Tampilkan postingan dengan label iseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iseng. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 April 2018

Pacaran

Bagi sebagian orang, tidak pacaran sama sensasinya ketika kita berpuasa di tengah orang-orang yang tidak berpuasa, menimbulkan keinginan untuk makan minum lebih dari biasanya ketika kita tidak sedang berpuasa. Namun, tau sendiri bagaimana rasanya kemenangan saat waktu berbuka tiba. Nikmatnya luar biasa.

Namun, bagi sebagian, tidak pacaran sama seperti perokok yang terjebak di ruangan bebas asap rokok sehingga ia tidak bisa merokok. Asam!

Rabu, 02 Agustus 2017

7 Hari Menulis - Hari Pertama

Tujuh hal yang membuat Ayunnisa bahagia

Yang pertama, adalah ketika pulang ke rumah dan suasana rumah lagi bagus! Nggak ada Bapak yang marah-marah gara-gara apa pun, nggak ada mama yang bawel, nggak ada saya yang teriak-teriak atau ngomong ngegas berantem sama adik(-adik). Suasana kayak gini biasanya ada di akhir minggu, yang bikin saya jadi males buat ngambil lembur. Dan suasana kayak gini biasanya jadi nambah sekian persen bagusnya setiap rumah kedatangan Hasyim, tetangga kecil sebelah rumah yang luar biasa lucu sampai rasanya pengen banget ngadopsi dia buat nemenin Bapak kalau lagi libur.

Yang kedua, adalah ketika kembali ke bulan Juni sampai Agustus di tahun 2014, waktu saya punya kesempatan buat ikut exchange program ke Mesir. Asli, beneran deh, itu jadi pengalaman paling istimewa dan menyenangkan buat saya pribadi. The best moment in my life. Hidup bareng dengan banyak orang dari berbagai negara dan dengan latar belakang yang berbeda-beda jelas jadi tantangan buat saya. Tapi yang menurut saya paling membahagiakan buat saya ketika itu adalah karena saya bener-bener bisa ngerasain yang namanya hidup happy tanpa harus worry sama apa pun. Saya bener-bener hidup untuk hari itu dan enjoy setiap detik dan detailnya yang masih bisa saya recall sampai sekarang.

Yang ketiga, paydaaaaaaaaay. I mean who doesn't love it? Mood saya biasanya jadi luar biasa bagus setiap gajian.

Yang keempat, adalah ketika saya ngehabisin waktu untuk ngobrol (dan yang berkualitas) sama teman saya dari A sampai Z. Saya kebetulan tuh tipe orang yang lebih suka jalan atau ngobrol berdua sama seseorang daripada nongkrong ramean yang paling kerjaannya cuma ngomongin orang atau ngebully seseorang verbally. Saya males. Jadi jangan kaget kalau saya tiba-tiba approach kamu dan ngajak jalan berdua aja. Bukan karena apa-apa, saya males aja ramean. Denger banyak suara itu bikin kepala saya pusing.

Yang kelima, waktu saya berenang. Entah kenapa saya suka banget berenang dan nggak peduli mau bikin saya tambah hitam atau engga. Tapi yang pasti ketika di bawah air, saya ngerasain damai banget. Dan salah satu dari yang paling membahagiakan adalah ketika saya diving di Dahab. Ada di kedalaman laut, melihat makhluk laut yang warna-warni, itu adalah perasaan paling damai yang pernah saya rasain selama hidup saya.

Yang keenam, waktu saya ngeliat orang yang saya suka. Nggak perlu dijelasin panjang lebar juga. Saya lagi jatuh cinta.

Yang ke tujuh dan yang terakhir. Saya bahagia ketika saya ngerasa dicintai.

Udah itu aja.

Senin, 26 Juni 2017

Perusak Moment Lebaran

Hari raya, khususnya lebaran, harusnya jadi momen yang membahagiakan buat semua orang. Gimana enggak, setelah satu bulan puasa, sebagian orang jadi bahagia karena jam makan dan tidurnya akan kembali lagi menjadi 'normal'. Setelah sekian bulan berjauhan, anak-anak yang merantau, bahagia bisa pulang ke rumah dan bertemu orangtua. Keluarga yang terpisah, bahagia karena bisa bertemu lagi dengan kerabatnya. Lebaran memang menyenangkan dan membawa kebahagiaan buat banyak orang, bahkan nggak cuma buat yang merayakan, tapi juga yang nggak merayakan bisa ngerasain bahagianya hari lebaran.

Tapi, momen lebaran yang penuh bahagia dan suka cita ini juga kadang suka bikin waswas. Seringkali kita justru ketemu sama perusak-perusak momen bahagia ini di saat lebaran. Apalagi kalau bukan ketemu sama geng kepo yang suka ceriwis nanyain ini itu? Saya yakin kamu pasti pernah ngerasain ini, at least sekali seumur hidup! Ditanyain ini itu yang bikin kamu awkward buat ngejawabnya. Nggak dijawab kesel, tapi kalo dijawab bikin sakit hati.
'Kok gendutan sih?', 'Siapa pacarnya sekarang?', 'Gimana, kok sampai sekarang belum keliatan jodohnya?', 'Udah lama kan lulusnya? Kok belum dapet kerja?', dan banyak pertanyaan lain yang ngeselin.

