🤴: "Lo inget, waktu kemarin kita ketemu di Sushi Tei pas gue jalan sama mantan gue?"
👸: "Iya, kenapa emangnya?"
🤴: "Gue ga ngerti kenapa, tapi waktu itu gue ngerasa kayak kegep lagi selingkuh. Gue ga enak sama lo karena lo ngeliat gue jalan sama mantan gue."
👸: "Nggak enak gimana?"
🤴: "Nggak ngerti, gue nggak mau lo mikir yang aneh-aneh aja waktu itu, dan gue pengen banget ngejelasin ke lo kalo gue cuma jalan biasa aja, nggak ada apa-apa lagi sama mantan gue itu!
👸:"... "
🤴: "Maaf, ya."
👸: "Lho, kenapa minta maaf? Gapapa kali, kita juga nggak ada apa-apa kan?"
🤴: "...."
👸: "..."
🤴: "Atau... Gue ngerasa kayak gini emang karena kita ada apa-apa?"
Kamis, 15 Maret 2018
Ada Apa-Apa
Kamis, 30 November 2017
Z.B.L
Suka sebel ga sih lo, kalo misalnya, lo lagi naksir sama seseorang terus lo tuh cerita ke temen lo, kemudian temen lo nyaranin lo supaya ngomong ke orang yang lo taksir itu kalo lo suka sama dia.
Iya sih ide bagus..
Tapi suka mikir ga sih lo kalo buat menyatakan suka sama seseorang juga butuh strategi? Ya lo liat dulu lah orang yang lo taksir itu kira-kira ada kemungkinan suka sama lo juga apa engga. Atau liat-liat juga lah apa kiranya dia keliatan seneng, bahagia, dan nyaman kalo sama lo.
Kalo ga ada indikasi itu semua ya ngapain sok-sokan tegar bilang jujur sama dia kalo lo suka sama dia??
Nyari pengalaman?
Atau atas dasar patah hati supaya bisa dijadiin motivasi diet?
Ampun deh.
Jumat, 07 Juli 2017
Punggung
"Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta
namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja..seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai masa..
sebelum tangan ini sanggup mengejar seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan atau hujan."
Itu tadi kutipan ucapan Al dalam cerita Hanya Isyarat dalam film omnibus Rectoverso. Cerita ini, jadi cerita favorit saya dalam film yang disadur dari novel Dewi Lestari dengan judul yang sama.
Pertama, karena ceritanya hampir sama kayak cerita saya. Kedua, karena saya suka sekali sama Hamish Daud. Ketiga saya juga sama suara Al (oke, nggak penting, tapi saya suka perempuan bersuara berat seperti Al).
Saya, selama ini punya kecenderungan untuk suka dengan laki-laki yang sudah jelas (eh, nggak tau juga sih, tapi sejauh ini selalu begitu) nggak mau sama saya. Walaupun mungkin aja mereka nggak suka sama saya karena itu 'saya', tapi yang lebih pasti sih karena mereka nggak mau pacaran. Terhitung dari 2008 sejak saya putus sama pacar pertama saya, sampai sekarang 2017, saya selalu suka sama laki-laki yang memilih untuk nggak pacaran. Nggak tau kenapa. Kalau kata teman saya sih, perempuan biasanya suka sama cowok-cowok kayak gini karena mereka bikin penasaran dan challenging. Saya juga nggak tau kenapa sih, tapi awalnya saya suka sama cowok-cowok kayak gini karena mereka agamanya baik. Yaaa gini-gini juga saya mau banget diimamin sama laki-laki baik.
Btw, kata temen saya, sebenernya beberapa dari orang yang kayak gini tuh sebenernya munafik. Intinya sih emang belum ketemu orang yang dia suka aja.
Nanti juga kalau udah ketemu, yaa dia deketin juga. Nggak bilang pacaran sih, tapi dideketin kayak orang pacaran, tapi kalo dicengin bilangnya enggak.
Saya sih setuju nggak setuju, soalnya dia bilang kan beberapa, nggak menggeneralisir. Beberapa memang gitu, dan saya juga termasuk orang yang suka ngecengin dan kadang-kadang nyinyir orang-orang yang sok bilang nggak pacaran, tapi chattingan nonstop bahkan telfonan. Tapi yang lain emang saya akui hebat sih, commit buat nggak pacaran dan melalui proses taaruf yang HQQ. Misalnya, yang pakai perantara dilamar sama keluarga atau ustadz/guru mereka, yang walaupun belum kenal, mereka percaya akan konsep jodoh, dan lebih percaya akan takdir Tuhan daripada 'usaha' manusia.
Umm.. Sebenernya saya juga nggak tau kalau laki-laki yang selama ini saya suka itu termasuk dari golongan yang pertama atau yang kedua dari yang saya sebut barusan. Tapi intinya saya nganggep mereka 'baik'.
Kata temen saya, saya seharusnya jujur dan bilang ke laki-laki yang saya suka itu kalau saya suka sama dia. Toh, alasannya logis, dan memang suka yang bukan semata jatuh cinta.
Tapi, siapa yang mau menyatakan cinta yang jelas-jelas nggak dibalas, saya bilang. Si temen saya itu justru nanya balik, tau darimana nggak dibalas. Ya kan keliatan yaaa orang tertarik atau enggak. Lagian nih kalau saya liat-liat, kayaknya si laki-laki yang saya suka ini ngeliat saya dari sisi yang lain, yang nggak memungkinkan dia buat naksir balik sama saya.
