalo lo cutting dan diet secara bener. Sayangnya, kalo lo gagal, gagalnya bakalan parah bahkan bisa bikin lo mati.

Dan satu hal yang gue pikir, ketika lo mulai berani untuk selingkuh, lo menjadi orang yang tidak akan pernah puas. Lo bosan, terus nengok lagi, gitu aja terus. Ya mungkin lo bakalan tetep sama pasangan lo, tapi itu bisa Cuma de facto doang. De jure-nya mah lo belok kanan kiri. Selingkuh itu sama aja sih kayak pacaran. Kita tau kalo itu salah, tapi kita tetep aja nyobain, dan ketika udah nyobain kita malah bisa jadi ketagihan. Dan bahkan, ketika lo gagal, lo ga kapok buat nyoba lagi.

Kita harus ingat lagi kalo selingkuh itu nggak cuma bakalan nyakitin satu orang. Bodoh kalo lo ngerasa bahwa si orang ketiga lebih ‘butuh’ lo, dan bakalan lebih ngerasa tersakiti. Kalo lo selingkuh, berapa banyak sih yang tau hubungan lo sama dia? Nggak lebih banyak dari yang tau hubungan lo sama pacar lo, gue rasa. Jadi seandainya yaaa.. seandainya (jangan sampe) lo selingkuh, dan kemudian lo lebih memilih pacar lo, lo mungkin hanya akan (maaf) menyakiti si orang ketiga, karena yang tau hubungan itu Cuma lo berdua. Tapi ketika lo selingkuh, dan lebih memilih sama selingkuhan lo, lo mungkin aja bakalan nyakitin pasangan lo, keluarga pasangan lo, keluarga lo (karena mungkin aja keluarga lo malu sama keluarganya pasangan lo), temen deketnyanya pasangan lo (pasti sih, kebawa-bawa), dan bahkan mungkin nyakitin perasaan temen lo yang ngedukung pasangan lo. Nah, kalkulasiin sendiri lah.

Mari kita baca lagi. SAY NO TO SELINGKUH. SELINGKUH ITU MUDAH, KENAPA TIDAK MENCOBA HAL YANG LEBIH SULIT, SEPERTI SETIA.

Ya, setia itu sulit, terlebih ketika godaan banyak di depan mata. Tapi suatu hal yang lebih sulit untuk didapat, pasti bakalan lebih worth buat dimilikin. Dan menjadi setia dan bertanggungjawab itu cool abis. Ketika lo memilih seseorang, dan memilih untuk tetap sama orang itu no matter what happen (di luar kasus selingkuh yaa), akan ada harga yang dibayar dari kesetiaan lo itu. Setialah, bukan hanya untuk pasangan lo, tapi juga untuk diri lo sendiri.

So, keep love!
xoxo

Senin, 14 April 2014

Malam Terakhir

Langkah santai menemaninya menikmati kuningnya lampu Jakarta kesukaannya. Kenapa Ia suka kuningnya lampu Jakarta tak pernah ku tahu alasannya. Suka aja, katanya. Dua belas tahun hidup dengannya membuatku merasa tidak perlu bertanya lebih lanjut. Ia suka karena memang suka. Sesederhana itu. Seperti kepribadiannya.

Dibalik kelebihan yang dia punya ternyata tersimpan kesederhanaan yang sayangnya, entah mengapa, baru ku sadari. Kesederhanaan yang selama ini ku ragukan ada padanya. Tapi sosok yang ku lihat berjalan di sebelahku kali ini seakan menyatakan kemerdekaannya, bahwa ternyata bahagianya cukup sebatas melihat pijar kuning cahaya lampu Jakarta. Bau hujan, sebotol Nu Green Tea, dan mungkin aku di sebelahnya, baginya hanyalah bonus dari rekah senyum manisnya malam ini.

Sekarang pukul 09.00 malam. Hampir 12 jam setelah kami mulai keluar jam 09.00 pagi tadi. Seharian ini kami berkeliling Jakarta dengan berbagai macam moda transportasi yang ada. 12 jam, yang kalau ku pikir-pikir mewakili setiap tahunku bersamanya. Dari mulai ragu-ragu melangkah ke luar rumah tadi pagi, hingga mantap berjalan melewati genangan malam ini. Dari mulai saling diam dan terlalu takut untuk memulai percakapan, hingga bahkan tak bisa mengerem untuk sekedar beristirahat untuk berbicara.