Semakin ke sini, entah kenapa saya ngerasa kalau kita (masyarakat Indonesia), sepertinya memang perlu edukasi soal bagaimana berbasa-basi yang baik, terutama dengan orang yang baru kita temui lagi setelah beberapa lama. Kita harus bisa ngebedain, bagaimana caranya 'menanyakan kabar' tanpa perlu mengulik privasi orang lain secara berlebihan.  Buat saya, tidak bertanya tentang hal-hal pribadi berbeda dengan tidak peduli.
Saya baru saja sekilas melihat video di Facebook BBC Indonesia tentang bagaimana etika berbasa-basi ketika lebaran (bertemu keluarga setelah lama nggak ketemu) menurut psikolog Roslina Verauli. Saya baru tau, ternyata basa-basi ini tergantung sama siapa lawan bicara kita (hmm iya sih). Contoh di video itu adalah misalnya ketika kita ngomong sama anak usia SD, kita lebih baik bertanya apa hobinya dibanding bertanya kemarin ia peringkat berapa, karena ternyata untuk anak seusia itu, achievement adalah masalah sensitif. Sedangkan bagi orang seusia saya (20-30 tahun), urusan jodoh dan karir yang menjadi masalah. Menurut Mbak Rosliana ini, sebenernya ketika berbasa-basi ini, seharusnya kita lebih mementingkan nilai-nilai keakrabannya (yang emang jadi niat awal kita) daripada nilai kompetisinya, toh kita nggak lagi menilai orang. Makanya, lebih baik kita mulai memilah-milih lagi pertanyaan yang akan kita ajukan, sebelum malah bikin kesel orang lain.

Kadang memang kita (duh, apalagi saya) suka nggak mikir panjang sih ketika bertanya sama orang lain. Kita nggak tau proses dibalik jawaban dari pertanyaan yang kita ajuin. Bisa jadi memang berat buat orang yang kita tanya, walaupun sepele banget menurut kita. Kayak misalnya ditanya, 'kok belum dapet kerja?', kita nggak tau kalo ternyata orang yang kita tanya itu sudah ikhtiar sekian lama demi dapet pekerjaan. Tentu memalukan dan menyedihkan buat orang-orang yang ditanya kayak gitu, karena harus memberi jawaban negatif walau dia sudah berusaha jujur.

Point yang menarik buat saya dari masalah ini adalah penting buat kita untuk mengubah pertanyaan-pertanyaan atau ucapan-ucapan yang kita lontarkan ketika berbasa-basi. Seperti misalnya tadi, daripada bertanya tentang achievement yang diraih oleh anak usia SD, kita lebih baik bertanya tentang hobinya sekarang atau hal yang paling dia suka sekarang. Daripada harus mengeluarkan komentar-komentar negatif akan kekurangan orang lain, lebih baik kita fokus untuk melihat sedikit saja sisi positifnya, kayak misalnya jika ada orang yang masih betah 'sendiri', daripada bertanya kenapa belum juga ia bertemu jodohnya, lebih baik jika kita memujinya yang mungkin saja sedang meningkatkan kualitas diri. Ini, saya sharing foto yang saya ambil dari postingan teman yang menyadur dari orang lain dan tercantum di situ. Mungkin bisa membantu kita untuk meminimalisir kemungkinan melukai orang lain.

Sedikit sharing pengalaman saya, walau nggak penting dan terlihat pathetic, tapi terlalu gatel buat saya pendam sendiri.

Jadi gini. Kebetulan saya pernah pacaran sama tetangga saya, dan hampir semua tetangga saya yang lain tau cerita kami. Sayangnya, hubungan saya dengan si pacar harus berakhir sekitar 3 tahun yang lalu. Lebih sayangnya lagi buat saya, si mantan pacar saya itu kebetulan lebih dahulu menikah daripada saya. Bisa kamu bayangin betapa senewennya saya menghadapi komentar-komentar tetangga sekitar saya soal ini? Saya berusaha mengerti, kalau mereka sebenarnya berniat untuk bercanda, walau nggak jarang saya juga sedih, karena kadang komentarnya nyebelin, kayak misalnya, 'kok kalah sih, si itu aja udah nemu yang baru', atau apa lah. Mereka nggak tau apa yang udah saya alami, karena saya berusaha untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi daripada muncul fitnah yang nggak jelas dan merugikan dua belah pihak.
Walaupun udah tiga tahun berlalu, dan bahkan dalam beberapa kesempatan saya juga udah lupa kalau saya pernah pacaran sama mantan pacar saya itu (yang saya yakin juga sebaliknya), ternyata tidak dengan tetangga-tetangga saya. Bedanya, beberapa dari mereka sekarang sudah lebih mengerti. Walau masih memasang wajah seolah-olah nasib saya menyedihkan, tapi mereka nggak lagi berkomentar yang sifatnya negatif. Sebaliknya, mereka justru mendoakan saya supaya segera bertemu jodoh dunia akhirat saya, supaya saya mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya, bahkan berdoa supaya saya bernasib lebih baik daripada yang bersangkutan (ok, well ini berlebihan). Saya sendiri bingung kenapa orang-orang ini nggak move on juga dari cerita lama saya. Tapi bagaimana pun, walau saya masih ngerasa saya sedang 'dikasihani', saya mencoba berusaha untuk berpikir positif, bahwa orang-orang ini peduli dengan saya dan menginginkan sesuatu yang baik untuk saya. Dan tentu saja, saya juga berharap bahwa setidaknya ada satu dari doa-doa tersebut yang dikabulkan dengan segera sama Allah, supaya membahagiakan saya dan orang-orang di sekitar saya, termasuk mereka yang tadi mendoakan.
Di sini titik sadar saya, bahwa hanya perlu sedikit usaha untuk mengubah suatu hal menjadi lebih positif. Dalam kasus ini, kita harus bisa mengubah pertanyaan atau ucapan yang sekiranya mampu melukai perasaan orang lain, menjadi pujian atau doa untuk kebahagiaan orang tersebut.
Jadi, tidak perlu kita merusak momen bahagia orang lain di saat lebaran, saat kita sebenarnya sedang berlomba-lomba mengumpulkan maaf dari orang lain akan dosa setahun sebelumnya. Belum tentu juga kita berjiwa ksatria untuk memohonkan maaf dari orang yang kita sakiti. Atau, apa kita siap harus menunggu satu tahun lagi untuk tulus meminta maaf?