Selain itu, walaupun saya selalu suka sama laki-laki kayak gini, tapi saya sampai sekarang juga sadar, saya belum bisa ada di level cewek-cewek yang mungkin disuka sama cowok ini. Saya suka minder. Mana mau dia sama perempuan hina, nista macam saya. Oke, lebay sih. Tapi kadang suka kepikiran gitu juga. 😂
Nah selain itu. Karena saya suka sama cowok ini karena mereka cenderung paham dan menjalankan apa-apa yang mereka yakini, saya justru jadi suka sama mereka karena mereka istiqomah ngejalaninnya. Saya justru kecewa dan nggak suka, kalau mereka termasuk jadi bagian orang-orang 'munafik' tadi, bahkan mungkin termasuk jika itu sama saya. Makanya saya lebih milih buat 'lihat dari jauh'.
Jodoh syukur, nggak jodoh yaudah. Nasib.
Cetek banget nggak sih pemikiran saya? Kadang saya suka ngerasa ini absurd dan nggak penting. Tapi gimana dong?
Mengenai punggung, saya jadi ingat, laki-laki yang saya suka saat ini, justru saya suka saat pertama kali melihat dia yang kebetulan saya lihat punggungnya.
Dan kebetulan lagi, si laki-laki ini juga penganut paham anti pacaran karena agama. Sedih nggak sih.
Jumat, 09 Juni 2017
A Woman with Dreams Needs a Man with Visions
Saya lupa pernah baca ini sekilas di mana, kayaknya di instagram seorang teman. Maaf buat temen saya itu kalau saya sampai lupa siapa yang ngepost quote itu sebenarnya, postingannya kalau nggak salah udah lama banget. Saya baca sekilas, tapi memori fotografi saya mampu merekam kata-kata itu (walau mungkin nggak sama persis) sampai sekarang.
Saya hampir 100% setuju dengan pernyataan itu.
Buat saya, memang, seharusnya dua orang tersebut, si perempuan dengan mimpi-mimpinya butuh laki-laki dengan visi-visinya. They will be a dynamic duo! Okelah, rasanya nggak perlu kita bahas urusan perempuan dan laki-laki, atau siapa lebih butuh siapa.
Tapi...
Pernah bayangin nggak sih, kalau kamu punya mimpi. Apa saja lah, asal bukan mimpi basah. Sebut saja, ketika sudah menikah nanti kamu ingin tinggal terpisah dari orangtua masing-masing. Atau, kamu ingin dapat beasiswa entah itu Erasmus atau LPDP dan menjadi bagian dari manusia-manusia diaspora. Atau, bermimpi menjelajahi dunia. Bukankah seru jika itu semua diraih bersama orang-orang yang ingin berjuang? Menjadi support system untuk masing-masing, mengingatkan, menanyakan progress pencapaian, mendengarkan keluhan, atau berpelukan merayakan kesuksesan.
Sekarang, mari bayangkan jika berbalik kejadiannya. Kamu punya mimpi, untuk sama-sama berhasil dalam suatu hal. Tapi, rekanmu itu tidak punya semangat yang sama besar dengan kamu. Atau mungkin ia punya tapi hanya sebatas di kepalanya. Lecutan semangat hanya berhenti di ujung bibirnya.
Kamu tidak akan merasakan euforia yang sama dengan orang yang sama-sama ingin berjuang.
Bete kan ya kalau ternyata supply tidak sesuai dengan demand layaknya prinsip stabilitas. Itulah mengapa saya sangat setuju dengan quote di atas tadi.
Baru-baru ini saya dan seorang teman punya satu misi. Dan ternyata, semakin hari, saya sadar kalau teman saya ini tidak punya keinginan yang sama besarnya seperti saya. Ketika saya ingin melaju, dia bahkan belum berencana untuk melangkah. Sebagai teman, jujur saya kecewa. Kami merancang semuanya berdua, mengucap harap bersama. Tapi, melihat pergerakannya, ini justru menjadi pertaruhan buat saya. Jelas lebih bahagia kalau pada akhirnya saya dan dia berhasil mewujudkan misi kami secara bersamaan. Tapi menunggu dia untuk bergerak, sama saja dengan membuang waktu dan kesempatan saya untuk mendapatkan yang lebih dari apa yang kami harap sebelumnya, atau malah skenario terburuknya kami sama-sama melewatkan kesempatan itu karena sama-sama tidak bergerak.
Inilah yang pada akhirnya membuat saya yakin bahwa ada bersama dengan orang(-orang) yang juga punya mimpi dan cita-cita, buat saya sangat penting untuk menjaga kita untuk tetap ada di jalur yang betul. Menjaga kita supaya tetap berfokus pada satu titik akhir, menopang ketika melemah, menyemangati ketika meragu, dan bersuka cita saat tiba di titik tujuan. Orang dengan mimpi yang sama besarnya denganmu (atau mungkin lebih hebat), akan tau bagaimana rasanya berjuang. Sementara orang yang mimpinya tidak sebesar milikmu, atau malah mungkin tak ada, kontribusinya hanya akan menambah rasa ragu akan kemampuan diri. Itulah sebab pepatah berbunyi, 'jika engkau berkawan dengan tukang minyak wangi, sudah pasti kau tertular baunya. Hal yang sama jika engkau berkawan dengan pandai besi'. Maka, jika kamu punya mimpi-mimpi dan cita-cita yang luar biasa, jangan buang waktumu dengan orang-orang yang biasa. Cari orang yang bisa menyalurkan energi positifnya dan menjadi simbiosis mutualisme yang baik untuk hidupmu. Duh, jangan sampai deh kamu geregetan kayak saya ngeliat si temen saya itu!