12 tahun aku mengenalnya, dan belum pernah sedetik pun aku sadar bahwa ternyata ia sekaya ini. Bahwa terlalu banyak hal dalam hidupnya yang terlalu aku sepelekan. Bahwa terlalu banyak hal yang terjadi selama ini, yang mungkin dengan bodohnya tak pernah ku hargai barang sedikitpun. Astaga, kemana saja aku selama ini. Kenapa baru sekarang?

Dia mungkin bukan yang terbaik di antara mereka yang pernah menemaniku. Dia juga mungkin bukan yang paling lama di antara mereka. Tapi kenapa baru kali ini aku sadar bahwa dia lah yang selama ini paling mengerti apa yang aku butuhkan, bukan apa yang aku inginkan.

Seandainya Tuhan ada di depanku sekarang, mungkin aku akan bertanya kepada-Nya, Tuhan kenapa baru Kau datangkan pemikiran ini sekarang? Kenapa Kau lambatkan kedewasaanku? Kenapa tak Kau cegah aku melepasnya waktu itu. Kenapa Kau biarkan aku lebih memilih orang lain saat itu?

“Kenapa sih dulu lo selingkuh?” tanyanya tiba-tiba, mengagetkanku seakan baru saja disiram air laut utara.

Damn! Pertanyaan yang membuatku bingung harus menjawab apa selain hanya menatapnya dalam diam. Bodoh, 12 tahun mengenalnya, harusnya aku tahu bahwa pertanyaan ini pada akhirnya akan keluar juga dari mulut pintar tapi nakalnya itu.

“Harus banget gue jawab ya pertanyaan itu?” tanyaku enggan.

“Yaa.. enggak juga sih kalo emang nggak mau dijawab.” Jawabnya santai.

“Kalau gitu, sorry ya gue ga akan jawab pertanyaan itu.” Kataku, mencoba sesantai mungkin seperti dia.

“Umm.. oke fine.” Balasnya singkat.

Kami lanjut berjalan dalam diam. Mataku sibuk memandang macetnya Jakarta di jam-jam sibuk seperti ini. Ah, Jakarta. Kapan sih dia tidak pernah sibuk, bahkan di jam-jam dimana anak sekolah diharuskan tidur menurut buku pelajaran mereka.

“Pulang, yuk!” ajakku. Dia hanya mengangguk. Tak pernah ada kata tidak darinya. Selalu seperti itu dari dulu.

Dan aku memilih untuk mengajaknya pulang naik kereta. Hal lain selain kuning lampu Jakarta yang dia suka. Dan sekali lagi, aku tak pernah tahu alasan sebenarnya mengapa dia suka naik kereta, baik kereta jarak jauh atau jarak dekat, baik ber-AC atau tidak ber-AC. Ah, kenapa begitu banyak hal yang tidak ku tahu tentang dia, sementara ada banyak hal yang ia tahu tentangku.

Gerbong kereta komuter malam ini tidak seramai seperti biasanya, dan beruntung bagi kami karena masih bisa dapat tempat duduk, bersebelahan bahkan. Beberapa orang sudah lelap tertidur dalam lelahnya. Beberapa lainnya terlalu sibuk dengan gadget-nya. Di sebelahku, ia sibuk memasang headset di telinganya, dan kemudian sibuk memilih lagu yang akan didengarkannya. Ku perhatikan, ia cuek. Begitu ia asik mendengarkan lagunya, ku rebut ssalah satu headsetnya, dan ku pasang di telingaku. Ku rebut juga handphone-nya dan ku cari lagu yang ku suka di antara playlist-nya. Sheila On 7 >> Pilihlah Aku.


Aku yang kan mencintaimu.. aku yang kan selalu mendampingimu.. Bila bahagia yang akan ku tuju.. Bila butuh cahaya tuk menemanimu.. Pilihlah aku...


Dia diam saja. Matanya menatap lurus ke depan. Kami saling diam sepanjang perjalanan pulang itu. Aku lebih memilih untuk memejamkan mataku. Tidak untuk tidur. Sekedar memejamkan mataku untuk melepas lelah. Bukan lelah fisik, tetapi lebih ke lelah secara emosi, yang mungkin juga dia rasakan saat ini.

“Lo pernah nyesel nggak sih, ninggalin gue?” tanyanya ketika kami berjalan kaki dari depan komplek menuju rumahnya.

Ku palingkan wajah cepat agar ia tidak melihat perubahan air wajahku. Ia memandangku lekat, menunggu jawaban dengan agak sedikit menuntut. Ia selalu mampu menyudutkanku, dan aku tak pernah suka akan hal itu. Aku terlalu pengecut untuk menjawab pertanyaannya.