"Barang siapa beriman pada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau lebih baik diam." (H.R. Bukhari & Muslim)

Jumat, 20 Januari 2017

Apa Salahnya?

Kata seorang kawan, 'apa yang salah sih dengan perempuan yang lebih dulu suka dengan laki-laki?'

Kataku, 'aku tak berkata itu salah, tapi jujur saja aku lebih suka diam dan berdoa'.

Balasnya, 'apa arti berdoa tanpa berusaha?'

Kubilang, 'entahlah, mungkin ini caraku merajuk pada Tuhan'.

'Bahkan anak kecil pun menangis dahulu baru merajuk ia." Kilah kawanku.

Aku diam. Ia benar.
Mungkin aku tak benar-benar suka, maka aku tak pernah berusaha.

Kamis, 05 Januari 2017

Support System

Gue inget sekitar tahun 2016 yang lalu, seorang teman pernah curhat tentang dia yang lagi berantem sama pacarnya.

"Gue sebel ya, dia itu gini, gini, gini..... Gue tuh maunya pacaran sama-sama jadi support system, bukan malah jadi kompetitor. Kalo engga ya bisa putus lah pacarannya!" Keluh dia kesal waktu itu.

Waktu itu gue langsung berpikiran, oh iya ya, pacaran itu harus saling support in almost every single thing, bukannya saling bersaing membuktikan diri yang satu lebih baik dari diri yang lain.

--
Kemarin, gue pulang bareng temen gue yang lain. Di perjalanan, dia cerita kalo dia saat ini lagi deket sama seseorang. Tapiii, dia ga mau disebut pacaran. Hanya dekat, katanya. Punya komitmen untuk saling mensupport satu sama lain, sampai nanti tiba waktunya akan disahkan.
Lagi-lagi tentang support. Di lain waktu, gue pernah pulang bareng temen gue yang lain dan ngomongin tentang benefit punya pacar.
Jadi, ceritanya si temen gue ini nggak mau pacaran. Tapi, dia bilang, "tapi kadang-kadang mau sih. Maksud gue, kadang kalau lagi down atau lagi kenapa gitu, pengen rasanya punya orang yang bisa diceritain." katanya sedih 😂

Nah sebenernya yang dicari bukan 'pacar' atau status pacaran itu sendiri. Tapi memang mungkin yang dibutuhkan sebenernya si support system itu. Memang beda sih kalo punya pacar, tapi sebenernya siapa aja bisa jadi support system. Teman, guru, dosen, atau malah orang yang baru dikenal.

Gue sangat setuju sama temen gue yang pertama. Kita butuh si 'support system' itu, dan ga perlu dalam bentuk pacar. Tapi kalo emang lebih dari temen, yaa susah juga kalo ga dibilang pacar.

Jadi, mari kita saling support!

Minggu, 01 Januari 2017

Karena Memang Almost tuh Selalu Never Enough

Sekitar tiga hari belakangan ini, gue lagi suka banget dengerin lagunya Ariana Grande yang 'Almost is Never Enough'. Terus sambil nyanyi, gue suka kepikiran liriknya gitu. Gila ya, kalo aja kejadian beneran agak nyesek sih, terutama di bagian yang ini.

Almost, almost is never enough
So close to being in love
If I would have known that you wanted me the way I wanted you
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other's arms

Tadi, pas lagi di mobil nyanyi-nyanyi lagu ini, tiba-tiba gue randomly keingetan gosipan gue sama temen gue di akhir tahun kemarin. Jadi ceritanya, temen gue itu suka banget ngegodain dan 'nyie-nyie-in' seorang cewek dan cowok yang menurut dia lagi deket. Alesannya sih simple, menurut dia mereka suka secretly doing something to each other, kayak misalnya, si cewek suka bawain makanan buat si cowok, terus si cowok juga suka nyamperin si cewek dan sholat bareng.