Jumat, 05 Mei 2017
#Baper
Gue yakin ya, banyak orang yang pernah ngalamin hal kayak gini. Termasuk gue, jelas.. :)
Gue tau, ada banyak perempuan yang suka sama dia, mulai dari A sampai Z. Dari yang ngumpet-ngumpet sampai terang-terangan (walaupun tetep implisit) suka sama dia. Dan gue, sebagai bagian dari cewek-cewek yang juga suka sama dia, sadar betul akan satu hal, dia nggak akan pernah suka sama gue kalau ngebandingin diri gue sama cewe-cewe lain yang juga suka sama dia.
Lyk, gue selalu kepikiran dia terus. Dia di mana, dia lagi ngapain, dia mau apa, sampai ke mikirin apa pendapat dia kalau gue begini atau begitu.
But, I just can't tell him. Sama aja kayak ngegali lubang kubur sendiri. Why? Karena semakin gue mengenal dia, semakin gue tau bahwa gue juga ga akan pernah sama dia. Dia nggak akan suka balik ke gue dengan segala alasan dan faktor pendukungnya. Tapi jujur aja, ada keinginan dari gue buat berusaha jujur sama si oknum ini kalau gue suka sama dia.
For addition, dia temen gue dan gue termasuk yang anti pertemanan rusak karena cinta. I don't want to ruin our friendship.
Tapi beneran deh, gue ga pernah semikirin orang lain kayak gini karena gue naksir sama dia. Gue pengen banget bilang sebenernya sama orang ini, kalau gue suka banget sama dia. Cuma untuk bilang. Gue cuma pengen dia tau, dan bagus kalau dari situ dia bisa ngeliat gue dari sisi yang lain. Dari sisi di mana gue bukan temennya.
Yes, mungkin itu juga berlaku buat gue. Walau sebenernya ya, kalaupun gue nantinya ngaku suka sama dia, gue akan bilang kalau gue suka personalitynya dia, dan gue pengen jadi temen deket, temen diskusi, support system-nya dia yang fully support dia di berbagai hal. Tapi gue beneran takut kalau ketika gue cerita ke dia itu bakal jadi cerita terakhir antara gue sama dia.
Senin, 06 Februari 2017
72 days
I was so scared to death. Aku nggak akan ngeliat dia lagi nanti. But nothing better than having her smile after missing it for 72 days.
She was in comma. She got hit by a motorbike, and I hate that bastard for almost loosing my love.
You know what, 72 days, equal to me missing my boyfriend's love. I lost it to another girl. I hate that bastard as well.
Kereta Pagi Ini, Lagu Intuisi, dan Suasana Hati
Jadi tadi pagi, seperti biasanya gue naik kereta menuju kantor. Ternyata, kereta pagi ini tuh lagi bermasalah dan ngantri banget buat masuk Stasiun Manggarai. Pas gue sampe stasiun Jatinegara, ternyata di jalur sebelah jalur kereta gue ada kereta sebelumnya yang berangkat sebelum kereta gue. Karena tau kereta itu bakal jalan duluan, gue akhirnya berniat pindah ke kereta itu.
Tapiiiiii,sedih banget karena orang-orang di kereta itu ga ngizinin gue buat masuk ke kereta itu karena udah padet banget. Oke, karena gue ga bisa masuk, gue balik lagi ke kereta gue sebelumnya, dan karena gue udah malu buat balik ke gerbong sebelumnya (well, gerbong ini tuh enak banget sebenernya, lega dan kosong), gue jadi jalan lagi buat nyari gerbong lain. Sampe akhirnya gue nemu gerbong yang lain yang ternyata penuh dan ga senyaman gerbong sebelumnya.
Randomly, malem ini gue terlalu banyak dengerin lagu Yura Yunita yang Intuisi. Akibatnya jelas, gue baper.
Gue jadi menganalogikan suasana hati gue sama situasi KRL gue tadi pagi.
Gue udah berhasil buat cabut dari gerbong gue yang lama dan nyaman tadi buat ke kereta baru yang jalan lebih dulu. Sayang, 'kereta' itu udah 'terisi' penuh, sehingga gue ga bisa buat naik kereta itu lagi.
Well, lemme tell you yak. Sebenernya bisa aja gue naik kereta itu. Masih ada beberapa space kosong buat gue isi. Tapi 'orang-orang' dalam kereta itu cuma diem aja, ga 'ngasih tau' dan ngajak gue buat masuk ke kereta itu. Dan gue tipe orang yang tau diri. Ketika tau kalo 'kereta' itu udah keisi, gue cabut. Ngebiarin 'kereta' itu jalan duluan beserta 'isinya'.
Dan gue, yang udah terlalu malu untuk balik ke 'gerbong lama' tadi, memilih buat nyari 'gerbong' lain, walau gue tau 'gerbong lama' tadi masih mau nerima gue dan memberi gue kenyamanan lebih dari 'gerbong-gerbong' selanjutnya.
Akhirnya gue nemu dan naik ke 'gerbong baru'. Jelas nggak senyaman 'gerbong lama', dia lebih sesak tapi masih ngasih gue space yang cukup dan nyaman. Dan jelas, 'gerbong baru' ini jauh lebih nyaman dan manusiawi dibanding dengan 'kereta kedua' yang penuh minta ampun.