Aku memilih untuk berhenti berjalan dan mengajaknya untuk menepi. Kami duduk di trotoar jalanana yang sepi, tak peduli jika mungkin saja saat itu ada mata yang melihat.

“Kalau aku nggak nyesel, ngapain aku ajak kamu keluar hari ini?” tanyaku pelan. Dia langsung menunduk. Ku genggam tangannya erat, ku tatap ia lekat-lekat.

“Kenapa baru sekarang?” tanyanya lagi. Wajahnya sedih. Aku benci wajah itu. Dan aku benci pertanyaan itu. Kali ini aku yang menunduk.

“Aku nunggu kamu. Berbulan-bulan aku tunggu kamu untuk sadar bahwa kamu milih sesuatu hal yang keliru. Berbulan-bulan aku nunggu kamu sadar bahwa ada hal yang harus kamu benerin. Berbulan-bulan aku nunggu. Tapi kamu nggak pernah ada.” Lanjutnya.

“Kamu nggak pernah bilang. Kamu nggak pernah ngelarang aku untuk pergi. Kamu nggak pernah...”

“Apa? Nggak pernah apa? Nggak pernah bilang kalau kamu salah waktu itu? Nggak pernah bilang untuk tetap tinggal sama aku? Nggak pernah apa? Kasih tau aku! Bukannya waktu itu aku udah bilang semuanya? Bukannya waktu itu udah aku kasih tau kamu? Bukannya waktu itu aku udah ngasih kamu kesempatan untuk mikir ulang semua pilihan kamu?” katanya dalam marah yang lembut. Ia tak pernah bisa marah kepadaku selama ini.

“Tapi apa yang kamu pilih waktu itu? Kamu lebih milih buat sama dia daripada bertahan sama aku kan? Kamu lebih milih buat ninggalin semua yang nggak enak demi kebahagiaan yang ternyata Cuma sesaat itu. Kamu nggak sadar kalau orang sakit harus minum obat yang rasanya pahit buat sembuh lagi. Kamu lebih milih buat buang obat itu, dan bikin sakit kamu makin lama makin kronis.” Katanya lagi, dan aku semakin diam.

“Waktu itu juga kamu nggak peduli sama aku yang harus nahan sakit ini sendiri kan? Waktu itu kamu nggak mau tau soal aku sama sekali kan? Kamu lebih milih buat pergi..” ucapnya lagi, dan rasanya seperti ada pisau tajam yang ditusukkan pelan-pelan ke hatiku saat itu, dan si penusuk pisau rupanya menikmati bagaimana pisau itu pelan-pelan menembus dadaku. Badanku bergetar, dan tak terasa mataku panas, air mataku menunggu untuk jatuh.

“Yasudah, yang dulu biarlah. Toh kamu tahu, aku nggak akan pernah bisa marah sama kamu, apapun salahmu. Kamu tahu, aku akan selalu maafin kamu. Dan aku juga sadar aku salah waktu itu. Aku salah, usahaku ternyata kurang kuat buat bikin kamu tetep sama aku. Aku juga salah, udah bikin kamu berpikir buat milih yang lain daripada terus sama aku. Aku salah, nggak pernah sadar bahwa aku nggak pernah cukup buat kamu.” Katanya pelan.

“Aku minta maaf. Waktu itu aku kayak anak kecil. Aku marah sama kamu. Aku diemin kamu. Aku blok semua koneksi aku ke kamu. Maaf. Tapi aku rasa sekarang kamu bisa ngerti kenapa dulu aku kayak gitu.” Katanya semakin menusuk.

“Aku tau dan aku selalu percaya suatu saat kamu akan balik lagi ke aku. Bukannya GR. Tapi itu lebih karena aku sudah hapal kamu. Dan bener kan, sekarang kamu datang lagi ke aku.” Lanjutnya.

“Maaf...” Ujarku lirih.

“Enggak.” Katanya, dan wajahku semakin pias.

“Kamu nggak perlu minta maaf. Sekecewa apapun aku sama kamu, kamu tahu dari dulu aku nggak pernah bisa marah sama kamu, dan kamu juga tahu aku selalu bisa maafin kamu.” Katanya lagi. Ia lalu berdiri, dan tangannya menarikku untuk ikut berdiri. Kami lalu lanjut berjalan pulang ke rumahnya.

“Makasih ya buat hari ini. Entah apa maksud Tuhan untuk pertemuan kita hari ini, tapi aku sangat berterimakasih hari ini aku bisa ketemu dan jalan seharian sama kamu.” Ujarnya sambil tersenyum lirih ketika kami tiba di rumahnya.