Lucunya, si temen gue ini keukeuh banget nih ada sesuatu di antara dua orang ini. Tapiiii...sayangnya, dua orang ini juga keukeuh bnaget kalo di antara mereka nggak ada apa-apa. Point penjelasannya sama kalo kata temen gue ini, mereka kompak bilangnya, "enggak, nggak ada apa-apa. Gue nggak suka sama dia, dan dia juga nggak suka sama dia." Dan setelah dijelasin ke mereka alesan kenapa si temen gue ini nganggep ada apa-apa di antara mereka, dua-duanya nganggepnya itu biasa aja, karena itu hal-hal yang lumrah dan biasa mereka lakuin ke orang lain, ga cuma ke 'dia'.

Sampe sekarang, si temen gue ini masih semangat banget buat nyie-nyie-in dua orang ini, walaupun oknum yang bersangkutan udah sama-sama deny kalo ada sesuatu di antara mereka. Gue jadi inget lagi kata temen gue, biasanya kalo ada dua orang dijodoh-jodohin atau di-cie-cie-in dan dua-duanya sama-sama ngotot bilang enggak, ujung-ujungnya malah jadi, karena mereka kemakan tulah dan kena karma! Hhaha, apa banget emang -_-'

Nah, terus gara-gara lagu Ariana tadi, gue tiba-tiba kepikiran. Gimana ya, kalo ternyata dua orang ini sama-sama suka or at least admire each other? Selama ini mereka bilang enggak tuh kedok doang, cuma karena malu dan gengsi aja buat bilang iya ke si temen gue itu! :D
Kalo gue pribadi sih ngerasanya sayang banget aja sih kalo emang ternyata dua orang ini sebenernya sama-sama suka. Yaaaa, mungkin bukan suka yang 'suka', tapi suka as a friend, as a person. Kalo aja dua-duanya lebih bisa maintain rasa gengsinya, mungkin kalaupun nggak jadi pacar, mereka bisa jadi temen baik, bisa jadi support system buat masing-masing (oke, please, kayaknya ini kebanyakan di-coaching sama anak startup self developing deh jadi omongannya tentang support system). Tapi, well yeah, balik lagi sih, but maybe we wouldn't be two worlds apart, but right here in each other's arm. Harusnya sih begitu.




ps: don't think too much nor expect too much
pss: ayunnisa si pecinta drama
psss: no skoy no drama, no drama no skoy

Selasa, 27 Desember 2016

Cukup Begitu

Saya suka ketika setiap pagi dan sore, saya dan kamu selalu berusaha untuk mencari masing-masing dari kita. Bukan untuk menyapa. Sekedar untuk melihat, dan memastikan ada. Kalau memungkinkan, kita akan bicara sekedarnya, dan akan bertanya-tanya kalau ternyata tidak ada.

Sampai saat ini, cukuplah begitu.

Rabu, 07 Desember 2016

Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama

Saya ingat ketika kali pertama saya melihat kamu kala itu.
Melihat kamu duduk di sudut ruangan, menunggu.
Saya ingat baju yang kamu pakai saat itu.
Pun dengan sepatu yang kamu pakai saat itu.
Sekilas saya melihat punggungmu berlalu.
Saya tahu saya sudah jatuh cinta pada sosokmu.
Bahkan ketika saya belum melihat bagaimana rupamu.

Jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkin rasanya seperti itu.
Semoga kelak kita bersatu.

Minggu, 04 Desember 2016

Priceless.

Having a deep conversation with the right person is priceless. Totally. Whoever the person is.

Kamis, 01 Desember 2016

Text.

I often see you texting on your phone. I wish that those texts were sent to me.

Kamis, 25 Agustus 2016

Ketika Gue Membeli Barang

Suatu waktu, gue berdiri merenung. Gue baru punya rumah, tapi rumah gue masih kosong. Kebetulan gue baru dikasih duit sama orangtua gue kemarin, tapi duit itu harus gue habisin hari ini, kalo engga duitnya diminta lagi sama orangtua gue.

Ah, iya ya. Orangtua gue pasti mikir, gue belum perlu dikasih uang ini karena gue ga bisa manfaatin dengan baik. Jadi, yaudah deh daripada uang ini ditarik lagi, gue putusin buat beli satu barang. Iya, satu barang aja, soalnya uangnya nggak banyak, tapi cukup lah.

Hari itu juga gue putusin buat pergi ke sebuah toko. Toko itu udah terkenal ngejual barang-barang bagus, pemiliknya juga terkenal baik banget sama customer. Sebelumnya, di rumah gue udah pikirin baik-baik nih barang apa yang mau gue beli, yang kira-kira paling essensial buat hajat hidup gue dan orang-orang yang akan mengisi rumah ini nantinya. Maka, pergilah gue ke toko itu.
Sampai di toko itu, gue langsung kagum sama toko itu. Gila, barangnya bagus-bagus banget. Kalo gue punya uang banyak, mungkin gue bakal beli semuanya. Tapi karena gue sadar uang gue cuma cukup buat beli barang yang gue butuhin itu, maka gue langsung mencari lorong display barang yang gue tuju.