Walau begitu gue sadar, 'gerbong baru' ini mau nerima gue, walau dia ga senyaman 'gerbong lama'. Toh pada akhirnya, gue juga sadar, gue butuh 'gerbong baru' ini, walau dia jalan setelah 'kereta kedua', dia akan tetap memenuhi kebutuhan gue dengan mengantar gue ke tujuan gue.
Ngerti ga sih?
Engga?
Yaudah, gausah dingertiin.
Fear
Ay, sebenernya lo pengen cowok yang kayak gimana, sih?
Simply, he loves me. Umm.. And of course my family.
Why?
Karena he knows what to do when he loves me. He understands me. He won't hurt me. Would you hurt the one that you love? No, rite? That's it. I don't want to be hurt anymore.
You haven't even move on from your past, Ay.
I moved. This pain turned into fear. A fear that he/she doesn't love you back when you deeply in love with him/her. And it's haunting me.
Rabu, 01 Februari 2017
(Bukan) Persahabatan Dudung Maman
Iya. Persahabatan Dudung-Maman emang sweet, soalnya tak pernah lekang oleh zaman.
Iya, persahabatan tuh suppose to be sweet. Kalo bisa nggak lekang oleh zaman.
Tapi menurut gue, ga semua persahabatan harus se-sweet itu. Dan ada kalanya persahabatan itu bisa kalah sama zaman.
Beberapa dari kita gue rasa pernah ngerasain masa-masa labil jaman SMP. Dan beberapa dari kita juga pernah ngerasain yang namanya ‘sahabatan’ sama temen yang berlawanan jenis sama kita.
Waktu gue SMP, yang gue rasa sebagai masa paling labil dalam hidup gue, gue juga sempet pernah berteman dekat sama seorang temen cowok. Yaa bisa dibilang seorang sih, walaupun emang temen gue waktu itu (hampir) cowok semua. Tapi ada beberapa hal yg beda yang berjalan diantara kita dibanding antara gue dan temen lain.
Hal yang beda disini yang paling gampang gue contohin misalnya curhat-curhatan. Curhatan gue ke dia mungkin lebih pribadi dibanding curhatan ke temen lain.
Selain dari curhatan itu, kita juga punya panggilan 'sayang’ diantara kita. Kita saling manggil 'nyet’ gitu.
Yaaaa ala-ala jaman dulu lah.
Sesuatu yang kayak gitu mungkin banyak dialamin sama sebagian dari kita.
Nah, mungkin karena saking banyaknya yang kayak gitu, maka muncul lah anggapan-anggapan yang bilang kalo yang namanya persahabatan cewek-cowok itu bullshit, karena ujung-ujungnya bakal jadian.
Gue jadi agak-agak gimanaaaa gitu sama anggapan-anggapan kayak gini.
Antara setuju nggak setuju sih.
Setuju, karena sebagian mungkin emang berakhir kayak gitu.
Nggak setuju, karena gue nggak kayak gitu.
Tapi semakin gue gede, gue rasa gue semakin berubah.
Gue mulai mengubah pemahaman gue soal persahabatan.
Sampai pada suatu waktu, ada dosen yang nanya, “di kelas ini siapa yang nggak punya sahabat?”, gue doang yang nunjuk tangan.
Semakin gue mengerti, semakin gue ngerasa gue belum punya sahabat. Bukan berarti gue ga bersyukur sama temen-temen yang gue punya. Tapi gue ngerasa kalo istilah sahabat itu harusnya bersifat sakral dan ga sembarangan di labelin ke banyak orang. Ada banyak hal yang perlu kita laluin bareng buat merasa ya, dia sahabat gue. Tapi hal-hal itu juga bukan sembarang hal. Hal-hal yang gue laluin sama dia itu tentunya harus hal-hal yang agak sentimentil dan berkesan buat gue.
Emang lebay sih. Tapi wajar menurut gue karena pandangan sahabat itu sakral.
Bicara soal persahabatan cewek-cowok ini menurut gue agak ribet. Semua punya pandangan masing-masing soal hal ini.
Tapi menurut gue kita selalu punya batasan dalam hal apapun.
Itulah yang gue sebut persahabatan ga harus se-sweet itu, dan bisa kalah sama zaman.
Persahabatan model begini emang kemungkinan berakhir di dua ujung. Berujung jadi sweet, atau malah kalah sama zaman/waktu.
Berakhir jadi sweet manakala lo dan sahabat lo itu berakhir menjadi pasangan. Lalu berujung kalah dari waktu manakala lo dan sahabat lo harus berangsur-angsur menjauh ketika semakin waktu lo semakin sibuk dengan hidup lo sendiri.
Gue ga akan ngomongin persahabatan yang berakhir jadi pasangan, karena yaudah stop disitu.
Gue tertarik ngebahas persahabatan yang semakin lama akan semakin 'habis’.
Gue sama temen deket gue yang gue panggil Nyet itu awalnya deket banget. Kira-kira waktu kita kelas 2 SMP lah. Tapi kemudian kita kalah sama waktu. Kita lebih sibuk sama hidup kita masing-masing dan orang-orang baru di hidup kita. Kita juga akuin hal itu. Dan kita juga akuin kita bukan sahabat (lagi). Lepas dari Nyet ini, gue belum tertarik untuk berteman dekat hanya dengan satu orang.
Ketemu orang baru menurut gue bisa jadi faktor utama kita nggak lagi bersahabat.
Ketemu orang baru ini bisa jadi ketemu sahabat baru atau malah pasangan hidup.
Gue sering nemu beberapa sahabat yang kemudian harus berhenti bersahabat karena pasangannya.
Rasa cemburu jelas jadi faktor utama.