“Aku sayang kamu...” ujarku lirih, pelan sekali. Rahangku terasa kaku. Dadaku bergemuruh, badanku gemetar hebat. Ada emosi yang ku tahan dengan sangat agar tidak keluar kali ini.

Ia mendekatiku, sebelah tangannya menggenggam tanganku, sementara tangan yang lainnya menjalar di leherku. Lembut sekali.

“Dari dulu, sampai sekarang. Apapun kita dulu, sekarang, atau nanti. Aku selalu sayang kamu.” Katanya tenang. Aku mengangguk dan tersenyum kecil mendengarnya.

“Maaf agak telat, tapi aku berharap banget bisa datang minggu depan.” Ujarnya sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Aku menerimanya, dan ada respon aneh yang keluar dari tubuhku. Undangan pernikahan yang simple nan elegan berwarna emas dan ungu pastel.

“Aku duluan ya.” Pamitnya. Ia lalu memelukku. Sekilas saja. Dan rasanya aku ingin mengikatnya agar tak melepaskan pelukan itu. Ia kemudian masuk ke rumah.

Aku duluan ya. Ulangku lagi. Tiga kata ambigu bagiku. Duluan masuk rumah, atau duluan masuk ke kehidupan lain. Aku tersenyum kecil. Berusaha mengobati sendiri luka yang bodohnya ku buat sendiri, dan karena sudah ditanam begitu lama, luka ini justru semakin perih. Mungkin dulu begini rasanya ada di posisinya. Ku putar ulang gambaran dua tahun lalu, ketika aku memilih dengan orang lain, ia menangis dan berkata.

“Coba kamu posisiin diri kamu di posisi orang yang mau kamu sakitin. Kalau kamu udah bisa ngepoisisiin diri kamu di posisi itu, percaya sama aku, kamu nggak akan pernah lagi nyakitin siapapun.”

sumber image : google.com

Kamis, 10 April 2014

Tour de Tawangmangu!!

Waktu liburan long weekend di akhir Maret kemarin, beberapa temen kosan gue, Laras, Nurian, sama Dita, pulang ke rumah. Jadilah gue, Awey, sama Mami, ngablu di kosan. Nah, daripada ngablu banget di kosan, temen gue Kajol dan Ricky berbaik hati mau nemenin kita jalan-jalan, terserah kita mau kemana. Akhirnya di long weekend itu, gue ngehedon abis. Jalan-jalan cantik sama Oci sama Awey ke The Park, terus makan gudeg cakar tengah malem, terus malam mingguan di McD, sampe akhirnya hari Senin-nya kita mutusin buat touring naik motor ke Tawangmangu!! Yeay!!