Sambil jalan kesana, gue tentunya liat display barang lain. Disana-sini ada tulisan warning, “PECAH/RUSAK = MEMBELI” dan “BARANG YANG SUDAH DIBELI TIDAK DAPAT DIKEMBALIKAN LAGI”. Gue jadi parno buat megang-megang barang. Tapi gue masih cuek-cuek aja, sampai akhirnya gue nyampe di lorong display barang yang gue cari.
Di display itu masih ada tulisan-tulisan warning kayak tadi. Entah kenapa gue jadi pusing bacanya, kok malah bikin gue takut ya. Gue cuekin lagi tulisan itu, karena kesel juga bacanya. Gue fokus buat milih-milih barang yang gue cari.

Di display ini, ada banyak barang yang gue cari. Sebenernya fungsinya sama, cuma tampilannya aja yang beda. Gue milih deh yang sesuai sama apa yang gue mau. Nah, dari sekian banyak barang ini gue udah nemu dua barang yang bikin gue tertarik.

Barang pertama harganya agak mahal, tapi cukup sama duit gue. Dan ternyata, setelah gue liat-liat, barang ini emang paling mahal diantara barang-barang yang ada. Gue cek duit gue, cukup. Barang ini sih tampilannya biasa aja, ga kayak yang lain warna-warni, menarik. Tapi, kalo gue teliti, barang ini emang kualitasnya bagus banget. Iyalah, buat gue harga ga pernah bohong. Dan yang pasti, kalo gue beli barang ini jaminannya bakalan awet asal gue makenya bener, jadi gue ga perlu beli-beli lagi nantinya.

Barang yang kedua harganya lebih murah dibanding barang yang pertama. Gue sebenernya lebih suka barang yang ini. Kalo pun barang ini cuma gue pajang di rumah, gue juga tetep seneng, soalnya matching banget sama warna rumah gue. Lagipula, kalo gue beli barang ini, gue akan punya sisa uang, dan bisa gue beliin barang lain buat ngelengkapin rumah gue.

Duh kan, gue jadi bingung. Mending gue beli barang yang gue mau, atau barang yang awet ya. Gue mikir-mikir lagi nih mana yang kira-kira bakal gue beli. Akhirnya gue pilih barang yang pertama, karena menurut gue bakalan berguna buat gue. Udah jelas kualitasnya bagus, dan awet pula. Tapi gue masih suka sama barang yang kedua sih. Lucu banget. Yaudahlah, daripada gue pusing-pusing ngurusinnya nanti, gue pilih aja barang yang pertama.

Sayangnya, pas gue mau jalan ke kasir buat bayar, gue jatoh. Otomatis barang itu ikutan jatoh dan rusak. Duh, apes banget pake rusak lagi. Saat itu, timbul pikiran jahat gue, gue balikin aja ni barang ke tempatnya, gue umpetin rusaknya, gue ambil barang yang lain.

Tapi gue tau, gue ga mau dan ga boleh se picik itu. Barang ini gue yang ngerusakin, masa gue mau lepas tangan gitu aja. Jahat banget gue, udah ngerusakin barang, terus pura-pura ga tau dan bodo amat, menganggap ini sebagai sebuah ketidak sengajaan.

Ah, gue kan bukan anak kecil. Jadilah gue memberanikan diri menghadap ke yang punya toko. Gue mau jujur, kalo gue udah ngerusakin barang itu sambil minta maaf dan gue janji bakalan bertanggung jawab atas barang itu.

Ketika gue ketemu sama penjaga toko itu, gue akhirnya jujur sama dia. Dia ternyata bisa ngertiin gue. Dia ngajak gue buat ngecek barang itu. Dia bilang, barang itu sebenernya ga rusak-rusak amat. Barang itu masih bisa berfungsi dengan baik kok. Kualitas sama keawetannya juga masih bisa dia jamin. Tapi barang ini sekarang cacat. Orang lain belum tentu mau beli barang ini.

Njir. Gue nyesel banget. Coba tadi gue lebih hati-hati.

"Gini deh, saya kok kasian sama situ ya. Karena situ udah minta maaf sama saya, saya kasih kesempatan deh buat milih lagi. Mau pilih barang ini atau mau yang baru. Dipikir dulu, soalnya stok-nya cuma tinggal yang di display aja," kata yang punya toko.

Wah, gila. Dia baik banget. Gue mikir lagi, ngapain juga ya gue ambil barang rusak. Yaudah, tanpa mikir lama-lama lagi, akhirnya gue langsung ke display yang tadi, ambil barang yang kedua. Sekarang gue harus jaga barang ini baik-baik nih. Gue ga mau barang ini jatuh lagi. Gue juga ga yakin si yang punya toko mau baik lagi sama gue. Dia juga pasti ga mau rugi barangnya gue rusakin semua.