Tapi gue rasa hal ini tuh hal yang wajar kalo sampe pasangan lo sempet cemburu sama sahabat lo.
Apalagi kalo lo sahabatannya agak kurang wajar yaa. Kayak misalnya sayang-sayangan, atau ngasih perhatian lebih, sampe ngelebihin perlakuan ke pasangan sendiri.
Terkait hal ini, gue bahkan pernah baca sesuatu yang menarik. “sahabat pacar lo adalah orang yang harus paling lo waspadai”. Eh tapi ini sahabat lawan jenis yaa.
Nah, semakin kita gede tentunya ada hal-hal yang perlu tinggalin kan. Karena kita akan semakin dewasa. Pola hidup kita akan semakin mengerucut dari punya banyak temen, punya sahabat, punya pasangan, sampe akhirnya ketika lo mati lo akan sendirian.
Gue sering mengandai-andai, gimana nanti gue sama temen-temen gue. Apa gue bakal tetep sama kayak sekarang?
Gue ngerasa ya, masa-masa keemasan sahabat cewek-cowok itu udah seharusnya dikurangin.
Ga bisa kita kayak jaman SMP lagi, dimana hal itu keren banget pada masanya.
Kita akan punya pasangan, begitu juga sahabat kita.
Sebagai sahabat yang baik, tentu kita harus menghargai satu sama lain. Termasuk ngehargain pasangan masing-masing.
Bukan harus berhenti sama sekali.
Tapi harus lebih pengertian, bahwa kondisi kita udah ga sama kayak dulu.
Beberapa hal yang kita lakuin mungkin akan ditanggapi secara berbeda sama 'teman’ sahabat kita itu.
Persahabatan yang pernah kita laluin mungkin emang sweet banget. Tapi lo juga harus tau diri, kapan lo harus mundur dari hal-hal kayak gitu. Kalo memang lo ga bisa mundur, lo dan pasangan lo tentunya harus punya kesepakatan akan bagaimana seharusnya persahabatan yang 'benar’ itu.
Kalo buat gue pribadi, sahabatan yang isinya cuma dua orang dan beda gender kayak gitu tuh udah ga lucu lagi sih.
Care boleh, tapi untuk rasa sayang…
Umm.. Gimana ya? Hhaha agak susah definisinya.
Yang pasti harus saling menghargai pasangan masing-masing deh.
Piss!
Mencintaimu
Mencintaimu kini menjadi tidak menarik, sebab aku melihat matamu berfokus ke lain titik.
Aku hanya tak ingin memaksa, jika yang terbaik justru dengan mengurai rasa.
Karena cinta yang indah memang cinta yang berbalas. Tapi jika tidak, untuk apa aku memelas.
Kucukupkan sampai di sini, dan tiba saat untuk ku pergi.
Cikini, di awal Februari.
Senin, 30 Januari 2017
Gue Jatuh Cinta
Dan aku hanya tersenyum, tanpa sedikit pun merasa harus menoleh.
"Gue serius ini. Gue ga cerita ke siapapun kecuali lo." Ujarnya serius. Kali ini aku terpaksa harus melihat wajahnya, untuk meyakinkan bahwa aku juga serius mendengar kata-katanya.
"Sama siapa?" Tanyaku.
"Sama temen kantor gue!" Jawabnya antusias. Dan kali ini dapat kupastikan ia sedang jatuh cinta. Matanya berbicara. Dan aku tersenyum lebih lebar kali ini.
"How do you know?" Tanyaku lagi.
"Well, I don't know. Tapi gue tau gue jatuh cinta sama dia."
"How?" Ulangku sambil mengaduk minuman di depanku, bibirku masih tersenyum.
"I act silly. Lo tau? Gue tadi sholat dzuhur, dan gue sholat sendiri. Nggak lama, dia dateng ke mushola, sendirian juga, pas banget waktu gue salam."
"Terus?"
"Begitu ngeliat dia, gue langsung berdiri lagi terus gue tanya dia, 'Mau jamaahan? Tadi gue baru sholat sunah doang kok.' Terus dia jawab, 'boleh'."
Refleks aku tertawa mendengarnya. Terlalu polos untuk seorang 24 tahun.
"Gue tau itu goblok banget. Tapi pas selesai gue imamin dia, gue berharap itu terjadi terus lima kali setiap harinya."
Rabu, 18 Januari 2017
Random Setiap Saat
Gue akui, gue anaknya suka random di saat yang random juga.
Kadang random-nya dalam bentuk yang oke sih.
Kayak hari ini.
Baru aja gue menelfon seorang customer, tapi ternyata yang ngangkat telfon anaknya. Karena ga bisa berlama-lama, gue bilang 'nanti biar aku telfon lagi, yaa papanyaa'.
Terus tepat sebelum telepon itu gue tutup, anak perempuan kecil itu nahan gue,
"eh mbak, mbak! Bar maghrib ae nelfone, soale bapak baru pulang habis maghrib," katanya. Terus dia ketawa sama temen-temennya dan langsung nutup teleponnya tanpa nunggu respon gue.
Selesai teleponnya ditutup, bukannya gue kesel, gue malah ketawa. Gue seneng banget denger ketawanya anak-anak tadi. It's kinda like what we call little things mean a lot, when a simple laugh dari anak-anak itu bisa bikin gue grinning ear to ear. :))
Kamis, 05 Januari 2017
Support System
Gue inget sekitar tahun 2016 yang lalu, seorang teman pernah curhat tentang dia yang lagi berantem sama pacarnya.