Perjalanan ke Tawangmangu sendiri gue rencanain jam 9 pagi, daaaaaan seperti biasa ngaret karena Kajol belum bangun. Jadilah kita berangkat sekitar jam setengah 11 atau jam 11 gitu gue lupa. Pas mau berangkat Kajol sempet nanya, mau naik bis atau naik motor. Walaupun gue agak ragu karena rem gue culun, gue nekat aja mau bawa motor ke TW. Sampe Karanganyar, malah ban motor Kajol yang bocor. Btw sebelum berangkat kita sempet nelfon temen gue yang lain namanya Febrian alias Ingsun buat ikut kita jalan-jalan, nah kebetulan dia rumahnya di Karanganyar, jadi dia kita suruh nyamperin kita di tukang tambal ban.
Kelar nambal ban, si Kajol mau nitip motornya. Dia milih buat dibonceng Ingsun. Jadi kita mampir lagi ke markas-nya si Ingsun di basecamps SAR Karanganyar buat naro motornya Kajol. Habis itu baru deh kita bener-bener jalan ke TW. Jadi posisinya Ingsun bonceng Kajol, gue bonceng Mami, dan Ricky bonceng Awey.
Perjalanan ke Tawangmangu kali ini ternyata ambil jalan yang beda dari yang sebelumnya pernah gue lewatin waktu makrab. Waktu makrab setau gue jalannya belok-belok dan ngelewatin kota gitu, tapi ini kita lewat jalur Matesih, yang jalannya ga belok-belok banget tapi nanjak, dan jalannya sepiiiiiii banget. Desa-desa gitu deeeh. Di sisi jalan masih ada aliran irigasi kecil sama sungai. Terus ada persawahan yang terasering gitu. Jadi berasa hidup lagi lah ngeliat pemandangan kayak gitu sambil hirup udara yang seger banget. Oh iya, kita juga sempet ngelewatin Astana Giri Bangun, makamnya Soeharto. Tapi ga mampir, soalnya lagi ga niat nyekar juga. :p
Hampir sekitar satu jam berjalan santai, kita akhirnya nyampe juga di Tawangmangu. Tujuan pertama kita sebenernya ke warung sop buntut-nya Bu Ugi yang terkenal seantero Surakarta, tapiiii antriannya parah banget keliatannya dari luar, jadi yaudah kita cabut dulu jalan-jalan ke atas. Kita akhirnya nongkrong di satu warung gede gitu, lupa nama warungnya apa, yang pasti di Cemoro Kandang, pas depan gerbang masuk Gunung Lawu. Disitu sih cuma brunching lucu aja, makan gorengan, sama jagung bakar, sambil ngopi-ngopi cantik.
Habis brunching kita jalan lagi, mau foto-foto di perbatasan Jawa Tengah sama Jawa Timur, buat gaya doang, yang penting chek in path nyampe ke Jawa Timur. Terus habis foto-foto muter lagi turun ke bawah. Nah, habis itu baru deh ke Warung Bu Ugi, makan sop buntut yang porsinya gede bangeeeet pake nasi putih sama teh manis panas cuma abis Rp 25.000,00.
Kenyang makan di Bu Ugi, kita jalan pulang. Mampir dulu buat beli molen di terminal Tawangmangu, kita langsung jalan pulang lewat jalur waktu kita makrab. Jalan yang berbelok-belok bikin gue ngeri karena waktu itu gue dibonceng si Ingsun yang bawa motornya seenaknya, ga pengertian sama gue yang trauma karena pernah jatoh ama Gembel. Dan bener aja, di satu hairpin (istilah F1 untuk jalan berbentuk S, alias habis belok ke kanan, langsung belok ke kiri atau sebaliknya), knalpot motornya Ingsun ngegesrek aspal. Selamet kita ga jatoh. Gue misuh-misuh, dia dengan santainya bilang, "udaaah tenang ajaaa.. kalo di bonceng itu tenang ajaaa.." Matalu tenang!
Di tengah jalan, hujan turun dengan derasnya. Kita akhirnya terpaksa neduh, karena ga semua orang bawa jas hujan, dan jalan mungkin bisa jadi terlalu licin. Kita neduh di tukang duren, yang akhirnya karena tergiur, dibeli juga sama Ricky. Apesnya, durennya masih mentah, kayak singkong. Gue sebagai wanita sejati yang tega kalo urusan belanjaan, udah ga mau bayar duren itu, tapi Ricky sebagai anak laki-laki kebanyakan yang ga ngerti prinsip belanja, mau bayar durennya. Durennya akhirnya dibawa ke kosan buat dimakan besoknya.
Sebelum bener-bener pulang ke kosan, kita mampir lagi ke basecamp-nya Ingsun buat ngambil motor Kajol. Dan karena pantat emang udah pegel banget, kita istirahat dulu disitu, duduk di pinggir jalan, ngeliatin orang-orang lewat, sambil memandangi kuburan para pahlawan yang emang di depan markas SAR pas.
Sekitar maghrib kita akhirnya bener-bener nyampe kosan. Capek tapi enak. Ini touring kedua gue seumur hidup, setelah waktu kelas 2 SMA muter-muter Bandung. Dan pengalaman liburan ini bikin gue pribadi ketagihan liburan buat eksplore Jawa Tengah lagi.

Ini foto pas baru nyampe Tawangmangu.
Ayu, Awey, Mami, Ricky, Kajol, Ingsun.

Foto di depan pos pendakian awal Gunung Lawu minus Ingsun
yang lagi ngobrol sama temen-temennya yang banyak banget

 Cewek-cewek di perbatasan Jawa Timur - Jawa Tengah. Say Hi to Pakde Karwo!!

The All Team!!