Berbeda sama waktu beli barang pertama tadi. Kali ini gue tau, uang gue masih cukup buat beli yang lain. Gue jadi liat-liat barang yang lain. Lumayan buat ngelengkapin rumah gue. Tapi gue bingung mau beli yang mana. Yang punya toko masih ngeliatin gue ternyata. Dia cuma senyam-senyum aja ngeliat gue. “Kenapa lagi?” katanya. Gue jelasin lah dari awal ceritanya. Dan ngeselinnya, dia cuma ketawa nanggepin cerita gue. Padahal buat gue ini penting banget.

"Yaa kan tadi saya udah jelasin, kalo barang yang pertama udah cacat, tapi situ masih bisa pake karena masih berfungsi dan kualitasnya bagus. Lagipula kan sebenarnya situ harusnya bertanggungjawab. Tapi kalo situ kurang sreg, situ boleh ambil barang lainnya. Tapi saya ga janji kualitasnya sebagus barang yang pertama." kata yang punya toko.

Duh, gue udah ga sreg sama barang pertama. Udah rusak gitu. Lagian fungsinya juga sama aja kan. Urusan kualitas mah, mungkin asal gue pake dengan baik juga bakalan baik-baik aja. Lagipula gue bisa beli barang lain buat ngelengkapin rumah gue. Dan kalo dipikir-pikir, kalo gue ambil barang yang kedua, itu udah cocok banget sama rumah gue, gue udah ga perlu ngerubah apapun. Kalo barang yang pertama, warnanya agak ga cocok sama rumah gue, kalopun gue beli, gue harus sedikit ngerubah rumah gue. Ngapain juga, ngerepotin, gue ambil aja yang udah ada.

Yaudah, gue bilang sama yang punya toko, gue ambil barang yang kedua aja sekalian gue minta maaf karena udah ngerusakin barang yang pertama. Gue masih ga enak banget karena udah ngerusakin barang yang pertama. Gue akhirnya nanya ke yang punya toko, “terus barang yang pertama gimana?”

Yang punya toko cuma senyum ke gue. Tapi buat gue senyumannya itu malah bikin gue tambah ga enak. “Biar barang itu saya yang simpan. Mungkin nanti ada orang yang betul-betul butuh sama barang itu.”

Ah, gue lega. Gue akhirnya fix milih barang yang kedua. Tapi duit gue masih ada sisanya. Gue gamau ngelirik barang yang pertama lagi. Selain karena duit gue udah habis, gue juga udah ngerusakin barang itu tapi gue ga mau benerin. Gue jadi malu. Akhirnya, gue asal ambil barang bagus buat hiasan di rumah gue. Kebetulan harganya jauh lebih murah dibanding dua barang tadi. Dan akan sangat bagus buat dijadiin pajangan di rumah gue. Dua barang itu deal gue bayar di kasir. Gue pulang ke rumah dengan hati yang sangat bahagia. Gue dapet barang yang gue butuhin dan gue juga bisa ngehias rumah gue dengan lebih cantik lagi.

Barang itu emang cocok banget gue taro di rumah gue. Dan itu sesuai sama apa yang gue cari. Tiap hari gue pake barang itu. Barang yang kedua ternyata emang bener-bener cuma jadi hiasan di rumah gue. Gue ga nemu fungsinya sama sekali.

Selang beberapa waktu, gue mulai ngerti arti dari sebuah harga. Harga emang ga pernah bohong. Barang yang gue beli sekarang rusak karena waktu. Cukup awet sih itungannya, karena gue makenya juga bener-bener hati-hati. Tapi ya kualitas ga bisa bohong. Barang itu rusak.

Gue perlu beli barang baru. Kali ini gue ga mau salah pilih. Gue bakal pilih barang yang terbaik dan kebetulan uang gue cukup buat beli barang itu. Gue akhirnya pergi lagi ke toko itu. Sampai sana, gue ketemu lagi sama yang punya toko itu. Gue ceritain apa yang gue alamin. Sekarang, dia malah ketawa terbahak-bahak. Gue cuma bisa senyum kecut.

"Kalo barang yang rusak itu sekarang gimana? Masih Anda simpan? Saya kok rasanya mau beli barang itu aja ya" gue nanya ke yang punya toko.

"Oh, masih. Situ mau ambil lagi?" tanyanya. Gue langsung ngangguk.

Pas gue lagi jalan buat ambil barang itu, si yang punya toko dipanggil sama seseorang. Gue tunggu dia.

"Wah, sayang situ telat. Baru aja ada yang ambil barang itu. Sama kayak situ, dia juga nyari yang paling baik. Saya kasih liat barang itu, tapi saya juga kasih tau dia, barang itu ada cacatnya. Dia bilang, gapapa, karena dia memang butuh banget sama barang yang seperti itu, yang kualitasnya paling baik. Dia ga peduli sama cacatnya barang itu, dia bahkan ngajak saya buat sama-sama betulin barang itu biar jadi lebih bagus. Saya juga bilang, orang yang ngerusakin barang itu mau ambil lagi barangnya. Dia bilang, saya ga akan biarin barang itu jatuh ke tangan yang salah dua kali dan malah jadi lebih rusak. Tuh, barangnya lagi di bayar di kasir." Kata yang punya toko.