"Gue sebel ya, dia itu gini, gini, gini..... Gue tuh maunya pacaran sama-sama jadi support system, bukan malah jadi kompetitor. Kalo engga ya bisa putus lah pacarannya!" Keluh dia kesal waktu itu.
Waktu itu gue langsung berpikiran, oh iya ya, pacaran itu harus saling support in almost every single thing, bukannya saling bersaing membuktikan diri yang satu lebih baik dari diri yang lain.
--
Kemarin, gue pulang bareng temen gue yang lain. Di perjalanan, dia cerita kalo dia saat ini lagi deket sama seseorang. Tapiii, dia ga mau disebut pacaran. Hanya dekat, katanya. Punya komitmen untuk saling mensupport satu sama lain, sampai nanti tiba waktunya akan disahkan.
Lagi-lagi tentang support. Di lain waktu, gue pernah pulang bareng temen gue yang lain dan ngomongin tentang benefit punya pacar.
Jadi, ceritanya si temen gue ini nggak mau pacaran. Tapi, dia bilang, "tapi kadang-kadang mau sih. Maksud gue, kadang kalau lagi down atau lagi kenapa gitu, pengen rasanya punya orang yang bisa diceritain." katanya sedih 😂
Nah sebenernya yang dicari bukan 'pacar' atau status pacaran itu sendiri. Tapi memang mungkin yang dibutuhkan sebenernya si support system itu. Memang beda sih kalo punya pacar, tapi sebenernya siapa aja bisa jadi support system. Teman, guru, dosen, atau malah orang yang baru dikenal.
Gue sangat setuju sama temen gue yang pertama. Kita butuh si 'support system' itu, dan ga perlu dalam bentuk pacar. Tapi kalo emang lebih dari temen, yaa susah juga kalo ga dibilang pacar.
Jadi, mari kita saling support!
Minggu, 01 Januari 2017
Karena Memang Almost tuh Selalu Never Enough
Jumat, 30 Desember 2016
Minggu, 25 Desember 2016
Tanpa Memandang
"Lo pernah nggak sih ngerasain love at first sight, tapi lo naksir sama orang itu sebelum lo tau mukanya dia kayak gimana?"
"Pernah. Waktu itu gue lagi sholat dzuhur, gue langsung naksir sama imamnya karena suaranya adem banget. Rasanya, gue pengen jadi pasangan dia dunia akhirat. Begitu selesai sholat, pas gue lagi pake sepatu, ternyata gue sebelahan duduknya sama dia. Dari suaranya pas dia ngobrol sama temennya, gue tau kalo dia imam sholat gue tadi. Pas gue liat bener-bener, ternyata dia emang keren. Adem banget ngeliatnya. Lo tau nggak dia siapa?"
"No."
"Mas Bayu, pacar gue sekarang."
"Hmm. Gue juga pernah."
"Gue waktu itu lagi ngisi absen, pas ngeliat dia lagi duduk. Gue cuma inget waktu itu yang pertama gue liat dari leher sampai ujung kaki. Gue masih inget banget dia pake baju apa, tas apa, sepatu apa. Dan gue langsung naksir sama dia. Tapi gue ga berani ngeliat mukanya waktu itu. Gamau aja, takut kecewa mungkin. Haha. Tapi waktu itu juga gue tau gue naksir sama dia. Dan sekarang juga dia jadi pacar gue. Gue malu nyeritain ini ke dia. Tapi setiap gue inget-inget lagi waktu itu, gue makin jatuh cinta sama dia. Dia baik, charming dan menenangkan. Itu aja udah cukup buat gue."
[Jakarta, Mei 2017]
Jumat, 16 Desember 2016
Percakapan Sepanjang Jalan
Kemarin malam gue pulang bareng seorang temen.
Umm
Nebeng sih lebih tepatnya.
Di jalan, gue sempet cerita tentang seorang temen lain yang baru aja pacaran. Sebelumnya, dia berencana buat ga pacaran dan nyoba buat jalanin yang namanya proses ta'aruf. Sayang, rencana emang kadang nggak semulus kulit Song Joong Ki, proses taarufan itu harus gagal karena satu dan lain hal.
Gue terus randomly nanya sama temen gue ini, "nanti lo berencana untuk pacaran nggak?"
"enggak," kata temen gue.
Hmm menarik, karena temen gue ini terhitung laki-laki yang banyak ditaksir sama cewe-cewe walopun dia ga cakep-cakep amat 😅
"Sebenernya kadang ada sih keinginan buat pacaran gitu," lanjutnya.
"Kadang ada kalanya lo ngerasa butuh orang buat support lo, misalnya waktu lo down. Kalo punya pacar kan enak tuh, lo bisa cerita apa aja," katanya.
"Nah itu dia! Gue tuh kadang ngerasa butuh pacar buat hal-hal kayak gitu!" potong gue dengan semangat.
Percakapan kemudian berlanjut, dimana si temen gue ini bilang kalo dia kalo bisa nggak pengen pacaran dan lebih milih buat langsung nikah nantinya. "Prosesnya nggak seekstrim ta'aruf yang gimana-gimana gitu. Tapi kalo bisa, kalo emang dua-duanya udah siap ya langsung nikah aja," katanya.