Sekilas pemandangan Tawangmangu yang bisa gue ambil. Hello world, subhanallah :))

Foto markas Ingsun dari jauh

Ingsun with the girls. Kakinya rapih banget deh.

ayunnisa dan abang ojeknya

Selasa, 01 April 2014

ayunnisa's favorite

Belakangan ini tiba-tiba aja gue memikirkan hal-hal yang gue suka, karena menurut gue orang-orang pada nggak tau gue suka apa aja. Dan lucunya kadang-kadang ada beberapa diantara mereka yang sotoy gitu. Mending sih kalo sotoynya ngga seberapa, tapi kalo lagi kebangetan jauhnya mah malah jadi lucu. Berikut list dari 10 hal yang gue suka, yang pertama kali terlintas di kepala gue:

1. Harry Potter.
Gue suka banget sama HP semenjak gue kelas 3 SD kalo nggak salah. Dan walaupun baru kesampean ngumpulin bukunya pas kuliah (nyokap gue nggak suka gue suka sihir-sihiran), tapi gue tetep bangga akhirnya gue bisa punya bukunya, walaupun baru empat (nomor 1, 3, 6, dan 7) dan semuanya soft cover, bahkan yang buku pertama gue belinya second. Walaupun gue nggak freak banget yang sampai hapal mantra-mantranya (gue kalah di perang mantra harry potter sama anak-anak switching), tapi gue tetep mau beli lego seri harry potter dan majalan cinemagz spesial harry potter di kaskus.

2. Mickey Mouse.
Mungkin cuma segelintir orang yang tau kalo gue suka banget sama Mickey. Gue suka banget dari gue TK mungkin, tapi lo tau sendiri, barang-barang merk Mickey yang asli dulu harganya mahal banget. Gue selalu suka mickey sampe gue lebih cinta gantungan kunci mickey mouse yang gue pasang di flashdisk penting gue dibanding sama flashdisknya. Btw, soal mickey ini gue pernah rebutan kaos mickey yang dikasih mantan gue dan gantungan handphone mickey sama Gita.

3. Gue suka nonton berbagai macam pertandingan olahraga.
Yang paling pasti sih sepak bola, terus bulutangkis, voli, balap mobil sama tenis. Gue paling suka nonton timnas kalo lagi tanding di GBK, gue suka banget nonton pertandingannya Taufik Hidayat, gue suka Michael Schumacher sama Kimi Raikkonen. Kalo tenis, gue ga pernah suka ke satu individu sih, tapi belakangan gue suka sama Andy Murray sama Novac Djokovic. Kalo voli, as long itu pertandingan proliga, gue akan selalu stand by di depan tv.

4. Gue suka teh. Entah itu teh asli atau teh modifan gitu. Tapi dari semua teh yang pernah gue minum, mungkin gue paling suka sama Peppermint pearl tea-nya Quickly. Taste like heaven.
Kalo makanan, gue paling suka pempek asli palembang sama batagor abuy asli dari bandung. Tapi gue akan terima banyak makanan as long itu bukan sesuatu yang haram. Gatau kenapa ya, gue mendadak bakalan jadi orang yang pelit kalo udah berurusan sama dua makanan di atas.

5. Gue suka anjing dan primata.
Karena mereka lucuuuuuu. Kalo anjing, gue suka sama siberian husky, karena mereka macho. Kalo primata gue suka simpanse sama orang utan. Nggak tau, tapi buat gue mereka lucu. Apalagi orang utan, gue bahkan sering dan bisa nangis gara-gara ngeliat orang utan disiksa. Sampe sekarang gue berharap suatu saat gue bisa ke Tanjung Puting buat ke konservasi orang utan. Tapi pernah foto gendong orang utan aja gue udah seneng banget. Sampe detik ini gue masih suka gatel pengen beli boneka orangutan, tapi mengingat umur gue udah ngga cocok main boneka, jadi gue ga pernah beli.

6. Gue suka warna merah dan cokelat.
Nggak tau kenapa. Suka aja.

7. Gue suka orang pinter.
Karena nggak tau kenapa juga, dari jaman gue kecil, kalo gue main sama orang pinter, gue akan ikut-ikutan pinter walaupun gue nggak belajar dan gue nggak nyontek. Tapi yang paling gue suka dari bergaul dengan orang pinter adalah gue nggak perlu ngomong banyak untuk menjelaskan apa yang gue mau. Kalo sama orang yang nggak pinter tuh gue agak lebih mudah menyerah kalo ngejelasin sesuatu.

8. Gue suka menulis.
Walaupun tulisan gue nggak bagus, gue suka nulis. Ini mungkin efek dari gue yang agak kesulitan kalo harus ngomong sesuatu sama orang.

9. Gue suka musik pop yang lebih agak minimalis.
Tapi gue suka banget sama Sheila On 7 walaupun mereka nggak minimalis. Kalo yang minimalis banget sih gue suka Efek Rumah Kaca, yang versi ERK murni, bukan Pandai Besi. Gue bahkan seringkali lebih suka versi akustiknya suatu lagu dibanding lagu aslinya.