Gue cuma diam disitu. Ga bergerak, ga ngapa-ngapain. Gue baru sadar gue bodoh luar biasa. Rasa menyesal emang jauh lebih sakit daripada apapun. Kenapa waktu itu gue ga bertanggungjawab sama barang itu. Padahal gue sendiri yang ngerusakin barang itu. Sekarang barang itu udah diambil sama orang lain. Gue cuma bisa berdoa supaya gue bisa dapet barang kayak gitu lagi.

Gue akhirnya nanya sama yang punya toko, “Kapan barang itu ada lagi?”

Dia jawab, “mungkin masih lama datangnya. Lagipula harganya tentu lebih mahal daripada yang sebelumnya. Sebaiknya kamu berusaha lagi, kalau uangmu sudah terkumpul nanti, kamu bisa kembali lagi kesini.”

Dari barang itu gue sekarang tau arti sebuah harga. Harga yang gue bayar sekarang jauh-jauh-jauh lebih besar.

Untungnya itu cuma barang, bukan orang.

Selasa, 09 Agustus 2016

Buat MasBims!




Happy birthday dear, Mas Bima!
.
.
.
.
.
yang gue line tapi nggak bales

Well, gue berasumsi kita udah kenal selama kurang lebih sebulan terakhir ini. Tho’ I am no one, tapi izinkan gue yang gabut ini buat ngasih wishes ke lo, siapa tau dari doa gue termasuk dari salah satu yang dikabulin sama Allah, aamiin.

Selamat ulang tahun dear, Mas Bima. Semoga di umurmu yang udah semakin ‘tua’ ini, semangatmu masih tetep muda. Tapi semoga kamu juga nggak lupa, tanggungjawabmu semakin banyak, buat dirimu sendiri, keluargamu, dan orang-orang di sekitarmu. Semoga semua yang kamu cita-citakan terwujud satu-satu sesegera mungkin. Semoga yang sedang dirintis diberi kelancaran di setiap prosesnya. Semoga yang perlu diselesaikan, bisa segera selesai secepatnya. Semoga Mas Bima bisa segera menemukan teman hidup, yang bisa jadi learning partner di semua hal, yang bisa jadi support system, bisa bikin kamu bangun pagi bukannya tidur pagi, bisa ngingetin sholat, dan bisa muasin semua hal yang perlu dipuasin.^^

Thanks, Bims! For being a good companion buat gue. A stranger that suddenly being a ‘box’ that I could throw anything into, I shared everything even lotsa random and silly things yang kayaknya sih suka bikin lo sebel. Meeting you (not really meeting sih, soon ya, akhir bulan ini Insya Allah kalo masih berniat ketemuan), is like ummmmm..apa ya? Perez banget kalo dibilang like a cherry on the top of a cake. Meeting you tuh kayak gue pergi ke coffee shop, dan ternyata coffee shop itu penuh banget, dan cuma ada beberapa kursi kosong, salah satunya di depan tempat lo duduk. Despite of awkwardness yang biasanya muncul di antara 2 orang yang saling nggak kenal, ternyata lo asik juga buat diajak ngobrol.
Lo akhirnya jadi temen gue buat minum kopi. Dan sekarang kita berdua lagi minum kopi nih, Bims. Tapi yang namanya sipping coffee, lama kelamaan kan bakal abis ya. Terus setelah kopinya abis, kita berdua cabut dari coffee shop itu, balik atau cabut ke tujuan masing-masing. Setelah kita keluar dari coffee shop itu, mungkin lo atau gue cuma bakal mengenang masing-masing as a stranger that coincidenly bumped to me di coffee shop dan enak buat diajak ngobrol. Habis itu kita (mungkin) kita berdua akan saling melupakan.

Nah, sebelum kita sama-sama lupa kalo kita pernah kenal dan temenan, gue pengen say thanks banget ke lo karena udah mau jadi tempat sharing dan ngebagi secuil cerita hidup lo ke gue. Sekali lagi, happy birthday, dear. Semoga berkah umurnya dan bisa jadi manusia yang lebih baik. Traktir ya kalo ketemu. Sugeng ambal warsa, Mas!


xoxo

Rabu, 24 Februari 2016

Randomly Answering Questions

Sore-sore hujan syahdu gini bikin males ngapa-ngapain banget. Dan karena aku udah selesaiin revisi skripsi, dan udah pusing baca bukunya Marah Rusli (yes, call me an oldskul!), plus belum ada semangat buat ngerjain newsletter-nya LC, jadilah aku iseng banget ngejawab pertanyaan-pertanyaan ini. ^^

So, here are the answers :

1. Telkomsel! Haha. Tapi itu cuma di message yaaa. Kalo di whatsapp terakhir itu dari Dody, terus kalo di Line dari grup Marcomm 😂

2. Mama lah ❤ Walaupun di telfon terakhir, Mama kayaknya bete aku lama ngerjain revisian 😂

3. Worst habit? Nunda kerjaan! Itu parah banget sih emang, I do admit it. 😡

4. How manyyyyyy.. Uhmm let's say.... 2 😂

5. My fav tv series.. Well, aku jarang-jarang nonton tv apalagi yang series gitu sih.. Tapi, aku suka nonton variety shows, dari mulai Running Man sama The Return of Superman nya Korea, sama Bondi Rescue nya Aussie sih..
Oh wait, aku lagi suka sama Tetangga Masa Gitu.. nya Net TV! Mas Adi my love ❤