Buat gue pribadi, gue masih susah ngebayangin kalo seandainya gue ngejalanin proses ta'aruf. Apalagi yang menurut kami berdua ekstrim tadi, kayak misalnya tukeran CV dll. Sampai saat ini gue masih ngerasa perlu proses pacaran dulu untuk menuju ke proses pernikahan. Mencoba saling kenal dan paham satu sama lain. Emang sih proses untuk kenal itu bisa dilakukan dengan berbagai cara nggak cuma pacaran. Well, ta'aruf sendiri juga artinya perkenalan. Tapi mungkin, gue masih belum sesiap ituuuu buat kenal sebentar kemudian bersiap buat hidup bareng seumur hidup. Umm.. Yaaa beda sih buat masing-masing orang. Walaupun menikah itu sama-sama bertujuan untuk ibadah, tapi butuh 'sesuatu' yang nggak bisa gue tulis dengan kata-kata buat bikin seseorang berani untuk ngejalanin proses ta'aruf. Mungkin, iman.
Btw, pas nebeng kemarin, kita lewat jalanan kota dan ngelewatin gedung-gedung dengan lampu-lampunya yang cantik-cantik. Terus gue bilang sama temen gue itu, kalo gue suka banget ngeliatin lampu-lampu gedung kayak gini. Manis, dan romantis.
Huft, how I wish I were with my bf at that time, bukan sama temen. :"
Sabar ya, Ayunnisa :"
Selasa, 15 November 2016
Such a Heavenly View
Kamis, 06 Oktober 2016
Be Good
Anw, jadi selama perjalanan pulang tadi, saya berpikir tentang being good sama orang lain. Awalnya saya sedih karena di kereta tadi saya pulang bareng ibu-ibu yang mungkin sebaya ibu saya, badannya bau minyak angin yang mungkin dia gunakan karena dia masuk angin, maklum tadi lagi hujan deras. Saya dan si ibu itu sudah terlalu malas untuk naik kereta tujuan Bekasi yang masuk Manggarai sekitar jam 6.45 dan lebih memilih kereta selanjutnya yang hanya memiliki interval satu stasiun dari kereta yang luar biasa penuh itu. Ketika kami naik, di depan kami ada dua pemuda yang saya amat sangat yakin, satu di antaranya sedang pura-pura pulas tertidur (maaf, saya suudzon). Dalam hati, saya langsung berpikir saya nggak akan ngebiarin ibu saya naik kereta komuter lagi dan insya Allah saya bisa membayar orang untuk jadi supir pribadi buat dua orangtua saya nantinya. Terakhir ibu saya naik kereta komuter itu mungkin satu tahun yang lalu, ketika beliau dan ibunya mantan saya pergi ke Tanah Abang (ya, mereka berkawan baik bahkan ketika saya dan si mantan sudah tidak lagi berhubungan baik). Di situ beliau cerita tentang bagaimana susahnya naik kereta ke Tanah Abang. Sejak saat itu saya berdoa supaya kelak saya atau adik-adik saya bisa mengantar ibu saya, atau minimal membayar orang untuk mengantar kedua orang tua saya kemana pun mereka mau di usia senja mereka, tanpa harus naik angkutan umum kecuali pesawat. Pikiran itu kembali lagi malam ini, karena ibu-ibu yang pulang bareng saya kali ini. Saya sedih karena ibu itu nggak dapet tempat duduk, sedangkan pemuda itu pura-pura tidur. Memang, itulah drama commuter line, tapi tetep aja, they're supposed to be good.
Menjadi baik. Saya juga jadi ingat, ketika saya berbuat baik pada orang lain, kebaikan yang berlipat akan kembali pada saya. Begitu hukumnya, walau di beberapa kasus, kejadiannya malah sebaliknya. Dan ketika sekali orang berbuat baik sama kita, kita akan membalas kebaikan itu lagi dan lagi dan terus berlipat. Tanpa bermaksud sombong, saya ingin bercerita tentang hubungan saya dengan mas-mas OB di kantor, yang suka saya ajak ngobrol setiap pagi ketika ambil minum atau mau buat teh manis. Pernah sekali waktu, saya membelikan mereka piscok yang dijual kawan saya. Itu cuma piscok. Tapi yang saya dapat setelah itu, mereka jadi tambah luar biasa baik sama saya. Kalo saya laper pagi-pagi, saya tinggal ke dapur dan nanya ada sisa makanan kemarin nggak di kulkas? Kalo makanan itu masih layak makan menurut saya dan mereka, mereka akan sigap ngangetin makanan itu lagi. Kalau saya nyari es batu siang-siang, mereka akan sibuk mecahin es batu, dan mulai dari ketika saya bikin es batu itu, mereka selalu bikin es batu di plastik setiap harinya (mungkin buat saya atau buat karyawan lain). Kemarin yang asik buat saya, ketika mereka 'ngamanin' semangkuk penuh jeruk baby segar khusu buat saya di dapur, karena tau saya suka banget jeruk itu. Di lain waktu pernah juga mereka nyisain semangkuk sop jatah makan siang yang menurut saya enak banget, buat saya makan lagi sorenya dalam keadaan udah di reheat sama Mas Udin. Saya nggak tau siapa yang memulai kebaikan ini. Yang pasti saya sangat suka dan menikmati hubungan saya dengan mas-mas OB di kantor.
---
Bicara tentang 'be good', saya jadi ingat dulu saya punya orang-orang yang baik menurut saya. Well, pada dasarnya, saya menilai semua orang yang saya kenal sebagai orang baik dengan plus dan minusnya mereka, tapi mostly mereka adalah orang-orang baik. Tapi ada dua orang yang menurut saya berkesan akan kebaikan mereka. Sebuat saja mereka adalah si oknum A dan oknum B.