10. Gue straight jadi gue suka cowok. Hhaha. Cowok yang gue suka itu belakangan udah mulai dihapal sama temen-temen deket gue. Gue suka cowok yang cowok banget itu intinya. Yang baik usia maupun pemikiran lebih dewasa dibanding gue, gue suka cowok pintar, dan gue suka cowok yang punya karakter pribadi yang baik, well, dia bertanggungjawab, punya komitmen yang tinggi, gentle, kebapakan. Gitu-gitu deh. Ah lupa, gue suka cowok yang ga ganteng-ganteng banget. Gue lebih suka cowok manis yang muka dan gayanya laki banget dan teduh gitu. Gue lebih suka cowok item daripada cowok putih, karena buat gue cowok putih itu kayak yang nggak laki banget. Yaa.. intinya sih gue rasa tipe cowok yang gue suka mungkin hampir sama lah sama cewek-cewek kebanyakan. Intinya harus punya karakter pribadi yang baik. Oh iya, yang paling gue suka adalah cowok yang tegas, yang sadar kalo dia adalah pemegang keputusan, imam, yang bakal nanggung dosa banyak orang, dan laki-laki yang menghargai dan menghormati perempuan. :">

Itu tadi 10 hal pertama yang ada di kepala gue waktu gue memikirkan hal-hal yang gue suka. Masih banyak sih hal yang gue suka, mungkin akan gue tulis lain kali.

Kamis, 27 Maret 2014

Lima Tahun Lagi....

Gue mau jadi apa ya lima tahun lagi....

Dulu waktu jaman-jaman baru jadi mahasiswa, gue pernah dapet mata kuliah namanya creative thinking. Seru gitu kuliahnya, nggak kayak kuliah-kuliah yang lain. Anw, waktu itu gue pernah dapet tugas.. Tugasnya tuh.. emm jadi gini, kalo di barat, ada kebiasaan kalo di pemakaman, beberapa orang menyampaikan kesan tentang si orang yang meninggal. Nah, tugasnya, lo disuruh nulis apa yang lo mau orang lain sebutin tentang lo di pemakaman itu. Yaaa nggak di pemakaman juga siiih.. Tapi kalo ada kebiasaan kayak gitu, kira-kira lo mau orang lain ngasih kesan apa tentang lo, intinya gitu lah.
Nah terus, kemarin kan gue daftar Aiesec. Nah, ada tuh pertanyaan, apa yang kira-kira terjadi dalam lima tahun lagi..

Well, gue jadi tertarik menulis rancangan hidup dalam lima tahun lagi.. tapi gue mau nulisnya per tahun gitu.

Tahun Pertama
Hmm.. Karena ini masih awal tahun, mungkin ini sekaligus jadi resolusi buat gue kali yaa.. jadi anggap aja tulisan ini ditulis pas awal tahun, dan prosesnya dilakukan di tahun ini sampe awal tahun depan, itungannya dari umur aja lah, di umur gue yang ke 22. Banyak sih yang gue mau di tahun ini.
Pertama, gue mau keluar negeri (teteeeep). Entah itu via AIESEC atau lewat yang lain. Yang penting gue bisa ngisi paspor gue untuk pertama kali. Kedua, gue pengen dapet kerjaan baru, pengennya sih kerja di radio atau di koran gitu.. atau kalo bisa dua-duanya. Terus, sebelum gue mulai sibuk di tahun akhir gue kuliah nanti, gue pengen bisa aktif ikut-ikut kegiatan non akademik disini, jadi gue bisa nambah temen juga dan punya kegiatan yang bikin gue betah disini. Terus apa lagi ya? Gue pengen punya pacar sih. Hhaha. Boleh kan ya? Boleh lah. Terserah gue. :p


Tahun Kedua
Wait, tahun kedua ini berarti tahun berapa ya? Oh, berarti prosesnya terjadi di tahun 2015-2016. Gue umur 23. Emm.. tahun kedua ini mungkin masuk ke tahun akhir gue kuliah S1. Jadi gue mau di tahun ini gue udah lulus dengan nilai baik dan ada pendamping wisudanya tanpa nyewa. hhaha. Itu yang utama. Sampai detik ini gue belum memutuskan apa yang akan gue lakukan setelah gue lulus nanti. Gue pengen sekolah lagi sih. Tapi kalo gue pikir-pikir, gue harus mikirin dua adek gue juga, jadi mungkin di tahun ini gue bakalan kerja. Di tahun ini juga gue bakalan keluar negeri lagi, di negeri yang lain dari negeri yang sebelumnya gue datengin. Di tahun ini juga gue berharap gue udah mulai bisa nikmatin hasil investasi gue. Bentuk investasinya apa, biar gue pikirin sambil jalan.