6. Lagu terakhir yang aku denger.. Aku agak lupa soalnya tadi pagi dengernya. Itu either I See Fire-nya Ed Sheeran, Kisah Dari Selatan Jakarta-nya WSATCC, atau Your Scent-nya Kang Gary 😃

7. Wait. What!? Do I want to get married? Yes, definitely! I'm ready to get my Fedi Nuril as soon as possible at this time 😂😗 #maritaaruf #caridaginghalal #siapjaditulangrusuk

8. Nope. I'm fine. 괜찮아 😏

9. I would actually. 😳😛

10. Gae! A.k.a Doggy! 🐶🐕 if I could have one, I'd name him Gary!

11. TBH, I've tried before 😂

12. Ponytail. Eh tapi sekarang aku lagi suka-sukanya digerai gitu aja terus pake jedai, macam anak kekinian. Dan lagi pengen-pengennya banget di potong pendek 💇

13. Galih deh kayaknya. Tapi itu lebih ke aku yang dengerin sih. Well, it's still deep.

14. Favorite band/singers ya.. Uhmm.. Sheila On 7 sama ERK tuh jadi yang paling daebak deh selama ini, kayak kalo aku bisa pasti aku nonton live-nya mereka. Terus aku lagi suka-sukanya sama wsatcc! Live performnya mereka kece abissss.. And I'm currently into Leessang dan Kang Gary!

15. In love with my self. Ayunnisa, saranghae! 🙆

16. Sexuality? Uhmm.. Aku perempuan suka laki-laki. Haha langsung setel Bukan Lawan Jenis-nya ERK

17. AK

18. WOULD I KISS THE LAST PERSON THAT I KISSED? YES, PLEASE! ahahaha mureeeee.. Marwan gitulho 😙

19. The most attractive celeb? For now, I will definitely say it's Kang Gary. Err.. Banyak sih sebenernya, Fedi Nuril juga atraktif dengan caranya sendiri 😍

20. Uhmm.. TBH, Kalo bukan karena nanti amalan kita ga akan diterima selama 40 hari, jawabanku kayaknya bakalan I would deh. 🍻

21. Banyak sih yang bikin aku seneng. Tapi aku seneng kalo orangtua dan adik2 aku juga seneng 😢

22. Drunk? Never before.

23. TV. Mana enak ga ada musik.

24. Yes, apalagi kalo ama laki! Hahaha. Terakhir dielus kayaknya ama si Gondrong deh kayaknya. #sedih 😂

25. Smart, open minded, easygoing, asik, dan bawel.

26. Hah? Gimana maksudnya? Opposite gender?

27. Iya, awkward banget. That's why aku suka orang yang bawel dan easygoing.

28. Too bad it's only 1,5

29. NO WAY.. I'M A MEATARIAN 🍗🍖

30. I doubt it.

31. If you know Korean, it's O or yeosot. Khamsah. 😖

32. Fav school's subject, uhmm.. Aku lupa dulu belajar apa aja, tapi kayaknya bahasa inggris deh.

33. I think so 💜

34. Ahhh they are so many. Tapi yang aku pengen banget sekarang tuh Korea sih. Pengen ke Jepang juga. Atau China. Sidney juga. Sama Eropa sih yang pasti, nyamperin temen-temen pirang itu #baladatemenjauh 😧

35. Trust issue? Emm gatau deh. Kayaknya sih enggak.

36. Since di negara kita cuma dua seasons, dan aku belum pernah ngerasain musim lain selain summer, aku lebih suka rainy season. Karena adem dan romantis 💞

37. MAUUUUUU!! Mau bangeeeeeet 😣😣😣 Gara-gara demam triplets, aku juga jadi pengen punya anak laki kembar gitu.. Apalagi lucu-lucu dan pinter kayak triplets. Daehan Minguk, Manse!!

38. Both. Aku gadget addict soalnya. And almost nomophobia.

39. Enggak. Aku bahkan nggak tau kabarnya first crush aku, Bowy.

40. Yes, I do. Dan aku lagi mengharapkan banyak keajaiban di tahun ini. So, I wish I could get them. 화이팅!! 😎

Rabu, 04 Februari 2015

Lembar Cerita Kara.

Kara, kalau ada yang bilang aku nakal, tak perlu lah kau dengar.
Mungkin dulu. Tapi tidak sekarang.
Ada hati yang ku tambati kini.

Kara, ku tutup lembar buku lama ku, dan ku ganti dengan lembar-lembar baru.
Terkadang ku isi dengan tinta hitam, namun sering pula ku isi dengan acrylic berwarna neon.
Biar lembar itu menjadi bukti, cinta ini warna-warni.

Kara, kalau aku kini menjadi baik, itu bukan karena kau.
Tapi karena diriku sendiri, yang berjuang untuk menjadi pantas bagimu yang baik.

Kara, kalau masih banyak kurangku, tolong ingatkan aku.
Apalah aku tanpamu.
Aku cinta kamu.
Kara..