Oknum A dan oknum B ini termasuk orang-orang yang punya cerita dalam hidup saya. Dan sekarang saya bisa bilang, saya seringkali menyesal tidak berbuat baik pada mereka seperti yang seharusnya, dan sekarang saya harus rela 'kehilangan' mereka.
Oknum A, adalah orang yang super baik buat saya. Yang sering mengingatkan saya akan kebaikan, yang paling jahat dan paling bawel melarang saya kalau saya (dulu) udah mulai tertarik buat nyoba-nyoba hal-hal nggak guna, yang mau minjemin sweaternya buat saya dan gendong saya waktu kami kebanjiran (dulu saya masih kurus kebetulan), yang rela nungguin saya setiap hari rapa berjam-jam dan dia akan nunggu di masjid sampai lampu masjidnya dimatiin karena saya suka rapat sampai larut, dan dia masih ada di sana karena nggak mau saya pulang malam sendirian, yang rela naik motor Bintaro- lokasi saya waktu itu yang kurang lebih sekitar 35KM cuma buat nganter makanan karena saya lagi sakit, yang masih banyak hal lain yang terlalu panjang untuk ditulis di sini.
Oknum B, adalah orang yang luar biasa sabar menghadapi saya sepanjang saya kenal dan berhubungan baik sama dia. Orang yang seringkali mengejutkan saya dan bikin saya senyam-senyum blushing karena hal-hal kecil yang dia lakuin. Dia dulu selalu ngerjain tugas saya di salah satu mata pelajaran yang saya males buat ngerjainnya, tanpa mengeluh atau protes kenapa saya nggak mau ngerjain tugas itu. Dia yang tau-tau datang ke tempat saya dan bawa baju, cokelat, bunga atau burger kesukaan saya dan menaruhnya di kotak-kotak kado papyrus. Dia yang suka tanpa sepengetahuan saya menunggu saya di tempat saya biasa menunggu bus cuma untuk pulang bareng. Dia yang suka candid foto saya di setiap aktifitas yang saya lakukan. Dia yang rela telat masuk kantor demi nganter saya ke tempat tujuan karena saya udah telat deadline. Dia yang rela beliin saya apa pun yang saya sebutkan. Dia yang rela mendengarkan semua keluh kesah saya berjam-jam lamanya, bertahun-tahun, walaupun dia bilang dia nggak suka kalo saya ngeluh apalagi hal-hal yang nggak penting. Dia yang bakal meluk saya kalo saya lagi bete atau sedih. Dan masih banyak hal yang little things mean a lot sih menurut saya.
Dua oknum ini, entah bagaimana ceritanya pada akhirnya harus saya relakan untuk 'menghilang' dari hidup saya. Hubungan saya dengan mereka sekarang sebatas sapa menyapa dan kehilangan core yang justru dulu memperkuat hubungan kami. Dan sekali lagi saya bilang, saya menyesal. Kenapa? Karena mungkin salah satu alasannya adalah karena saya tidak membalas kebaikan mereka seperti yang seharusnya saya lakukan.
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis di blog ini tentang cerita saya dan cerita teman saya. Tentang saya yang baik ke orang (yang saya rasa) yang salah, dan teman saya yang kehilangan perempuan yang baik sama dia.Saya ngerasa saya berbuat baik ke seseorang, yang sayangnya entah dia nggak peduli atau dia nggak tertarik untuk berbuat baik lagi ke saya. Pada akhirnya, karena saya merasa feedback yang negatif dari dia, saya (secara tidak sadar, dan sekarang saya sadari) mundur dan sudah kehilangan semangat untuk berbuat baik sama dia atau menjadikan dia lebih baik lagi. Sementara teman saya, dia harus merelakan orang yang sudah sangat baik ke dia, karena dia tidak memberikan respon postif ke perempuan itu. Jadi saya ada di posisi perempuan itu, dan temen saya ada di posisi orang yang lagi saya baikkin (baikkin tuh apa sih, Ay?!?!?!?), Kami jadi mengerti cerita masing-masing. Menjadi baik harus dilakukan oleh dua orang (atau lebih ) sehingga akan menimbulkan efek yang positif dan berlipat bagi orang-orang yang melakukannya.
Menjadi baik memang datangnya dari hati dan berbeda-beda bagi setiap individu. Tapi saya yakin, kebaikan itu sesuatu yang bisa ditanam. Kebaikan berasal dari hati yang bersih, sementara hati yang bersih dihasilkan dari kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. So, be good, fellas!
Senin, 03 Oktober 2016
보고싶어요
보고싶어요
Dalam bahasa korea kata ini berarti saya rindu kamu.
Ya, saya rindu kamu.
Rindu akan annoying-mu.
Rindu akan ke-nggak jelasan-mu.
Rindu akan menganalisa banyak hal yang belum saya tau tentang kamu.
Saya tiba-tiba rindu kamu, tanpa alasan tertentu.
Sama seperti kamu ketika sekitar pukul 12 malam itu, mengatakan kalau kamu rindu.
Walaupun bahkan sampai detik ini saya masih ragu, apa benar seperti itu?
Walau saya rindu kamu, saya nggak mau bilang langsung ke kamu.
Kenapa? Karena menurut saya itu nggak perlu.
Kamu hanya akan bilang 'iya' atau apapun itu yang saya yakin tidak akan mendukung atau pun mengobati rasa rindu saya akan kamu.
Saya nggak butuh itu.
Saya butuh kamu juga rindu.
Setidaknya setelah kamu baca tulisan ini, kamu langsung menghubungi saya dan bilang, 'ya, saya juga rindu'.