Btw, di rancangan hidup gue yang gue bikin sekitar akhir SMA, di umur ini sebenernya gue berharap gue udah menikah. Hhehe. Culun ya? Di saat orang lain pengen ini-itu, gue malah mau nikah. Tapi gue pengen cepet-cepet liat bokap-nyokap gue gendong cucu. L Emm.. mengingat gue sekarang lagi idle, gue nggak terlalu ngoyo lah soal ini. Gimana Allah melihat kesiapan gue aja, walaupun gue tetep berharap gue sudah menikah di umur ini.


Tahun Ketiga
Umur gue udah 24. Udah usia kerja, jadi jelas gue udah kerja. Gue pengen kerja jadi jurnalis atau jadi pegawai negeri. Mungkin lo heran kenapa orang kayak gue pengen jadi pegawai negeri. Ya gue sendiri nggak tau sih, tapi gue pengen aja. Pengennya di Kemenlu atau Kominfo. Tapi pengen banget di Kemenlu.
Kayak tahun-tahun sebelumnya, gue pengen keluar negeri lagi. Hhaha. Investasi gue semakin meningkat seiring keuangan gue yang membaik.


Tahun Keempat
Umur gue udah 25. Anjir, seperempat abad. Gue pengennya gue udah punya anak malah di umur segini. Hhaha. Umur 25 tuh udah mateng belum ya? Gue pengennya sih udah. Gue pengennya di umur segini bahkan gue udah jadi bagian dari keluarga muda yang bahagia.
Gue pengen keluar negeri lagiiii!! Gue pengennya di tahun ini gue udah ke Belanda! Man jadda wa jadda lah.

Tahun Kelima.
Umur gue 26. Tahun kelima ini mulai bingung gue mau nulis apa. Seakan-akan lima tahun itu jauh banget dari sekarang. Gue blank abis disini. Gue hanya berharap gue sudah mencapai kematangan yang lebih baik untuk diri gue sendiri maupun keluarga dan orang-orang di sekitar gue. Untuk karir gue, gue berharap gue udah ada di posisi yang bagus.
Selain keluar negeri seperti biasa, gue pengennya di umur segini gue udah menginjak tanah suci. Kalo bisa sih gue maunya sama suami gue kesini. Kalo bisa malah sekeluarga, sama nyokap-bokap dan adek-adek gue.
Selain itu semua, gue pengen punya penghasilan di luar gaji. Dan gue pengen punya investasi jangka panjang buat anak-anak gue.

---***---

Hhaha.. susah juga ya ternyata bikin rancana jangka panjang. Gini, dulu kurang lebih selepas gue lulus SMA dan awal-awal gue kuliah gue pernah bikin resolusi gitu. Emm..resolusi pertama itu gue bikin resolusi tahunan. Jadi kalo ga salah waktu itu gue bikin resolusi 2011. Nah selain itu, gue juga bikin rencana hidup gue sih. Gue waktu itu mau di umur 21 gue udah lulus kuliah d3 gue, terus langsung kerja, di umur 23 gue nikah, dan di umur 25 gue ambil S1. Tapi ternyata rencana tinggallah rencana. Gue lulus di umur 21, beneeeer. Tapi setelah itu gue tergiur sama dunia kuliah. Jadilah gue kuliah lagi, yang kemungkinan gue lulus lagi di umur 23. Umur dimana seharusnya depending on rencana gue sebelumnya adalah gue udah harus menikah. Bisa aja sih gue nikah (kalo ada calonnya juga), tapi nyokap gue nggak ngebolehin gue nikah kalo gue belum kerja. Gue harus punya penghasilan sendiri kata nyokap gue. Jadi nggak tau deh tahun depan bakal gimana (tahun depan gue udah masuk umur 23).

Ambil pilihan buat sekolah lagi emang agak-agak ngeberantakin rencana gue sih. Gue jadi bingung gitu. Tapi apapun itu, gue yakin pasti akan ada alasan sih kenapa gue bisa ke Solo. Mungkin alasannya bisa jadi terlihat atau nggak keliatan, tapi pasti akan ada alasan kenapa akhirnya gue memilih untuk kuliah dulu dibanding kerja, dan kenapa gue milih buat kuliah di Solo daripada di Jakarta. Daun jatuh aja ada alasannya kan? Gue yakin setiap pilihan manusia juga begitu. Nah tugas gue sekarang adalah tinggal bertanggungjawab dan berkomitmen sama apa yang gue pilih.